Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Kamu Beda, La


__ADS_3

"Kalau Kak Yovi menunjukkan keseriusannya dan memintaku secara resmi untuk menikah dengannya, ya mungkin saja aku akan pertimbangkan." Perkataan Lila tadi, kembali terngiang di telinga Mirza dan membuat Mirza menjadi galau.


Mirza menghela napas panjang, untuk membuang kegelisahan yang tiba-tiba menyelimuti hatinya. Ia teringat dengan ucapannya sendiri, yang tak ingin memaksa Lila.


"Maafkan aku, La. Lupakan pertanyaanku tadi," pinta Mirza yang membuat Lila semakin merasa bersalah.


Keheningan tercipta di kabin mobil mewah Mirza, tak ada yang bersuara dan hanya terdengar hembusan napas mereka berdua yang saling bersahutan. Sesekali terdengar Mirza menghela napas panjang dan menghembusnya dengan kasar.


"Za, maafkan aku," ucap Lila dengan lirih, mengurai keheningan. "Aku tidak bermaksud untuk menjadikan kamu sebagai tameng ataupun memanfaatkan kamu," lanjutnya seraya memberanikan diri menoleh ke arah Mirza.


Di saat yang sama, Mirza pun menoleh. Mirza nampak tersenyum dan menggeleng. "Tidak mengapa, La. Lupakan saja," balas Mirza.


"Kamu terbebas dari perjodohan dengan Ronald saja, aku sudah sangat bahagia, La," imbuh Mirza meyakinkan, bahwa dirinya tak masalah jika hanya dimanfaatkan oleh sahabatnya itu.


Bukan berarti Mirza menyerah, tetapi Mirza hanya ingin memberikan waktu untuk Lila agar Lila yakin dengan cinta Mirza juga yakin dengan perasaan Lila sendiri terhadapnya.


Mirza sadar, butuh waktu yang tak sebentar untuk meyakinkan diri, apakah yang dirasakan benar-benar cinta dan sayang pada lawan jenis ataukah hanya sebatas rasa sayang pada sahabat seperti yang selama ini mereka berdua miliki.


Tumbuh dan besar di lingkungan yang sama, terbiasa saling menyayangi semenjak masih kanak-kanak, pastinya akan sulit bagi siapa saja untuk meyakinkan diri dan meneguhkan hati, bahwa rasa yang ada saat ini memang benar murni rasa cinta.


Lila menggeleng dan refleks memegang tangan Mirza. "Aku tidak memanfaatkan kamu, Za. A-aku, yang tadi itu, aku ...," terbata Lila nampak bingung untuk menjelaskan harus memulai dari mana.


Mirza menatap ke arah tangan Lila dan ia tersenyum. Tanpa terasa, mobil Mirza telah memasuki area parkir gedung perkantoran milik sang daddy. Putra dari pemilik gedung itupun segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir khusus.


Mengetahui Mirza telah memarkirkan mobil, Lila kemudian melepaskan tangannya.


"Kenapa di lepas, Sayang?" tanya Mirza dengan tersenyum menggoda, ia kemudian mengambil tangan Lila dan digenggamnya erat. "Apa yang ingin kamu katakan, hem?" tanya Mirza kemudian seraya menatap Lila dengan tatapan dalam.


Sejenak kedua netra mereka saling bertaut, tangan Lila terasa dingin di genggaman Mirza hingga membuat pemuda tampan itu tersenyum.


'Hanya dengan aku pegang seperti ini, kamu sudah grogi, La,' batin Mirza senang.


"Za, apa yang aku katakan tadi di hadapan Nenek Rahmi, benar adanya," ucap Lila kemudian setelah beberapa saat keduanya terdiam. "Aku, aku tidak sedang memanfaatkan kamu, Za," lanjutnya dengan jujur.


"Jadi, maksud kamu ...?" Pertanyaan Mirza menggantung di udara, sebab terdengar suara pintu mobilnya di ketuk dari luar.


Mirza kemudian membuka kaca pintu mobil, setelah melepaskan genggaman tangannya.

__ADS_1


"Abang pacaran?" cecar Om Ilham yang tadi baru saja keluar dari kantor Daddy Rehan dan melihat mobil sang keponakan baru saja parkir.


Om Ilham menunggu beberapa saat, tetapi sang empunya mobil tak kunjung keluar dari dalam, hingga ayahnya Iqbal itu berinisiatif untuk mengetuk pintu mobil Mirza yang kacanya memang gelap.


Mirza hanya membalasnya dengan senyuman, sementara Lila tersipu malu.


"Om Ilham mau pulang?" tanya Mirza kemudian, yang mengabaikan pertanyaan omnya.


"Iya, tadi ada perlu sebentar sama Bang Rehan," balas Om Ilham. "Ya udah, om duluan, Bang, Kak Lila," pamit Om Ilham yang tumben-tumbenan tidak jahil sama keponakannya.


