Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Extra Part_ Modus Ngidam


__ADS_3

Terdengar suara Mirza yang memuntahkan kembali semua isi dalam perutnya di dalam kamar mandi, Lila dengan setia menemani sang suami dan memijat lembut tengkuk Mirza.


"Cukup, Sayang," ucap Mirza sambil mengelap mulutnya dengan tissue yang diberikan sang istri.


Wajah putih Mirza sampai terlihat pucat pasi karena sudah berkali-kali pemuda tampan itu bolak-balik ke kamar mandi, tetapi perutnya masih saja terasa mual.


"Sayang, buka bajumu, cepatlah!" titah Mirza, kala keduanya sudah kembali ke tempat tidur.


"Enggak, enggak. Jangan dibiasakan deh, Bang. Ini benar-benar aneh!" tolak Lila yang duduk di tepi pembaringan sambil memijat kaki sang suami.


Ya, setiap habis muntah dan mengeluarkan semua yang telah masuk ke dalam perutnya, Mirza yang masih merasakan mual akan langsung sembuh jika pemuda itu menyesap asset indah sang istri yang di pucuknya terdapat buah cherry berwarna merah muda.


"Sayang, memangnya kamu tega melihat abang seperti ini," rajuk Mirza yang mendekap kembali perutnya karena sensasi mual yang luar biasa masih dia rasakan, tetapi sudah tidak ada lagi yang bisa dikeluarkan.


Mirza memejamkan mata sambil bersandar pada ๐˜ฉ๐˜ฆ๐˜ข๐˜ฅ ๐˜ฃ๐˜ฐ๐˜ข๐˜ณ๐˜ฅ ranjang, menikmati rasa mual yang beberapa hari ini menyambangi Mirza di setiap pagi.


Lila yang tidak tega melihat wajah pucat sang suami, kemudian ikut bersandar dan mulai membuka kancing baju bagian atas.


"Bang, ini. Jangan kenceng-kenceng ya, kasihan calon putra kita nanti enggak kebagian," ucap Lila seraya tersenyum, wajah putih itu merona merah kala menunjukkan kedua assetnya pada sang suami.


Mirza tersenyum dan segera melahap buah kesukaannya tersebut, wajah putih Mirza perlahan kembali cerah dan tak lagi pias seperti tadi.


Mirza tentu saja bukan hanya menikmati buah kesukaannya, tetapi pemuda itu mengambil kesempatan untuk menjenguk calon buah hatinya yang baru seumur jagung.


"Sayang, abang rela jika setiap kali kamu hamil seperti ini, abang yang ngidam. Tak mengapa abang merasakan mual setiap pagi," ucap Mirza sambil menutupi tubuh polos sang istri setelah keduanya mencapai pelepasan bersama.


Lila mengerucutkan bibir. "Ya pasti Abang tidak keberatanlah, orang obatnya ngidam modus gini," cibir Lila.


Mirza tersenyum dan kemudian mencium kening sang istri dengan begitu lembut dan penuh kasih.


"Enggak modus, Sayang. Tetapi ini 'kan maunya bayi kita," kilah Mirza membela diri.

__ADS_1


"Bilang aja, ini maunya Abang. Jangan jadikan anak kita sebagai kambing hitam, ah!" protes Lila.


Mirza terkekeh pelan. "Iya, iya. Ini maunya abang," balas Mirza mengaku.


"Ya udah, Abang mau siap-siap ke kantor," lanjut Mirza seraya beringsut. "Kamu kalau mau istirahat dulu enggak apa-apa, Sayang. Abang bisa siapkan semua sendiri," ucap Mirza.


"Hem," balas Lila hanya dengan gumaman. Istri Mirza itu masih ingin bermalas-malasan di atas pembaringan yang empuk.


Mirza kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Lila yang masih tiduran segera beringsut.


'Aku enggak boleh malas-malasan, suamiku yang ngidam saja tetap semangat bekerja demi aku dan calon anak kami, masak aku malah ber leha-leha saja,' gumam Lila, sambil mengenakan pakaiannya kembali


Lila menyiapkan baju ganti untuk sang suami, istri cantik Mirza itu kemudian menyusul sang suami masuk ke dalam kamar mandi yang tak pernah dikunci.


