Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Tertawa di atas Kesengsaraan


__ADS_3

Bakda maghrib, keluarga Daddy Rehan dan Mommy Billa berkumpul di ruang keluarga. Mommy Billa yang dibantu Oma Susan, nampak sedang mengecek hantaran yang akan dibawa untuk Lila.


"Kayaknya sudah lengkap deh, My," ucap Oma Susan, sambil membetulkan salah satu hantaran yang pitanya lepas.


Mommy Billa mengangguk. "Benar, Oma. Baju, sepatu dan tas, 𝘢𝘯π˜₯𝘦𝘳 𝘸𝘦𝘒𝘳, 𝘴𝘬π˜ͺ𝘯 𝘀𝘒𝘳𝘦 ...," balas Mommy Billa sambil mengingat-ingat, barang apa yang sekiranya belum ada.


Sementara yang lain, berbincang dengan hangat di sofa yang membentuk setengah lingkaran di ruang keluarga yang luas tersebut.


Keluarga kecil putra sulung Daddy Rehan, Kevin dan juga keluarga adik-adiknya juga sudah berkumpul, termasuk Fira dan keluarga kecilnya.


Tak ketinggalan keluarga kecil Bayu, sahabat Kevin yang senantiasa hadir di setiap acara keluarga Daddy Rehan, juga sudah bergabung.


Daddy Rehan mendekati sang istri. "Mom, kalau sudah selesai, Daddy mau telepon papa dan mama. Tolong nanti Mommy ikut jelasin sama papa mama, ya ... kalau ini demi kebaikan Mirza dan Lila," pinta Daddy Rehan, yang sampai kelupaan belum memberitahu sang papa dan mama serta kakak pertamanya.


"Mommy enggak mau, Daddy saja yang mengatakan sendiri pada beliau berdua," tolak Mommy Billa yang masih saja cemberut pada sang suami.


"Mom, tadi waktu di 𝘣𝘒𝘡𝘩 𝘢𝘱 'kan sudah enggak cemberut, kok sekarang cemberut lagi," protes Daddy Rehan, yang melihat wajah Mommy Billa kembali di tekuk.


Mendengar kata 𝘣𝘒𝘡𝘩 𝘢𝘱, Mommy Billa tersenyum samar. "Daddy apaan sih, bahas yang gituan di sini! Kalau yang lain dengar 'kan, malu!" bisik Mommy Billa yang protes balik.


Oma Susan yang kadung mendengar tersenyum lebar, seraya geleng-geleng kepala. Hanya itu yang bisa ia lakukan, karena oma cantik tersebut merasa sungkan jika ingin ikut-ikutan meledek mantan bosnya.


"Biarin, habisnya Mommy masih cemberut saja sama Daddy. Sudah gitu, Mommy enggak mau bantuin Daddy untuk menjelaskan sama papa dan mama," balas Daddy Rehan.


"Iya, iya. Habis ini Daddy telepon, nanti biar Mommy yang bantu untuk bicara sama papa dan mama," ucap Mommy Billa yang akhirnya mengalah.


"Nah, kalau gini 'kan, makin cantik," puji Daddy Rehan seraya mencubit gemas pipi sang istri. "Besok pagi, kita ulang lagi ya Mom, kayak yang tadi." Daddy tampan itu memainkan kedua alisnya naik turun.


Mommy Billa membalas dengan mencubit perut sang suami. "Udah, ah ... Daddy tunggu sana saja, di sofa," usir Mommy Billa, karena sang suami kembali nempel pada dirinya.


"Udah, Rey. Cucu udah banyak juga, masih kayak ABG labil saja!" ledek Opa Alvian.


Daddy Rehan hanya mencebik dan kemudian menuntun sang istri menuju sofa, kala sang istri sudah selesai mengecek semua hantaran untuk calon menantu di keluarganya.


"Semoga Papa Sultan dan Mama Sekar marah sama anaknya yang satu ini, ya Allah," doa Om Ilham dengan jahilnya, membuat Opa Alvian dan Om Alex terkekeh seraya meninju pelan lengan Om Ilham.


Sementara Daddy Rehan langsung melotot pada adik iparnya tersebut.

__ADS_1


"Nang, tidak baik ah, berdoa sembarangan!" peringat Nenek Lin pada putra bungsunya.


Om Ilham tersenyum nyengir.


Daddy Rehan segera melakukan panggilan video pada nomor sang kakak.


"Halo, Rey. Assalamu'alaikum," sapa salam bunda Fatima, yang langsung menerima panggilan video sang adik.


"Wa'alaikumsalam, Kak," balas Daddy Rehan. "Kak, papa sama mama, dimana?" tanya Daddy Rehan.


"Ada nih, kita lagi nyantai." Bunda Fatima nampak mengarahkan kamera ponselnya pada Opa Sultan dan Oma Sekar yang melambaikan tangan pada Daddy Rehan.


