Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)

Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri)
Memancing Kecemburuan Mirza


__ADS_3

"Bang, untuk sementara mungkin tak mengapa jika ...."


"Tidak, Sayang," sahut Mirza cepat. "Berpura-pura menerima Kak Yovi itu bukan solusi bagi penyembuhan Kak Yovi, justru jika kemudian ia tahu, Kak Yovi akan semakin sakit," tegas Mirza.


Hening, sejenak menyapa ruang tunggu tersebut.


"Dok, Mirza rasa, mungkin psikolog bisa membantu permasalahan ini," ucap Mirza mengurai keheningan.


"Mirza benar, Dok. Sebaiknya untuk kasus Kak Yovi, biarlah psikolog yang menangani," timpal Attar yang tadi langsung ikut bergabung bersama Nezia.


Dokter Raharja mengangguk-angguk. "Iya, itu benar, Mas. Tetapi, jika nantinya kami membutuhkan bantuan Mbak Lila, kami harap Mbak bersedia untuk membantu kami," pinta Dokter Raharja.


Lila mengangguk pelan. "InsyaAllah, Dok," balas Lila seraya menatap Mirza dan menggenggam tangan pemuda tampan yang nampak cemburu tersebut.


"Lila hanya berniat untuk membantu, bukan untuk menyerahkan hati Lila, Bang," bisik Lila. "Karena hati Lila, sudah terpenjara di dalam hati Abang dan tak bisa kemana-mana lagi," lanjut Lila, seraya mengeratkan genggaman tangannya.


Mirza tersenyum tipis. "Semoga aku bisa memegang ucapanmu, Sayang," balas Mirza.


"Yaelah, malah bisik-bisik mesra!" tegur Nezia sambil menepuk lengan Lila, hingga membuat Lila melepaskan genggaman tangannya.


Dokter Raharja tersenyum. "Kalian serasi sekali, yang satu tampan rupawan, yang satu lagi cantik jelita," puji dokter tersebut dengan tulus.


Mirza tersenyum seraya melirik mesra sang kekasih hati, Mirza kemudian mengusap lembut punggung Lila, yang membuat hati Lila menjadi berbunga-bunga.


"Yang dua ini, juga pasangan? Cocok juga, cantik dan tampan," tanya Dokter Raharja, seraya menunjuk Nezia dan Attar.


"Bukan, Dok. Dia adik sepupu saya dan ini, om kami," terang Mirza.


"Keluarga Alamsyah juga rupanya," sahut Dokter Raharja.


"Keluarga Antonio, Dok, tepatnya," terang Attar.


"Oh, putra bungsunya Pak Alvian, kah?" tanya Dokter Raharja, yang merupakan salah satu orang penting di rumah sakit tersebut dan sering bertemu dengan pihak investor, dimana di sana ada pula nama besar Antonio.


Attar mengangguk.


"Kalau sama abangnya, saya paham," lanjut Dokter Raharja.


Ya, Dokter Raharja dan juga relasi bisnis Opa Alvian pastinya sudah tidak asing dengan putra sulung Opa Alvian karena Akbar, sudah ikut terjun membantu sang papa mengurus perusahaan keluarga.


"Dok," panggil Pak Salim yang baru saja keluar dari ruang ICU tempat Yovi dirawat dan diikuti oleh perawat jaga, yang menghentikan obrolan mereka semua.


Dokter Raharja segera beranjak dan menghampiri Pak Salim dan perawat. "Bagaimana, Ndan?" tanya Dokter Raharja pada petugas polisi tersebut.


"Semua sudah jelas, semata karena kelalaian pengendara. Yovi mengaku tidak fokus menyetir karena buru-buru hendak menemui orang tua kekasihnya," terang Pak Salim dengan jelas, yang membuat Lila langsung lemas.


Sementara ketiga sahabat termasuk Mirza, menatap Lila.

__ADS_1


"Apakah Yovi menyebutkan nama kekasihnya, Ndan?" tanya Dokter Raharja memastikan, seraya melirik Lila.


"Iya, gadis itu bernama Lila. Mbak yang itu, kan?" balas Pak seraya menunjuk Lila.


Lila menggeleng lemah. "Aku enggak tahu apa-apa, Bang. Sumpah," ucap Lila, yang kini bagai tertuduh karena semua orang menatap dirinya.


Hening, sejenak menyapa ruang tunggu tersebut.


"Sus, bagaimana kondisi pasien?" tanya Dokter Raharja.


"Setelah obat penenang bekerja, pasien kini tertidur, Dok," balas suster cantik itu.


Lila kemudian berdiri. "Dok, karena Kak Yovi sedang beristirahat, kami mohon pamit," ucap Lila sambil menangkup kedua tangan di depan dada.


Mirza dan kedua saudaranya segera beranjak, mereka pun ikut pamit pada Dokter Raharja dan Pak Salim.


Petugas dari kepolisian yang merasa telah menyelesaikan tugasnya pun ikut pamit, Dokter Raharja juga hendak kembali ke ruangannya, mereka kemudian berpisah di koridor tersebut.


