
"Iya, Rus. Amanah apa, itu?" desak Om Devan.
"Tadi ibu sempat berpesan, agar Ronald segera dinikahkan dengan putrimu agar anak kurang ajar itu bisa berubah."
"Maksudnya, apa Rus?" tanya Om Devan terkejut.
"Iya, Dev. Maaf jika permintaan Ibu ...." Om Rusman menjeda ucapannya.
"Abang tidak setuju, Pa," sahut Damian yang langsung berdiri.
Sementara Mirza, nampak memegang erat pergelangan tangan Lila yang tertutup blouse lengan panjangnya.
Lila menoleh ke arah Mirza dan menatap pemuda tampan tersebut, Mirza menggelengkan kepala sebagai tanda, bahwa ia tidak setuju dengan permintaan neneknya Ronald.
Lila mengangguk samar, "jangan khawatir," bisik Lila, yang membuat Mirza bisa bernapas dengan lega.
"Bang, duduklah," titah Om Devan yang mengerti betul sifat sang putra, yang sangat menyayangi kedua adik kembarnya dan tidak akan mungkin membiarkan Lila menikah dengan pemuda brengsek macam Ronald.
"Maaf, Om Rusman. Sebagai orang tua, Om juga pasti menginginkan yang terbaik untuk putra Om, bukan? Begitupun dengan papa dan mama, Beliau berdua juga menginginkan yang terbaik untuk adik kami," ucap Damian, sesaat setelah putra sulung Om Devan itu duduk.
Om Devan menatap sang putra dan mengangguk setuju dengan ucapan Damian tersebut.
Sementara Om Rusman nampak mengangguk-angguk. "Banar, Nak. Om juga mengerti itu, apalagi Ronald terbukti melakukan tindakan yang memalukan. Itu makanya, tadi Om juga bingung bagaimana menyampaikan pada papa kamu." Om Rusman kemudian menatap jauh ke depan, ke dinding rumah sakit yang berwarna putih bersih.
"Tetapi om harus tetap menyampaikan pada papa kamu, apa yang diminta oleh neneknya Ronald karena kami tidak pernah tahu apakah orang tua kami bisa sadar kembali atau tidak," lanjut Om Rusman dengan wajah yang bergelayut mendung.
Laki-laki paruh baya itu tentu saja sangat bersedih, karena sang ibu kembali tidak sadarkan diri dan kondisinya semakin memburuk. Om Rusman juga merasa sangat malu terhadap kelakuan sang putra, yang telah mencoreng nama baik keluarga besar nenek Rahmi.
"Yang sabar ya, Rus." Om Devan menepuk-nepuk punggung teman lamanya itu.
"Keluarga pasien atas nama Ibu Rahmi!" panggil seorang perawat seraya mengedarkan pandangan menatap satu persatu penghuni ruang tunggu tersebut.
Om Rusman langsung berdiri. "Iya, Sus. Ada apa?" tanya Om Rusman yang langsung mendekat, yang diiringi sang istri.
"Maaf, Pak. Pasien baru sadar dan memanggil keluarganya," balas suster tersebut, seraya mempersilahkan Om Rusman dan istrinya untuk masuk.
Setelah mengenakan jubah hijau, Om Rusman dan sang istri segera mendekati ranjang nenek Rahmi. Neneknya Ronald tersebut terbaring dengan kondisi yang sangat lemah, dengan banyak selang di tubuh renta-nya.
Om Rusman kemudian duduk di sebuah kursi, tepat di hadapan ibunya yang nampak ingin mengatakan sesuatu.
Sementara di ruang tunggu, Damian langsung mendekat ke arah papa dan mamanya dan kemudian ikut duduk di bangku yang sama dengan kedua orang tuanya tersebut.
__ADS_1
"Pa, Abang tetap enggak rela kalau sampai Lila menikah sama Ronald," tegas Damian kembali kepada sang papa, ia berbicara dengan pelan agar Lila dan Mirza tidak mendengar.
"Iya, Bang. Papa juga berpikir seperti itu," tutur Om Devan yang kali ini setuju dengan sang putra, Om Devan pun ikut berbicara pelan.
"Iya, Pa. Mama harap, papa lupakan saja dendam papa itu. Toh sekarang, Ronald sudah kena batunya," timpal Tante Lusi yang belum lama ini baru tahu, kalau ternyata sang suami memiliki tujuan lain dengan misi perjodohan Lila dan Ronald.
"Papa sih, aneh-aneh saja pakai misi balas dendam segala. Sudah tahu hal itu tidak baik, masih saja dilakukan. Pakai bawa-bawa kakak lagi sebagai senjatanya," imbuh Tante Lusi yang merasa jengkel, mengolok sang suami.
"Iya Ma, iya. Papa mengaku salah," balas Om Devan dengan menyesal, yang mengakui kesalahannya.
"Untung saja ya, Pa. Orang-orang Daddy Rey bergerak cepat, sehingga si Ronald yang lagi mesum di diskotik itu kena gerebek," ucap Damian yang sudah mendengar kabar mengenai bagaimana terjadinya penggerebekan di diskotik tersebut, dimana Ronald sedang beraksi di dalam sana.
Ternyata sebagian orang-orang yang ditugaskan Daddy Rehan untuk mengawasi Lila, juga mengawasi aktifitas Ronald. Dan ketika Ronald sepulang dari kediaman Om Devan langsung menuju ke diskotik, orang kepercayaan Daddy Rehan pun mengikuti pemuda yang akan dijodohkan dengan Lila tersebut.
