Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Kamu ...


__ADS_3

"Alhamdulillah, terimakasih, Nak. Kamu sungguh sangat baik dan berhati lembut," puji Om Rusman.


"Ayo, Nak," ajak Om Rusman yang bergegas melangkah, yang diikuti oleh Lila.


Tetapi tiba-tiba Lila menghentikan langkah dan di saat yang sama, Mirza memanggil namanya.


"Lila ...," panggil Mirza.


"Ada apa, Nak?" tanya Om Rusman.


Lila menoleh ke belakang, ke arah Mirza dan kemudian menatap Om Rusman. "Maaf, Om. Saya akan ikut Om masuk ke dalam, tapi bersama Mirza," pinta Lila.


Tante Lusi dan Om Devan saling pandang, sedangkan Om Rusman menatap teman lamanya dengan penuh tanya.


Om Devan hanya menanggapi dengan mengedikkan bahu karena ia juga belum tahu apa-apa mengenai apa yang dipikirkan Lila.


"Bagaimana, Om?" tanya Lila, setelah beberapa saat menunggu tetapi Om Rusman belum memberikan jawaban.


Sementara itu Mirza nampak tersenyum di kulum. 'Ah, ternyata kita benar-benar sehati, La,' batin Mirza senang.


Damian menatap adik kesayangannya dan juga Mirza bergantian, keningnya mengernyit tetapi sedetik kemudian ia ikut tersenyum simpul.


"Baiklah, Nak," balas Om Rusman menyetujui meski dengan sedikit berat.


Lila tersenyum dan kemudian menatap Mirza seraya mengangguk. "Ayo, Za," anaknya tanpa bersuara.


Mirza tersenyum lebar, pemuda itu kemudian berpamitan pada Om Devan dan Tante Lusi dengan menganggukkan kepala, yang dibalas oleh orang tua Lila dengan senyuman hangat.


"Titip adik kesayangan abang," pesan Damian berbisik, sambil menepuk lengan adik dari sahabatnya.


Mirza mengangguk pasti. "Siap, Bang," balas Mirza yang kemudian segera berlalu mengikuti langkah Om Rusman dan Lila.


Damian bernapas dengan lega karena sudah ada yang menjaga sang adik, begitu pun dengan kedua orang tua Lila yang nampak tersenyum lega.


"Pa, dia benar-benar malaikat tak bersayap untuk putri kita," bisik Tante Lusi.


Om Devan mengangguk setuju.


🌸🌸🌸


Di dalam ruang ICU, Ronald yang baru saja masuk di sambut omelan oleh sang mama.


"Kamu itu keterlaluan, Son! Kamu samakan Jakarta dengan Melbourne!" omel Mama Catherine. "Harusnya kamu lebih berhati-hati karena di sini itu beda!" imbuhnya.


"Ronald pikir hanya sebentar, Mam, untuk melepas penat ... lagipula juga hanya main-main saja, enggak sampai yang tidur bareng hingga pagi," sanggah Ronald membela diri.


"Catherine, sudah! Kamu dan anakmu, sama saja!" hardik nenek Rahmi, yang kini kondisinya cukup stabil.

__ADS_1


Mama Catherine langsung terdiam, wanita bule itu memang sangat segan pada mertuanya yang kaya raya tesebut.


"Nenek sama sekali tidak menyangka, kalau ternyata kelakuanmu seburuk itu, Nang," sesal Nenek Rahmi lirih, beliau nampak sangat kecewa mendengar kabar perilaku Ronald yang menyimpang di luar sana.


"Maafkan Ronald, Nek," pinta Ronald penuh penyesalan.


Ia memang pemuda yang liar di luar sana, tetapi di hadapan sang nenek, Ronald adalah cucu yang patuh dan paling di sayang oleh Nenek Rahmi.


"Calon istrimu juga pastinya sudah mendengar berita tidak menyenangkan ini, kan? Apakah dia bisa menerimamu, Nang?" tanya Nenek Rahmi, yang nampak penuh harap.


Ronald menggeleng. "Dia sudah tahu, Nek. Tapi Ronald tidak yakin, dia bisa memaafkan kesalahan Ronald dan menerima Ronald. Dia itu gadis yang alim, Nek," balas Ronald yang tak bersemangat.


Nenek Rahmi menghela napas panjang. "Jika kamu bisa menikah dengan gadis sebaik dia, nenek yakin, Nang, hidupmu kelak akan tenang dan bahagia," tutur Nenek Rahmi.


"Nenek akan membantumu membujuk Nak Lila, Nang," lanjut Nenek Rahmi, penuh keyakinan.


Ronald kemudian duduk di tepi ranjang sang nenek dan memijat pelan kaki nenek kesayangannya. "Maafkan Ronald ya, Nek," ucap Ronald kembali.


Nenek Rahmi menghela napas panjang. "Nasi sudah menjadi bubur, Nang. Nenek memang kecewa sama kamu, tapi bagaimana pun kamu adalah cucu Nenek. Kamu satu-satunya pewaris papamu," balas Nenek Rahmi yang nampak pasrah dengan segala yang telah terjadi.


Pintu ruangan terdengar di buka dari luar, nampak kemudian Om Rusman memasuki ruangan yang diikuti oleh Lila dan Mirza.


"Bu, ini Nak Lila," ucap Om Rusman yang memperkenalkan Lila pada ibunya.


Lila kemudian menyalami Nenek Rahmi dan mencium punggung tangan wanita tua itu dengan takdzim. "Nenek bagaimana kabarnya?" tanya Lila sambil mengelus punggung tangan yang berkeriput milik Nenek Rahmi.


"Alhamdulillah, Nak. Sudah lumayan, meski nenek masih merasa sangat lemah," balas Nenek Rahmi.


