Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Mirza Galau


__ADS_3

"Maafkan cucu nenek ya, Nak Lila," pinta Nenek Rahmi yang berbesar hati menerima keputusan Lila.


"Nenek do'akan, semoga kalian berdua bahagia dan memiliki banyak anak," doa tulus Nenek Rahmi sambil mengusap puncak kepala Lila, kala Lila berpamitan.


"Aamiin ...." Mirza mengaminkan dengan sepenuh hati, berharap semoga do'a seseorang yang sedang sakit diijabah oleh Sang Maha Kuasa.


Mirza segera mengajak Lila keluar dari ruang ICU, setelah pamit dengan Om Rusman. Mereka berdua hanya pamit dengan papanya Ronald, tanpa menoleh pada Ronald yang masih terlihat sangat marah.


Setibanya di luar ruangan, Tante Lusi dan Om Devan menyambut keduanya dengan tidak sabar, ingin segera mengetahui pembicaraan di dalam sana.


"Kak, bagaimana tadi? Apa Nenek Rahmi memaksa Kakak?" cecar Tante Lusi, tanpa menyuruh sang putri untuk duduk terlebih dahulu.


Lila mengangguk dan sedetik kemudian menggeleng, hingga membuat kedua orang tuanya menjadi bingung. Begitu pun dengan Damian, yang ikut penasaran dengan nasib sang adik. Sementara Mirza yang berada di samping Lila, mengulum senyum.


"Katakan, Kak. Kenapa Kakak mengangguk dan kemudian menggeleng, ada apa? Apa yang terjadi?" desak Om Devan dengan tidak sabar.


"Iya, Pa. Awalnya, Nenek Rahmi memang sedikit memaksa," balas Lila. "Tetapi, setelah beliau melihat Mirza, semua jadi berubah," lanjutnya seraya melirik Mirza yang sedari tadi tersenyum pada Lila.


"Mirza?" tanya Tante Lusi seraya menatap Mirza.


Lila mengangguk, ia kemudian menceritakan apa yang terjadi di dalam sana.


Om Devan dan sang istri nampak mengangguk-angguk, sementara Damian tersenyum seraya geleng-geleng kepala.


"Ternyata, Opa dulu juga banyak ya penggemarnya. Pantas saja cucunya juga banyak yang ngejar, kayak si Malik, sampai ada yang nangis-nangis saat tahu Malik memutuskan untuk menikahi Tasya," ucap Damian, yang teringat akan kisah sahabatnya yang kini harus menetap di Bandung mengikuti kemauan sang istri yang centil dan manja.


"Mirza juga banyak penggemarnya, iya 'kan, Za?" Lila melirik Mirza. Terdengar ada nada kecemburuan dari ucapannya.


Mirza tersenyum dan kemudian mengacak lembut kepala Lila tanpa sungkan, meski di hadapan kedua orang tua Lila dan juga abangnya.


"Kalian kok, kayak ada yang disembunyikan?" tebak Damian, yang melihat kedekatan Mirza dan Lila tak seperti biasanya.


Sikap Mirza cenderung lebih posesif dan menunjukkan kepemilikan terhadap Lila, begitu pun dengan sang adik yang sekarang jadi cemburu sama Mirza.


Tante Lusi tersenyum pada Mirza, sementara Om Devan menatap Mirza penuh selidik. Seolah ingin meyakinkan hatinya, apakah Mirza sudah mengakui perasaannya pada sang putri ataukah belum.

__ADS_1


"Maaf, Om, Tante. Mohon ijin, Mirza mau ajak Lila untuk ke rumah," ijin Mirza dengan sopan.


"Mau ngapain di ajak ke rumah, Za?" goda Damian bertanya.


"Mau Mirza kenalin sama daddy dan mommy, Bang," balas Mirza asal, yang membuat mereka semua terkekeh pelan.


"Kalau mau kencan tuh di kafe atau taman, bukannya ke rumah, Za," lanjut Damian, yang masih mencoba mengorek keseriusan Mirza.


"Kalau kencannya di tempat-tempat seperti itu, berarti keseriusannya di pertanyakan, Bang," balas Mirza seraya tersenyum. "Tetapi kalau kencannya dibawa ke rumah, itu artinya Mirza serius sama adiknya Abang," tegas Mirza seraya melirik Lila.


"Ayo, Za! Jadi ngajak main, enggak?" ajak Lila agar Mirza segera membawanya pergi karena Lila tak ingin Mirza kelepasan bicara tentang hubungan mereka berdua yang memang belum ada kejelasan.


