
"Cakep 'kan relatif, Ra. Tapi aku yakin, kamu pasti akan bilang kalau dia itu cakep," balas Lila.
"Sungguh?" Netra Tiara terlihat berbinar terang.
Lila sengaja mengundang Tiara, begitu mengetahui bahwa sang papa mengundang teman baiknya yaitu papanya Ronald dan juga Ronald. Tentunya, atas seijin Mirza, sang calon tunangan.
"Ra, kamu duduk dulu ya," suruh Lila seraya menunjuk tempat tidurnya. "Aku mau pakai hijab dulu," ucapnya kemudian.
Tiara mengangguk patuh, gadis cantik yang lumayan centil itu duduk di tepi pembaringan empuk milik Lila.
"La, enggak apa-apa nih, aku duduk di ranjang pengantin seperti ini?" tanya Tiara.
"Ranjang pengantin?" tanya Lila balik, dengan kening mengkerut dalam. Lila menatap temannya itu melalui pantulan cermin di hadapannya.
"Kami baru mau tunangan, Tiara. Belum menikah," lanjut Lila.
Tiara terkekeh pelan. "Iya, ya. Aku pikir, Mirza udah enggak sabar dan langsung ingin menikahimu. Soalnya, aku lihat di 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺 Mirza tadi, tatapan dia ke kamu tuh romantis banget, La. Penuh cinta dan terlihat sangat mencintaimu," terang Tiara.
"Masak, sih?" tanya Lila tak percaya, sebab Lila tidak memperhatikan dengan serius foto yang diunggah oleh Mirza dan dijadikan 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺 oleh calon tunangannya itu.
"Beneran, La. Cek, deh," saran Tiara.
Setelah menyematkan bros cantik pemberian Mirza pada hijab yang ia kenakan, Lila buru-buru mengambil ponsel dan kemudian duduk di samping Tiara.
Lila kemudian membuka 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺 Mirza dan benar saja, sedetik kemudian Lila tersenyum.
"Kamu beruntung banget deh, La. Apa aku bisa seberuntung dirimu ya, nantinya," ucap Tiara seraya memandang Lila.
"InsyaAllah, Ra. Teruslah meminta sama Allah dan jangan pernah bosan untuk meminta karena Allah menyukai hamba-Nya yang selalu bergantung dan memohon hanya pada-Nya semata," balas Lila.
"Oh ya, Ra. Mengenai Ronald," ucap Lila seraya menatap Tiara. "Dia sebenarnya memiliki masa lalu yang kurang baik, tetapi dia berjanji akan bertaubat jika telah menemukan seseorang yang mau membimbingnya." Sejenak Lila terdiam.
Lila menghela napas panjang, sebelum melanjutkan ucapannya. Ada sedikit keraguan meliputi hati Lila, apakah Tiara akan bisa menerima masa lalu Ronald yang cukup kelam. Tetapi mengingat cerita Tiara kala itu, Lila memberanikan diri hendak mengenalkan Tiara pada Ronald.
Ya, setelah pengakuan Tiara yang berani mencium Mirza lebih dulu, Tiara terang-terangan menceritakan sebuah rahasia yang selama ini ia pendam sendiri.
"La, sebenarnya dulu sewaktu masih sekolah aku sudah pernah tidur dengan mantan pacarku, La," ucap Tiara lirih. "Tapi kumohon, kamu jangan menceritakan pada orang lainya, La," pinta Tiara.
Lila terdiam, ia yang tak pernah mengenal pergaulan bebas begitu syok mendengar penuturan Tiara.
"Saat itu aku khilaf, aku frustasi karena kedua orang tuaku selalu berantem," lanjut Tiara.
Lila menatap Tiara. "Kenapa kamu lampiaskan kemarahan dan kekecewaanmu terhadap orang tua, dengan merugikan dirimu sendiri, Ra?" tanya Lila tak mengerti.
__ADS_1
"Karena aku tak mempunyai teman dekat untuk berbagi selain Soni, La. Hanya dia tempat aku mencurahkan segala kesedihanku dan ketika dia menawarkan sesuatu yang belum pernah aku rasakan itu, aku menjadi terlena," balas Tiara dengan penyesalan yang mendalam.
"Hampir dua bulan aku menjalin hubungan terlarang itu dengan Soni, hingga sesuatu yang mengerikan itu menimpa Soni dan membuat aku tersadar," lanjut Tiara dengan bulir bening yang menetes membasahi pipinya.
"Memangnya, apa yang terjadi dengan mantan kamu?" tanya Lila penasaran.
"Ternyata di belakangku, Soni juga menjalin hubungan dengan cewek lain, teman satu sekolahnya. Mereka berdua, ditemukan meninggal di dalam kamar kos dengan tubuh polos dan saling menindih," terang Tiara dengan wajah yang terlihat sendu.
"Semenjak saat itu, aku bertekad untuk bertaubat dan akan memperbaiki diri. Hingga saat masuk ke perguruan tinggi, aku memutuskan untuk berhijab," lanjut Tiara.