Mereka berdua pun mandi bersama seperti hari-hari biasanya.


"Bang, Lila mau ikut abang ke kantor, boleh?" pinta Lila tiba-tiba, setelah Mirza rapi berpakaian.


Beruntung, bukan Lila yang mengalami ๐˜ฎ๐˜ฐ๐˜ณ๐˜ฏ๐˜ช๐˜ฏ๐˜จ ๐˜ด๐˜ช๐˜ค๐˜ฌ๐˜ฏ๐˜ฆ๐˜ด๐˜ด sehingga kehamilannya tak mengalami masalah berarti, tetapi Mirza yang setiap pagi harus rela bolak-balik ke kamar mandi dan menguras habis isi perutnya.


"Jenuh kali, Bang, di rumah segede ini sendirian," rajuk Lila karena Mirza belum memberikan jawaban.


"Pakaikan dasi abang dulu, baru nanti abang jawab," goda Mirza seperti biasanya.


Lila menurut, tetapi istri Mirza yang terbiasa dijahili sang suami itupun sesekali ingin menjahili Mirza. Lila mengeratkan tali dasi Mirza hingga hampir mencekik leher suaminya itu.


"Aw, Sayang! Kamu mau membunuhku?" protes Mirza sambil melonggarkan dasi yang mengikat lehernya.


Lila tertawa cekikikan tanpa rasa berdosa, ia kemudian memeluk suami tampannya itu dan menyandarkan kepalanya dengan manja di dada bidang Mirza.


"Malah tertawa." Mirza mencubit gemas pipi Lila.

__ADS_1


"Ya enggak mungkinlah, Bang, Lila mau mencelakai Abang. Nanti siapa dong yang menemani Lila bobok," balas Lila dengan suara manja. Lila semakin mengeratkan pelukannya, wanita cantik itu seakan enggan jauh-jauh dari sang suami.


"Lila masih kangen," rajuknya manja.


"Sayang, jangan begini. Nanti abang enggak jadi ke kantor, lho," protes Mirza kala dada sang istri semakin menempel di dadanya, terasa hangat dan kenyal membuat Mirza menjadi gagal fokus.


Mirza menciumi puncak kepala sang istri, seolah ingin menyimpan aroma wangi shampoo yang menguar dari rambut Lila yang masih setengah basah, di dalam memorinya.


Beberapa menit berlalu, tetapi Lila masih enggan melepaskan pelukannya.


"Ya udah, ayo kalau mau ikut abang! Cepat siap-siap!" ajak Mirza akhirnya.


Lila tersenyum lebar. "Asyik, makasih Abang," ucap Lila dengan riang, istri cantik Mirza itu sampai bertubi-tubi menghujani sang suami dengan ciuman di pipi, saking bahagianya karena diizinkan untuk ikut ke kantor.


Padahal biasanya, Lila paling malas kalau diajak ke kantor. Sebab ia tahu, endingnya akan kemana jika sang suami tiba-tiba mengajaknya ke kantor.


Seharian Mirza akan mengunci pintu ruangannya dan bersenang-senang dengan istrinya itu, hingga membuat Lila merasa malu pada sekretaris Mirza yang usianya jauh lebih tua dari Mirza dan Lila, sesuai permintaan Lila yang tak ingin sang suami didekati gadis-gadis cantik dan seksi.


Tetapi sejak kehamilannya, Lila sering memberikan kejutan yang tak pernah disangka oleh Mirza. Seperti pagi ini, yang tiba-tiba ingin ikut ke kantor sambil tersenyum menggoda.


"Sepertinya, abang harus meminum jamu dulu, Sayang," ucap Mirza sambil memeluk mesra pinggang sang istri keluar dari kamar.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน Bang Mirza di kantor kerja apa, sih? Kok sampai harus minum jamu segala?? ๐Ÿฅฐ


*****


Promo Novel Baru yah,, yang belum mampir, monggo mampir ๐Ÿ˜



Jangan lupa, fav, like, komen dan bintangโญโญโญโญโญ ๐Ÿค—๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2