"Rey, bagaimana kabar kalian?" tanya sang mama penuh perhatian.


"Alhamdulillah, Ma. Kami semua baik," balas Daddy Rehan. "Kami lagi ngumpul semua ini, Ma." Daddy Rehan kemudian mengedarkan kamera ponsel ke seluruh penjuru ruangan, hingga Oma Sekar bisa melihat bahwa keluarga besar Antonia tengah berkumpul di kediaman sang putra.


Oma Sekar nampak mengerutkan kening dengan dalam, yang menambah guratan di dahinya yang sudah berkeriput.


"Ma, sebelumnya Rey mau minta maaf sama Mama dan Papa," ucap Daddy Rehan.


Daddy Rehan menatap sang istri. "Mom ...," bisik Daddy Rehan memberikan isyarat.


Mommy Billa menghela napas panjang. "Ma, maaf ya, kalau kami lancang tidak memberitahu dulu sama mama dan papa," sesal Mommy Billa.


"Malam ini, kami mau melamar Lila untuk Mirza, Ma," lanjut Mommy Billa hati-hati.


Oma Sekar dan Opa Sultan yang duduk bersisihan nampak sedikit kecewa, tetapi beliau berdua belum mengeluarkan suara.


"Maaf, Billa juga tidak persiapan sama sekali karena acaranya dadakan. Baru tadi sore, kesepakatannya dibuat antara Bang Rehan dan Bang Devan," terang Mommy Billa.


"Kenapa mendadak sekali, Billa? Apa sudah terjadi sesuatu dengan mereka berdua?" cecar Oma Sekar yang nampak sangat khawatir, beliau tahu persis kedekatan Mirza dan Lila seperti apa.


Mommy Billa menggeleng cepat. "Tidak, Ma. Bukan seperti itu," balas Mommy Billa.


"Mama 'kan tahu sendiri, Mirza seperti apa. Selama ini dia sering gonta-ganti cewek 'kan, Ma. Dan sekarang, cucu Mama itu sudah yakin dengan perasaannya sama Lila dan kami rasa mereka berdua sudah sama-sama dewasa, Ma. Jadi, tidak perlu lagi menunda-nunda, kan?" terang Mommy Billa, meminta persetujuan.


Oma Sekar dan Opa Sultan nampak mengangguk-angguk. "Syukurlah jika tidak terjadi apa-apa sama mereka," tutur Oma Sekar yang terlihat lega.

__ADS_1


"Kalau mereka berdua memang sudah sama-sama serius, ya memang harus disegerakan daripada menimbulkan fitnah." Opa Sultan sangat setuju dengan keputusan Daddy Rehan dan Om Devan.


"Jadi, Papa dan Mama tidak marah 'kan karena tidak Rey libatkan dalam lamaran Mirza?" tanya Daddy Rehan penuh harap.


"Siapa bilang? Kami memang setuju, tetapi itu bukan karena kami tidak marah, Rey. Kami tetap marah sama kamu," balas Oma Sekar.


"Benar, Ma. Dimarahin aja si Rehan," sahut Om Alex, yang duduk di samping Daddy Rehan.


Daddy Rehan melotot pada sahabat, adik ipar dan sekaligus asisten abadinya itu.


"Mama marah sama kamu juga, Lex."


"Loh, kok marah sama Alex juga, Ma?" protes Om Alex, yang mendapatkan cibiran dari Daddy Rehan.


"Rasain, lu!" ledek Daddy Rehan tanpa mengeluarkan suara, membuat mereka semua yang berada di sana, tersenyum seraya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah kedua sahabat tersebut.


"Kalian kan saudara, kenapa enggak mengingatkan Rehan untuk kasih kabar sama mama dari tadi," balas Oma Sekar.


"Ya, maaf, Ma. Alex pikir, Rehan akan langsung hubungi Mama tadi," sesal Om Alex.


"Gimana Rehan bisa kepikiran untuk menghubungi Mama jika sampai rumah, Rehan langsung diomelin sama Billa, Ma," adu Daddy Rehan dengan bibir mengerucut.


"Hahaha ... syukurin!" celetuk Bunda Fatima di seberang sana, yang disambut tawa keluarga besar Antonia, terutama Om Ilham yang tertawa bahagia di atas kesengsaraan abang iparnya.


_____ bersambung _____


Menyambut bulan baru, Desember ceria πŸ˜„ (Harapannya, semua bulan selalu ceria)


Part-nya spesial Daddy Tampan yaπŸ₯°


Yuk, sambil nunggu lamaran Bang Mirza, mampir dulu dimari, Bestie...


Judul : Perjuangan Seorang Anak


Author : Lenni Masliana Nasti


__ADS_1


__ADS_2