Hubungan mereka berdua baru penggalan kisah, sepotong-sepotong dan belum dirangkai menjadi puzzle dengan gambar yang indah.


Om Rusman nampak keluar dari dalam ruang ICU, Om Devan dan Tante Lusi hendak menghampiri teman lamanya tersebut.


"Za, jangan malam-malam kalau ngantar Lila pulang," pesan Om Devan dan Mirza mengangguk mengiyakan.


Om Devan kemudian segera mengajak sang istri untuk mendekati Om Rusman, yang wajahnya terlihat suntuk.


"Ya, udah sana. Dik Lila udah enggak sabar tuh, pengin dikenalkan sama orang tuanya sang pacar," goda Damian pada sang adik, hingga membuat Lila mengerucutkan bibir.


"Hahaha ... 𝘨𝘰𝘰𝘥 𝘫𝘰𝘣, Za. Abang dukung kamu seribu persen," ucap Damian yang tertawa bahagia, seraya menepuk-nepuk punggung Mirza.


Mirza dan Lila kemudian bergegas meninggalkan rumah sakit, mereka berjalan dengan bersisihan tanpa bergandengan tangan. Hanya kedua baju mereka yang sesekali saling menempel, yang memperlihatkan keintiman mereka berdua.


"Za, beneran kita mau ke rumah kamu?" tanya Lila setelah mereka berdua duduk di dalam mobil.


Mirza melihat jam tangan mewah di pergelangan tangan kanannya, waktu menunjukkan pukul tiga sore. "Kita ke kantor daddy dulu, ya. Lebih dekat ke sana daripada pulang ke rumah," balas Mirza, yang mulai melajukan mobil sport kesayangannya keluar dari area parkir rumah sakit.


Lila hanya mengangguk, menyetujui kemana pun sang Baginda Raja akan membawa dirinya.


"La," panggil Mirza setelah mobilnya melaju di jalanan beraspal.


"Hem ...," balas Lila hanya dengan gumaman.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan di hadapan Nenek Rahmi tadi, apakah itu keluar dari hatimu, La?" tanya Mirza yang menyimpan penasaran semenjak tadi.


"Yang mana?" tanya Lila pura-pura lupa.


Mirza menoleh ke arah Lila dan menggelengkan kepala seraya tersenyum. "Jangan pura-pura lupa deh, Sayang," ucap Mirza dengan mesra, hingga membuat Lila tersipu.


"Aku enggak pura-pura, Za," kekeuh Lila, yang merasa malu jika harus mengakui secepat ini.


"Ya udah, aku ingatkan. Dengar baik-baik ya, Laila Danial Alamsyah," ucap Mirza, yang membuat Lila mengernyitkan kening.


"Kapan, aku ganti nama belakang?" protes Lila.


"Secepatnya, Sayang," balas Mirza cepat. "Seperti yang kamu katakan tadi pada Nenek Rahmi, bukan? Bahwa kita akan segera menikah?" lanjutnya yang menirukan apa yang disampaikan Lila di hadapan neneknya Ronald.


"Itu tadi 'kan, hanya untuk menghindari paksaan Nenek Rahmi yang kekeuh ingin menjodohkan aku sama Ronald," balas Lila salah tingkah, yang sengaja menyembunyikan kebenaran.


"Benarkah? Jadi, kamu hanya menjadikan aku sebagai tameng?" kejar Mirza ingin menguji kejujuran Lila. "Padahal tadinya aku sudah sangat berharap, bahwa kamu mau menerima cinta dari cowok brengsek sepertiku, La," lanjut Mirza pura-pura sedih.


Mirza kemudian fokus kembali dengan jalanan yang cukup padat di depannya, suasana tiba-tiba menjadi hening.


Sementara Lila terlihat menyesal dan merasa bersalah pada Mirza, gadis cantik itu menjadi gugup dan semakin salah tingkah.


"Apa ini ada hubungannya dengan Kak Yovi, La?" tanya Mirza tiba-tiba, mengurai keheningan. Mirza teringat perkataan Lila tadi, ketika di dalam mobil saat mengantarkan Lila pulang.


"Kalau Kak Yovi menunjukkan keseriusannya dan memintaku secara resmi untuk menikah dengannya, ya mungkin saja aku akan pertimbangkan." Perkataan Lila tadi, kembali terngiang di telinga Mirza dan membuat Mirza menjadi galau.


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Rolasan, Rolasan ... saatnya makan siang ya, bestie ☺


Sambil nunggu Bang Mirza up kembali nanti, mampir di karya author keren yang satu ini, yuk... 😍


Judul : Pernikahan Tanpa Hati

__ADS_1


Author : Thatya0316



__ADS_2