Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Akad Nikah Mirza dan Lila


__ADS_3

Mirza dan Lila yang bergegas menuju mobil, sejenak saling pandang setelah keduanya duduk di bangku masing-masing.


"Ke kantor apa ke rumah, Bang?" tanya Lila yang masih menyimpan rasa penasaran.


"Ke rumah, Sayang. Daddy di rumah," balas Mirza.


"Abang berharap, ini adalah kejutan pernikahan kita," lanjut Mirza.


"Maksud, Abang?" tanya Lila tak mengerti.


"Ya, saat ini juga kita berdua dipanggil karena akan dinikahkan," balas Mirza sambil tersenyum lebar.


"Abang, enggak sabaran banget, sih! 'Kan udah ditentuin, tiga hari lagi, Bang. Usai kita di wisuda!" Lila geleng-geleng kepala.


"Berharap 'kan, enggak ada salahnya, Sayang," balas Mirza.


"Ya udah, ayo jalan! Biar enggak penasaran lagi," ajak Lila.


Mirza bukannya menghidupkan mesin mobil, tetapi malah mendekat ke arah Lila.


"Bang, Abang mau ngapain?" tanya Lila dengan suara tercekat di tenggorokan.


Mirza tersenyum manis. "Abang pengin ngerasain bibir kamu, pasti manis," goda Mirza, membuat Lila reflek memundurkan kepala.


"Ja-jangan, Bang," pinta Lila, terbata.


Mirza terkekeh dan semakin mendekat. "cup," Mirza melabuhkan ciuman di lengan Lila.


"Abang cuma mau bantuin kamu pakai sabuk pengaman, Sayang," ucap Mirza, sambil memasangkan 𝘴𝘦𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘭𝘵.


Lila bernapas dengan lega. "Ngomong dong, dari tadi," gerutu Lila. "Bikin orang jadi parno aja deh, Si Abang," imbuhnya dengan bibir mengerucut.


Mirza kembali terkekeh. "Iya, iya. Maaf ya, Sayang," ucap Mirza.


"Yuk, ah ... buruan, Bang," pinta Lila yang sudah tidak sabar, ingin tahu kejutan apalagi yang akan diberikan oleh calon ayah mertuanya itu.


Mirza segera menghidupkan mesin mobil sport miliknya dan perlahan mulai meninggalkan area parkir kampus, untuk segera pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan, keduanya sama-sama terdiam. Mereka larut dalam pikiran masing-masing.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dan berjibaku dengan pengendara lain di jalanan beraspal yang padat, sampailah mereka berdua di kediaman megah milik keluarga Alamsyah.


Setelah memarkirkan mobil, Mirza segera turun dan kemudian berlari kecil memutari mobil untuk membukakan pintu buat Lila.


"Bang, ada apa, ya? Kok ramai sekali?" tanya Lila sesaat setelah turun dari mobil, ia masih berdiri terpaku sambil menatap ke dalam rumah yang ramai orang keluar masuk rumah megah tersebut.

__ADS_1


Di halaman, juga ada beberapa mobil yang terparkir dan semuanya tidak mereka berdua kenali.


Mirza mengedikkan bahu. "Abang juga tidak tahu, Sayang," balas Mirza.


"Ayo, kita masuk!" ajak Mirza seraya menggandeng tangan Lila.


Lila hanya menurut.


Mereka berdua mengucapkan salam, sambil terus berjalan masuk ke ruang keluarga karena orang-orang yang ada di ruang tamu tak mereka kenali.


Begitu tiga di ruang keluarga dan melihat sebagian keluarganya sudah berada di sana, mereka berdua kembali mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," balas semua orang yang berada di sana dengan kompak.


"Duduk sini, Bang," pinta Tante Nisa, sambil menepuk bangku kosong di sebelahnya.


Mirza dan Lila mengalami semua satu-persatu, Mirza kemudian duduk di samping tantenya itu, yang diikuti oleh Lila.


"Tan, ada apa, sih?" bisik Mirza bertanya.


Rupanya, di ruang keluarga tersebut, keluarga Antonio sudah berkumpul. Termasuk Opa Sultan dan Oma Sekar, yang sudah datang beberapa hari yang lalu karena ingin ikut mempersiapkan pernikahan cucunya.


Mereka berdua nampaknya tak ingin ketinggalan lagi, seperti ketika lamaran dadakan beberapa waktu yang lalu.


Daddy Rehan yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri sang putra, yang sudah berdiri menyambutnya.


"Sudah datang, Bang?" tanya Daddy Rehan seraya menyambut uluran tangan Mirza yang hendak menyalaminya.


"Iya, Dad. Baru saja," balas Mirza setelah mencium punggung tangan sang daddy dengan takdzim.


