Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Cium Orangnya


__ADS_3

"Tadi pagi itu akal-akalan si Ronald saja," balas Om Devan.


Lila mengernyitkan kening. "Akal-akalan Ronald?"


"Benar, Kak. Karena ternyata, neneknya Ronald tadi pagi masih segar bugar," balas Om Devan. "Baru sekitar satu jam lalu, nenek Rahmi anfal dan harus dilarikan ke rumah sakit, setelah mengetahui kalau Ronald kena gerebek polisi waktu lagi main di diskotik," lanjut sang papa menjelaskan.


"Ronald, kena gerebek polisi?" tanya Lila terkejut.


Yang lain pun nampak terkejut, tetapi tidak dengan Mirza yang sudah mendapatkan informasi dari sang daddy barusan.


"Ya sudah, Kak. Papa tunggu, ya. Assalamu'alaikum," pungkas sang papa, seraya mengucapkan salam.


"Wa'alaikumsalam," jawab mereka semua kompak.


"Ayo, Za. Kamu jadi antar aku, kan?" pinta Lila.


"Tentu saja, Ibu Suri," balas Mirza dengan cengengesan, sehingga bagi para sahabat, Mirza hanyalah bercanda seperti biasanya.


Namun, tidak bagi Lila. Gadis cantik itu tersenyum bahagia, mendengar sebutan spesial untuk dirinya karena Mirza, sudah mengungkapkan isi hati dengan sejujurnya pada Lila.


"Terus, kalau Lila di panggil dengan sebutan Ibu Suri, Abang dipanggil apa, dong?" tanya Nezia.


"Ya, Baginda Raja dong, Nez," balas Attar.


"Ciye ... romantisnya hubungan kalian," ucap Lili sambil memeluk saudari kembarnya.


"Li, udah, ah. Aku harus cepat pulang, kasihan papa sama mama kalau kelamaan menunggu," ucap Lila sambil melepaskan diri dari jerat pelukan Lili.


"Halah, alasan papa dan mama lama nungguin. Padahal udah enggak sabar pengin berduaan aja sama Mirza di dalam mobil," cibir Lili.


"Awas lho, Kak. Hati-hati jika hanya berduaan saja di tempat sepi, nanti ada yang nakal," lanjut Lili seraya terkekeh, mengenang kecentilan nya dulu yang bawaannya pengin nyium Om Doni.


"Huu ... emangnya kamu!" olok mereka serempak, membuat Lili semakin terkekeh senang. Sementara yang lain geleng-geleng kepala mengingat kelakuan sahabatnya yang satu itu.


"Untung aja, lakinya Om Doni. Coba cowok lain macam Ronald, udah invest duluan pasti di rahim kamu," ucap Attar yang dibenarkan oleh yang lain dengan menganggukkan kepala.


"Lili enggak segegabah itu kali, Bang. Sebelum Lili menyodorkan diri, Lili juga udah cari tahu dulu lah, bibit, bebet dan bobotnya Om Doni," kilah Lili.


"Tapi tetap aja cara kamu salah, Dik!" tegas Lila. "Sebagai perempuan, kita harus pandai menjaga harkat dan martabat diri," imbuhnya, membuat Mirza tersenyum simpul seraya menatap dalam Ibu Surinya yang sedang ceramah.


"Iya, iya. Lili tahu itu, Kakak," balas Lili.


"Ayo, La! Ngobrol terus, kapan berangkatnya kita?" ajak Mirza yang sudah beranjak.


Lila pun kemudian beranjak. "Kami pulang duluan, ya," pamit Lila pada yang lain, sementara Mirza hanya melambaikan tangan.


"Za, jagain kakak Lili!" seru Lili sebelum mereka berdua keluar dari kafe.


