Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Indahnya Malam Pertama


__ADS_3

Mirza dan Lila mengekor langkah sang Mommy dan rasa penasaran Mirza semakin besar, kala sang mommy menyuruh Lila untuk mencoba gaun cantik berwarna putih.


"Mom, kenapa Lila nanti malam harus memakai gaun warna putih?" tanya Mirza.


"Putih 'kan warna netral Abang, cocok juga untuk segala suasana," balas Mommy Billa.


Lagi-lagi, Mirza harus menahan rasa penasarannya karena sang mommy pun tak mau buka suara.


Kecurigaan Mirza semakin bertambah, kala sore harinya keluarga Bunda Fatima tiba-tiba saja datang.


"Ini beneran, enggak ada yang mau kasih tahu Mirza?" tanya Mirza, seraya menatap semua orang yang berada di halaman depan, kala mereka semua menyambut kedatangan keluarga putri sulung Opa Sultan dan Oma Sekar.


Mereka semua pura-pura tak mendengar pertanyaan Mirza dan sibuk ngobrol dengan keluarga Bunda Fatima.


Anaknya Zaki dan Ning Laila menjadi rebutan semua orang karena wajahnya yang menggemaskan dan tingkahnya yang lucu.


Mereka semua masih berkumpul di halaman depan, hingga kumandang adzan maghrib terdengar dan memaksa mereka untuk bergegas menuju musholla.


🌸🌸🌸


Bakda sholat isya', mereka semua segera bersiap karena tamu undangan sudah mulai berdatangan.


Mirza yang baru saja keluar dari dalam kamarnya, dibuat kebingungan kala mencari Lila di kamar biasa tempat gadis itu menginap ternyata kosong.


"Dik, lihat Kak Lila, enggak?" tanya Mirza pada Maida yang hendak masuk ke dalam kamar.


"Tadi udah turun duluan, Bang, sama Inez," balas Maida seraya menunjuk arah tangga.


Mirza yang saat ini sudah tampil rapi, lengkap dengan stelan jas berwarna silver, mengusap kasar wajahnya.


"Kamu kemana sih, Sayang. Di saat genting seperti ini, kamu malah ninggalin aku," gerutu Mirza, seraya mendial nomor Lila.


Nihil, terdengar nada sambung di sana tetapi sang pemilik nomor tidak menerimanya.


Mirza menghela napas kasar, ia kemudian bergegas turun.


Mirza masih saja menggerutu karena Attar dan Iqbal, sejak tadi juga sudah meninggalkan Mirza seorang diri di kamar ketika Mirza tengah bersiap.


"Ni orang-orang pada kenapa, sih! Ulang tahunku 'kan masih agak lama, tapi kenapa udah dikerjain kayak gini!" Mirza geleng-geleng kepala sendiri.


"Bang, udah ditungguin daddy tuh, di halaman belakang. Acara udah mau mulai," ucap Om Ilham yang baru dari arah belakang.


"Ayo, kita ke sana! Om disuruh Bang Rey untuk jemput kamu," ajak Om Ilham.


Mirza kemudian mengekor langkah adik bungsu sang mommy menuju halaman belakang, yang kini telah disulap menjadi tempat acara yang spektakuler.


Ya, tak tanggung-tanggung. Om Alex tadi pagi bahkan menggandeng dua EO sekaligus, demi suksesnya acara dadakan malam hari ini.


Ternyata semua saudaranya telah berkumpul di sana, berkumpul bersama tamu undangan yang terdiri dari relasi bisnis Daddy Rehan beserta keluarga, para petinggi dan semua karyawan di kantor pusat.


Namun, Mirza tidak menemukan sosok Lila dan Nezia di sana. Pertanyaan yang Mirza ajukan pada saudara-saudara yang ia tanyai pun, bagai tenggelam tak terdengar.

__ADS_1


Mirza masih ingin mencari tetapi ia urungkan, kala sang Daddy memanggil. "Bang, bersiaplah," tutur sang daddy yang ditemani Mommy Billa, yang malam ini mommy cantik itu berdandan tak seperti biasanya.


