Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Jangan Ada yang Bergerak!


__ADS_3

"Betapa beruntungnya ya, dia, jika kamu benar-benar serius. Apalagi saat ulang tahun kamu nanti, kamu pasti akan mengumumkan pertunangan kalian." ucap Lila, yang mencoba bersikap setenang mungkin. "Siapa dia, Za?" lanjutnya bertanya, dengan suara tercekat di tenggorokan.


Air mata Lila sudah siap untuk meluncur, tetapi sekuat hati ia mencoba untuk menahan dan tetap tegar. Demi persahabatan mereka, ya persahabatan ... maka Lila harus merelakan jika Mirza memilih gadis lain dan bahagia bersama gadis pilihan Mirza tersebut.


Mirza semakin dalam menatap Lila. "La, tatap mataku," pinta Mirza dengan lembut.


Lila patuh, dia beranikan diri untuk menatap netra kebiruan milik Mirza yang memikat.


"Beneran, kamu ingin tahu siapa gadis itu?" tanya Mirza yang tak melepaskan tatapannya pada Lila.


Lila mengangguk samar. "I-iya, Za. A-aku ingin tahu," jawab Lila terbata menahan sesak di dada, tanpa ia sadari bulir bening menyeruak dan menetes membasahi pipi putihnya.


Lembut, Mirza mengusap air mata Lila dengan ibu jarinya. "Hey, kenapa menangis?" tanya Mirza lirih, masih dengan tatapan matanya yang menerobos masuk ke dalam jantung hati Lila.


Lila menggeleng, seraya tersenyum manis meski air matanya tak berhenti menetes. "Ini air mata kebahagiaan, Za. Aku turut bahagia jika kamu telah menemukan seseorang yang bisa kamu ajak untuk serius dalam menjalin hubungan," balas Lila.


"Semoga bahagia selalu, Bang Mirza," imbuh Lila dengan tulus.


Ibu jari Mirza masih terus mengusap air mata Lila dan tatapan Mirza, masih tertuju pada netra gadis cantik di hadapannya tersebut.


"La, gadis yang aku sayang dan aku cinta itu sebenarnya ...." Mirza menjeda sejenak ucapannya.


Sementara Lila menanti dengan pasrah, ia tak lagi memiliki semangat untuk mengetahui siapa gadis itu.


Lila mengambil tissue dari dalam tas dan kemudian menyingkirkan tangan Mirza dari wajahnya. Lila usap sendiri air mata yang bandel dan terus saja menyeruak tanpa mau dikompromi hingga membuat Lila merasa malu pada Mirza.


Mirza menangkap tangan Lila yang masih sibuk mengusap air matanya dan kemudian mencium punggung tangan kanan Lila dengan penuh kasih, hal itu membuat Lila terkejut dan menatap Mirza penuh tanya.


"Gadis itu, kamu, Laila Putri Devano Alamsyah," tegas Mirza seraya menatap intens netra Lila.


"A-aku?" Lila menunjuk dirinya sendiri tanpa bersuara, hanya mulutnya saja yang membuka menyebut kata aku.


Mirza mengangguk pasti. "Iya, kamu, Lila." balas Mirza dengan yakin. "Maukah kamu menjadi masa depanku, Lila?" pinta Mirza dengan sungguh-sungguh.


Air mata Lila semakin deras mengalir, gadis cantik berhijab biru navy yang kontras dengan warna kulitnya itu, tak mampu berkata-kata.

__ADS_1


"Lila, aku tahu saat ini kamu sedang dalam masa pengenalan sama Ronald dan aku tak mau memaksamu untuk menjawab permintaanku sekarang. Aku hanya menyampaikan apa yang aku rasakan, aku ingin kamu tahu bahwa ada cowok brengsek bernama Mirza yang akan selalu menyayangi dan mencintaimu," ucap Mirza panjang lebar, membuat air mata gadis cantik itu semakin menganak sungai.


"Jika Allah dan semesta merestui, aku ingin menjadikanmu permaisuri di hatiku," imbuh Mirza, yang menegaskan maksud dari panggilan Ibu Suri untuk Lila selama beberapa waktu terakhir.


Lila menggeleng pelan, dengan air mata yang masih mengucur deras. 'Kenapa baru sekarang, Za?' tanya Lila dalam hati.


"Hai, jangan menangis terus, Sayang," bujuk Mirza dengan lembut, sambil kembali mengusap air mata Lila.


"Za," panggil Lila dengan lembut, setelah air matanya berhenti mengalir.


Mirza mendekatkan wajahnya dan menatap intens netra Lila. "Iya," balas Mirza yang hampir tak terdengar meski jarak mereka berdua begitu dekat.


Lila menghela napas panjang untuk menetralkan degup jantungnya yang tak beraturan, berada sedekat ini dengan pemuda yang ia sayang membuat Lila menjadi salah tingkah. "Beri aku waktu untuk menyelesaikan urusanku dengan Ronald," pinta Lila kemudian.


