Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Neng Geulis


__ADS_3

Melihat sang kekasih hati bersedih, Mirza segera mengambil alih telepon tersebut. "Sus, tolong berikan penanganan terbaik pada pasien. Saya atas nama pemilik RPA Group yang akan menanggung semua biaya pengobatan pasien," titah Mirza tegas.


Mendengar nama RPA Group selalu investor utama di rumah sakit besar itu, suster langsung mengiyakan. "Siap Tuan Muda Alamsyah."


Attar segera membayar minuman dan makanan kecil yang mereka makan, mereka berempat kemudian bergegas meninggalkan kantin untuk menuju rumah sakit Harapan.


Sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit, Lila nampak sangat bersedih. Tetapi ia pun tak dapat melakukan apa-apa, termasuk sekadar untuk menghubungi keluarga Yovi dan mengabarkan keadaan Yovi saat ini karena Lila belum mengenal keluarga Yovi.


"Apa polisi tidak menemukan identitas Kak Yovi ya, Bang. Kok, sampai petugas rumah sakit belum bisa menghubungi keluarganya?" tanya Lila dengan raut wajah yang penuh kecemasan.


Mirza menggeleng, ia pun tak bisa memastikan. "Mungkin saja, pihak yang berwajib belum bisa melacak saat kamu tadi menelepon, La. Mudah-mudahan aja, sekarang keluarga Kak Yovi udah bisa dihubungi," balas Mirza mencoba menenangkan sang kekasih, meski ada kecemburuan di hatinya karena Lila begitu mengkhawatirkan laki-laki lain.


Tetapi Mirza tak boleh egois, Yovi sedang dalam keadaan darurat dan sudah sepantasnya sebagai orang yang pernah dekat dengan Yovi, Lila turut prihatin atas kejadian yang menimpa Yovi.


'Tenang, Za. Ini hanya sisi kemanusiaan Lila, bukan karena ia masih ada rasa sama cowok itu,' batin Mirza menenangkan dirinya sendiri.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam dalam keheningan, mobil yang dikendarai Mirza memasuki area parkir rumah sakit besar tersebut, yang diikuti oleh mobil Attar.


Mereka berempat bergegas menuju bagian informasi untuk menanyakan keberadaan Yovi.


"Oh, pasien atas nama Yovi saat ini dipindahkan ke ruang ICU khusus sesuai permintaan manager kami," terang resepsionis yang berwajah ayu tersebut, seraya tersenyum ramah.


"Baik, Mbak. Terimakasih atas informasinya,' ucap Lila.


Mereka kemudian berjalan dengan cepat menuju tempat, yang disebutkan oleh petugas di bagian informasi tadi.


Setibanya di depan ruang ICU yang hanya diperuntukkan bagi pasien khusus, terutama bagi keluarga petinggi rumah sakit dan relasinya, ada petugas dari kepolisian yang nampak berjaga bersama seorang dokter.


"Maaf, Dok. Apakah pasien yang bernama Yovi di rawat di dalam?" tanya Mirza sambil menunjuk ke dalam ruang ICU tersebut.


Dokter paruh baya dengan 𝘵𝘢𝘨 𝘯𝘢𝘮𝘦 dr. Raharja itupun mengangguk, membenarkan. "Benar, Mas. Mas ini, siapanya pasien?" tanya Dokter Raharja.


"Kami teman Kak Yovi, Dok," balas Lila. "Kami yang tadi menelepon ke nomor Kak Yovi," lanjut Lila menjelaskan.


Dokter dan petugas kepolisian tersebut mengangguk-angguk.


"Berarti, tadi Anda yang menyuruh agar kami memberikan penanganan spesial untuk pasien?" tanya Dokter Raharja memastikan informasi yang ia terima dari salah seorang suster, yang menangani pasien laka lantas tersebut.

__ADS_1


"Benar, Dok," balas Mirza tegas. "Perkenalkan, saya Mirza Alamsyah," ucap Mirza memperkenalkan dirinya, seraya mengulurkan tangan pada dokter tersebut.


Dokter Raharja tersenyum dan kemudian menerima uluran tangan Mirza. "Senang bertemu dengan salah satu generasi, penerus Tuan Rehan Alamsyah," ucap Dokter Raharja, mengeratkan jabat tangannya.


Mirza juga menyalami petugas polisi yang bersama Dokter Raharja, yang diikuti oleh Attar.


"Maaf, Mas Mirza. Apakah Anda mengetahui nomor dari keluarga pasien yang bisa dihubungi? Karena kami tidak menemukan identitas pasien," tanya petugas polisi tersebut.


Mirza menggeleng. "Saya hanya tahu, kalau keluarganya di Bandung, Pak," balas Mirza.