Lila juga menyalami Daddy Rehan dan melakukan hal yang sama, seperti yang dilakukan Mirza.


"Mommy mana, Dad?" tanya Mirza.


"Bentar lagi, mommy keluar," balas Daddy Rehan dengan wajah berbinar cerah.


Mirza dan Lila kembali duduk di tempatnya semula, sementara Daddy Rehan duduk di samping Oma Sekar.


"Ada apa, Daddy menyuruh abang untuk pulang sekarang? Terus di luar itu ramai orang-orang, memangnya mau ada acara apa, Dad?" tanya Mirza yang sudah tidak sabar ingin segera tahu maksud sang Daddy.


"Nanti malam, daddy akan mengadakan 𝘧𝘢𝘮𝘪𝘭𝘺 𝘨𝘢𝘵𝘩𝘦𝘳𝘪𝘯𝘨 untuk mengukuhkan Abang sebagai pengganti Daddy di perusahaan," balas Daddy Rehan.


"Nanti malam, Dad?" tanya Mirza terkejut. "Mirza 'kan belum resmi jadi sarjana, Dad," lanjutnya yang masih tak percaya.

__ADS_1


"Mirza pikir, akad nikah Mirza sama Lila mau di percepat," imbuh Mirza yang masih sempet bercanda, hingga mendapatkan hadiah cubitan dari Lila di lengannya.


"Huu, itu sih maunya Bang Mirza aja, Kak Lila enggak tuh," cibir Tante Jihan.


Mirza terkekeh.


"Dad, apa itu tidak terburu-buru, Dad?" tanya Mirza kembali. "Mirza khawatir, akan mengecewakan Daddy nantinya," lanjut Mirza.


"Bukan mengecewakan daddy, Bang, tetapi akan mengecewakan istrimu karena di pundak Abang-lah masa depan keluarga kecil Abang nantinya," tutur sang Daddy.


"Bagaimana, Kak Lila. Kak Lila siap 'kan, mendampingi putra Daddy?" tanya Daddy Rehan, seraya menatap Lila.


Lila menoleh ke arah Mirza, di saat yang sama, putra Daddy Rehan yang wajahnya paling mirip dengan sang daddy itu pun menoleh ke arah Lila.


Sejenak, kedua netra mereka saling bertaut dan kemudian sama-sama tersenyum.


"InsyaAllah, Lila siap, Dad," jawab Lila kemudian, yang membuat semuanya menjadi lega.


"Apalagi yang menurut lu kurang, Rey? Lihat sendiri, sana!" Om Alex yang baru datang, langsung duduk di antara Daddy Rehan dan Oma Sekar.


"Apaan, sih! Main serobot aja!" gerutu Daddy Rehan, yang terpaksa bergeser.


"Gue 'kan juga kangen sama Mama," balas Om Alex dengan santainya, sambil gelendotan di lengan Oma Sekar.


Oma Sekar terkekeh pelan, seraya mengusap rambut sahabat sekaligus asisten abadinya Daddy Rehan tersebut.


"Kalian berdua ini, dari dulu seperti Tom 𝘢𝘯𝘥 Gerry," tutur Oma Sekar mengenang masa kecil mereka berdua.


"Rey itu lho, Ma. Kalau punya kemauan, harus langsung dituruti. Alex 'kan pusing, Ma. Masak mau ngadain acara resmi seperti ini, tadi pagi ngasih tahu Alex, terus malam harus sudah siap," adu Om Alex, yang membuat semuanya senyum-senyum karena sudah paham dengan karakter Daddy Rehan.


"Tapi udah 𝘤𝘭𝘦𝘢𝘳 semua 'kan?" tanya Daddy Rehan seraya mencebik.


"Udah, makanya coba lu cek sendiri sana!" kesal Om Alex.


"Ogah! Kalau ada yang kurang, lu yang harus tanggung jawab!"


"Kak Lila udah datang?" tanya Mommy Billa yang baru saja keluar dari kamar, menghentikan perdebatan kecil tersebut.


"Ayo, sama Abang juga, kalian 𝘧𝘪𝘵𝘵𝘪𝘯𝘨 baju dulu," ajak Mommy Billa yang hendak naik ke lantai atas.


"Mom, kok pakai acara 𝘧𝘪𝘵𝘵𝘪𝘯𝘨 baju segala. Apa jangan-jangan, nanti malam usai acara pengukuhan Mirza, beneran akan dilanjut akad nikah Mirza dan Lila ya, Mom?" tanya Mirza yang masih berharap, seraya beranjak yang diikuti oleh Lila.


Mommy Billa mengerutkan kening, sementara Daddy Rehan tersenyum tipis.


_____ bersambung _____

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


Dad ... jelaskan padaku, apa arti senyummu??? 😄😄


__ADS_2