
"Mereka berdua harus segera dinikahkan, Mom. Daddy khawatir, Abang tidak bisa mengendalikan diri."
Mirza dan Lila saling pandang.
"Kenapa buru-buru, Dad?" tanya Mommy Billa penuh selidik.
"Ayo, Ayo, kalian duduk dulu!" titah Mommy Billa kemudian, yang mempersilahkan putri dari sahabatnya untuk duduk di sofa di ruang keluarga.
Mommy cantik itu kemudian menatap putranya yang duduk bersisihan dengan Lila. "Abang tidak melakukan hal yang di luar batas, kan?" tanya Mommy Billa yang nampak khawatir, mendengar perkataan sang suami barusan.
Mirza mengerutkan kening. "Maksud Mommy?" tanya Mirza tak mengerti. "Mommy enggak percaya, sama abang?" lanjutnya menyelidik.
Mommy Billa menggeleng. "Mommy percaya, Bang. Tetapi, kenapa Daddy menyuruh kalian untuk segera menikah?" Mommy Billa menatap sang suami sekilas.
"Memangnya, kalian benar-benar sudah saling jujur?" Mommy Billa kemudian menatap sang putra dan juga putri dari sahabatnya itu secara bergantian.
Mirza mengangguk pasti. "Sudah Mom," balas Mirza lugas.
Sementara Lila tersipu malu.
"Kak Lila?" tanya Mommy Billa, memastikan
Lila semakin tersipu dan hanya bisa mengangguk, membuat Mommy Billa ikut tersenyum bahagia.
"Alhamdulillah ...," ucap syukur Mommy Billa yang kemudian bersandar manja pada sang suami.
"Akhirnya ya Dad, keinginan Mommy dan Lusi kesampaian juga," bisiknya dengan binar bahagia.
Daddy Rehan ikut tersenyum, menyaksikan kebahagiaan sang istri. Kedua orang tua Mirza itupun saling menatap mesra.
Sejujurnya, daddy tampan itu pun bahagia karena akhirnya bisa mempererat ikatan persahabatannya dengan Om Devan, sahabat sejati semenjak masih sama-sama kuliah dulu.
Apalagi, putri Om Devan juga gadis yang baik dan lembut, yang diam-diam sudah lama ia idam-idamkan untuk menjadi menantu keluarga Alamsyah.
"Ehem ...." Dehaman Mirza mengurai kemesraan kedua orang tuanya.
"Maaf, Dad. Mirza pribadi, tidak keberatan jika harus menikah segera. Justru Mirza malah senang," ucap Mirza seraya melirik gadis cantik, yang duduk malu-malu disampingnya.
"Tetapi, kita 'kan harus mendengar bagaimana pendapat Lila," lanjut Mirza.
"Kamu benar, Bang. Daddy tadi 'kan hanya menyarankan karena daddy tidak mau, kalian sampai melewati batas," tutur Daddy Rehan.
__ADS_1
"Bagaimana, Kak Lila?" tanya Daddy Rehan kemudian seraya menatap Lila.
Lila menoleh ke arah Mirza dan kemudian menggeleng pelan. "Bang, Lila 'kan masih ada urusan sama Kak Yovi? Lila mau selesaikan dahulu, biar enggak jadi masalah kedepannya," bisik Lila pada Mirza, seraya berharap Mirza mau mengerti.
Mirza mengangguk. "Iya, aku setuju sama kamu, Sayang. Kamu memang harus menyelesaikan semuanya dan pastikan hanya ada namaku di hatimu," balas Mirza berbisik, seraya tersenyum mesra.
"Jika begitu, aku juga mau Abang selesaikan semua urusan Abang sama mantan-mantan Bang Mirza yang banyak itu! Aku enggak mau ya, kalau sampai saat nanti kita bersanding di pelaminan, ada gadis yang datang dan meminta pertanggungjawaban dari Abang!" ancam Lila yang nampak cemburu, membuat Mirza terkekeh.
"Kenapa kalian malah pacaran di depan Daddy?" protes Daddy Rehan, sebab Mirza dan Lila malah asyik berbisik sendiri.
"Hehe ... enggak kok, Dad," kilah Mirza terkekeh pelan. "Lila masih ingin menyelesaikan dahulu urusannya pada kating di kampus," ucap Mirza kemudian.
"Kak Lila punya kekasih?" tanya Mommy Billa menyelidik.
Lila menggeleng dengan cepat. "Bukan kekasih, Mom. Tapi dulu banget, sebelum Lila sama Juan, Lila pernah dekat sama Kak Yovi," terang Lila.
"Terus? Urusan apalagi yang akan di selesaikan sama Yovi, itu? kejar Mommy Billa.
Lila kemudian dengan jujur menceritakan keinginan Yovi yang ingin menikahinya, begitu mereka selesai di wisuda nanti.