Mirza mengangguk. "Oke, Om. Hati-hati di jalan, salam buat bulek Jihan," balas Mirza seraya melambaikan tangan.


Mirza kemudian kembali menutup kaca pintu mobil, disaat yang sama Lila hendak membuka pintu karena akan turun.


"Eit, tunggu, La," cegah Mirza. "Yang tadi 'kan, belum selesai," tagih Mirza.


"Yang mana lagi, Mirza?" tanya Lila, seraya tersenyum menatap Mirza. "Aku sudah menjelaskan semuanya, Za. Kalau aku tidak memanfaatkan kamu," lanjutnya.


"Oh iya, maksudnya ... aku yang belum selesai bertanya," balas Mirza sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Iya, apa itu?" tanya Lila.


"Mau di jawab sekarang, apa nanti pas kamu ulang tahun, Za?" tanya Lila yang sengaja mengulur waktu dan membuat Mirza menjadi gemas karenanya.


"Jawab pas ulang tahun, di tahun berikutnya aja juga enggak apa-apa kok," balas Mirza, yang pasang wajah ngambek.


"Cie ... Abang Mirza ngambek, nih," goda Lila seraya mencubit lengan Mirza.


"Nyubit tuh di pipi, bukan di situ," ucap Mirza sambil melirik tangan Lila yang masih berada di lengannya.


"Nih, silahkan kalau mau di cubit," pinta Mirza menyodorkan pipi mendekat pada Lila, hingga wajah keduanya sangat dekat.


Lila menggeleng seraya memundurkan kepalanya hingga kepentok sandaran kepala. "Orang tuh kalau di cubit, biasanya akan marah. Lah ini kamu malah minta, gimana sih?" gerutu Lila.


"Ayo ah, turun!" ajak Lila kemudian, yang tak ingin berlama-lama berduaan dengan Mirza karena akan semakin membuatnya salah tingkah, apalagi Mirza terus mendekatkan wajahnya.


Lila kembali hendak membuka pintu mobil, tetapi Mirza segera menahan tangan Lila. "Tunggu, Ibu Suri," cegah Mirza dengan berbisik lembut.

__ADS_1


Lila menatap Mirza. "Apalagi?" tanya Lila seraya mengerutkan kening.


"Jawab sekarang aja, deh. Biar arwahku enggak gentayangan dan nyari kamu," pinta Mirza dengan absurd.


"Ih, enggak boleh ngomong sembarangan, Za! Ngomong tuh yang baik-baik!" protes Lila.


"Ini enggak sembarangan, La," balas Mirza membela diri. "Aku 'kan bilangnya, biar arwahku enggak gentayangan. Makanya katakan sekarang, kalau kamu enggak ingin hal itu terjadi," desak Mirza kemudian.


"Arwahmu memang tidak gentayangan, Za, tapi bayanganmu yang sudah gentayangan dari kemarin kemarin dan selalu menggangguku," gumam Lila sangat lirih, nyaris tak terdengar.


"Bayanganku? Gentayangan? Apa bayanganku, mengikutimu terus La?" tanya Mirza dengan senyuman menggoda.


Lila mengerucutkan bibir, sementara Mirza terkekeh senang.


Hening kembali menyapa kabin mobil tersebut, jarak keduanya masih sangat dekat. Bahkan hembusan napas Mirza, terasa hangat menyapu lembut pipi Lila.


"Za, turun yuk!" ajak Lila yang merasa khawatir Mirza akan mendengar suara degup jantungnya, yang bertalu-talu.


"Kita akan turun, setelah kamu memberikan jawaban," balas Mirza yang kini berani mendesak Lila untuk menjawab pernyataan cintanya dengan berterus terang, setelah Lila mengatakan bahwa yang dikatakannya di hadapan Nenek Rahmi tadi jujur adanya.


Lila memberanikan diri menatap manik kebiruan milik Mirza. "Maaf, Za. Bukannya aku mengulur waktu ataupun hendak munafik dengan perasaanku sendiri, aku hanya butuh waktu untuk meyakinkan diri dan hati ini," ucap Lila. "Beberapa hari ini, aku berpikir dan merenung tentang apa yang sebenarnya aku rasakan sama kamu," lanjutnya.


"Lantas, apa yang kamu rasakan, La?" tanya Mirza tak sabar.


Lila tersenyum dan menggelengkan kepala. "Masak kamu enggak bisa menebaknya, sih? Kamu 'kan, paling jago kalau menilai cewek itu suka sama kamu atau enggak?" tanya Lila tak percaya.


"Kamu beda, La. Enggak bisa disamain dengan mereka," balas Mirza dengan tatapan dalam, yang mampu menembus ke jantung Lila.


______ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Up kedua, moga ntar malam bisa up yang ketiga 🙃


Sambil nunggu, enaknya sambil ngemil ya bestie... apalagi ngemiliki kamu 🥰


Yuk mampir dulu di novel keren karya author kece badai 'GORESAN PENA' 😍

__ADS_1


Judul : DI KEJAR DUDA



__ADS_2