
"Masak kamu enggak bisa menebaknya, sih? Kamu 'kan, paling jago kalau menilai cewek itu suka sama kamu atau enggak, Za?" tanya Lila tak percaya.
"Kamu beda, La. Enggak bisa disamain dengan mereka," balas Mirza dengan tatapan dalam, yang mampu menembus ke jantung Lila.
Lila terdiam, ia meneliti wajah tampan Mirza yang malah semakin membuat jantungnya berdebar tak karuan. Lila buru-buru membuang pandangan ke luar jendela kaca mobil, menatap mobil-mobil lain yang berjajar di tempat parkir tersebut.
"Kalau di ajak bicara tuh lihat orangnya," bisik Mirza seraya menarik pelan ujung jilbab Lila yang bagian belakang karena Lila membelakanginya.
Lila kembali menoleh dan kini mereka berdua kembali berhadapan. Mereka berdua masih saling menatap dengan tatapan yang penuh arti.
"Kalau kamu diam aja seperti ini, aku jadi pengin nyium kamu deh, Sayang," ucap Mirza mengurai kebisuan yang sejenak tercipta.
Wajah Lila langsung merona, gadis cantik itupun dibuat tersipu dengan ucapan Mirza barusan.
"Masih belum mau jawab, hem?" ulang Mirza bertanya dengan semakin mendekat, hingga jarak keduanya hanya beberapa inci saja.
Mirza semakin mendekatkan wajahnya, pemuda tampan itu tak bisa lagi membendung keinginannya untuk mencium pipi Lila yang menggemaskan.
Mirza kemudian menjatuhkan kepalanya di bahu Lila dan menggigit kecil pundak Lila dengan gemas.
"Aw ... sakit, Za!" pekik Lila karena terkejut mendapat serangan Mirza yang tiba-tiba.
"Habisnya, aku gemas sama kamu, La. Mana belum boleh nyium lagi," gerutu Mirza.
Lila tersenyum. "Sabar," balas Lila singkat.
Mirza kembali ingin menggigit pundak Lila dan tepat di saat yang sama, pintu mobil Mirza kembali di ketuk dari luar. Mengetahui siapa yang mengetuk pintu mobil, Mirza buru-buru membukanya.
"Dad," sapa Mirza dengan cengar-cengir karena merasa kepergok sama sang daddy. Ia kemudian segera turun, yang disusul oleh Lila dari sisi yang lain.
Rupanya waktu telah menunjukkan pukul empat sore dan sudah waktunya bagi orang-orang kantoran, untuk pulang ke rumah masing-masing termasuk bos pemilik gedung perkantoran tersebut.
Mirza dan Lila kemudian menyalami Daddy Rehan dan mencium punggung tangan laki-laki paruh baya yang berwibawa itu dengan takdzim.
"Abang ngapain berduaan di dalam mobil dari tadi?" cecar sang daddy kemudian, seraya menatap putranya dengan tatapan menyelidik.
"Ingat, Bang. Anak gadis orang, jangan main sentuh sembarangan!" peringat Daddy Rehan pada sang putra seperti biasanya, seraya melihat ke arah Lila.
Mirza mengangguk. "Iya, Dad. Mirza enggak nyentuh Lila, kok," balas Mirza, seraya melirik Lila yang berdiri di sampingnya.
'Hanya menggigitnya saja tadi, habisnya Mirza gemas sama calon menantu daddy,' bisik Mirza dalam hati.
"Daddy sudah mau pulang?" tanya Mirza kemudian.
"Iya," balas Daddy Rehan. "Apa ada yang mau Abang bicarakan sama daddy?" tanya Daddy Rehan dengan kening mengkerut.
Mirza mengangguk. "Di rumah saja kalau gitu, Dad. Sekalian sama mommy," balas Mirza.
__ADS_1
"Ya sudah, sampai ketemu di rumah." Daddy Rehan segera berlalu menuju ke mobilnya, dimana sang sopir telah menunggu dengan membukakan pintu untuk tuannya tersebut.
"Ayo, Ibu Suri. Kita pulang," ajak Mirza dengan tersenyum manis.
Lagi-lagi, Lila dibuat tersipu dengan panggilan tersebut. "Enggak ada panggilan lain, apa?" protes Lila pura-pura enggak suka, sambil berlalu menuju sisi kiri mobil.
"Maunya di panggil apa, hem?" tanya Mirza lembut, seraya menatap dalam netra hitam Lila sesaat setelah keduanya berada di dalam mobil.
"Terserah Bang Mirza aja, deh," balas Lila yang membuat Mirza tersenyum bahagia.
"Aku suka kamu memanggilku demikian, Sayang," ucap Mirza.
"Tapi kalau ada yang lain, aku masih malu," gumam Lila.