"Bang, coba tanyakan sama Bang Malik. Kak Yovi bilang, ia memiliki rumah di kompleks tempat Bang Malik tinggal," pinta Lila teringat kata-kata Yovi, yang akan mengajaknya untuk tinggal di Bandung jika mereka menikah nanti.


"Oh, oke," balas Mirza mengangguk. Ia kemudian sedikit menjauh dan segera menghubungi abangnya untuk menanyakan perihal keluarga Yovi.


Mirza nampak berbicara dengan serius pada abangnya di seberang sana, sesekali dia mengangguk, mengernyitkan dahi dan menghela napas kasar, entah apa yang dikatakan Malik.


Mirza kemudian menutup ponselnya dan kembali mendekat. "Akan segera diinformasikan oleh abang saya, pada keluarga Kak Yovi di Bandung," terang Mirza.


"Maaf, Dok. Apa boleh, kami melihat pasien?" tanya Mirza.


Dokter nampak menimbang-nimbang. Jika sesuai aturan yang berlaku di ruang ICU umum, hanya pihak keluarga inti yang diperbolehkan menjenguk pasien, itupun bergantian satu-satu.


"Maaf, Mas Mirza. Sebaiknya, yang masuk dua orang dulu saja, ya," pinta Dokter Raharja dengan sungkan, yang tetap ingin menjaga kenyamanan pasien, dengan tidak memperbolehkan pasien di jenguk beramai-ramai yang dapat menggangu istirahat pasien.


Apalagi pasien saat ini, sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri.


Mirza mengangguk. "Baik, Dok. Kami berdua yang akan masuk ke dalam," ucap Mirza sambil menunjuk dirinya dan Lila.


Mereka berdua kemudian memasuki ruangan tertutup yang serba putih tersebut. Suster yang mendampingi menuntun keduanya untuk memakai jubah hijau terlebih dahulu, setelah itu mereka ditunjukkan dimana ruangan Yovi.


Perlahan suster membuka pintu kaca dan kemudian mempersilakan Mirza dan Lila untuk masuk ke dalam ruangan yang cukup luas tersebut.


Jantung Lila berdegup kencang, melihat kondisi Yovi yang terbaring dengan mata terpejam, kepala di perban, kakinya seperti di gips dan ada selang yang terpasang di hidung Yovi.


Lila memegang tangan Mirza, tangan gadis itu dirasakan Mirza sangat dingin. Mirza kemudian menggenggam tangan Lila dengan erat.


"Semuanya akan baik-baik saja, kita do'akan saja semoga Kak Yovi kuat dan mampu melewati semua ini," bisik Mirza yang membuat hati Lila sedikit tenang.

__ADS_1


"Lila kasihan sama Kak Yovi, Bang. Sebentar lagi wisuda, tapi kondisinya malah mengenaskan kayak gini," ucap Lila dengan wajah sendu.


'Apakah kamu masih memiliki perasaan untuk Kak Yovi, La? Jika hanya sebatas masa lalu, kenapa kamu sesedih ini?' tanya Mirza dalam hati, menyimpan kecemburuannya seorang diri.


Mirza terus mengamati Lila, yang tengah bersedih atas apa yang menimpa Yovi. Bahkan Mirza sempat melihat air mata, di sudut netra Lila.


Lila kemudian duduk di sebuah kursi, tepat di samping Yovi.


"Kak Yovi, Kakak cepat sadar, ya. Kakak harus cepat sembuh karena sebentar lagi kita akan di wisuda, Kak." Lila mencoba mengajak Yovi untuk berbicara.


Mirza yang berdiri di samping Lila, semakin resah hatinya. Ia khawatir, Yovi akan sadar dan menyalah artikan perhatian Lila.


"Sayang, udah, yuk!" ajak Mirza berbisik.


Lila mengangguk. "Kak, Lila pamit, ya. Semoga Kak Yovi cepat pulih seperti sediakala." Lila kemudian segera beranjak.


Namun, tiba-tiba tangan Lila ada yang menahan.


Lila menoleh, ia antara terkejut sekaligus senang menjadi satu. "Kak, Kak Yovi sudah sadar?" tanya Lila yang kembali mendekat.


Sementara Mirza menghela napas kasar. 'Semoga Kak Yovi tidak salah mengartikan perhatian Lila,' doa Mirza dalam hati.


"Neng Geulis, Sayang," panggil Yovi lirih, yang membuat Lila menatap Mirza dan menjadi salah tingkah sendiri.


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Yey, lunas yah 😍


InsyaAllah, Kak Yovi kembali lagi besok. Eh, Bang Mirza maksudnya 🥰


Yuk, untuk mengisi malam minggu, mampir di novel keren berikut


Judul : Gairah Cinta KAKAK ANGKAT


Karya : Eni Pua

__ADS_1



__ADS_2