Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Lila Cuma Bercanda


__ADS_3

"Gimana, Sayang. Kamu suka enggak, dengan rencana masa depan untuk kita berdua tadi?" desak Mirza karena Lila masih terdiam dan belum menjawab pertanyaannya.


Lila menggeleng pelan dan kemudian tersenyum. "Abang paling pintar, membuat Lila bahagia," balas Lila lirih.


"Jadi, kamu setuju, Sayang?" tanya Mirza memastikan seraya beringsut, mendekati tempat duduk Lila yang tadi menjauh.


Lila mengangguk pasti. "Iya, Bang. Lila setuju," balas Lila tanpa ragu, membuat Mirza langsung memeluk Lila saking bahagianya.


Suara dehaman Om Devan yang sengaja dikeraskan, mengurai pelukan Mirza.


"Maaf, Om. Mirza reflek saja tadi karena bahagia banget mendengar jawaban putri, Om," kilah Mirza seraya tersenyum kecut.


"Lain kali, jangan peluk-peluk putri papa sembarangan!" peringat om Devan, yang kini menyebut dirinya papa untuk Mirza.


Mirza tersenyum mendengar perkataan sang calon papa mertua. "Iya, Om. Eh, Pa. InsyaAllah, Mirza akan jaga sikap Mirza pada putri Papa, sampai kami halal nanti," balas Mirza yang memang sesuai dengan prinsipnya yang akan menjaga Lila dengan baik.


Tante Lusi pun tersenyum mendengar penuturan sang suami, mama Lila yang cantik itupun setuju jika mulai saat ini Mirza merubah panggilan untuk mereka berdua. Seperti Lila, yang dari dulu sudah memanggil daddy dan mommy pada kedua orang tua Mirza.


"Baik, Pa, Ma. Kami harus berangkat ke kampus sekarang," pamit Mirza seraya beranjak, yang diikuti oleh Lila.


Om Devan dan sang istri ikut berdiri, untuk mengantarkan mereka berdua hingga ke teras depan.


Lila dan Mirza kemudian menyalami kedua orang tua Lila dengan takdzim.


"Papa titip, tolong jaga putri papa," tutur Om Devan, yang langsung memeluk Mirza.


Papa tampan itu merasa terharu, ia rela menyerahkan putrinya untuk di jaga oleh Mirza, yang meskipun playboy tetapi Mirza masih bisa menjaga pergaulan dengan baik.


"InsyaAllah, Pa. Mirza akan berusaha untuk membuat putri Papa bahagia," balas Mirza sungguh-sungguh, pemuda tampan itu kemudian melerai pelukan papanya Lila.


"Do'akan kami berdua ya, Pa, Ma," pinta Mirza seraya menatap papa dan mamanya Lila bergantian.


Om Devan dan Tante Lusi mengangguk pasti. "Tentu saja, Bang. Kami akan selalu mendoakan untuk kebaikan dan kebahagiaan kalian berdua," balas Tante Lusi yang mewakili sang suami, sementara Om Devan mengangguk setuju.


Lila hanya bisa terharu, mendengar percakapan kedua orang tuanya dengan sang kekasih hati.


'Ya Allah, aku benar-benar enggak nyangka. Jika rasa sayangku pada Mirza, yang awalnya adalah rasa sayang pada sahabat dan saudara semata, kini menjadi rasa sayang pada lawan jenis yang rasanya sungguh sangat manis,' batin Lila.


'Apalagi, Mirza juga ternyata memiliki rasa yang sama terhadapku dan sikapnya juga sangat romantis, membuat aku merasa menjadi gadis yang paling beruntung,' lanjutnya bermonolog dalam hati.


Senyuman lebar menghiasi wajah cantik nan lembut milik Lila, kecantikan wajah yang menurun dari sang mama dan sedikit perpaduan dari sang papa.


"Ayo, Sayang! Kok, malah bengong," ajak Mirza, membuyarkan lamunan Lila.


"I-iya, Bang," balas Lila tergagap.


"Diajak berangkat ke kampus aja, udah grogi. Kayak diajak ke KUA aja," goda Mirza, yang membuat pipi Lila bersemu merah.


"Apaan, sih!" protes Lila. "Memangnya, Abang berani?" tantang Lila bertanya.


"Siapa takut? Ayo, sekarang!" ajak Mirza yang langsung menarik pelan tangan Lila untuk menuju mobil.


Kedua orang tua Lila hanya bisa tersenyum melihat tingkah kedua sahabat, yang kini menjalin kasih tersebut.


"Kalau mama pikir-pikir, sikap Mirza sama Lila dari dulu memang sudah manis ya, Pa. Beda banget kalau sama Lili yang suka dijahili, juga Nezia yang sering di godain sampai nangis," kenang Tante Lusi, mengingat kembali masa kanak-kanak Mirza dan Lila.


Om Devan mengangguk, membenarkan. "Iya, Mama benar. Papa juga berpikiran sama seperti Mama," tutur Om Devan.

__ADS_1


"Ayo, kita masuk! Papa mau ngecek seperti apa gambar Ilham, untuk hunian mereka nanti," lanjut Om Devan setelah mobil Mirza keluar melewati pintu gerbang, yang mengajak sang istri masuk ke dalam rumah.


"Mama ikut, ya? Sekalian papa mau ajak Mama bernostalgia," imbuh Om Devan, meminta agar sang istri ikut pergi bersamanya.


Tante Lusi mengangguk sambil berjalan masuk ke dalam rumah seraya bergelayut manja, pada lengan kekar sang suami.