Mirza semakin melebarkan senyuman di wajah tampannya. "Berarti kita akan sering berduaan seperti ini, Sayang. Biar kamu enggak malu," goda Mirza.
"Ih, bukan seperti itu juga, Bang. Enggak baik tahu, berduaan melulu. Nanti bisa lepas kontrol," balas Lila yang mulai berceramah.
"Iya, iya. Terus, biar kita bisa berduaan terus tanpa khawatir lepas kontrol, kita harus bagaimana, Sayang?" pancing Mirza.
"Ya menikah, Bang," balas Lila jujur. "Eh, maksudku bukan minta nikah sekarang loh," lanjut Lila meralat ucapannya, seraya menutup mulut.
"Sekarang juga enggak apa-apa, Abang siap kok, Sayang," ucap Mirza yakin.
"Jadi, jawaban dari pertanyaanku tadi, kamu ...." Mirza menjeda ucapannya.
Terdengar bunyi klakson yang membuat Mirza tersadar dan segera melepaskan pelukannya, rupanya klakson tersebut berasal dari mobil sang daddy, yang dibunyikan oleh sopir pribadi Daddy Rehan atas perintah daddy-nya Mirza tersebut.
Nampak kaca jendela pintu mobil Daddy Rehan yang berada tepat di samping mobil Mirza diturunkan, Mirza pun ikut menurunkan kaca pintu mobilnya.
"Son, kita harus secepatnya bicara. Daddy tunggu kalian di rumah!" seru Daddy Rehan dari dalam mobilnya.
Mirza mengangguk mengiyakan.
Daddy Rehan segera menutup kembali kaca pintu mobilnya dan mobil mewah Bos RPA Group itu segera melaju, meninggalkan area parkir gedung perkantoran yang menjulang tinggi tersebut.
Mirza yang juga menutup kembali kaca pintu mobilnya hanya bisa tersenyum kecut, mengetahui bahwa sang daddy ternyata masih mengawasinya.
"Bang, aku malu," ucap Lila dengan mengerucutkan bibirnya. "Abang sih, main peluk-peluk aja," gerutu Lila.
"Tapi kalau aku enggak peluk kamu, aku enggak akan tahu kalau jantung kamu berdebar-debar, Sayang," balas Mirza dengan senyuman yang menggoda.
"Ish, apaan sih, Abang!" protes Lila yang semakin dibuat malu, ia kemudian membuang pandangannya ke luar jendela kaca.
"Ibu Suri," panggil Mirza lembut.
Lila pun terpaksa menoleh, bibir tipisnya menyunggingkan senyuman.
__ADS_1
"Iya," jawab Lila singkat.
"Mau jalan sekarang?" tanya Mirza.
Lila mengangguk.
"Mau langsung ke rumah atau mau mampir dulu?" tanya Mirza.
"Kita mampir beli martabak dulu, ya. 'Kan di rumah, ada Dik Iqbal juga," balas Lila yang teringat cerita Mirza bahwa untuk sementara ini, Iqbal menginap di rumahnya.
"Iya, boleh," balas Mirza yang segera melajukan mobilnya meninggalkan area perkantoran milik sang daddy.
πΈπΈπΈ
Kedatangan Mirza dan Lila, di sambut oleh sang mommy dengan tersenyum ramah.
"Kak Lila, mamanya apa kabar?" tanya Mommy Billa setelah melerai pelukannya.
"Alhamdulillah, Mom. Mama baik," balas Lila dengan tersenyum manis.
"Ayo, ayo, masuk!" ajak Mommy Billa seraya menggandeng tangan Lila.
"Mom, kok Mirza di cuekin, sih!" rajuk Mirza protes, sambil mengikuti langkah dua wanita kesayangannya.
Lila tersenyum melihat sikap Mirza yang manja sama sang mommy, sementara Mommy Billa geleng-geleng kepala.
"Abang 'kan sudah dewasa, malu kali sama kekasihnya," balas Mommy Billa, yang membuat Lila kembali tersenyum.
"Bukan kekasih, Mom. Tapi calon istri," sahut Daddy Rehan yang sudah menunggu di ruang keluarga.
"Mereka berdua harus segera dinikahkan, Mom. Daddy khawatir, Abang tidak bisa mengendalikan diri," lanjut Daddy Rehan, yang membuat Mirza dan Lila saling pandang.
_____ bersambung _____
π·π·π·π·π·
Aduh, Dad ... bukan hanya Mirza yang enggak bisa mengendalikan diri, aku juga nih, penginnya up terus ππ€
Lagi-lagi, sambil nunggu Bang Mirza up, tapi besok lagi yah...
Silahkan mampir ke karya keren punya teman:
Judul ; DADDY IS MY HUSBAND
Karya ; NITA. P
__ADS_1