Ronald segera berdiri dan mempersilahkan Lila untuk duduk di sisi ranjang, tempat Nenek Rahmi terbaring lemah.


Sementara Mirza masih berdiri mematung di belakang Om Rusman.


"Nak Lila, bagaimana pendapat kamu mengenai cucu nenek?" tanya Nenek Rahmi tanpa basa-basi.


"Maksud, Nenek?" tanya Lila tak mengerti.


"Kalian 'kan sudah saling kenal meski baru hitungan hari, tapi setidaknya Nak Lila pasti sudah bisa menilai 'kan Ronald seperti apa?"


Lila terdiam dan melirik Ronald yang berada di sampingnya. "Maaf, Nek. Secara mendalam, Lila belum bisa menilai karakter Bang Ronald itu seperti, apa. Jadi, Lila tidak bisa menjawab pertanyaan Nenek," balas Lila demokratis.


Nenek Rahmi mengangguk mengerti. "Lantas, dengan kejadian yang menimpa Ronald tadi pagi, apa tanggapan Nak Lila?' tanah Nenek Rahmi menyelidik, ingin tahu jawaban jujur dari Lila.


Lila mencari-cari sosok Mirza, yang masih berada di posisinya semula. Mirza nampak mengangguk, memberikan dukungan untuk Lila agar berkata dengan sejujurnya.


"Bagaimana tanggapan Nak Lila?" ulang Nenek Rahmi bertanya.


Lila menghela napas panjang. "Maaf, Nek. Sejujurnya, Lila tidak respect dengan perbuatan Bang Ronald," jawab Lila dengan jujur.

__ADS_1


Nenek Rahmi menghela napas berat, beliau sudah bisa menebak jawaban Lila akan seperti apa. Namun, mendengar jawaban jujur Lila barusan, nenek tua itu tetap saja merasa kecewa.


"Nak, bukankah setiap orang bisa saja khilaf? Apakah Nak Lila tidak bisa memaafkan kesalahan cucu nenek?" tanya Nenek Rahmi penuh harap.


"Memaafkan? Memaafkan bagaimana maksud, Nenek?" tanya Lila tak mengerti. "Bang Ronald tidak berbuat salah pada Lila, Nek. Jadi Lila tidak harus memaafkan Bang Ronald," lanjut Lila.


"Kesalahan Bang Ronald itu, pada dirinya sendiri, Nek. Ia telah mendzolimi dirinya sendiri, dengan melakukan perbuatan terlarang seperti itu." imbuh Lila. "Ia juga bersalah pada kedua orang tua serta keluarga besarnya."


"Maksud kamu dengan mendzolimi diriku sendiri?" tanya Ronald tak mengerti.


"Bagaimana jika Bang Ronald tertular penyakit berbahaya? Bukankah Bang Ronald sendiri yang rugi? Dan contoh konkritnya seperti tadi, Bang Ronald kena ciduk aparat. Bang Ronald sendiri 'kan, yang malu?" Lila menegaskan dengan pertanyaan yang ditujukan pada Ronald.


"Nak Lila benar," tutur Nenek Rahmi. "Tetapi perlu Nak Lila ketahui, Ronald sudah menyesali perbuatannya, Nak." lanjutnya seraya menatap Lila.


"Benar, Dik. Aku sangat menyesal dan aku janji, aku akan berubah, Dik," timpal Ronald meyakinkan.


"Janjinya jangan sama Lila, Bang. Tetapi sama diri Abang sendiri dan juga pada Allah, Tuhan kita," ucap Lila yang sudah mulai gerah berada di dalam sana.


"Nak, tolong ... beri cucu nenek kesempatan untuk memperbaiki dirinya." Nenek Rahmi menggenggam tangan Lila dengan erat, seraya memohon.


Mirza hanya bisa menghela napas panjang, seraya memperhatikan percakapan mereka bertiga. Sementara Om Rusman dan sang istri pun, hanya bisa diam dan membiarkan ibunya membujuk Lila.


"Kesempatan, bagaimana maksud Nenek? Jika maksud Nenek adalah kesempatan untuk menjadi calon suami bagi Lila, maaf, Lila enggak bisa," balas Lila dengan tegas, membuat Mirza tersenyum di kulum.


"Apa itu semua karena pemuda ini?" tanya Ronald sambil menunjuk Mirza dengan jari telunjuknya.


Nenek Rahmi mencari-cari, siapakah sosok pemuda yang ditunjuk cucunya. Nenek Rahmi memang hanya fokus pada kedatangan Lila, hingga wanita tua itu tak melihat keberadaan Mirza.


Merasa keberadaannya dicari oleh Nenek Rahmi, Mirza pun maju dan mendekati neneknya Ronald tersebut.


"Assalamu'alaikum, Nek. Apa kabar?" sapa Mirza dengan sopan seraya mengucap salam meski terlambat.


Mirza kemudian menyalami nenek tua itu dengan takdzim, seperti yang selama ini diajarkan oleh kedua orang tuanya, agar bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua.


"Wa'alaikumsalam," balas Nenek Rahmi yang terpana memandangi wajah tampan Mirza yang tengah tersenyum kepadanya, dan tatapan Mirza dengan netra kebiruannya yang menawan begitu tajam.


"Kamu ...." Ucapan Nenek Rahmi menggantung di udara. Nenek tua itu nampak mengingat-ingat sesuatu.


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Hayo,, kira2 ada cerita apakah dibalik tatapan terpana nenek Rahmi terhadap Mirza?


Sambil menunggu, yuk kepoin novel kece badai punya teman aku ya, bestie πŸ€—


Judul : Belenggu Hasrat

__ADS_1


Author : Trias Wardani



__ADS_2