Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Disuruh Nikah Malam Ini?


__ADS_3

Hari yang dinantikan oleh Mirza 𝘢𝘯𝘥 𝘵𝘩𝘦 𝘨𝘦𝘯𝘨 dan seluruh mahasiswa yang ikut wisuda di semester ini, akan segera tiba. Semua nampak antusias menyambut gladi resik yang dilaksanakan dua hari menjelang pelaksanaan wisuda tersebut.


Yovi juga nampak hadir dengan duduk sebuah kursi roda, yang di dorong oleh seorang gadis manis.


Mirza dan Lila yang melihat kedatangan Yovi langsung mendekat.


"Kak Yovi, apa kabar?" tanya Lila seraya mengulurkan tangan.


Yovi tersenyum dan menyambut uluran tangan Lila. "Alhamdulillah, Neng. Seperti yang kamu lihat," balas Yovi.


Mirza kemudian mengulurkan tangannya, sehingga Yovi melepaskan tangan Lila. "Selamat atas pertunangan kalian berdua, ya," ucap Yovi dengan tulus.


"Makasih, Kak," balas Lila dan Mirza bersamaan.


"Oh ya, kenalkan. Dia Khumaira, calon istriku," ucap Yovi memperkenalkan gadis manis yang membantunya mendorong kursi roda.


Lila menjabat tangan gadis manis tersebut, seraya menyebutkan nama. Begitu pun dengan Mirza.


"Baru seminggu yang lalu kami di perkenalkan oleh orang tua dan dijodohkan," lanjut Yovi menjawab rasa penasaran Mirza dan Lila.


Mirza dan Lila mengangguk paham. "Alhamdulillah, Kak Yovi sudah menemukan seseorang yang baik seperti Mbak Khumaira," ucap Lila yang memanggil gadis yang bersama Yovi dengan sebutan mbak karena usia Khumaira terlihat lebih dewasa dari Lila.


"Iya, Alhamdulillah Neng," balas Yovi.


"Kakak juga enggak nyangka, di tengah kondisi kakak yang seperti ini, Dik Rara mau menerima kakak," lanjut Yovi seraya melirik mesra calon istrinya.


Mirza memberi kode pada Lila, agar segera pamit karena tidak ingin mengganggu kemesraan Yovi dan calon istrinya.


"Kak, kami ke sana dulu ya. Mau gabung sama yang lain," pamit Lila yang diiyakan oleh Mirza dengan mengangguk.


"Oke, makasih ya," ucap Yovi sekali lagi.


"Kami tunggu undangan dari Kak Yovi," ucap Mirza sambil menepuk lengan Yovi, sebelum berlalu meninggalkan pasangan baru tersebut.


"Siap, Za!" seru Yovi agar Mirza mendengar.


Yovi tersenyum, membuat gadis manis yang bersamanya bertanya-tanya. "A', kok senyum-senyum sendiri, kenapa?" tanya Khumaira.


"Cinta memang unik ya, Dik. Kita yang baru seminggu bertemu, sudah bisa langsung merasakan saling jatuh cinta," ucap Yovi.


"Sementara mereka berdua, sejak kecil selalu bersama-sama, tetapi mereka baru menyadari bahwa ternyata saling jatuh cinta beberapa minggu yang lalu," lanjutnya.


"Mereka berdua awalnya berteman?" tanya Khumaira.


"Lebih dari sekadar teman, Dik. Bersahabat sejak masih kanak-kanak karena kedua orang tua mereka sahabat baik. Bahkan persahabatan mereka sudah seperti saudara kandung," balas Yovi.


Khumaira mengangguk-angguk. "Semua ini rahasia Illahi A', jodoh, rizqi dan maut, semua sudah tertulis di sana," balas gadis manis itu seraya tersenyum, membuat Yovi ikut tersenyum dan kemudian menggenggam tangan calon istrinya dengan mesra.

__ADS_1


Mirza dan Lila yang berjalan menjauh dari Yovi, bukannya menemui sahabat seperti yang ia katakan pada Yovi tadi, tetapi melipir menuju kantin karena Lila merasa haus.


"Yang lain telepon gih, Bang. Biar nyusul ke kantin," pinta Lila, begitu mereka berdua sudah duduk di bangku taman, di bawah payung besar.


"Enggak usahlah, ntar kalau mereka butuh, mereka juga bakalan hubungi kita," tolak Mirza.


"Abang lagi pengin berduaan sama kamu, Sayang," imbuhnya.


Lila cemberut. "Perasaan dari tadi, kita udah berduaan melulu deh, Bang!" protes Lila.


"Beda, Sayang. Berduaannya 'kan di tempat ramai, abang penginnya berduaan di tempat yang sepi," balas Mirza.


"Ah, abang jadi enggak sabar menunggu saat itu tiba, Sayang. Bisa berduaan sama kamu di dalam kamar," lanjut Mirza yang langsung mendapatkan tepukan di pundaknya dengan keras.


"Mesum melulu pikirannya!" seru Attar yang tahu-tahu sudah berada di belakang Mirza.


Lila yang melihat kedatangan Attar sejak tadi, sengaja diam dan membiarkan Mirza berbicara sesuka hatinya.