Mirza hanya mengacungkan ibu jarinya, sebagai tanda oke.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju kediaman orang tua Lila, Mirza hanya diam saja, tak seperti biasanya yang banyak bicara. Hal itu membuat Lila bertanya-tanya dalam hati, ada apakah gerangan. Apakah ia membuat kesalahan, hingga Mirza mendiamkannya.


Cukup lama keheningan itu tercipta, membuat Lila tidak kuat menahan diri untuk tidak bertanya. "Za, kenapa diam saja? Apa, aku ada salah?" tanya Lila hati-hati, seraya menatap Mirza.


Mirza menoleh sekilas dan kemudian menghela napas panjang. "Kak, Yovi. Apa dia masih ada di hati kamu, La?" tanya Mirza yang ternyata masih menyimpan kekhawatiran di hati terhadap kedekatan kembali antara Lila dan Yovi.


Lila hanya tersenyum, tak langsung menjawab. 'Kamu benar-benar cemburu, Za?' batin Lila senang.


"La, kenapa diam saja? Apa diamnya kamu berarti, iya?" cecar Mirza yang nampak gusar.


Lila masih tersenyum, ia seperti sengaja ingin membalas kejahilan Mirza tadi pagi yang telah membuat hatinya ketar-ketir tak karuan.


"La," panggil Mirza kembali, setelah beberapa saat Lila masih terdiam.


"Em ... aku belum tahu, Za," balas Lila sengaja ambigu.


"Kok, belum tahu?" desak Mirza.


"Ya pokoknya belum tahu, Za. 'Kan baru ketemu tadi, jadi aku belum bisa meyakinkan hatiku," balas Lila.


"Kalau Kak Yovi menunjukkan keseriusannya dan memintaku secara resmi untuk menikah dengannya, ya mungkin saja aku akan pertimbangkan," lanjut Lila, yang membuat Mirza semakin resah.


Mirza mendengus kesal, pemuda tampan itu kemudian melajukan mobil sport miliknya dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Lila ketakutan.


"Za, jangan ngebut! Aku takut, Za!" protes Lila yang tanpa sadar mencengkeram tangan kekar Mirza, hingga kukunya yang panjang menggores kulit putih Mirza.


Mirza kemudian memelankan laju kendaraannya. "Bisa tolong lepaskan tanganku, La," pinta Mirza yang merasakan tangannya perih.


"Enggak apa-apa," balas Mirza datar. Mirza mengambil tissue yang ada di tengah-tengah di antara tempat duduknya dan Lila dengan tangan kiri, ia kemudian mengusap tangan kirinya yang berdarah akibat cakaran kuku panjang Lila, dengan tangan kanan.


Lila yang belum sadar apa yang terjadi, mengikuti gerakan tangan Mirza dengan sudut ekor matanya.


"Za, tangan kamu kenapa?" tanya Lila panik, setelah melihat ada darah di tissue yang Mirza pegang.


"Enggak apa-apa kok, La. Hanya luka luar dan kecil, berdarah sih, tapi enggak sakit," balas Mirza. "Berbeda dengan luka di dalam, yang tak berdarah tapi sakitnya enggak ketulungan," sindir Mirza tetapi sambil cengengesan seperti Mirza yang biasanya, Mirza yang enggak pernah bisa serius.


"Maksud kamu?" tanya Lila, seraya mengambil selembar tissue dan membersihkan sisa-sisa darah yang masih ada di tangan Mirza dengan telaten.


Mirza tak menjawab, ia hanya memandang sekilas pada Lila dan kemudian kembali fokus pada jalanan yang padat di depannya.


'Luka hati, La. Jika kamu lebih memilih Kak Yovi ketimbang aku, pasti hatiku akan terluka dan sakit,' bisik Mirza dalam hati.


Lila masih fokus dengan tangan Mirza. "Maaf ya, Za. Gara-gara aku, kamu jadi terluka," sesal Lila. "Nanti sampai rumah, aku akan potong kukuku biar tidak menyakiti kamu lagi," lanjutnya.