Mirza mengangguk. "Akan selalu ada banyak waktu untukmu, Ibu Suri," balas Mirza yang semakin mendekatkan wajahnya, membuat Lila memundurkan kepalanya hingga kepentok sandaran kepala jok yang ia tempati.


Tanpa disangka, Mirza mencium puncak kepala Lila yang tertutup hijab dengan penuh perasaan. "Andai boleh mencium yang lain ...." ucapan Mirza menggantung di udara.


"Sabar, Bos. Tunggu sampai hari ulang tahunmu tiba," sahut Lila, yang entah apa maksud dari perkataannya.


Hening, kembali menyapa kabin mobil mewah Mirza. Hanya hembusan napas keduanya yang terdengar bersahutan.


"Ayo, kita turun," ajak Mirza. "Tunggu bentar, biar aku bukain pintunya," lanjut Mirza, yang kemudian bergegas turun untuk segera membukakan pintu mobil untuk calon masa depannya.


Mereka berdua kemudian berjalan bersisihan menuju gedung serba guna untuk melakukan gladi resik bersama teman-teman yang lain, yang juga ikut di wisuda semester ini.


🌸🌸🌸


Sementara itu di tempat lain, sepulang dari kediaman Om Devan, Ronald langsung menuju tempat biasa ia nongkrong selama beberapa hari ini ia tinggal di Jakarta.


Diskotik milik salah seorang teman adalah tempat favorit Ronald untuk menghabiskan waktu, terutama jika pikirannya sedang suntuk seperti sekarang ini. Keinginan Ronald yang menggebu untuk dapat memiliki Lila dengan segera, nampaknya takkan mudah untuk ia wujudkan.


Setibanya di diskotik, kehadiran Ronald telah disambut oleh seorang wanita muda yang berpenampilan seksi, yang telah ia pesan sebelumnya ketika masih di jalan tadi.


Ronald langsung membawa wanita muda itu ke sebuah sofa single di sudut ruangan, yang minim akan pencahayaan tersebut. Kali ini, Ronald tidak memesan 𝘳oom karena ia hanya ingin bermain-main sebentar.

__ADS_1


"Duduklah, Cantik. Puaskan aku," pinta Ronald, sambil menunjuk pangkuannya.


Wanita muda itu pun langsung duduk dan mengalungkan tangan di leher Ronald. Ia mulai mencumbui Ronald dengan begitu agresif.


Seorang bartender yang mengiringi langkas bos pemilik diskotik, mendekati sofa tempat Ronald duduk.


"Lu beneran, enggak mau ngamar?" tanya pemuda, pemilik diskotik teman baik Ronald.


Ronald menggeleng. "Gue hanya sebentar," balas Ronald sambil mendesah karena ulah nakal wanita malam, yang telah disediakan oleh temannya itu.


Ronald menerima satu botol minuman dengan kadar alkohol tinggi dari tangan bartender dan kemudian mulai menenggak minuman, yang bisa membuat Ronald melupakan sejenak keruwetan pikirannya.


"Oke, Bro. Kalau lu berubah pikiran, hubungi saja Nina. Dia akan menyiapkan semua yang lu butuhkan karena gue harus keluar sebentar, ada barang bagus yang harus gue lihat," pamit teman Ronald, yang segera berlalu bersama salah seorang bartendernya, meninggalkan Ronald yang mulai diliputi gairah karena sentuhan liar wanita penggoda yang bertubuh seksi.


Wanita nakal itu semakin liar mencumbui tamunya, membuka satu persatu kancing baju Ronald, kemudian melepas dan membuangnya dengan asal.


Ia tak membiarkan sejengkal pun tubuh bagian atas Ronald yang kekar, yang luput dari sentuhannya. Membuat Ronald merasa dimanjakan dan semakin bergairah ingin mendapatkan kenikmatan lebih.


Ronald mulai menguasai permainan, ia yang kini di atas dan siap melancarkan serangan. Wanita muda yang sudah tidak berpakaian lengkap di bawahnya pun, nampak telah siap menyambut milik Ronald yang telah menegang.


Suara-suara seksi pun mulai terdengar di sekitar sofa single tempat Ronald bergumul, seolah berlomba hendak mengalahkan suara musik di diskotik tersebut yang berdentum memekakkan telinga.


Ronald masih asyik masyuk bersama wanita muda tersebut di atas sofa single, ketika tiba-tiba terdengar suara keras peringatan dari serombongan petugas berseragam kepolisian yang menyergap tempat itu.


"Jangan ada yang bergerak!"


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Kalian juga jangan bergerak kemana-mana, ya? Nantikan terus kelanjutan kisah Bang Mirza πŸ˜„


Sambil nunggu Bang Mirza hadir kembali, seperti biasa, aku bawa karya temenku yg kece badai 😍


PAINFULL LOVE (Cinta Yang Menyakitkan)

__ADS_1


Karya. Senja_90



__ADS_2