Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Barisan Para Mantan


__ADS_3

"Kakak doakan, mudah-mudahan pernikahan kalian nanti dijauhkan dari godaan setan yang seperti itu. Semoga senantiasa sakinah mawaddah warohmah," pungkas Fira, yang diaminkan oleh Mirza dan Lila.


"Aamiin ...."


"InsyaAllah, Mirza akan selalu bersikap baik pada istri Mirza nanti," ucap Mirza sambil melirik mesra sang calon istri.


Lila tersenyum manis pada Mirza.


"Kak Fira, ini gaun dan hem batiknya,"'ucap pegawai Fira yang baru masuk kembali sambil membawa gaun dan baju batik untu Lila dan Mirza.


"Oh, iya Mala. Terimakasih," balas Fira. "Kamu 𝘴𝘵𝘢𝘺 dulu ya, Mala, barangkali kami butuh gaun lain," pinta Fira yang disetujui Mala dengan menganggukkan kepala.


Fira segera berdiri. "Ayo, Dik Lila! Ini dicoba dulu," titah Fira.


Lila berjalan mengekor di belakang Fira, untuk menuju ruang ganti.


"Mau dibantuin, enggak?" tanya Mirza yang ternyata juga ikut mengekor di belakang Lila, ketika Lila hendak masuk ke dalam ruang ganti tersebut.


"Eit, belum halal," sergah Fira sambil menarik lengan sang adik sepupu, menjauh dari 𝘧𝘪𝘵𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘳𝘰𝘰𝘮.


Mirza terkekeh pelan. "Iya, iya, Kak Fira. Mirza juga tahu itu," ucap Mirza, yang kemudian duduk kembali di sofa.


"Dik, mendingan kamu juga coba hem batiknya, deh," pinta Fira.


Mirza nurut, ia lepaskan hem lengan pendek yang menempel pada tubuh atletisnya dan kemudian memakai hem batik yang tadi diambilkan oleh Mala.


"Gimana, Kak?" tanya Mirza.


Fira memutari tubuh adik sepupunya, sambil memindai. "Kamu itu dasarnya udah 𝘨𝘰𝘰𝘥 𝘭𝘰𝘰𝘬𝘪𝘯𝘨, jadi mau pakai baju apa aja cocok," balas Fira jujur sambil tersenyum puas, melihat baju pilihannya pada di badan Mirza.


"Jangan di lepas dulu! Nanti coba sandingan sama Dik Fira, biar kakak yang lihat," pinta Fira, yang langsung menuju ruang ganti.


"Dik, butuh bantuan, enggak?" tawar Fira dengan sedikit mengeraskan suara, agar Lila yang berada di ruang ganti tersebut mendengar.


Lila membuka sedikit pintu ruang ganti tersebut dan kemudian melongokkan kepala. "Iya, Kak. Bantuin Lila," balas dan pinta Lila.


Fira segera masuk untuk membantu Lila, tak berapa lama mereka berdua keluar dari ruangan tersebut.


"Dik, sini," panggil Fira pada Mirza.


Mirza menghampiri kedua wanita cantik itu, sambil terus tersenyum menatap Lila. "Subhanallah, calon istri Abang, cantik sekali," bisik Mirza, memuji dengan tulus.


"Udah, jangan gombal terus," peringat Fira, sambil menarik tangan Mirza agar berdiri di samping Lila.


Fira kemudian sedikit menjauh dan mengamati pasangan tersebut. "MasyaAllah, kalian benar-benar serasi," ucap Fira.


"Kak, fotoin, dong," pinta Mirza.


"Dih, kayak mau 𝘱𝘳𝘦𝘸𝘦𝘥 aja!" protes Fira, tetapi menerima ponsel Mirza juga.


Mirza kemudian menggamit tangan Lila.

__ADS_1


"Ini mau ukuran pas foto, atau gimana?" ledek Fira.


"Yaelah, iseng banget sih, Kak Fira. Masak pakai baju kayak gini, pas foto, sih!" protes Mirza.


Fira terkekeh pelan, sedangkan Lila tersenyum.


"Udah, senyum, Dik," pinta Fira karena Mirza cemberut.


"Satu, dua, 𝘢𝘤𝘵𝘪𝘰𝘯 ...," ucap Fira memberi aba-aba seperti pada anak TK yang mau di foto, hingga membuat Fira tersenyum sendiri.


Fira kemudian mengambil beberapa gambar Mirza dan Lila dengan berbagai 𝘱𝘰𝘴𝘦, yang terlihat romantis.


"Nih, udah." Fira menyerahkan kembali ponsel Mirza.


"Ayo, Dik! Kakak bantuin," ajak Fira pada Lila, sambil menuntunnya masuk kembali ke dalam ruang ganti.


Mirza juga segera melepaskan hem batik tersebut dan menggantinya dengan hem yang ia kenakan tadi.


Mala yang sedari tadi menyaksikan adegan tersebut, senyum-senyum sendiri. Entah apa yang dipikirkan oleh pegawai Fira tersebut, mengenai Mirza.


Mirza menunggu sang kekasih hati sambil kembali duduk di sofa, ia kemudian membuka galeri ponselnya.


