
"Mau kemana, Bang?" tanya Lila yang gagal fokus, entah kerena pesona Mirza atau karena di ledekin sama Iqbal tadi.
"Ya ke musholla dong, Laila Sayang ... memangnya mau kemana lagi? Mau, Abang ajak ke KUA sekarang?" goda Mirza bertanya.
Wajah Lila langsung merona merah, bak kepiting rebus yang baru saja di angkat dari panci.
"Lila sih mau-mau aja, Bang. Tapi KUA-nya 'kan, udah tutup," balas Lila iseng, sambil berlari kecil menuruni anak tangga menjauh dari Mirza.
Mirza tersenyum lebar seraya geleng-geleng kepala, pemuda tampan itu pun langsung mengejar sang kekasih hati.
Aksi kejar-kejaran itupun terjadi di dalam rumah yang luas, kediaman keluarga Alamsyah.
Daddy Rehan dan Mommy Billa yang baru saja keluar dari kamar hendak ke musholla, di buat geleng-geleng kepala melihat tingkah dua muda-mudi tersebut.
"Putra kita sudah ngebet sepertinya ya, Mom. Pengin segera nikah," ujar Daddy Rehan.
Mommy Billa mengangguk. "Benar, Dad," balas Mommy Billa. "Padahal, sepertinya belum lama kita melihat mereka berlarian dan kejar-kejaran seperti itu berebut mainan," lanjutnya mengenang masa kecil Mirza dan Lila, yang memang lebih sering dihabiskan di kediaman keluarga Alamsyah dan Antonio.
"Dan sekarang, mereka berkejaran dengan mesra," timpal Daddy Rehan. "Bikin daddy iri saja, pengin bermesraan sama Mommy Cantik," imbuhnya seraya mengerling.
"Ish, Daddy ... selalu saja ke sana muaranya," protes Mommy Billa, yang membuat Daddy Rehan terkekeh.
"Ayo, Dad! Waktu maghrib itu cuma sebentar, lho!" peringat Mommy Billa yang mengajak sang suami untuk segera ke musholla, menyusul putra putri mereka.
Mereka kemudian sholat maghrib berjama'ah, dengan Daddy Rehan sebagai imamnya. Khusyuk, Daddy Rehan memimpin sholat maghrib berjama'ah tesebut.
Dimulai dengan mengangkat tangan seraya mengucap takbir, menyebut kebesaran asma Allah, Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Diakhiri dengan salam dan kemudian memanjatkan do'a, untuk mengharapkan kebaikan dalam hidup di dunia hingga ke akhirat kelak.
🌸🌸🌸
Keluarga Daddy Rehan beserta Lila dan Iqbal kini tengah menikmati makan malam bersama, ketika tiba-tiba terdengar ucapan salam.
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa'alaikumsalam," balas semua orang yang berada di meja makan, karena orang yang baru saja hadir langsung menuju ke ruangan tersebut.
"Dad, Mom," sapa Nezia dan Attar yang langsung menyalami Daddy Rehan dan Mommy Billa dengan takdzim.
"Bang Attar, Inez, ayo makan sekalian!" titah Mommy Billa.
"Iya, Mom. Kebetulan kami juga belum makan," balas Attar, yang langsung duduk di sebelah Mirza.
Nezia pun ikut duduk di sebelah Lila.
"Kalian dari mana?" bisik Lila bertanya.
"Sengaja dari rumah kesini, mau minta klarifikasi kalian berdua," balas Nezia dengan bibir mengerucut, mengisyaratkan bahwa ia protes karena sang sahabat tidak memberitahu Nezia dan juga Attar.
Lila melirik Iqbal, yang dilirik hanya senyum-senyum saja.
__ADS_1
Ya, Iqbal yang memberitahu Attar bahwa Mirza dan Lila sudah jadian. Dan Attar langsung menghubungi Nezia serta mengajak keponakannya itu untuk menginap di kediaman Daddy Rehan.
"Ayo, Nez, ambil makan dulu. Ngobrolnya lanjut nanti," titah Mommy Billa kembali.
Nezia mengangguk patuh dan segera mengisi piring dengan nasi dan lauk. Attar juga melakukan hal yang sama.
Mereka semua kembali makan dengan tenang.
"Bang Attar dan Inez nginap, kan?" tanya Mommy Billa, di sela-sela makan.
"Iya, Mom," balas mereka berdua kompak.
"Kak Lila juga jadi nginap, kan?" tanya Maira.
Lila menatap Mirza. "Maaf, Dik. Kak Lila belum minta ijin sama mama," balas Lila.
"Yah, Kakak. Enggak asyik, ah!" protes Maira.
"Kak Lila nginap aja, nanti biar mommy yang bilang sama mama Lusi," saran Mommy Billa, yang membuat Mirza tersenyum dikulum.
'Asyik, bisa godain Ibu Suri lagi,' batin Mirza senang. Mirza teringat kejadian sore tadi, dimana Lila sengaja memancing dirinya. Namun, begitu Mirza mendekat, gadis cantik itu malah ketakutan setengah mati hingga sampai menangis.
