
"Ish, apaan sih, Abang. Itu mulu yang di bahas," protes Lila yang langsung beranjak, mencuri kecupan kecil di pipi Mirza dan langsung berlari menjauh masuk ke dalam kamar.
Membuat Mirza tertegun di tempatnya, seraya mengusap pipi yang baru saja di kecup sang calon Ibu Suri.
Mirza tersenyum, hatinya membuncah bahagia. Ia geleng-geleng kepala sendiri. 'Baru dikasih 𝘬𝘪𝘴𝘴 tipis, aku udah sebahagia ini?' batin Mirza bertanya, pada dirinya sendiri.
Ya, Mirza bingung sendiri dengan apa yang saat ini ia rasakan. Hanya mendapatkan ciuman di pipi dari Lila, hati Mirza sudah melambung tinggi. Padahal, ini bukanlah yang pertama ia dapatkan dari Lila.
Dari dulu pun, Mirza ataupun Lila, sesekali memberikan pelukan sekilas ataupun ciuman di pipi, jika ada salah satu diantara mereka yang ulang tahun. Karena hubungan kedekatan mereka berdua, yang sudah seperti saudara kandung.
Meski hubungan keduanya tak sedekat antara Nezia dan Mirza, dimana Nezia senang bergelayut manja pada Mirza atupun pada Attar, sang om. Lila dan Mirza tetap menjaga jarak karena mereka berdua tak memiliki hubungan darah.
Mirza kemudian segera masuk kedalam kamar, didapatinya Iqbal dan Attar masih asyik bercengkrama membicarakan pacar-pacar mereka berdua yang sahabatan. Nirina yang akhirnya bisa ditaklukkan oleh Iqbal dan Dedek Gemoy, yang keduanya juga merupakan sahabat Maira dan Maida.
"Kamu kenapa, Za? Senyum-senyum sendiri, kayak orang lagi kesambet?" tanya Attar yang keheranan, melihat sang keponakan senyum-senyum sendiri sambil memasuki kamar dan langsung menuju tempat tidur.
Mirza yang langsung merebahkan diri masih dengan senyumnya yang mengembang, mengabaikan pertanyaan Attar. Ia lebih memilih untuk langsung memejamkan mata, agar bisa bermimpi dan mengulang kejadian barusan.
Attar dan Iqbal hanya bisa menertawakan Mirza sambil ghibah tentang Mirza dan Lila, tetapi meskipun Mirza bisa mendengar celotehan kedua saudaranya, yang sengaja tak memakai peredam suara, Mirza tetap melanjutkan khayalannya dan tak memperdulikan mereka berdua.
Sementara di kamar yang ditempati Nezia dan Lila, Lila yang tadi masuk ke dalam kamar langsung menuju kamar mandi dan mengunci diri di dalam sana.
Ia raba bibir tipis yang baru saja nakal, memberikan kecupan ringan di pipi putih Mirza. Lila tersenyum seraya memandangi bayangannya sendiri dari pantulan cermin.
'Apa aku tadi terkesan nakal, ya? Apa Mirza akan 𝘪𝘭𝘧𝘦𝘦𝘭 padaku setelah ini?' batin Lila bertanya, pada dirinya sendiri.
Mengingat akan hal itu dan khawatir Mirza akan berpikir buruk tentangnya, membuat Lila yang awalnya senyum-senyum sendiri kini menjadi galau.
Lila mondar-mandir dengan perasaan yang resah dan gelisah, memikirkan apa yang akan dipikirkan oleh Mirza tentangnya.
'Apa, aku chat aja ya dan meminta maaf?' tanya Lila menimbang-nimbang, ia termenung sambil memandangi wajahnya dari pantulan cermin yang ada di dalam kamar mandi.
Nezia yang tadi melihat sahabatnya buru-buru masuk ke dalam kamar mandi seraya tersenyum dan memegangi bibir, jadi bertanya-tanya sendiri.
'Apa, mereka berdua habis berciuman?' gumam Nezia bertanya dalam hati.
Nezia menggelengkan kepalanya. 'Tidak mungkin, aku tahu persis seperti apa Lila. Ia tidak akan mau berciuman bibir kalau belum halal, itu prinsipnya dari dulu.'
'Sementara Bang Mirza, aku juga tahu abang meskipun orangnya suka jahil bin usil plus ngeselin, tapi dia sangat 𝘤𝘢𝘳𝘦 apalagi sama orang yang disayang. Abang juga pasti akan menjaga Lila dan tidak akan berbuat yang melebihi batas,' lanjut Nezia bermonolog dalam hati.
Setelah beberapa saat menunggu, tetapi Lila tak kunjung keluar dari kamar mandi, membuat Nezia menjadi khawatir.
'Ada apa sih, dengan Lila? Apa yang telah dilakukan abang pada dia?' Nezia buru-buru menggedor pintu kamar mandi karena khawatir dengan keadaan sahabatnya, yang sudah cukup lama berada di dalam sana.
"La, Lila. Buka pintunya!" Nezia berteriak sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi.
__ADS_1
Tak berapa lama, pintu pun di buka dan Lila segera keluar.
"Apaan sih, teriak-teriak kayak di dalam hutan!" protes Lila.