"Ck, Bang Attar ngagetin aja!" seru Mirza berdecak kesal. "Itu tadi bukan mesum, abang. Orang lagi berharap berduaan dengan calon istrinya 'kan, sah-sah aja," sanggah Mirza.


"Di iyain aja, Bang Attar," sahut Nezia yang juga sudah berada di sana.


"Kalian bertiga kok, kayak jelangkung aja, sih! Tiba-tiba datang padahal enggak di undang!" protes Mirza. "Kami 'kan ingin berduaan dulu," lanjutnya cemberut karena merasa kesenangannya terganggu.


"Eh, kalian berdua sudah tahu belum?" tanya Lili seraya menatap Mirza dan Lila bergantian. "Ada berita hot di kampus," lanjutnya.


Ya, Lili memang suka ngobrol dengan banyak mahasiswi lain, jadi semua informasi yang ada di seluruh penjuru kampus, tak luput dari pendengarannya. Berbeda dengan Lila dan Nezia, yang hanya sekadarnya saja menyapa teman-teman kampus yang mereka kenal.


"Berita apaan?" tanya Nezia mulai kepo.


"Kak Yovi, dia datang ke kampus bersama calon istrinya," ucap Lili pelan, seolah ini adalah berita besar tetapi bersifat rahasia.


"Hem, kalau itu kami udah tahu," sahut Lila.


"Yang benar?" tanya Lili tak percaya karena tak mungkin ia lebih lambat dalam hal beginian dari kakaknya.


"Kami bahkan udah kenalan sama calon istri Kak Yovi," timpal Mirza, membenarkan ucapan Lila.


"Alamak," Lili menepuk jidatnya sendiri. "Terus-terus, reaksi Kak Yovi gimana?" tanya Lili kepo.


"Ya, enggak gimana-gimana, Li. Memangnya harus gimana?" balas dan tanya Lila balik.


Pembicaraan mereka terjeda, kala minuman yang mereka pesan telah datang.


Lila yang sudah haus dari tadi, langsung meminum jus nya hingga tinggal sedikit.


"Haus banget ya, Sayang?" bisik Mirza bertanya.

__ADS_1


"He'em," balas Lila seraya mengangguk.


"Nih, minum punyaku," ucap Mirza seraya menggeser gelasnya ke hadapan Lila, sedangkan gelas Lila yang isinya tinggal sedikit langsung ia minum hingga habis.


"Eh, tadi, reaksi Kak Yovi gimana?" tanya Lili mengulang pertanyaannya.


"Enggak gimana-gimana, Lili. Kami saling kenalan, terus Kak Yovi cerita kalau Mbak Rara itu calon istrinya yang dijodohkan oleh kedua orang tua mereka. Udah sih, gitu aja," terang Lila.


Mereka semua mengangguk-angguk. "Alhamdulillah ya, kalau Kak Yovi udah menemukan seseorang yang tepat," ucap Attar sebagai sesama laki-laki, yang bisa ikut merasakan bagaimana perasaan Yovi.


"Iya, Alhamdulillah," balas semuanya kompak.


Dering ponsel Mirza, membuat semua terdiam.


Pemuda tampan itu buru-buru mengambil ponsel dari dalam saku celananya. "Daddy," ucap Mirza seolah memberitahukan pada semuanya, bahwa sang daddy yang menelepon.


"Assalamu'alaikum, Dad," sapa Mirza.


Mirza nampak mendengarkan pembicaraan sang daddy di seberang sana, sengaja Mirza tidak mengaktifkan mode 𝘭𝘰𝘢𝘥 𝘴𝘱𝘦𝘢𝘬𝘦𝘳 seperti biasanya karena kantin sedang sangat ramai.


"Iya, Dad. Mirza masih di kampus," balas Mirza.


Mirza kembali terdiam, mendengarkan suara di seberang telepon.


"Sekarang, Dad? Sama Lila?" tanya Mirza seraya menatap Lila.


"Dad, kalau yang lain mau ikut, boleh enggak?" tanya Mirza seraya menatap ketiga saudaranya.


"Baik, Dad. Kami berdua akan segera ke sana," balas Mirza mengiyakan titah sang daddy. Mirza kemudian mengembalikan ponsel ke dalam saku celana.


"Sorry, ya. Kami pamit duluan, di panggil sama daddy," pamit Mirza tanpa memberikan keterangan apa-apa, membuat yang lain bertanya-tanya.


"Bang, ada apa?" tanya Lila, yang sudah di gandeng Mirza untuk beranjak.


Mirza menggeleng. "Abang juga belum tahu, Sayang," balas Mirza.


"Beneran, kami enggak boleh ikut?" tanya Lili yang sangat penasaran, memastikan.


Mirza kembali menggeleng. "Kata daddy enggak boleh," balas Mirza sesuai titah sang daddy di telepon. "Kalian disuruh nyusul nanti malam," imbuhnya, yang membuat mereka semua semakin bertanya-tanya.


"Masak, sih. Mereka berdua disuruh nikah malam ini?" tanya Nezia, seraya menatap Attar dan Lili bergantian dan keduanya sama-sama mengedikkan bahu.


_____ bersambung _____


🌷🌷🌷🌷🌷


Ah... aku juga jadi penasaran, disuruh apa sih mereka berdua sama Daddy Rey?

__ADS_1


Di suruh milih paket honeymoon kali ya... 🥰


__ADS_2