Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Menikahlah Denganku


__ADS_3

Daddy Rehan hanya tersenyum, seraya menatap putranya.


"Mirza siap kok, Om. Mau nikah sekarang, ayo aja," balas Mirza tegas, ia kemudian menatap Lila.


"Bagaimana, Sayang?" tanya Mirza dengan lembut.


Lila menatap sang papa. "Lila ikut aja bagaimana baiknya menurut papa dan mama," balas Lila dengan bijak.


"𝘎𝘰𝘰π˜₯ 𝘨π˜ͺ𝘳𝘭," ucap Om Devan yang langsung memeluk sang putri. Om Devan bahkan menitikkan air mata haru, mendengar jawaban Lila barusan.


Sebab, meskipun Om Devan tahu bahwa putrinya sangat mencintai Mirza. Namun, Lila tetap menyerahkan segala keputusan mengenai masa depannya kepada kedua orang tua.


Om Devan kemudian melerai pelukannya dan mengusap puncak kepala sang putri, dengan penuh kasih.


"Kalian berdua sudah sama-sama dewasa, kalian juga saling mencintai. Maka, tak ada alasan bagi papa untuk menunda-nunda keinginan baik kalian," ucap Om Devan.


"Tapi, selaku pihak perempuan, tentu kami akan menunggu iktikad baik dari pihak laki-laki, bukan?" tanya Om Devan seraya menatap Opa Alvian, papanya Lila tersebut sengaja menyindir calon besannya.


Daddy Rehan mencebik. "Malam ini juga, kami akan berkunjung ke rumahmu, Dev," tegas Daddy Rehan yang tidak mau dianggap remeh.


"𝘎𝘰𝘰π˜₯ π˜ͺπ˜₯𝘦𝘒, gue tunggu kedatangan kalian. Tapi, untuk ijab qabulnya, gue tetap berharap setelah mereka di wisuda. Jadi, ijazah dulu baru ijab sah," pinta Om Devan.


Para orang tua itu nampak mengangguk-angguk, mereka semua setuju dengan keinginan Om Devan.


"Ya, gue setuju sama lu, Dev. Nunggu wisuda, juga enggak terlalu lama. Lagipula, untuk menikah juga butuh persiapan," timpal Opa Alvian.


"Kok kami berdua enggak ditanyain, setuju nikah setelah wisuda apa enggak," protes Mirza.


"Alah, sok-sokan jual mahal lu, Bang. Paling juga langsung mau," cibir Om Ilham pada keponakannya. "Dah kelihatan tuh, ngebetnya. Bawaannya pengin nempel mulu, sama Kak Lila," lanjut Om Ilham menegaskan.


Mirza dan Lila saling pandang, sedetik kemudian tersenyum bersama.


"Berarti, untuk resepsinya tetap menunggu hunian ini beres, ya?" tanya Om Ilham memastikan.


Om Devan dan Daddy Rehan mengangguk berbarengan. "Iya, Ham."


"Tumben, kalian berdua kompak!" olok Om Alex.


"Sekarang 'kan udah ada yang merekatkan ikatan mereka berdua, Lex," sahut Opa Alvian.


"Udah, udah. Bubar semua!" titah Daddy Rehan seraya berlalu menuju mobil.


"Ham, tolong sampaikan sama ayah dan ibu," pinta Daddy Rehan, agar Om Ilham menyampaikan maksudnya untuk silaturrahim ke kediaman Om Devan pada Kakek Ilyas dan juga Nenek Lin.


"Siap, Bang. Ilham ke rumah ibu sekarang," balas Om Ilham yang bergegas menuju ke mobilnya.


"Rey!" seru Om Devan memanggil Daddy Rehan, sebelum daddy tampan itu masuk ke dalam mobil.


Daddy Rehan menoleh.


"Nanti malam gimana? PHP enggak?" tanya Om Devan memastikan apa yang dikatakan Daddy Rehan tadi.


"Gue bukan lu, yang suka PHP in anak gadis orang," balas Daddy Rehan yang langsung tepat sasaran, membuat Om Devan melemparkan kerikil kecil ke arah Daddy Rehan.


"Lihat, Lex. Baru juga lu katain kompak, sekarang udah kayak kucing sama kambing," ucap Opa Alvian.


"Bukan kambing, Bang!" sergah Om Devan cemberut.


Daddy Rehan yang berhasil menghindar, kemudian segera masuk ke dalam mobilnya. "Bang, habis ngantar Kak Lila, Abang langsung pulang!" seru Daddy Rehan, setelah membuka kaca jendela mobilnya.

__ADS_1


Mirza mengangguk, mengiyakan.


"Kak Lila, pulang sama papa dan mama atau mau diantar calon suamimu?" tanya Om Devan pada putrinya.


"Memangnya, mama dimana, Pa?" tanya Lila, mengernyit.


"Mama nunggu di rumah Oma Susan," balas Om Devan.


