Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Story Sang Mantan


__ADS_3

"Yang di telepon kamu, Sayang. Masak abang yang bicara," tolak Mirza seraya menatap lembut Lila.


"Dah, terima aja. Nanti abang bantu bicara," lanjut Mirza.


Gugup, Lila menggeser tombol hijau di layar Ponselnya.


"Halo, assalamu'alaikum," sapa Lila masih dengan kegugupannya.


"Neng, benarkah yang kakak lihat di 𝘴𝘡𝘰𝘳𝘺-nya Mirza? Atau, kalian hanya sedang bikin prank saja?" tanya Yovi yang terdengar sangat sedih.


"Ma-maaf, Kak Yovi. Itu bukan prank semata," balas Lila pelan.


"Ja-jadi, itu benar adanya, Neng? Kamu dan Mirza, akan menikah? Tapi, bagaimana bisa? Bukankah, aku masih menunggu jawaban kamu, Neng?" cecar Yovi dengan banyak pertanyaan, nada bicaranya terdengar sangat kecewa.


"Aku sampai mengalami kecelakaan karena sepanjang perjalanan terus memikirkan kamu, Neng. Dan aku terburu-buru karena ingin segera sampai ke rumah kamu, untuk mengatakan pada orang tuamu langsung," lanjut Yovi menjelaskan akibat dari laka lantas yang menimpanya.


Yovi menghela napas kasar.


"Maaf, Kak. Saat itu, Lila sudah ingin menjelaskan pada Kak Yovi tapi ...." Perkataan Lila menggantung di udara.


"Sejak kapan kalian jadian? Bukankah kalian bersahabat baik?" tanya Yovi, memotong pembicaraan Lila.


"Kak Yovi benar, kami memang bersahabat baik sejak masih kecil. Tetapi seiring berjalannya waktu, ternyata kami saling memiliki perasaan cinta. Sejak kapannya, Mirza yakin itu sudah sangat lama, Kak. Hanya saja kami baru menyadari beberapa waktu terakhir," balas Mirza mewakili Lila.


"Kamu, Za? Kalian sedang bersama rupanya," ucap Yovi pelan, suaranya terdengar sangat cemburu.


"Iya, Kak. Kami sedang 𝘧π˜ͺ𝘡𝘡π˜ͺ𝘯𝘨 baju," balas Mirza jujur.


Kembali terdengar, Yovi menghela napas berat.


"Za, aku sangat mencintai Lila. Meski aku cuti dua tahun dan meninggalkan Jakarta untuk merintis bisnis di Bandung, aku terus saja memikirkannya. Aku berharap, saat kembali ke kampus aku masih memiliki kesempatan untuk merajut kembali cerita lama yang belum usai." Yovi menghentikan ucapannya, berkali-kali ia menghela napas berat.


"Rupanya, aku terlambat. Laki-laki lain di luar sana yang aku takutkan akan bisa meluluhkan hati Lila sebelum aku datang, memang tidak terbukti ada yang bisa mengambil hatinya sehingga aku memupuk keberanian untuk kembali menyatakan perasaanku pada Lila." Kembali Yovi menjeda ucapannya.


"Tetapi ternyata aku salah menilai, karena nyatanya hati Lila sudah terpaut pada seorang laki-laki dan laki-laki itu adalah orang terdekat Lila sendiri." Suara Yovi terdengar sangat getir.


Sejenak keheningan menyapa, Yovi terdiam, sementara Mirza dan Lila hanya saling pandang.


"Za, tolong jangan pernah kecewakan dan sakiti Lila," pungkas Yovi yang langsung menutup teleponnya.


Mendengar ucapan terahkir Yovi, Lila menitikkan air mata. Perasaan bersalah menyeruak, karena ia belum sempat menjelaskan kebenarannya tetapi Yovi sudah terlanjur mengetahui.


Mirza mengusap punggung Lila dengan penuh pengertian. "Kak Yovi itu orangnya dewasa, dia pasti bisa mengerti kamu, Sayang," hibur Mirza.

__ADS_1


Lila mengangguk. "Iya, Bang. Semoga saja, Kak Yovi enggak marah ya, sama Lila," ucap Lila.


Mirza kemudian mengusap bulir bening yang jatuh di pipi Lila, dengan penuh kasih.


"Bang, besok kita besuk Kak Yovi lagi, ya?" pinta Lila, mengharap persetujuan Mirza.


Mirza mengangguk. "Abang siap antar, kemanapun kamu mau," balas Mirza.


Setelah Fira kembali ke ruangannya, mereka berdua pun kemudian berpamitan.


"Kak, tolong siapin baju untuk wisuda dan untuk akad sekalian, ya," pinta Mirza pada kakak sepupunya, sebelum keluar dari ruangan Fira.


"Akadnya sore apa malang, Dik?" tanya Fira memastikan, untuk menentukan warna yang cocok.


"Sore, Kak. Kalau malam, nanti selesainya malam banget. Waktu untuk malam pertama kami berdua, jadi kurang banyak nanti," balas Mirza ceplas ceplos.


Fira terkekeh. "Iya, kamu benar itu, Dik. Jadi kurang puas menikmati, tahu-tahu udah pagi aja," timpal Fira.


