
Risya yang tengah menatap layar ponselnya, membulatkan netra melihat π΄π΅π°π³πΊ sang mantan. "Abang dan Kak Lila, jadian?" tanya Riska seraya menatap Mirza dan Lila bergantian.
Mirza mengangguk pasti. "Lila calon istri gue, Sya. Kami akan segera menikah," balas Mirza dengan sungguh-sungguh.
Rasya menitikkan air matanya, ia tak lagi sanggup berkata-kata. Gadis itu segera membalikkan badan dan kemudian berlari menjauh dari mobil Mirza.
Lila menggigit bibir bawah, ia bisa ikut merasakan betapa sedihnya hati Risya saat ini.
Sementara Mirza menghela napas panjang, ia menyesali perbuatannya dahulu yang dengan mudahnya kencan dengan banyak gadis, meski Mirza tetap menjaga batasan.
Mirza kemudian menoleh ke arah Lila. "Maafkan aku, Sayang," ucap Mirza dengan tulus.
Lila menggeleng. "Jangan meminta maaf pada Lila, Bang. Tapi minta maaflah pada gadis-gadis yang mungkin saja pernah Abang kecewakan," balas Lila.
"Aku tidak pernah menggantung hubungan dengan mereka, Sayang. Kalau putus, aku selalu bicara dengan baik-baik. Ya, meski memang ada beberapa yang tidak bisa menerima seperti Risya tadi," terang Mirza dengan sejujurnya.
"Bang, Abang keberatan enggak kalau Lila minta syarat sebelum kita menikah," pinta Lila hati-hati.
"Apa, Sayang?" tanya Mirza.
"Tolong, Abang selesaikan dulu semua urusan Abang sama mantan-mantan Abang," pinta Lila.
"Sayang, abang sudah tidak memiliki urusan apa-apa lagi sama mereka. 'Kan abang sudah bilang, kalau semua sudah abang akhiri," ucap Mirza.
"Di akhiri versi Abang, bukan? Tapi menurut mereka?"
Lila menatap Mirza.
"Seperti Risya barusan misalnya, Bang," lanjut Lila.
"Abang temui mereka lagi dan katakan dengan baik-baik, entah bagaimana caranya, Abang yang lebih tahu," imbuh Lila.
Mirza menghela napas panjang, ia tatap netra sang kekasih hati dengan begitu dalam.
"Abang akan lakukan apapun, jika itu bisa membuatmu tenang dan nyaman bersamaku, Sayang," ucap Mirza yang setuju dengan permintaan Lila.
Lila tersenyum manis. "Terimakasih, Abang. Lila tahu, Abang sangat menyayangi Lila. Begitu pun sebaliknya, Bang. Lila juga sangat menyayangi Abang," ucap Lila dengan netra berbinar terang, membuat hati Mirza bahagia melihat binar kebahagiaan di mata sang kekasih.
Lila masih menatap netra kebiruan milik Mirza yang menawan.
"Kita jadi pulang, atau mau tetap di sini dan saling memandang?" tanya Mirza, mengurai tatapan Lila kepadanya yang penuh cinta.
Lila segera membuang pandangannya ke luar jendela kaca, seraya tersenyum malu.
Sebelum menghidupkan mesin mobilnya, Mirza mengusap lembut puncak kepala Lila.
Lila kemudian menolah ke arah Mirza. "Semoga setelah ini, tak ada lagi mantan yang datang dan meresahkan ya, Bang," harap Lila.
Mirza tersenyum dan mengangguk. "Abang akan memastikannya, Sayang," tekad Mirza.
Pemuda tampan dengan netra kebiruan yang mirip sama sang daddy itu kemudian segera menghidupkan mesin mobilnya, perlahan Mirza melajukan mobil sport miliknya meninggalkan area parkir di pusat perbelanjaan di mana butik Putri Alamsyah berada.
Selama dalam perjalanan, keduanya sama-sama terdiam. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.
__ADS_1
"Sayang," panggil Mirza, ketika mobil Mirza telah berbelok memasuki pintu gerbang yang menjulang tinggi kediaman orang tua Lila.
"Iya." Lila menoleh.
Mirza segera memarkirkan mobil dan kemudian mematikan mesinnya. Mirza menatap Lila dengan tatapan dalam.
Cukup lama netra mereka berdua saling bertaut, tetapi Mirza tidak mengatakan apapun.
"Abang mau bilang, apa?" tanya Lila penasaran.
Belum sempat Mirza berbicara, terdengar pintu mobil di ketuk dari luar.
"Ayo, turun! Ada mama sama papa," ajak Mirza yang segera membuka pintu dan kemudian turun, yang diikuti oleh Lila melalui sisi yang lain.
"Tidak baik berlama-lama berduaan di dalam mobil, apalagi mobilnya sudah berhenti," tutur sang papa.
Mirza kemudian menyalami kedua orang tua Lila seraya tersenyum.
"Maaf, Pa. Tadi, ada yang masih kami bahas," kilah Mirza.
"Kalau masih mau ngobrol, 'kan bisa di dalam Bang Mirza," timpal Tante Lusi.
"Iya, Ma. Tadi, Mirza pikir cuma sebentar, kok," balas Mirza yang masih mencoba membela diri.
"Ya, sudah. Kalau masih mau ngobrol, masuk dulu saja, Bang," saran mamanya Lila dengan ramah.
"Tetapi jika sudah tidak ada yang mau dibahas, mending Bang Mirza pulang. Bentar lagi 'kan maghrib, dan bakda 'isya, Bang Mirza juga harus kembali ke sini lagi 'kan?" saran Om Devan.
Mirza mengangguk. "Kalau begitu, Mirza pamit saja, Pa, Ma," pamit Mirza dengan sopan.