"Wah, enggak bisa dibiarkan ini, Bang. Bang Mirza harus gerak cepat untuk meminang Kak Lila, sebelum keduluan sama pemuda lain," saran Daddy Rehan yang ditanggapi Mirza dengan tertawa senang.
"Benar, Dad. Mirza juga sudah tidak sabar ingin ...." Mirza sengaja menggantung ucapannya, ia melirik Lila seraya mengerling menggoda.
"Iya, Mommy Sayang," balas Mirza.
"Dad, kami berdua telah sepakat. Lila akan menyelesaikan urusannya dahulu, baru setelah itu Mirza akan meminang Lila secara langsung pada Om Devan dan Tante Lusi," ucap Mirza kemudian.
Daddy Rehan dan Mommy Billa mengangguk-anggukkan kepala, tanda setuju dengan keputusan mereka berdua.
"Bukan hanya Lila, Dad. Tapi Bang Mirza juga harus menyelesaikan dahulu semua urusannya pada mantan-mantan, yang tidak terhitung jumlahnya itu," timpal Lila kemudian, yang terdengar ada nada kecemburuan di sana.
Daddy Rehan tersenyum lebar. "Kak Lila benar," tuturnya seraya menatap sang calon menantu dengan tatapan teduh.
"Tuh, dengerin Bang Mirza. Abang harus memastikan, bahwa tak ada lagi mantan yang berkeliaran," ledek Daddy Rehan pada sang putra seraya terkekeh.
"Daddy, ih ...," gumam Mirza cemberut. "Mirza 'kan enggak pernah menggantung mantan, jadi mana mungkin mereka berkeliaran," lanjut Mirza menjelaskan.
"Ya sudah, jika kalian berdua sudah sepakat seperti itu, daddy dan Mommy lega mendengarnya," tutur sang daddy.
Mirza dan Lila mengangguk.
__ADS_1
"Abang jangan buat Mommy kecewa, dengan menyakiti Kak Lila. Buat Kak Lila menjadi gadis yang paling beruntung, memiliki Abang," pesan sang Mommy.
"Hem ... benar, Bang. Buat Kak Lila menjadi wanita yang paling bahagia di dunia," timpal Daddy Rehan. "Seperti halnya Mommy, benar 'kan Mom?" Daddy Rehan mengecup mesra puncak kepala sang istri, yang masih nyaman bersandar di bahunya.
"Yuk, Sayang, kita naik! Kelamaan di sini, membuat Abang jadi ingin sesuatu," ajak Mirza yang sengaja mengeraskan suaranya.
"Ya sudah, kalian bersih-bersih dulu sana. Sebentar lagi maghrib," titah sang mommy.
"Baik Dad, Mom. Kami ke atas dulu," pamit Lila dengan sopan.
Mereka berdua kemudian segera naik menuju lantai atas, Mirza mengantar Lila hingga ke depan pintu kamar yang biasa ditempati oleh Lila, Lili dan Nezia jika mereka menginap di kediaman keluarga Alamsyah tersebut.
"Mau di temani, atau berani sendiri?" goda Mirza kala membukakan pintu kamar untuk sang Ibu Suri.
"Pengin ditemani, sih. Tapi, apa Abang yakin akan kuat menahan godaan?" balas Lila dengan menggoda balik Mirza.
Ya, Lila memang gadis yang lembut dan kalem karena gen sang mama begitu kuat melekat pada diri Lila. Tetapi, gadis cantik itu terkadang juga suka jahil sama seperti sang papa, meski itu hanya ia lakukan pada orang-orang tertentu saja.
Mirza tersenyum lebar. "Siapa takut?" tantang Mirza yang merangsek masuk kedalam kamar sambil menyeret pelan tangan Lila, Mirza segera menutup rapat pintu kayu berukiran cantik tersebut.
Mirza kemudian mendorong pelan tubuh Lila, hingga tubuh ramping itu terjatuh di atas kasur busa yang empuk.
Lila terpekik tertahan, sambil membekap mulutnya sendiri. Ia takut jika ada yang mendengar suara teriakannya.
Mirza semakin mendekat hingga ke sisi ranjang, ia pandangi wajah Lila yang bersemu merah karena malu, takut dan marah bercampur menjadi satu.
"Bang, aku tadi cuma bercanda, Bang," mohon Lila, yang ketakutan.
Mirza tersenyum tengil.
_____ bersambung _____
🌷🌷🌷🌷🌷
Sugeng siang bestie,,, ketemu lagi kita 🤗
Moga hari ini aku khilaf lagi yah, sama kayak Bang Mirza yang lagi khilaf tuh 😁🤦♀️
Yuk, sambil nunggu khilaf-nya Bang Mirza, mampir di novel keren ini yah... 😍
Judul : Terpaut 20 Tahun
__ADS_1
Author : Ria Aisyah