"Maaf, Pa. Biar Lila, Mirza yang antar," ijin Mirza.


Om Devan mengangguk setuju.


"Tunggu, tunggu. Sejak kapan Bang Mirza manggil dia, papa?" tanya Om Alex seraya menunjuk Om Devan.


Mirza tersenyum, sementara Om Devan mencebik. "Kenapa, memangnya?"


"Enggak apa-apa sih, Dev. Aneh aja," balas Om Alex terkekeh seraya berjalan menuju mobilnya, yang diikuti oleh Opa Alvian.


Om Devan mengedikkan bahu. "Ya udah, Bang Mirza. Langsung antar Kak Lila pulang," titah Om Devan pada calon menantunya.


Mereka semua masuk ke dalam mobil masing-masing dan kemudian segera meninggalkan tempat tersebut.


Di dalam mobilnya, pemuda tampan itu masih saja mengembangkan senyum manisnya. Mirza melirik Lila, yang sedari masuk ke dalam mobil selalu menatap ke luar jendela kaca.


"Apa kamu bahagia, Sayang?" tanya Mirza seraya menoleh ke arah Lila.


Lila mengangguk.


"Sayang, kok enggak di jawab?" desak Mirza.


"Udah, Bang. Lila udah mengangguk tadi," balas Lila.


"Iya, Abang. Lila bahagia banget," jawab Lila yang membuat Mirza tersenyum lebar.


"Makasih, Sayang. Abang juga sangat bahagia," ucap Mirza sambil mengusap punggung tangan Lila.


"Sayang, kita ke butik dulu, ya. Aku mau beliin kamu gaun untuk nanti malam," ucap Mirza, yang langsung membelokkan mobilnya ke arah jalan yang menuju butik kakak sepupunya.


"Enggak perlu, Bang. Lila masih ada gaun, yang belum pernah Lila pakai, kok," tolak Lila, meski Mirza sudah membelokkan arah mobilnya.


"Tak mengapa, Sayang. Kita beli yang 𝘀𝘰𝘢𝘱𝘭𝘦," kekeuh Mirza.


"Terserah Abang aja, deh," jawab Lila pasrah.


Mirza tersenyum senang. "Benar-benar calon istri sholehah," ucap Mirza yang terselip doa di sana.


Tak berapa lanat, mobil yang dikendarai Mirza berbelok menuju butik Putri Alamsyah yang saat ini dikelola oleh Fira.


Mirza segera turun dari mobil, setelah memarkirkan mobil di samping mobil Fira. Ia bergegas menuju pintu sisi kiri, untuk membukakan pintu sang calon istri.


"Silahkan, Ibu Suri," ucap Mirza seraya mengulurkan tangannya.


Lila menepis pelan tangan Mirza. "Jangan gandengan melulu, kayak truk aja," ucap Lila sambil tersenyum.


Mirza mengernyit dan sedetik kemudian terkekeh. "Maka dari itu, Sayang. Gandeng abang, dong ... truk aja gandengan, masak kita enggak," balas Mirza yang membalikkan ucapan Lila.


Lila mengerucutkan bibir dan bergegas masuk ke dalam butik, meninggalkan Mirza yang masih mengulurkan tangan.


Mirza geleng-geleng kepala, kemudian bergegas menyusul Lila masuk ke dalam butik.

__ADS_1


Mirza yang berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Lila kemudian memegang tangan gadis cantik yang tertutup baju lengan panjang, kedatangan mereka berdua seolah disambut sebuah lagu yang terdengar merdu dari audio di butik tesebut.i


Sebuah lagu milik group musik era sembilan puluhan, Java Jive, yang berjudul 'Menikah'.


'Oh, menikahlah denganku


Oh, bahagialah selamanya'


'Musim demi musim berlalu


Menuai usia kita


Biar dua hati bercanda


Di padang yang kita bina'


'Kucium hatimu damai


Tatap matamu harapan


Saat kita erat berpelukan


Untuk indahnya berkata'


'Oh, abadilah cintaku


Oh, biarlah dunia berlalu


Oh, bahagialah kasihku


Oh, bahagialah selamanya'


'Sampai waktu yang memanggil kita


Ku 'kan tetap berkata'


'Oh, menikahlah denganku


Oh, bahagialah selamanya


Oh, abadilah cintaku


Oh, biarlah dunia berlalu'


Mirza melirik mesra sang kekasih hati, begitu pun dengan Lila.


Mereka berdua berjalan sambil saling menatap mesra dan membuat iri semua orang yang melihat, termasuk seorang gadis, yang menatap sinis pada Lila.


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Yeay,,, aku juga mau gaunnya satu Bang Mirza, sama Vote nya juga ya bestie πŸ˜„πŸ€­


Yuk, sambil nunggu Bang Mirza up kembali, mampir di novel kece ini yah..


Judul : Suamiku Bukan Milikku


Karya : Zafa

__ADS_1



__ADS_2