"La," panggil Tiara yang membuyarkan lamunan Lila.
"Eh, iya. Sampai mana tadi?" tanya Lila.
"Masa lalu Ronald kurang baik, masa lalu yang bagaimana maksud kamu, La?" Tiara menatap Lila menuntut jawab.
"Maaf, kurang lebih hampir sama dengan masa lalu kamu," balas Lila hati-hati karena khawatir akan menyinggung perasaan Tiara.
Tetapi di luar dugaan, Tiara justru terkekeh. "Ya ampun, La. Aku pikir masa lalu apa. Bandar narkoba atau mafia berdarah dingin. Kalau hanya masa lalu tentang wanita, InsyaAllah aku bisa terima asal dia mau bersungguh-sungguh untuk berubah," balas Tiara masih dengan tawanya.
"Karena kamu tahu sendiri 'kan, La. Aku juga memiliki masa lalu yang kurang baik," imbuhnya meyakinkan Lila.
Lila mengangguk. "Syukurlah kalau kamu tidak tersinggung, Ra. Tadinya aku pikir, kamu akan marah karena akan aku kenalkan sama laki-laki macam Bang Ronald," ucap Lila sambil menggenggam tangan Tiara.
"Iya, Bang. Tunggu sebentar," pinta Lila yang kembali ke depan cermin untuk merapikan gaunnya. Ia mematut diri sebentar, memastikan bahwa penampilannya benar-benar sudah paripurna.
"Udah, enggak usah muter-muter gitu, nanti pusing," ledek Damian.
Lila mengerucutkan bibir, sementara Tiara terkekeh pelan.
"Udah cantik, Dik. Meski kamu keluar dalam keadaan baru bangun dari tidur dan masih ileran, Mirza juga tetap bakalan suka, kok," lanjut Damian seraya terkekeh.
"Abang! Jorok, ih ... masak iya, Lila ileran!" protes Lila sambil mengejar abang sulungnya dan kemudian memukul sayang lengan sang abang.
Damian menangkap tangan sang adik dan dengan penuh rasa sayang, putra sulung Om Devan tersebut menggandeng Lila menuruni anak tangga yang diikuti oleh Tiara di belakang.
Damian membawa sang adik menuju ruang tamu, dimana tamu istimewa Lila baru saja datang.
Lila berjalan sambil menundukkan pandangan, ia tak berani menatap satu persatu tamu yang sudah sangat dikenalnya.
Keluarga Alamsyah dan Keluarga Antonio, dua keluarga tempat Lila dan kedua saudaranya tumbuh besar bersama dalam rengkuhan kasih sayang mereka semua.
"Enggak mau salim dulu sama calon mertua, Kak Lila," goda Om Ilham.
__ADS_1
Damian kemudian membawa sang adik mendekat ke tempat duduk Daddy Rehan dan Mommy Billa yang berdekatan dengan kedua orang tuanya.
"Salim dulu," bisik sang abang.
Lila menurut. Gadis yang malam ini terlihat sangat anggun itu kemudian menyalami kedua calon mertuanya dengan takdzim.
Sementara di samping Mommy Billa, sepasang mata terus mengamati gerik Lila semenjak tadi. Tatapan yang penuh cinta, kerinduan dan kekaguman.
"Bang Mirza, ilernya dilap dulu, tuh," ledek Om Ilham pada keponakannya hingga mengundang tawa mereka semua.
Mirza hanya tersenyum. "Cantik sekali kamu, Sayang," ucap Mirza pelan, namun dapat di dengar jelas oleh Lila karena jarak keduanya begitu dekat kala Lila menyalami Mommy Billa.
Lila pun tersenyum dan kemudian memberanikan diri menoleh ke arah sumber suara.
Sejenak, kedua netra itu saling bertaut dalam. Seolah menyelami perasaan masing-masing.
"Ini mau tunangan aja, apa mau lanjut ijab?" tanya Opa Alvian seraya menatap kedua sahabatnya yang akan berbesanan.
"Karena sepertinya, mereka berdua sudah tidak sabar untuk saling memiliki seutuhnya," lanjut Opa Alvian yang kembali mencetuskan gagasan.
"Bang! Jangan memancing keributan dalam rumah tangga kami!" protes Daddy Rehan dan Om Devan dengan kompak, karena gara-gara ide Opa Alvian tadi sore, mereka berdua kena semprot istri masing-masing.
Sementara Mirza mengangguk dengan penuh semangat.
_____ bersambung _____
🌷🌷🌷🌷🌷
Sore Bestie...
Up nya satu-satu yah, gantian sama Dara dan Mas Jaka.
Yang belum mampir, aku tunggu di novel baru yah 'Pesona Mas Jaka'🥰
Yuk, sambil nunggu bagaimana keputusan mereka, lanjut ijab sah atau tetap tunangan dahulu...
mampir dimari ya, Best 😍
Judul : Posesif Husband (CEO Kejam Jatuh Cinta)
Author : Rahayu Ningtiyas Bunga Kinanti
__ADS_1