
Sementara di kediaman Om Devan, kehebohan pun terjadi. Tante Lusi pun tak henti mengomeli sang suami, bahkan sejak mereka berdua keluar dari kediaman keluarga Antonio.
"Ma, udah dong, Ma. Jangan marah-marah terus sama papa," rajuk Om Devan, sambil memeluk perut istrinya dari belakang.
"Papa minggir dulu, ah ... mama lagi repot ini!" usir Tante Lusi yang tengah kerepotan, menyiapkan menu makan malam untuk keluarga besar calon besannya.
"Iya nih, Papa. Papa tolong ajak main Kania sana, Lili mau bantuin Mama." Lili yang tadi langsung meluncur ke rumah kedua orang tuanya tanpa menunggu sang suami yang masih ada rapat, memberikan Kania pada sang papa.
"Siap, 𝘮𝘺 𝘭𝘪𝘵𝘵𝘭𝘦 𝘱𝘳𝘪𝘯𝘤𝘦𝘴𝘴. Yuk main sama opa!" ajak Om Devan sambil menggendong cucu pertama di keluarganya tersebut.
"Kok bisa mendadak gini sih, Ma?" tanya Lili, setelah sang papa menjauh bersama putri semata wayangnya.
"Tahu tuh, si Papa. Biasalah, Dik. Kalau papa sama sahabatnya dah ngumpul 'kan, ada aja yang di bahas. Eh, tahu-tahu tadi papa bilang, katanya keluarga Mirza malam ini mau melamar kakak kamu. Mama 'kan jadi bingung sendiri, Dik?" terang Tante Lusi.
"Udah gitu, yang lain langsung meluncur ke rumah Mommy Billa dan membiarkan mama sendirian," keluhnya kemudian.
"Ya pastilah, Ma. Mommy Billa juga pasti lebih repot dari Mama, harus menyiapkan oleh-oleh, hantaran dan lain sebagainya untuk keluarga kita," balas Lili, menghibur sang mama.
"Iya juga sih, Dik. Tadi Mommy Billa juga sempat telepon mama, katanya enggak usah repot-repot menyiapkan makanan atau segala macam. Tapi 'kan, kayak kurang etis aja Dik, kalau ada tamu masak kita kasih suguhan ala kadarnya," tutur Tante Lusi.
"Bener sih, Ma. Apalagi tamunya tamu spesial ya, Ma," timpal Lili.
"Dik, abang kamu datang tuh, kayaknya. Bantuin bawain barang-barangnya sana, kasihan si kakak 'kan lagi hamil gede," titah Tante Lusi pada putri bungsunya.
Ya, Tante Lusi juga langsung menelepon Damian dan meminta putra pertamanya itu untuk membeli buah dan aneka kue untuk suguhan tamu istimewanya nanti.
Tante Lusi dan Om Devan juga menghubungi saudara-saudaranya yang dekat, tetapi karena acaranya sangat mendadak maka banyak diantara mereka yang tidak bisa hadir.
"Ma, Abang bawa tambahan lauk juga, nih. Sahabat-sahabat abang soalnya paling suka sama steak yang di restoran dekat apartemen abang, jadi ya sekalian aja abang beli. Mereka nanti 'kan, ikut semua kemari Ma," ucap Damian yang menghampiri sang mama di meja makan.
"Iya, Bang. Baguslah, kalau abang keinget untuk membeli itu. Mama soalnya lagi benar-benar bleng, Bang. Enggak bisa mikir makanan kegemaran mereka apa aja," balas Tante Lusi sambil geleng-geleng kepala.
"Memangnya, Mama enggak diajak musyawarah sama papa?" tanya Damian.
Tante Lusi menggeleng. "Tidak, Bang. Mommy Billa juga enggak, kok," balas sang mama jujur.
"Kok bisa, Ma?" tanya Damian kembali.
Tante Lusi menghela napas panjang dan berhenti sejenak dari kesibukannya. "Ini tuh awalnya candaan, Bang. Biasalah, papa kamu, Daddy Rey, Om Alex, Opa Al dan tambah si Om Ilham yang jahil itu. Mereka kalau membahas sesuatu, ya langsung jadi saja," terang Tante Lusi.
"Ma, ini kuenya mau langsung ditata atau nanti saja Ma?" tanya Lili yang berada di meja lain bersama kakak iparnya.
"Nanti saja enggak apa-apa, Dik. Biar di tata sama bibi," balas sang mama. "Sudah adzan 'isya tuh, sebaiknya kita sholat jama'ah dulu," ajak Tante Lusi pada putra-putrinya
Ya, adzan 'isya terdengar berkumandang dari layar televisi yang menyala di ruang tamu. Tante Lusi merasa sedikit lega karena semuanya sudah siap.
Mereka semua kemudian menuju musholla kecil di halaman samping, untuk menunaikan ibadah sholat 'isya berjama'ah.
