Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Pendapat Menyesatkan


__ADS_3

Ronald menatap intens Tiara, dahinya mengernyit dalam.


Begitupun dengan Tiara, yang memindai wajah Ronald yang seperti tak asing baginya.


"Bang Robert ...?"


"Kamu, Tiara mantan pacar adiknya Robert yang sudah meninggal itu, kan?" tanya Ronald memastikan. "Aku Ronald, Tiara. Apa kamu mengingat aku?"


"Oh, iya, iya. Sepupunya Bang Robert, habisnya kalian berdua mirip banget sih, Bang," balas Tiara seraya terkekeh, ia kemudian menyalami Ronald.


"Kalian berdua, sudah saling kenal?" tanya Lila, menatap Ronald dan Tiara bergantian.


Keduanya mengangguk kompak. "Dulu La, waktu aku masih jalan sama mantanku yang tadi aku ceritakan sama kamu. Aku beberapa kali ketemu sama Bang Ronald, saat diajak Jasson ke rumah," terang Lila.


"Oh, ya bagus kalau gitu. Jadi, kami enggak perlu memperkenalkan lagi," sahut Mirza.


"Ayo, Sayang! Kita makan aja dan tinggalkan mereka berdua," ajak Mirza yang segera beranjak.


"Eh, ayo Bang Ronald, Tiara. Kita makan bareng sekalian," ajak Lila. Ngobrolnya bisa lanjut nanti lagi," imbuh Lila.


Mereka berempat kemudian menyusul keluarga yang lain, untuk ikut makan malam bersama.


Acara makan malam yang diwarnai dengan canda tawa dan keriuhan anak-anak, menjadi pemandangan di ruang makan tersebut.


Ronald yang masuk paling belakang bersama Tiara, Mirza dan Lila, sejenak tertegun menatap ke arah Malik yang juga ikut hadir meski datang sedikit terlambat tadi.


"Dik Lila, itu 'kan Malik?" tanya Ronald yang baru melihat keberadaan Malik, kening Ronald mengkerut dalam.


"Iya benar, dia Bang Malik, Bang. Kenapa?" tanya Lila.


"Dia saudara kamu?" tanya Ronald tak menyangka karena Malik yang dikenalnya sewaktu kuliah di Australia, adalah sosok yang rendah hati dan sederhana, sama sekali tak menampilkan bahwa ia berasal dari keluarga pengusaha.


"Bang Malik itu, abang Mirza, Bang," balas Mirza.


Ronald membulatkan mata, begitu mengetahui kebenaran tentang Malik. "Tapi kok, abang lu itu ...?" pertanyaan Ronald yang berbisik itu menggantung di udara, kala Malik menyapanya.


"Hai, Bro." Malik melambaikan tangan pada Ronald. Ayo, makan sini!" ajak Malik.


"Ayo, Bang. Tiara temani ke sana." Mereka berdua kemudian memisahkan diri dari Mirza dan Lila, untuk bergabung dengan Malik, istrinya dan juga para sahabat, termasuk Damian dan istri.


Ronald nampak canggung menyalami Malik, teman seangkatan yang pernah akrab tetapi kemudian Ronald menjauh karena merasa bahwa Malik dan Jack bukan levelnya.

__ADS_1


"Kenalkan, Bro. Ini istriku, Tasya," Malik dengan bangga memperkenalkan istrinya yang cantik, yang saat ini tengah mengandung delapan bulan.


Tasya dan Ronald bersalaman. Ronald kemudian juga menyalami yang lain, yang berada disekitar tempat duduknya.


"Stay di Jakarta juga?" tanya Ronald sedikit sungkan.


"Tidak, gue di Bandung. Buka usaha sendiri di sana," balas Malik. "Gue sama Jack juga buka usaha di Surabaya dan saat ini dikelola sama dia," lanjutnya.


"Lu sendiri? Pasti stay di sana, dong? Secara, lu 'kan satu-satunya pewaris R&C?" tanya Malik memastikan.


"Iya, Bro. Gue enggak secerdas dan seberani lu, dalam berspekulasi. Gua takut salah langkah, yang justru bisa membuat perusahaan bokap jadi bangkrut," balas Ronald seraya tersenyum kecut.


"Bang, mau sama lauk, apa?" tanya Tiara yang hendak melayani Ronald karena cowok yang ternyata sudah lama dikenalnya itu, masih asyik ngobrol sama Malik.