Pemuda tampan itu tersenyum sendiri. 'Yang ini, bagus kalau dibuat 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺,' batin Mirza.


Belum sempat Mirza mengunggah gambar tersebut, Fira dan Lila keluar dari 𝘧𝘪𝘵𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘳𝘰𝘰𝘮.


"Mala, ini udah cocok. Tolong, kamu packing, ya," pinta Fira pada pegawainya yang masih senyum-senyum sendiri.


"Ayo, habiskan dulu kopinya!" titah Fira. "Kakak mau keluar sebentar," ijin Fira yang langsung keluar dari ruangannya, mengikuti langkah Mala.


Sepeninggal Fira, Mirza mendekat pada sang kekasih dan kemudian menunjukkan hasil jepretan Fira tadi.


"Sayang, yang ini, abang jadiin 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺, ya," ijin Mirza sambil menunjukkan foto yang terlihat mesra, meski mereka berdua tak saling bersentuhan.


Fira mengangguk, menyetujui.


Mirza segera mengunggah foto tersebut sebagai 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺 ke akun sosial medianya, dengan 𝘤𝘢𝘱𝘵𝘪𝘰𝘯 '𝘸𝘪𝘵𝘩 𝘮𝘺 𝘧𝘶𝘵𝘶𝘳𝘦'.


Baru sedetik foto itu berhasil di unggah, langsung ada yang berkomentar.


"Abang tampan, tega ih!" protes salah seorang mantan Mirza yang merupakan teman sekolah Iqbal.


"Za ...." pesan dari salah satu mantan, yang cinta mati sama Mirza. Hanya panggilan singkat yang disertai emoticon menangis.


"Akhirnya, sang playboy menemukan tambatan hati, yang ternyata sahabat sendiri. Selamat ya Za," ucap salah seorang teman seangkatan Mirza dan Lila.


"Za, selamat ya. Moga dia bukan kelinci percobaan!" sinis mantan yang lain, yang belum mau diputuskan karena menganggap alsan Mirza mengada-ada.


Mirza teringat percakapannya yang terakhir dengan Serena, kala itu di sebuah kafe.


"Jaman sekarang, Za, mana ada cowok yang nolak di cium!" Begitu kata Serena, ketika Mirza memutuskan hubungan karena Serena terus-terusan menawarkan hubungan yang tidak sehat.

__ADS_1


"Banyak yang komen ya, Bang?" tanya Lila menyelidik, kala melihat netra Mirza fokus pada layar ponselnya.


Membuat Mirza tersadar dari lamunannya. "Eh, iya. Nih, ada beberapa," balas Mirza seraya menyodorkan ponselnya, agar Lila melihat sendiri. Mirza tak ingin ada rahasia diantara mereka berdua.


Lila kemudian membaca pesan masuk di ponsel Mirza, yang terus bertambah. Gadis cantik itu kemudian mengembalikan ponsel sang kekasih, dengan tersenyum masam.


Mirza mengernyitkan kening. "Kenapa?" tanya Mirza tak mengerti, melihat wajah Lila yang tiba-tiba berubah masam.


"Barisan para mantan patah hati dan tak sedikit dari mereka yang nyumpahin hubungan kita, Bang" ucap Lila miris.


Mirza kemudian menggenggam tangan Lila dan menciumnya. "Abaikan suara negatif dari luar, yang bisa mengotori hati dan pikiran kita. Tetap fokus pada tujuan awal dan tetap saling menjaga kepercayaan," ucap Mirza.


"Kamu percaya padaku 'kan, Sayang?" tanya Mirza dengan tatapan dalam.


Lila mengangguk, gadis itu kemudian tersenyum manis pada kekasih hatinya. "Ajari aku, untuk tetap bisa bertahan di samping Abang," pinta Lila.


"Ajari aku, agar bisa menjadi imam yang baik untukmu, yang takkan pernah menyakiti dan mengecewakan kamu, Sayang," balas Mirza.


Untuk beberapa saat, kedua netra mereka masih saling bertaut.


Hingga terdengar suara dering ponsel Lila, yang mengurai keromantisan mereka berdua.


Lila kemudian segera mengambil ponsel dari dalam tasnya.


"Siapa, Sayang?" tanya Mirza, kala tatapan Lila terpaku pada layar ponselnya.


"Eh, i-ini, Bang. Kak Yovi telepon," balas Lila, gugup.


"Angkat aja," ucap Mirza.


"Abang aja ya, yang bicara sama Kak Yovi," pinta Lila.


Mirza terkekeh pelan. "Yang di telepon kamu, Sayang. Masak abang yang bicara," tolak Mirza.


"Dah, terima aja. Nanti abang bantu bicara," lanjut Mirza.


Gugup, Lila menggeser tombol hijau di layar Ponselnya.


____ bersambung ____


🌷🌷🌷🌷🌷


Done 1 ... 😍


Kak Yovi, jangan bicara macam2 ya, kalo gak mau disantet online sama emak pendukung ZaLa 😄🤭


Yuk, Best.. sambil nunggu Kak Yovi bicara, mampir di novel keren berikut;


Judul. Janda Kembang Pilihan CEO Duda


Author. Cimai

__ADS_1



__ADS_2