Dua orang kepercayaan Daddy Rehan juga ikut masuk ke dalam diskotik dan memesan minuman, seperti pelanggan diskotik yang lain. Mereka berdua sengaja duduk di tempat yang agak gelap dan cukup dekat dengan sofa tempat Ronald duduk.
Setelah mendengar percakapan Ronald dan pemilik diskotik tersebut, bahwa Ronald tidak membutuhkan 𝘳𝘰𝘰𝘮 untuk bersenang-senang bersama wanita penghibur yang telah ia pesan, dengan sigap dua laki-laki berbadan tegap yang sudah lama bekerja pada Daddy Rehan itu mengabarkannya pada Asisten Daddy Rehan.
"Tuan Alex, target saat ini sedang berada di diskotik XX di Jakarta Utara. Dia sedang bersama seorang pela*cur." Pesan dari salah seorang yang mengikuti Ronald kepada asisten pribadi Daddy Rehan.
Sementara temannya merekam aktifitas Ronald dan wanita penghibur tersebut dan kemudian mengirimkan video berdurasi pendek kepada Om Alex. Yaitu video ketika wanita penghibur itu duduk di pangkuan Ronald dan mulai melucuti pakaian pemuda berwajah blasteran yang nampak mulai terangsang tersebut, satu persatu dan membuangnya ke lantai.
Om Alex bergerak cepat dan langsung menghubungi pihak yang berwajib, agar bisa menangkap basah dan menggelandang Ronald ke kantor polisi. Supaya orang tua Ronald tahu tentang kelakuan anaknya dan perjodohan Lila sama Ronald dibatalkan.
Daddy Rehan tak perduli, jika misi balas dendam Om Devan gagal karenanya. Sebab, yang dipikirkan Daddy Rehan hanyalah keselamatan Lila sang calon menantu.
"Iya, Bang. Tapi papa juga kecewa, kenapa dia bertindak tanpa memberitahu papa terlebih dahulu!" protes Om Devan yang nampak sedikit kecewa.
"Lagian salah papa, kenapa juga papa main menjodohkan kakak karena papa punya misi tersembunyi tanpa meminta persetujuan mama dan kami semua!" balas Tante Lusi yang memprotes tindakan gegabah sang suami.
Om Devan tersenyum kecut. "Ya maaf, Ma. Bang," tutur Om Devan dengan tulus.
"Untung Bang Rehan dan Bang Alex bergerak cepat untuk memergoki kebejatan si Ronald, coba kalau enggak ... sudah pasti dia memiliki seribu rencana untuk putri kita itu, Pa. Dan mama enggak bisa membayangkan jika rencana itu, rencana untuk ...." Tante Lusi tidak mampu melanjutkan kata-katanya, ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali.
Om Devan meraih tangan sang istri dan menggenggamnya erat. "Tidak, Ma. Kalau sampai hal buruk terjadi pada kakak, papa tidak akan pernah bisa memaafkan diri papa sendiri, Ma." Om Devan yang masih berbicara dengan pelan itu, terlihat sangat menyesal.
Mirza dan Lila mendekat. "Hal buruk apa, Pa?" tanya Lila yang sempat mendengar perkataan sang papa barusan.
"Bukan apa-apa, Kak," balas Om Devan.
Terdengar suara langkah beberapa orang mendekat, yang ternyata adalah Ronald yang kawal oleh petugas kepolisian.
__ADS_1
Tepat di saat yang sama, Om Rusman keluar dari ruang ICU dan menyambut kedatangan sang putra.
"Maaf, Tuan. Ijinnya sedikit alot, apakah kedatangan kami terlambat?" lapor dan tanya salah seorang dari mereka, yang ternyata adalah asisten Om Rusman.
Om Rusman menggeleng.
"Maaf, Pak. Ibu saya ingin bertemu dengan Ronald," ijin Om Rusman pada salah satu petugas berseragam coklat tersebut.
"Silahkan," balas petugas tersebut dengan tegas.
Sementara Ronald terus menundukkan kepala, ia malu dan tak berani melihat ke arah Lila.
"Masuklah, ada mama di dalam," titah Om Rusman pada putranya. "Ada yang akan papa bicarakan dahulu pada Om Devan," lanjutnya seraya menghampiri Om Devan dan keluarganya.
"Dev, maaf. Boleh saya ajak putri kamu untuk masuk ke dalam?" pinta Om Rusman.
Om Devan mengerutkan kening. "Untuk apa?" tanya Om Devan.
"Ibu, Dev. Ibu kekeuh ingin bertemu dengan Lila," balas Om Rusman yang merasa tidak enak hati.
Om Devan menatap putrinya, sementara Tante Lusi terlihat menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
Sementara Lila mengangguk, ia merasa tidak tega menolak permintaan seorang nenek tua yang tengah sakit. "Tidak apa-apa, Pa, Ma. Lila akan ikut masuk untuk menemui Nenek Rahmi," ucap Lila setuju dengan permintaan Om Rusman.
Om Rusman terlihat sangat lega. "Alhamdulillah, terimakasih, Nak. Kamu sungguh sangat baik dan berhati lembut," puji Om Rusman.
"Ayo, Nak," ajak Om Rusman yang bergegas melangkah, yang diikuti oleh Lila.
_____ bersambung _____
🌷🌷🌷🌷🌷
Selamat petang, bestie....
maaf yah, telat up dan sepertinya hanya satu ☺🙏
Sambil menunggu Bang Ronald, eh... Bang Mirza hadir kembali, mampir yuk dimari :
Novel keren karya author kece, Kak Teh Ijo
Judul : Kau Khianati Aku, Ku Nikahi Kakakmu
__ADS_1