"Apa aja deh, Ra. Kalau kamu suka, aku juga suka," balas Ronald yang membuat pipi Tiara merona merah.


"Dia, pacar kamu?" tanya Malik.


"Do'akan aja ya, Bro. Biar gue bisa segera nyusul lu dan juga Jack," balas Ronald yang mulai menyadari kesalahannya selama ini.


Ya, pasca kejadian penggerebekan di diskotik kemarin dan jatuh sakitnya sang nenek begitu mengetahui ulahnya, Ronald banyak merenung.


"Aamiin ...," balas Malik dengan tulus.


Hati Tiara semakin berbunga-bunga mendengar perkataan Ronald barusan.


Sementara Mirza dan Lila yang langsung bergabung dengan sahabat-sahabatnya, ikut larut dalam obrolan hangat mereka berlima.


"Habis Kak Lila, Nezia. Terus, Bang Attar kapan?" ledek Lili, yang mengetahui bahwa pacar Attar masih abege labil yang seumuran sama Iqbal.


Attar hanya senyum-senyum. "Aku sih, nyantai," balas Attar. "Abang juga belum lama 'kan, nikahnya," lanjutnya.


Ya, Attar ingin seperti abangnya, Akbar, yang lebih memilih merintis karier terlebih dahulu dan baru kemudian memikirkan pernikahan.


"Iya, tapi jangan kelamaan juga! Nanti Dedek Gemoy keburu dibawa kabur ma orang loh!" ledek Nezia.


Attar langsung menjitak kepala Nezia. "Kalau bicara itu yang baik-baik karena itu bisa jadi doa," protes Attar.


"Iya, iya, Bang Attar," balas Nezia.


"Kalian berdua, mau bulan madu kemana?" tanya Lili.

__ADS_1


"Lu mau kasih tiket kemana, Dik?" tanya Lila seraya tersenyum.


"Ke puncak aja ya, nanti Lili tanggung semuanya, deh," balas Lili.


"Dih, ogah! Kalau cuma ke puncak, kita 'kan udah sering!" tolak Mirza.


"Beda dong, Bang Mirza. Biasanya kalau ke sana 'kan, ramai-ramai dan di villa sendiri. Kalau bulan madu 'kan, hanya kalian berdua dan nanti menginapnya di hotel Om Doni yang di sana," terang Lili.


"Boleh, tuh. Pasti seru deh, Bang," sahut Nezia. "Apalagi, kalau kami ikut semua. Pasti seru banget," lanjutnya dengan sangat antusias.


"Mau pada kemana? Kok, seru?" tanya Iqbal yang baru mendekat, seraya membawa minumannya yang belum habis.


"Mereka berdua mau bulan madu, Dik," balas Nezia.


"Wah, ikut dong!" teriak Iqbal.


Mirza menghela napas panjang. "Enggak, enggak. Aku enggak setuju ide kalian untuk berbulan madu di puncak!" tegas Mirza. "Yang ada, bukan bulan madu tapi kalian malah ngajakin kemah bersama dengan tidur di tenda seperti biayanya," lanjut Mirza.


Ya, kebiasaan mereka berlima jika liburan panjang, selalu menghabiskan waktu di villa. Tetapi mereka tidak tidur di dalam villa, melainkan di tenda di halaman belakang villa.


"Bang, asyik kali, Bang, kalau menghabiskan malam pertama dengan berduaan di dalam tenda. Apalagi udara di sana 'kan dingin dan sering tiba-tiba turun hujan. Mepet-mepet sama yang udah halal 'kan anget, Bang," ucap Iqbal, yang langsung di jewer oleh Attar.


"Nih Bocil satu, kalau bicara suka sembarangan!"


"Om! Kenapa di jewer, sih!" protes Iqbal. "Iqbal 'kan cuma mengeluarkan pendapat," imbuhnya dengan bibir cemberut.


"Pendapat yang menyesatkan!"


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Siang, Bestie... Mirza hadir kembali menemani istirahat siang kalian 🤗


Yuk, sambil nunggu Bang Mirza up kembali ... mampir di novel keren berikut yah 🥰


Karya author Diamond ; Kak Kiss


Judul ; My Love From The Blue Sea


__ADS_1


__ADS_2