Terdengar, MC mulai memanggil nama Daddy Rehan selaku pemilik RPA Group.


Daddy Rehan segera maju ke depan, yang diikuti oleh Mirza. Di atas panggung sana, Om Alex beserta para pejabat tinggi di perusahaan sudah berdiri menanti Bos RPA Group.


Terdengar daddy tampan itu menyampaikan sepatah dua patah kata, menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua pihak.


Terakhir, Daddy Rehan mundur selangkah dan berdiri sejajar dengan sang putra. "Dan malam ini, saya perkenalkan kepada Anda semua pengganti saya. Mirza Daniar Alamsyah, putra keempat saya ini yang akan menggantikan saya."


Mirza mengangguk hormat seraya tersenyum ramah, tepuk tangan meriah pun menyambut Mirza yang maju selangkah untuk memberikan sambutan.


Meskipun merasa ada yang kurang karena sang kekasih hati malah tak terlihat batang hidungnya, tetapi Mirza yakin bahwa Lila pasti bisa, mendengar pidatonya.


Mirza berbicara di atas panggung yang tidak terlalu tinggi tetapi cukup luas itu dengan penuh percaya diri. Mirza berbicara, seolah ia adalah pelaku lama di dunia bisnis, padahal ia baru hendak terjun ke dunia tesebut.


Rupanya, pergaulan Mirza dengan saudara dan om-omnya berpengaruh besar terhadap sikap dan kemampuan Mirza dalam menghipnotis lawan bicaranya.


Mereka semua dibuat terkesima mendengar pidato singkat Mirza, ditambah wajah Mirza yang tampan rupawan, membuat penampilan Mirza semakin meyakinkan.


Tepuk tangan meriah serta decak kagum dari para anak gadis relasi Daddy Rehan, mengiringi langkah Mirza yang mundur untuk berdiri bersama sang daddy dan juga Om Alex, serta para pejabat tinggi di perusahaan.


Terdengar MC masih melanjutkan acara ramah tamah dan penyanyi ibukota yang malam ini di undang pun mulai menyanyikan lagu untuk meramaikan acara.


Mirza hendak turun dari panggung, tetapi sang daddy mencegah. "Jangan turun dulu, Bang. Acara Abang belum selesai," cegah sang daddy.


Mirza menghela napas panjang, ia memindai seluruh tempat tetapi sosok Lila tetap tak ia temukan. 'Kamu kemana sih, La?' batin Mirza galau.


'Jika nanti ku sanding dirimu (sanding dirimu)


Miliki aku dengan segala kelemahanku


Dan bila nanti engkau di sampingku (di sampingku)


Jangan pernah letih tuk mencintaiku'


'Akhirnya ku menemukanmu ....'


Layar putih yang ada di belakang Mirza terbuka dan memperlihatkan sebuah meja panjang, yang dikelilingi oleh kursi yang saat ini hampir terisi penuh.


Mirza belum menyadari karena tatapannya fokus ke depan, sementara tepuk tangan meriah para hadirin yang melihat panggung tersebut kini telah berubah, baru menyadarkan Mirza dan menuntunnya untuk menoleh ke belakang.


Mirza tertegun, tatapannya tepat tertuju pada gadis cantik yang saat ini mengenakan gaun berwarna putih. "Lila ...," ucapan Mirza menggantung di udara, kala sang daddy mengajaknya menuju meja yang telah dipersiapkan untuk acara akad nikah.


Mirza seperti anak kecil yang menurut saja, ketika sang daddy menyuruhnya untuk duduk.


"Dad, apa-apaan, ini?" tanya Mirza berbisik, beberapa saat setelah dirinya tersadar.


Di sampingnya telah duduk Lila, yang di dampingi sang mama. Sedangkan di depan Mirza, sudah ada penghulu, calon papa mertua dan dua orang saksi, yaitu Opa Alvian dan Ayah Yusuf.