"Napa, Za. Senyum-senyum gak jelas gitu?" ledek Attar bertanya.
"Hehe ... enggak apa-apa, Bang," balas Mirza seraya terkekeh pelan.
"Biasa, Bang. Orang kalau lagi jatuh cinta 'kan, suka gitu. Suka senyum-senyum gak jelas, dah kayak orang gila aja," sahut Iqbal asal, yang langsung dapat lemparan kerupuk dari Mirza.
"Abang, makanan jangan di lempar-lempar, ah!" seru Mommy Billa, mengingatkan sang putra.
"Marahin aja Budhe," timpal Iqbal seraya terkekeh.
Mirza hanya bisa melirik tajam adik sepupunya itu, seraya geleng-geleng kepala. Dan Iqbal yang paham arti lirikan Mirza, langsung menangkup kedua tangan di depan dada, memohon maaf pada abang sepupunya.
Ya, Iqbal memang suka jahil. Tetapi dia paling takut dengan ancaman Mirza, yang tidak akan mengijinkan Iqbal untuk tidur di kamarnya, atau tidak akan lagi memberikan tumpangan pada Iqbal.
Iqbal juga tidak mau kehilangan pundi-pundi harta karun, karena Mirza paling pengertian dan paling royal terhadap dirinya.
Mirza suka ngajakin Iqbal nonton, nongkrong di kafe dan juga tidak pelit jika mereka jalan ke Mall. Iqbal bebas memilih barang apapun yang ia mau.
"Iya, Mom. Maaf," sesal Mirza kemudian.
Sementara Lila hanya senyum-senyum menyaksikan semuanya.
Makan malam pun usai, semuanya menuju ruang keluarga kecuali Mirza, yang diminta sang daddy untuk tetap tinggal di meja makan tersebut.
"Ada apa, Dad?" tanya Mirza penasaran.
"Abang, sudah memantapkan hati pada Lila?" tanya Daddy Rehan dengan penuh selidik.
__ADS_1
Mirza mengangguk pasti. "Iya, Dad. Mirza serius."
"Abang harus mulai menyiapkan semuanya dari sekarang," saran sang daddy.
Mirza mengerutkan kening, belum mengerti arah pembicaraan daddy Rehan.
"Tempat untuk tinggal setelah menikah nanti, Bang," terang Daddy Rehan. "Abang mau tinggal di mana? Apartemen Daddy, atau rumah yang di Menteng? Atau mungkin, Abang ingin beli apartemen sendiri?" tanya sang daddy.
Mirza menggeleng pelan. "Coba nanti Mirza bicarakan sama Lila dulu ya, Dad," balas Mirza.
"Dulu sih, Lila pernah punya keinginan untuk memiliki rumah yang klasik. Semua terbuat dari kayu dan berukir," lanjut Mirza, mengingat keinginan Lila kala mereka iseng membicarakan rumah impian masa depan.
Daddy Rehan mengangguk. "Oke, masih ada dua kapling tanah yang cukup luas di dekat komplek Opa Alvian. Kalau kalian berdua mau, nanti bisa buat rumah di sana," tutur Daddy Rehan.
"Iya, Dad. Terimakasih banyak," ucap Mirza dengan tulus.
Mommy Billa mendekat seraya membawa kotak perhiasan kecil.
"Apa itu, Mom?" tanya Daddy Rehan.
"Cincin, Dad. Yang kita beli waktu 𝘣𝘢𝘣𝘺 𝘮𝘰𝘰𝘯 di Dubai," balas Mommy Billa seraya membuka kotak perhiasan tersebut dan menunjukkan pada Mirza.
"Ini untuk calon istri Abang," tutur Mommy Billa seraya menyodorkan kotak cincin tersebut.
Mirza mengernyitkan kening.
"Itu bukan mas kawin, Bang. Hanya hadiah kecil dari Mommy dan Daddy," terang Mommy Billa.
"Itu adalah kenang-kenangan yang kami beli ketika mommy mengandung Bang Malik dan Kak Icha. Saat itu mommy pengin banget beli enam cincin dan qadarullah, Allah memberikan amanah kepada Daddy dan Mommy enam anak, termasuk Bang Kevin." Mommy Billa menatap sang suami dengan penuh cinta.
Daddy Rehan tersenyum dan kemudian mengusap lembut puncak kepala Mommy Billa.
"Kak Salma, Kak Icha dan Kak Tasya sudah memakainya, Bang. Dan yang itu, cincin itu untuk calon istri Abang," pungkas Mommy Billa dengan tatapan teduh.
Mirza langsung menghambur memeluk sang mommy ...
_____ bersambung _____
🌷🌷🌷🌷🌷
Sugeng enjing, Bestie ...
Makasih masih setia sama Bang Mirza yang mempesona 🥰
Mau double up enggak?? Cung ☝
Tapi gak janji yah ☺🙏
Sambil nunggu, monggo mampir di cerita menarik berikut : Annisa ISTRI KECILKU
__ADS_1
Karya Author keren ; Kak. Melisa 😍