Sementara Lila mengalihkan pandangan dan wajahnya nampak merona merah. Ia malu mendengar pembicaraan Mirza dan Fira, yang menurut Lila sedikit vulgar.


"Ayo, Sayang!" ajak Mirza sambil menggandeng lengan Lila.


"Enggak nunggu Bang Dion sekalian, Dik?" tanya Fira.


"Assalamu'alaikum, Kak," pamit Mirza dan Lila, seraya mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam ...," balas Fira. "Kalian hati-hati, jangan ngebut, Dik," pesan Fira sebelum Mirza dan Lila menghilang di balik pintu.


Mirza membukakan pintu mobil untuk Lila, ia kemudian berlari kecil mengitari mobil untuk masuk melalui sisi yang lain. Baru saja Mirza masuk ke dalam mobil, terdengar seseorang memanggil namanya.


"Bang Mirza, tunggu!" teriak seorang gadis, yang langsung berlari menghampiri Mirza.


Mirza yang terlanjur menutup pintu mobilnya, kemudian membuka kaca jendela mobil. "Ada apa, Sya?" tanya Mirza karena merasa sudah tak memiliki urusan lagi sama Risya, adik tingkatnya di kampus.


"Abang kenapa, sih! Dihubungi susah sekali!" protes Risya yang membungkukkan badan, seraya menatap Mirza.


Risya melirik sekilas pada Lila dan kemudian tersenyum. "Kak Lila, apa kabar? Kok, gak bareng sama yang lain?" tanya Risya yang memang sudah paham, bahwa kemana-mana Mirza akan selalu bersama sahabat-sahabatnya.


"Mau apalagi menghubungi gue, Sya? Kita udah selesai, ya!" tegas Mirza.


"Orang yang bercerai aja bisa balikan kok, Bang. Masak kita yang cuma putus, gak ada kesempatan untuk baikan, sih? Lagian, Risya 'kan udah mengakui kesalahan Risya, Bang. Risya juga udah minta maaf sama Abang dan berjanji akan memperbaiki diri Risya," celoteh Risya panjang lebar.


Lila membuang pandangannya, ke arah luar jendela kaca yang ia buka lebar-lebar dan membiarkan angin sore yang berhembus cukup kencang, menerpa wajah dan mengibarkan hijab Lila.

__ADS_1


Sementara Mirza menggeleng. "Kisah kita udah usai sangat lama, Sya. Dan gue juga enggak pernah janji memberikan kesempatan pada lu, untuk kita bisa balikan lagi," balas Mirza.


"Tapi Risya sampai bela-belain belajar ilmu agama dan berhijab, hanya demi bisa balikan sama Abang," rajuk Risya.


"Niat hijrah lu, enggak bener, Sya," sesal Mirza. "Jangan beribadah karena manusia atau makhluk ciptaannya, tapi beribadahlah karena Sang Pencipta," lanjut Mirza.


Risya cemberut. "Jadi, sia-sia dong, Risya memakai hijab kayak gini!" gerutu Risya.


"Astaghfirullah ... istighfar, Sya. Dalam hal kebaikan, tidak ada yang sia-sia, Sya. Jika kamu sungguh-sungguh berubah dan beribadah hanya karena Allah semata, gue yakin, lu akan mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dari gue," ucap Mirza, mencoba menasehati sang mantan.


Risya semakin mengerucutkan bibir. "Enggak ada yang lebih baik dari Abang!" seru Risya.


Terdengar ponsel Risya berdering. "Abang tunggu sebentar, Risya belum selesai bicara," pinta Risya, yang kemudian menerima panggilan telepon yang masuk.


"Halo, Sya. Lu udah baca 𝘴𝘡𝘰𝘳𝘺 mantan lu, belum?" tanya suara di seberang sana.


"𝘚𝘡𝘰𝘳𝘺? Belum tuh," balas Risa mengernyit.


"Buruan buka, Sya! Yaelah, Sya ... kemana aja, Neng, sampai ketinggalan 𝘩𝘰𝘡 𝘯𝘦𝘸𝘴 kayak gini?" tanya orang di seberang sana.


"Oke, oke. Aku buka sekarang," ucap Risya, yang langsung menutup panggilan tersebut dan kemudian membuka 𝘴𝘡𝘰𝘳𝘺 Mirza.


Sementara Mirza dan Lila saling pandang, mendengar percakapan Risya dan temannya di telepon.


"Satu lagi hati wanita yang patah karena pesona Bang Mirza," sindir Lila, dengan lirih tetapi terdengar jelas di telinga Mirza.


"Bukan aku yang membuat hati mereka patah, Sayang. Tetapi obsesi mereka sendirilah yang mematahkan hati mereka," balas Mirza membela diri.


Sementara Risya yang tengah menatap layar ponselnya, membulatkan netra melihat 𝘴𝘡𝘰𝘳𝘺 sang mantan. "Abang dan Kak Lila, jadian?"


____ bersambung ____


🌷🌷🌷🌷🌷


Sang mantan masih bertebaran πŸ˜„


Yuk, hempas sang mantan dengan taburan kembang (mode malak🀭)


Sambil nunggu sang mantan... eh, nunggu bang Mirza up kembali esok hari, mampir dulu di novel keren ini yuk, Best...


Judul ; Nikahi Aku Pak Dosen


Author ; aveeii

__ADS_1



__ADS_2