
Nenek Rahmi terpana memandangi wajah tampan Mirza yang tengah tersenyum kepadanya, tatapan Mirza dengan netra kebiruannya yang menawan dan begitu tajam langsung mengingatkan beliau pada sosok yang dulu ia idam-idamkan.
"Kamu ...." Ucapan Nenek Rahmi menggantung di udara. Nenek tua itu nampak mengingat-ingat sesuatu.
"Apakah kamu mengenal Alamsyah? Sultan Alamsyah?" tanya Nenek Rahmi dengan penuh selidik.
Ingatan Nenek Rahmi seolah kembali ke masa itu, masa dimana dirinya dibuat jatuh bangun mengejar cinta Sultan Alamsyah yang merupakan teman seangkatannya di perguruan tinggi di Yogyakarta.
Namun, pemuda tampan yang mati-matian dikejarnya, justru mengejar gadis lain, Sekar sang primadona Kampus Biru.
Mirza Mengangguk. "Tentu saja Mirza mengenal beliau, Nek. Opa Sultan, adalah opanya Mirza," balas Mirza seraya mengerutkan kening.
"Nenek mengenal opa Mirza?" tanya Mirza balik dengan penuh rasa penasaran.
Nenek Rahmi tersenyum lebar, bayangan Sultan Alamsyah yang mempesona kembali hadir di pelupuk netra tua Nenek Rahmi. Wanita tua itu terus menatap Mirza, seolah ingin mengobati kerinduan yang telah terpendam lebih dari setengah abad lamanya.
Nenek Rahmi mengangguk. "Iya, Nak. Sultan adalah teman kuliah nenek," balas Nenek Rahmi masih dengan senyuman yang mengembang di wajah keriputnya.
"Siapa nama kamu, Nak?" tanya Nenek Rahmi dengan lembut.
"Mirza, Nek. Mirza Daniar Alamsyah," balas Mirza yang menyebutkan nama lengkapnya.
"Ya, ya, ya. Alamsyah, kamu memang Alamsyah sejati, Nak. Kamu benar-benar mirip dengan opa-mu itu," tutur Nenek Rahmi seraya mengangguk-angguk.
"Bagaimana kabar Sultan dan Sekar, Nak?" tanya Nenek Rahmi kemudian.
"Alhamdulillah, opa dan oma sehat, Nek," balas Mirza.
"Kami sudah sangat lama sekali tidak bertemu dan juga tidak saling bertukar kabar, tepatnya sejak Sultan menikah dengan Sekar dan nenek menikah dengan suami nenek," kenang Nenek Rahmi seraya menerawang ke langit-langit ruangan tersebut.
Ya, Nenek Rahmi yang patah hati lantas menerima pinangan kakak tingkatnya dan kemudian menikah tak lama setelah Opa Sultan menikahi Oma Sekar.
Namun, meskipun cintanya bertepuk sebelah tangan, hubungan Nenek Rahmi dengan Opa Sultan maupun Oma Sekar masih tetap berjalan baik hingga dirinya menikah.
Suami Nenek Rahmi yang kemudian memintanya untuk memutuskan komunikasi, ia tidak lagi diijinkan menjalin hubungan dengan Opa Sultan maupun Oma Sekar karena suami Nenek Rahmi masih menyimpan rasa cemburu pada Opa Sultan.
"Apa kamu bisa menghubungi opa dan oma kamu, Nak? Nenek kangen sama mereka berdua," pinta Nenek Rahmi yang melupakan urusan sang cucu.
"Maaf, Nek. Opa dan Oma tidak tinggal di Jakarta, beliau berdua tinggal di Singapura," balas Mirza.
__ADS_1
"Nek, urusan Ronald gimana?" bisik Ronald bertanya.
"Nanti dulu, Nang. Nenek mau minta nomor 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘢𝘤𝘵 opa dan omanya Nak Mirza dulu," balas Nenek Rahmi yang kemudian memberikan ponselnya kepada Mirza.
"Tolong, Nak. Simpan nomor opa dan oma kamu di ponsel nenek," pinta Nenek Rahmi.
Mirza menerima ponsel tersebut dan segera menyimpan nomor sang opa, di ponsel Nenek Rahmi.
"Terimakasih, Nak Mirza. Kamu sangat sopan, Nak. Persis seperti Sekar yang keturunan keraton," tutur Nenek Rahmi seraya menerima ponselnya kembali.
Mirza tersenyum hangat. "Terimakasih, Nek. Tapi Nenek berlebihan karena Mirza tak sebaik itu," balas Mirza yang merendah.
"Oh ya, Nak. Nak Mirza ini, apanya Nak Lila?" tanya Nenek Rahmi yang teringat kembali perkataan sang cucu tadi.
Mirza melirik Lila dan Lila tersenyum padanya. "Mirza, calon suami Lila, Nek," balas Mirza dengan tegas seraya terselip doa di sana, kiranya malaikat yang mendengar ucapan baiknya akan ikut mengaminkan harapan Mirza.
"Dia bohong, Nek!" seru Ronald yang tidak terima. "Mereka berdua hanya bersahabat," lanjutnya menjelaskan sejauh sejauh yang ia tahu.
Nenek Rahmi menatap Lila, menuntut penjelasan.
Lila mengangguk dan tersenyum. "Benar, Nek. Kami memang bersahabat sejak kecil tapi seiring berjalannya waktu, kami saling suka dan memutuskan untuk segera menikah," tegas Lila.