"Kamu yang apaan? Kenapa lama sekali di dalam kamar mandi? Ada apa? Apa yang telah dilakukan abang sama kamu?" cecar Nezia dengan banyak pertanyaan.
Lila melenggang menuju tempat tidur, sementara Nezia mengikutinya dengan tatapan menyelidik.
"La, ada apa?" tanya Nezia dengan tidak sabar.
"Duduk dulu, Nez," balas Lila dengan santai.
Lila kemudian duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran ranjang, Nezia mengikuti dan duduk di samping Lila.
Lila masih terdiam, ia menimbang-nimbang haruskah bercerita jujur pada Nezia.
'Enggak, enggak. Aku malu kalau nanti Inez buka mulut pada semua orang,' batin Lila.
"La, kok malah diam aja!" protes Nezia yang sudah tidak sabar menunggu.
"Eh iya, 𝘴𝘰𝘳𝘳𝘺," balas Lila.
Lila kemudian membetulkan duduknya dan menghadap Nezia. "Tadi, aku dikasih cincin ini sama abang kamu, hadiah dari mommy katanya," ucap Lila sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manis tangan kanannya.
"Wah, berarti kamu udah fix jadi calon mantunya mommy!" seru Nezia dengan senang. "Selamat ya, La. Aku ikut seneng deh, dengernya," lanjutnya, yang langsung memeluk sang sahabat.
"Wah, Bang Lutfi telepon!" serunya dengan girang. Putri bungsu Om Alex tersebut, langsung menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan dari sang kekasih pujaan hati.
Lila tersenyum melihat tingkah Nezia yang begitu bersemangat, mendapatkan telepon dari pacarnya. Lila kemudian teringat bahwa ia ingin menghubungi Mirza dan meminta maaf atas apa yang telah dilakukannya tadi.
'Sebaiknya, aku chat saja, deh,' batin Lila, yang langsung menuliskan sesuatu di ponselnya.
'Assalamu'alaikum, Abang. Lila mau minta maaf, untuk yang tadi." Lila langsung mengirimkan pesan tersebut ke nomor Mirza.
Pesan dari Lila terkirim dan langsung centang biru, membuat Lila tersenyum karena sang Baginda Raja juga terlihat langsung mengetikkan balasan.
"Maaf untuk apa? Perasaan, kamu enggak ada melakukan kesalahan deh, Sayang," balas Mirza.
"Ada, Bang. Yang tadi," kekeuh Lila.
"Yang mana, Sayang?" tanya Mirza, yang sepertinya sengaja menggoda agar Lila menyebutkan dengan jelas.
"Yang tadi itu, sebelum Lila lari," balas Lila.
"Yang mana, Sayang. Coba katakan dengan jelas," pinta Mirza.
__ADS_1
Lila mengerucutkan bibir, ia protes pada Mirza yang seolah mereka berdua sedang berhadapan.
"Yang itu, Bang. Cium pipi," balas Lila. "Maaf, ya. Lila khilaf," lanjutnya mengirimkan pesan.
"Lila malu, Bang. Abang pasti menganggap Lila cewek gampangan," imbuhnya.
Mirza mengirimkan emotikon senyum dan 𝘭𝘰𝘷𝘦 sangat banyak, hingga membuat Lila mengernyitkan dahi.
"Aku telepon aja, angkat ya?" pinta Mirza.
Belum sempat Lila mengirimkan balasan, Mirza telah menghubunginya.
"Sayang," sapa Mirza langsung tanpa mengucapkan salam.
"Iya," balas Lila singkat.
"Aku enggak pernah kok, menganggap kamu cewek seperti itu. Jujur, aku terkejut tadi tapi aku suka. Sangat suka malah," ucap Mirza seraya terkekeh senang.
"Tuh kan, Abang tertawa. Pasti ngeledekin Lila, kan?" rajuk Lila.
"Enggak, Sayang. Aku berkata jujur," balas Mirza. "Siapa sih, yang enggak suka dikasih kejutan sama kekasih hatinya," lanjut Mirza yang terdengar sungguh-sungguh.
"Bahkan jika boleh, aku maunya yang lebih dari cium pipi," goda Mirza.
"Udah, ah ... jangan bahas itu lagi," potong Lila, yang merasa malu membahas hal seperti itu.
"Ya udah, jangan merasa enggak enak seperti itu, ah," pinta Mirza.
"Iya, Bang," balas Lila lirih, seperti sebuah gumaman.
"Oke, Sayang. Selamat beristirahat, semoga mimpi indah. 𝘐 𝘭𝘰𝘷𝘦 𝘠𝘰𝘶, Ibu Suri," pungkas Mirza tanpa mengucapkan salam.
Lila menutup teleponnya seraya mengulas senyuman lebar. "𝘓𝘰𝘷𝘦 𝘠𝘰𝘶 𝘵𝘰𝘰, Baginda Raja."
____ bersambung _____
🌷🌷🌷🌷🌷
I love you, all...
Maaf yah, up cuma satu dan malem banget 🙏🙏
Biar enggak bosan nunggu Bang Mirza up, yuk mampir di novel keren karya author kece badai 😍
Karya : Kak. Deche
__ADS_1
Judul : Istri Pilihan Alika