__ADS_1
🌸🌸🌸
Usai sholat 'isya, Lila hendak segera kembali ke dalam kamarnya di lantai atas untuk bersiap. Tadinya, Lili bermaksud untuk menemani saudari kembarnya, tetapi sang suami keburu datang sehingga Lili harus menyambut suami dewasanya itu.
"Sorry, La. Om Doni,, datang. Aku ke sana dulu, ya," pamit Lili seraya menunjuk arah depan, ia hendak menyambut sang suami tercinta.
"Dik, nanti kalau Tiara datang, suruh langsung ke kamar kakak, ya," pinta Lila.
Lili menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. "Tiara? Kak Lila ngundang, dia?" tanya Lili seraya mengernyitkan dahi.
"Iya," balas Lila singkat. "Nanti saja kakak ceritakan," lanjut Lila ketika melihat wajah saudara kembarnya itu masih bertanya-tanya.
Lili mengedikkan bahu dan segera gergegas menuju halaman depan, sementara Lila langsung menaiki anak tangga sambil bernyanyi kecil.
'Bahagiaku bersamamu
Senang bila dekat denganmu
Kamu mahluk yang aku tuju
Yang lainnya ku tidak mau'
'Genggam erat tanganku sayang
Dan jangan pernah kau lepaskan
Cinta ku jangan kau lewatkan'
'Bahagia aku bila bersamamu
Tenang hatiku dalam pelukanmu
Tetap denganku hingga kau menua
Hingga memutih rambutmu'
'Senang hatiku hidup bersamamu
Belahan jiwa jagalah diriku
Karena denganmu damailah hatiku
Menualah bersamaku'
Sebuah lagu yang berjudul 'Bahagia Bersamamu', yang dirilis oleh Haico Van der Veken pada tahun 2021 dan ciptakan oleh Dodhy Kangen Band.
Lagu ini menceritakan tentang seseorang yang berbahagia dengan sang kekasih, merasa bahwa kekasihnya tersebut adalah jodohnya dan percaya bahwa sang kekasih adalah cinta terbaik untuk dirinya.
__ADS_1
Lagu yang liriknya juga menggambarkan keinginan Lila dari hati yang terdalam, untuk bisa hidup bahagia dan menua bersama Mirza, calon tunangannya.
Lila masih saja berdendang hingga langkah kakinya memasuki kamar. Gadis cantik itu segera duduk di depan meja rias untuk memulai merias wajah.
Sebenarnya, sang mama sudah menawarkan untuk memanggil MUA, tetapi Lila menolak. Ia ingin tampil dengan riasan sederhana.
Lila yang sudah belajar banyak ilmu merias dari Oma Susan, tak mengalami kesulitan yang berarti dalam merias wajah. Hanya dalam waktu sepuluh menit, Lila sudah tampil beda dengan make-up minimalis nan anggun.
Ia kemudian segera mengambil gaun malam indah yang tergantung di dalam almari pakaian, gaun couple dengan batik Mirza yang tadi dibelikan oleh Mirza di butik Fira.
Lila segera mengenakan gaun tersebut dan kemudian mematut dirinya di depan cermin.
Tengah asyik ia mematut diri, terdengar suara ketukan di pintu kamar.
"Masuk aja, enggak dikunci!" seru Lila agar suaranya di dengar oleh orang yang berada di luar kamar.
Pintu pun dibuka dan muncullah Tiara yang begitu masuk ke dalam kamar dan melihat penampilan Lila, langsung membulatkan mata. "Ya ampun, La. Kamu cantik sekali!" seru Tiara memuji temannya itu.
Tiara kemudian mendekati Lila. "Pantas aja, Mirza milih kamu," lanjutnya, tetapi kali ini dengan nada sedikit kecewa.
"Sejak kapan sih, La, kalian jadi saling suka?" tanya Tiara yang dijawab Lila dengan gelengan kepala.
"Aku enggak tahu pastinya, Ra," jawab Lila dengan jujur.
"Masak enggak tahu, sih!" Tiara cemberut.
"Beneran, Ra. Ya, tiba-tiba aja rasa itu datang," balas Lila. "Udah, jangan cemberut gitu. Nanti aku kenalin sama cowok blasteran seperti keinginan kamu," bujuk Lila sambil menuntun Tiara untuk duduk di sofa single yang ada di dalam kamarnya.
"Beneran cakep, enggak?" tanya Tiara kemudian yang langsung tertarik dengan tawaran Lila, ia menuntut jawab.
"Cakep 'kan relatif, Ra. Tapi aku yakin, kamu pasti akan bilang kalau dia itu cakep," balas Lila.
"Sungguh?" Netra Tiara terlihat berbinar terang.
_____ bersambung _____
🌷🌷🌷🌷🌷
Done,,, satu
Satu aja yah ☺🙏🙏
Yuk, sambil nunggu Bang Mirza melamar Lila, mampir di novel karya temanku yah 😍
Judul ; Suami Kedua (Tradisi Keluarga Suamiku)
Author ; Biggest
__ADS_1