"Katanya pengin cepat nikah, mau enggak?" tanya Daddy Rehan dengan tersenyum menggoda sang putra

__ADS_1


"Mau-mau, Dad," balas Mirza antusias, yang mengundang gelak tawa semuanya.


Lila tersenyum tersipu.


acara akad nikah dadakan, yang telah digagas oleh Daddy Rehan dan Om Devan beserta istri itupun langsung dimulai.


Dengan lancar Mirza mengucap qabul sebagai bentuk penerimaan dirinya atas diri Laila Putri Devano.


Kata sah diucapkan oleh dua orang saksi yang diikuti oleh semua yang hadir di sana, senyum merekah terbit di wajah tampan Mirza. Perasaan lega bercampur dengan rasa bahagia, menjadi satu.


Serangkaian acara masih berlangsung, mulai dari sungkeman, pemberian mahar dan pemasangan cincin kawin. Tak sabar rasanya Mirza menanti acara yang tak kunjung usai tersebut, pemuda itu terus nempel pada istri yang baru saja ia nikahi.


"Sayang, kenapa kamu enggak cerita dari tadi, sih!" protes Mirza berbisik, seraya mencuri kecupan di pipi Lila.


"Bukan surprise namanya, Bang, kalau Lila cerita," balas Lila, sambil menyingkirkan tangan Mirza yang sedari tadi menjerat pinggangnya.


"Kenapa, Sayang?" tanya Mirza.


"Geli, Abang! Tangan Abang, enggak bisa diem, sih!" protes Lila.


Mirza terkekeh pelan. "Acaranya gak kelar-kelar, sih," ucap Mirza.


Meski tamu masih banyak yang belum pulang, Mirza segera membawa sang istri ke kamar depan yang ternyata telah dipersiapkan oleh Mommy Billa, kamar pengantin untuk mereka berdua yang sudah ditata sedemikian indah.


Buru-buru, Mirza mengunci pintu kamar barunya tersebut.


Mirza kemudian mendekati sang istri yang duduk di depan cermin rias. "Sini, Abang bantuin," ucap Mirza.


Dengan telaten, Mirza membantu melepaskan aksesoris yang menempel pada hijab Lila, pemuda tampan itu lantas membuka penutup kepala tersebut.


Mirza melepaskan ikat rambut Lila dan membiarkan rambut panjang nan indah milik Lila tergerai dengan bebas. "Istri Abang sungguh sangat cantik, Abang beruntung memilikimu, Sayang," bisik Mirza yang kemudian memeluk istrinya dari belakang.


Pemuda bermata kebiruan itu menatap ke arah cermin, Lila pun sama. Netra keduanya bertemu di sana dan terpaut untuk beberapa saat lamanya. Keduanya kemudian sama-sama tersenyum.


"Apa aku sudah boleh menciummu, Sayang?" bisik Mirza, masih dengan menatap sang istri melalui pantulan cermin.


Lila mengangguk. "Semua yang ada pada Lila, telah halal untuk Abang," balas Lila.


Mirza memiringkan wajah, ia mulai mendekat pada wajah Lila. Jarak keduanya semakin dekat, bahkan Mirza mulai merasakan hangatnya hembusan napas sang istri.


Mirza mulai menyatukan wajah dan mencium bibir sang istri dengan sangat lembut, ciuman yang hangat dan penuh perasaan hingga membuat Lila terlena.


Namun, Mirza hanya melakukannya sebentar karena ia buru-buru menjauhkan wajah.


Lila yang menikmati ciuman pertama dari laki-laki yang merupakan suaminya sendiri itu, mengerutkan kening. "Kenapa, Bang?"


"Abang sebenarnya sudah tidak sabar ingin segera menjadi suami yang seutuhnya buat kamu, Sayang. Tetapi kita belum sholat," terang Mirza.


Lila tersenyum seraya mengangguk.


"Ayo, kita sholat! Abang sudah tidak sabar ingin mengajakmu menikmati indahnya malam pertama kita," ajak Mirza.

__ADS_1


🌸🌸🌸 End 🌸🌸🌸


__ADS_2