Mirza tersenyum lebar mendengar perkataan Lila. 'Sebegitu khawatirnya kamu, La, yang tak ingin menyakiti aku,' batin Mirza.


Ingin rasanya Mirza tak menyangsikan bahwa dirinya telah berhasil memenangkan hati Lila, tetapi mengingat pesona Yovi dan kedekatan Lila dengan pemuda itu dulu, membuat Mirza tak berani menganggap enteng rivalnya.


"Za, kalau ada apotik di depan berhenti dulu, deh," pinta Lila.

__ADS_1


"Mau apa, ke apotik? Kamu sakit?" tanya Mirza khawatir.


Lila menggeleng. "Bukan aku, Za. Tapi kamu, tangan kamu harus di kasih antiseptik supaya enggak infeksi," terang Lila.


"Enggak perlu, La. Ini hanya luka kecil, La," tolak Mirza.


"Jangan keras kepala deh, Za! Aku enggak mau ya, kalau sampai kemu kenapa-napa!" sungut Lila.


"Iya, iya, Ibu Suri," ucap Mirza akhirnya mengalah.


Tepat dua ratus meter di depan ada apotik. Mirza kemudian menghentikan laju kendaraannya dan berhenti di halaman apotik tersebut.


Lila bergegas turun untuk membeli antiseptik yang ia butuhkan. Tak berapa lama, Lila telah kembali dengan membawa kapas dan antiseptik dalam botol mini.


"Sini tangannya, aku obati dulu," pinta Lila.


Lila meletakkan tangan Mirza di atas pangkuannya, dengan telaten gadis itu mengobati kulit putih Mirza yang tergores dengan antiseptik.


"Perih enggak, Za?" tanya Lila, kala melihat Mirza seperti meringis menahan sesuatu.


Mirza mengangguk untuk menutupi perasaannya. Ia bukan meringis karena perihnya luka yang diberi antiseptik, tetapi Mirza meringis menahan agar tangannya yang ada di pangkuan Lila tidak bergerak nakal.


Apalagi kini jarak keduanya begitu dekat, bahkan aroma wangi parfum lembut Lila yang menggoda indera penciuman Mirza semakin menambah horornya suasana di dalam kabin mobil sport Mirza.


Mirza geleng-geleng kepala untuk mengusir pikiran buruk tersebut. Ia sendiri heran, padahal dirinya dan Lila sejak dulu sudah sering bersentuhan meski tanpa di sengaja, tetapi entah mengapa, akhir-akhir ini rasanya sungguh berbeda.


"Nah, udah selesai," ucap Lila sambil membereskan kapas dan antiseptik, kemudian memasukkan ke dalam tasnya.


Mirza hendak mengangkat tangannya karena takut jika lama-lama berada dalam pangkuan Lila, ia akan lepas kontrol. Namun, Lila buru-buru mencegah.


"Tunggu sebentar." Lila memegang tangan Mirza dan kemudian mencium luka yang ada di tangan kokoh Mirza.


"Kata mama, kalau lukanya di cium akan cepat sembuh," ucap Lila setelah mencium luka tersebut.


Mirza terpaku di tempat, sedetik kemudian ia tersadar. "Kalau mau agar lukanya lebih cepat sembuh, bukan bagian lukanya yang di cium, Lila," gumam Mirza, yang masih bisa di dengar oleh Lila.


"Terus, apanya?" tanya Lila dengan polos.


Mirza memajukan wajah, hingga jarak mereka berdua begitu dekat. "Cium orangnya, bukan lukanya," balas Mirza seraya tersenyum.


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Sore bestie,,, ada yang nungguin Bang Mirza gak, ya? 🥰


Yuk, sambil nungguin up nya Bang Mirza, mampir di novel kece punya temenku yah... dijamin bikin nagih 😍


Judul : Takdir

__ADS_1


Karya : Nazwatalita



__ADS_2