Mendengar perkataan Lila, Mirza membulatkan netranya. Ia tak menyangka, Lila akan mengatakan hal demikian, bahkan sampai ke pernikahan. Dalam hati pemuda tampan itu, bersorak bahagia.
"Itu benar, Bang. Kami baru saja merencanakannya, saat kami jalan kemari," balas Lila.
"Maaf, Bang. Jujur, sejak awal pertemuan kita dimana Abang sudah menunjukkan sikap yang kurang baik, Lila sudah tidak 𝘳𝘦𝘴𝘱𝘦𝘤𝘵 sama Abang. Di tambah kejadian tadi di diskotik, Lila semakin 𝘪𝘭𝘧𝘦𝘦𝘭 sama Bang Ronald," lanjut Lila dengan sejujurnya, yang membuat Ronald menjadi geram.
Reflek, Ronald melayangkan tinju ke arah wajah Mirza tetapi Mirza yang melihat gerakan tangan Ronald, langsung menghindar hingga membuat Ronald meninju ruang kosong.
"Son! Bukan seperti ini, caranya!" hardik sang papa, yang langsung mencengkeram tangan Ronald.
Ronald berusaha menepis tangan papanya, namun Om Rusman yang berpostur tinggi besar tak mudah dilawan oleh Ronald, meski pemuda itu juga memiliki postur tubuh yang sama dengan sang papa.
Nenek Rahmi menggeleng-gelengkan kepala. "Nang, cinta itu tidak bisa dipaksakan, Nang," tutur Nenek Rahmi, yang teringat kembali akan perjuangannya dulu dalam menaklukkan hati opanya Mirza.
Perilaku Nenek Rahmi yang sopan dan baik, perhatiannya yang besar terhadap Opa Sultan, serta pertemanan mereka berdua yang telah terjalin cukup lama, ternyata tak cukup untuk membuat Opa Sultan jatuh cinta kepadanya.
Ya, karena cinta itu tidak bisa ditebak darimana datangnya. Ia bisa datang dari mata dan kemudian turun ke hati, yang artinya cinta itu datang tepat pada pandangan pertama, saat pertama kali berjumpa.
__ADS_1
Bisa juga, cinta itu datang karena terbiasa. Terbiasa bersama-sama dalam melakukan apapun, yang kemudian menimbulkan kenyamanan dan ketergantungan. Cinta itu tumbuh begitu saja dan tanpa disadari pada awalnya.
"Tapi, Nek! Papa dan Om Devan telah menjodohkan kami, Nek!" seru Ronald yang masih belum bisa menerima penolakan Lila.
"Iya, Son. Kamu benar," sahut Om Rusman. "Papa juga akan tetap menagih janji Devan mengenai perjodohan kalian, jika saja kamu tidak melakukan hal yang memalukan seperti tadi!" lanjutnya penuh amarah, seraya menatap tajam putranya.
"Apa kamu pikir, Devan akan membiarkan putrinya yang sholihah ini dinikahi oleh pemuda seperti kamu?" Om Rusman menggelengkan kapala berkali-kali.
Emosi Om Rusman benar-benar memuncak karena sedari mendengar kejadian tadi pagi, Om Rusman belum sempat bertemu dengan sang putra. Om Rusman harus mengurus sang ibu yang jatuh pingsan, sementara urusan Ronald Ia serahkan pada asisten dan pengacara keluarga.
"Sudah, Pa. Jangan dimarahi terus putra kita," cegah sang istri yang kemudian menarik lengan Ronald, agar duduk bersamanya di sofa.
"Mama selalu saja, belain dia! Makanya dia jadi ngelunjak dan tak tahu aturan!" tuding Om Rusman pada istrinya.
Mama Catherine yang telah terbiasa berdebat dengan sang suami mengenai Ronald, hanya mengedikkan bahu tak perduli. Ia hanya ingin melindungi putranya dan tak ingin sang putra terlalu di kekang dengan banyak aturan yang diterapkan sang suami.
Ronald yang selalu mendapatkan pembelaan sang mama tentu saja menjadi ngelunjak dan tumbuh liar di luar sana, tanpa dapat di kendalikan oleh kedua orang tuanya.
"Maaf, Nek. Jika sudah tidak ada yang mau dibicarakan sama Lila, kami mohon pamit," pinta Mirza dengan sopan.
Rupanya Mirza sudah tidak sabar ingin mengklarifikasi pernyataan Lila tadi, yang mengatakan bahwa mereka akan segera menikah.
"Iyah, Nek. Biar Nenek bisa beristirahat," timpal Lila.
Nenek Rahmi mengangguk. "Iya, Nak. Maafkan cucu nenek ya, Nak Lila," pinta Nenek Rahmi yang berbesar hati menerima keputusan Lila.
"Nenek do'akan, semoga kalian berdua bahagia dan memiliki banyak anak," doa tulus Nenek Rahmi sambil mengusap puncak kepala Lila, kala Lila berpamitan.
"Aamiin ...."
_____ bersambung ____
Good Night, Bestie ... have a nice dream 🤗
Sambil nunggu Bang Mirza up kembali esok hari, mampir dimari yah 🙏
Novel keren karya temanku 😍
Judul : Matia's Women
__ADS_1
Author : Hilmiath