Sementara di dalam mobil, Mirza dan Lila masih saling terdiam. Keduanya nampaknya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Untuk mengurai keheningan, Mirza menyetel musik dari audio yang ada di dalam mobil sport mewahnya tersebut.


Lirih, mulai terdengar sebuah lagu merdu yang berjudul 'sempurna' dipopulerkan Andra and the BackBone pada 2007 silam.


Lagu ini kembali menjadi sorotan usai dinyanyikan NIKI, di ajang Coachella Festival 2022.


'Kau begitu sempurna, di mataku kau begitu indah


Kau membuat diriku, akan selalu memujamu'


'Disetiap langkahku, ku 'kan selalu memikirkan, dirimu


Tak bisa kubayangkan hidupku tanpa cintamu'


'Janganlah kau tinggalkan diriku


Tak 'kan mampu menghadapi semua


Hanya bersamamu kuakan bisa'


'Kau adalah darahku


Kau adalah jantungku


Oh sayangku kau begitu


Sempurna, sempurna'


'Kau genggam tanganku, saat diriku lemah dan terjatuh


Kau bisikkan kata, dan hapus semua sesalku'


Mirza yang memiliki suara merdu, ikut larut menyanyikan lagu indah tersebut, membuat Lila tersenyum bahagia karena merasa dicintai dengan begitu dalam oleh pemuda tampan yang merupakan sahabatnya sendiri.


"Makasih ya, Bang. Udah mencintai Lila dengan begitu tulus," ucap Lila seraya menatap Mirza, begitu lagu tersebut usai.


Mirza menoleh sebentar dan tersenyum manis pada Lila. "Janji ya, jangan pernah pergi dari sisiku meski apapun alasannya," pinta Mirza.


Lila mengangguk. "InsyaAllah, Bang. InsyaAllah kita akan sama-sama terus, untuk menghadapi semuanya," balas Lila dengan yakin.


Mirza mengusap puncak kepala Lila dengan penuh kasih dan kemudian segera fokus ke jalan raya.


"Sayang, hari ini, rencana yang akan kamu jalankan yang mana dulu? Menyelesaikan urusan sama Kak Yovi dulu, apa mengenalkan Tiara sama Bang Ronald?" tanya Mirza kemudian.


Lila terdiam, ia nampak berpikir dan menimbang.


"Ketemu sama Kak Yovi dulu kali ya, Bang? Biar segera beres urusan kita?" tanya Lila meminta pendapat.


Mirza mengangguk. "Iya, semakin cepat beres, semakin baik," balas Mirza.

__ADS_1


"Abang sendiri, gimana?" tanya Lila.


Mirza mengernyitkan kening. "Maksud kamu?" tanya Mirza tak mengerti arah pembicaraan Lila.


"Urusan Abang, sama cewek-cewek yang belum rela diputusin sama Abang," balas Lila. Mereka 'kan, masih ngejar-ngejar Abang," lanjut Lila yang terdengar cemburu.


Mirza tersenyum. "Mereka akan mundur sendiri, begitu nanti mereka tahu kalau kita udah tunangan," balas Mirza mencoba menenangkan Lila.


"Jangan cemburu sama mereka, Sayang. Mereka itu enggak selevel sama kamu," lanjut Mirza, yang membuat hati Lila melambung.


Lila tersenyum. "Gombal, deh," ucapnya, tersipu malu.


Tiba-tiba Mirza menghentikan mobil tepat di depan toko bunga yang bersebelahan dengan toko souvenir, ia langsung turun tanpa mengatakan apapun pada Lila. Membuat Lila menyimpan tanya dalam hati.


Tak berapa lama, Mirza telah kembali dengan setangkai mawar indah dan bros cantik berbentuk hati.


"Bunga ini, spesial untuk gadis yang teristimewa di hati Abang," ucap Mirza seraya memberikan setangkai mawar merah tersebut.


Lila tersenyum bahagia, mendapatkan perlakuan manis dari sang kekasih hati.


"Dan bros cantik ini, juga untuk gadis yang paling cantik," lanjut Mirza memuji dengan tulus.


"Abang pasangkan, ya?" ijin Mirza, yang kini memanggil dirinya sendiri dengan panggilan bang.


Lila hanya bisa mengangguk patuh.


Dengan hati-hati, Mirza menyematkan bros cantik tersebut pada hijab Lila yang disilangkan di dada.


Jantung Lila berdebar kencang karena kini, jarak keduanya begitu dekat. Bahkan Lila dapat mendengar hembusan napas Mirza.


Usai memasangkan bros tersebut, Mirza tak langsung menjauh. Ia justru menatap manik hitam Lila dengan intens, membuat Lila semakin grogi dibuatnya.


"Abang, menjauhlah sedikit," pinta Lila dengan suara tercekat.


Mirza tersenyum. "Kenapa? Kamu takut, abang cium?" tanya Mirza yang sengaja menggoda.


"Tadi sewaktu di rumah, siapa yang nantangin minta di cium?" lanjut Mirza yang semakin membuat Lila menjadi panas dingin.


"Ta-tadi Lila, Li-Lila cuma bercanda, Bang," balas Lila terbata.


Mirza malah semakin mendekatkan wajahnya. "Cup ...."


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Yey,,, tiga kali up, kayak makan obat yah 😂


Bang Mirza, aku juga mau bunganya, dung ... yang banyak 😍


Bang Mirza hadir kembali besok yah ☺🙏


Yuk, sambil nunggu ... kalian bisa mampir di novel keren yang satu ini,


Judul ; Dipersunting TUAN BARUN


Karya ; StrawCakes

__ADS_1



__ADS_2