Lila mengangguk, meski ia masih menyimpan tanya dalam hati, mengenai apa yang akan dikatakan oleh Mirza.
Mirza bergegas masuk ke dalam mobil, dan segera melajukan mobilnya meninggalkan kediaman keluarga Devano.
πΈπΈπΈ
Di kediaman keluarga Alamsyah, semua keluarga telah berkumpul dan mereka semua nampak heboh dengan acara lamaran Mirza yang mendadak ini.
Bahkan Mommy Billa tak henti ngomel-ngomel, mengomeli keputusan sang suami yang dinilai sembrono karena memutuskan acara sepenting dan sebesar ini seperti sebuah candaan.
"Kalau ke sana enggak bawa apa-apa kan enggak pantas, Dad! Daddy, ih ... asal aja bilang sama Bang Devan, malam ini mau melamar!" gerutu Mommy Billa sambil sibuk menyiapkan hantaran yang akan mereka bawa untuk Lila.
"Sudah, sudah. Toh, semuanya sudah siap 'kan, Mbak," bujuk Nenek Lin yang juga sudah berada di sana.
"Tapi 'kan kayak kurang maksimal, Bu. Padahal Billa pengin, lamaran Mirza tuh seperti lamarannya Malik. Persiapannya benar-benar matang," ucap Mommy Billa yang masih merasa kesal pada sang suami.
"Benar, Bill. Marahin aja tuh, laki yang seperti itu. Masak punya istri, enggak di ajak musyawarah," sahut Opa Alvian.
"Bang, 'kan Bang Vian yang tadi punya ide!" protes Daddy Rehan karena Opa Alvian malah ikut memojokkan dirinya.
"Dik, kok jadi malah ikut-ikutan jadi kompor tho, kamu," peringat Nenek Lin pada sang adik.
Opa Alvian terkekeh.
__ADS_1
"Sudah, Mbak Billa. Tidak baik marah-marah terus, apalagi sama suami sendiri," bujuk Nenek Lin kembali.
"Iya nih, Bu. Dik Billa lagi sensitif," adu Daddy Rehan pada ibu mertuanya.
"Apa jangan-jangan, kamu hamil lagi ya, Sayang?" tanya Daddy Rehan tanpa dosa.
Oma Susan, Tante Nisa dan Tante Jihan yang sudah berada di sana dan ikut membungkus hantaran untuk Lila hanya senyum-senyum.
Sementara Opa Alvian, Om Alex dan Om Ilham tertawa terbahak.
"Memangnya, masih kuat berdiri, Rey?" olok Om Alex, yang langsung mendapat cubitan dari sang istri.
"Mas, jangan ngomong vulgar, ah!" protes Tante Nisa.
Sementara mommy Billa langsung mencubit perut sang suami. "Semakin tua semakin sembarangan saja Daddy ini kalau bicara," kesal Mommy Billa.
Nenek Lin dan Kakek Ilyas geleng-geleng kepala, melihat kelakuan anak sulung dan menantunya tersebut, yang meskipun usianya semakin bertambah banyak tetapi kemesraan keduanya tak pernah pudar.
"Sudah, ah. Mommy mau mandi dulu, Dad," pamit Mommy Billa.
"Tante, Dik, tolong selesaikan, ya," pinta Mommy Billa pada Oma Susan dan kedua adiknya.
"Siap, Bill," balas Oma Susan, mewakili Tante Nisa dan Tante Jihan.
"Daddy 'kan juga mau mandi, Mom." Daddy Rehan langsung mengejar sang istri
"Kejar, Bang. Buktikan, kalau Abang masih kuat berdiri!" teriak Om Ilham, yang langsung di jewer oleh Nenek Lin.
"Yang sopan, kalau ngomong sama orang yang lebih tua," nasehat Nenek Lin pada putra bungsunya tersebut.
"Jewer terus saja, Bu," pinta Tante Jihan. "Tuman tuh si ayah, kalau bicara suka sembarangan. Si Iqbal sampai ikutan kebawa, tengil dan jahilnya seperti Ayah," imbuh Tante Jihan.
"Itu 'kan sebagai bukti, kalau Iqbal itu beneran putraku, Bun. Benih unggul dari Ilham," ucap Om Ilham.
"Benar itu, Bun," sahut Iqbal. "Iqbal 'kan putra Ayah, makanya Iqbal mau minta sama Ayah agar melamar Nirina untuk Iqbal secepatnya. Mau 'kan, Yah?" Suara Iqbal sontak membuat semua orang menoleh ke arah remaja yang baru saja datang tersebut.
"Halah, kamu itu masih bocil, Mas. Jangan sok-sokan mau nikah!" tegas Om Ilham.
"Iqbal sudah dewasa, Ayah. Sudah banyak makan asam garam kehidupan percintaan remaja, Iqbal sudah khatam tentang wanita, Ayah," rajuk Iqbal yang bicaranya kemana-mana.
"Halah, pakai jurus sudah khatam segala!" cibir Mirza, yang tahu-tahu sudah bergabung di sana.
"Tidak ada istilah, sudah khatam dalam memahami wanita, Mas Iqbal. Karena wanita itu, makhluk yang paling sulit untuk dimengerti," pungkas Om Ilham mengakhiri obrolan mereka karena kumandang adzan maghrib telah terdengar, dari Masjid yang tak jauh dari kediaman keluarga Alamsyah tersebut.
_____ bersambung _____
π·π·π·π·π·
Sore bestie ... hari ini, satu aja yah π
Yuk, sambil nunggu Iqbal melamar Nirina ... mampir dulu di novel keren ini, yah π₯°
Judul : Terjebak Cinta Dara Jelita
__ADS_1
Author : Chacha Shyla