"Bang Attar, ada yang akan kami berdua bicarakan. Abang sama Nezia duluan saja, ya," pinta Mirza sebelum masuk ke dalam mobil.


Attar mengangguk. "Oke," balas Attar singkat.


Mirza segera masuk ke dalam mobil, setelah tadi membukakan pintu mobil untuk sang calon istri dan memastikan bahwa Ibu Surinya itu duduk dengan nyaman.


"𝘚𝘦𝘒𝘡 𝘣𝘦𝘭𝘡-nya mau dipakai sendiri atau mau dibantuin Abng, Sayang?" tanya Mirza dengan tatapan menggoda, untuk mencairkan suasana karena Lila sedari pamit sama dokter tadi, terus saja berdiam diri.


"Lila bisa pakai sendiri, Bang," balas Lila yang langsung memakai sabuk pengamannya.


Lila cemberut. "Enggak lucu!"


Mirza terkekeh pelan. "Abang jadi makin gemas deh, Sayang, kalau kamu cemberut gitu. Bibirnya jadi pengin ...." ucapan Mirza menggantung di udara.


"Buruan jalan, Bang!" sergah Lila yang semakin cemberut karena Mirza tak kunjung melajukan mobilnya, tetapi malah sibuk menggoda Lila.


Mirza mengacak lembut puncak kepala Lila dan kemudian segera melajukan mobil sport kesayangannya, meninggalkan area parkir rumah sakit.


Sementara Lila membuang pandangan ke luar jendela kaca, untuk menyembunyikan senyuman manisnya. Hanya dengan diusap kepalanya oleh Mirza, hati Lila sudah sangat bahagia tiada terkira.


"Sayang, kita harus bicarakan masalah Bang Yovi ini dengan serius. Bagaimana menurut kamu?" tanya Mirza.


Lila menoleh ke arah Mirza. "Apa harus sekarang, Bang?" tanya Lila.


Mirza mengangguk. "Harus sekarang, Sayang. Takutnya, nanti keluarga Kak Yovi datang dan kemudian ada pembicaraan antara Kak Yovi dan orang tuanya. Lantas mereka memintamu untuk membantu Kak Yovi, agar bisa segera pulih," balas Mirza.


"Abang enggak mau, kamu dekat-dekat sama Kak Yovi, Sayang. Itu enggak akan baik untuk psikologisnya dia," lanjut Mirza penuh kekhawatiran.


Lila mengangguk. "Lantas, kalau mereka menghubungi Lila, Lila harus bagaimana, Bang?" tanya Lila yang kebingungan sendiri.

__ADS_1


"Ya, kita temui saja mereka dan katakan yang sejujurnya," balas Mirza.


Lila mengangguk setuju.


Untuk sejenak, keheningan menyapa kabin mobil Mirza.


"Memangnya, kalau Lila bantuin Kak Yovi sampai sembuh, kenapa sih, Bang? 'Kan, enggak apa-apa kali, Bang, berbuat baik sama orang yang lagi sakit?" pancing Lila bertanya.


Mirza langsung menepikan mobilnya di area parkir sebuah pertokoan, membuat Lila mengernyitkan kening.


"Abang mau beli apa lagi?" tanya Lila yang teringat bahwa tadi pagi, Mirza tiba-tiba turun dan membelikan setangkai mawar serta bros cantik untuk dirinya.


"Abang enggak mau beli apa-apa, abang cuma mau dengar apa yang tadi kamu katakan. Coba, ulangi!" pinta Mirza seraya mendekatkan wajah, setelah mobil Mirza terparkir dengan sempurna di tempat yang kosong.


Lila langsung menciut. "Eh, enggak kok, Bang. Maksud Lila tadi, membantu meyakinkan orang tua Kak Yovi, kalau Kak Yovi pasti segera sembuh meski tanpa bantuan Lila," ralat Lila sambil terus memundurkan kepalanya, hingga mentok ke pintu di sisi kiri.


Mirza tersenyum tipis. "Benarkah seperti itu?" tanya Mirza yang semakin mendekatkan wajah. "Bukannya kamu sengaja memancing kecemburuanku, Sayang," tebak Mirza.


Senyum pemuda itu semakin lebar, mengetahui Lila yang terus saja menjauhkan wajahnya.


"Bu-bukan seperti itu, Bang," elak Lila terbata. "Ja-jangan mendekat lagi!" Lila memejamkan mata, ia khawatir Mirza akan lepas kontrol karena cemburu menguasai hati pemuda tampan tersebut.


Mirza geleng-geleng kepala seraya tertawa tanpa bersuara, melihat sang calon istri memejamkan mata dengan raut wajah ketakutan, membuat Mirza semakin gemas ingin segera memiliki Lila seutuhnya.


Mirza tiba-tiba membuka π˜₯𝘒𝘴𝘩𝘣𝘰𝘒𝘳π˜₯ mobil, ia teringat masih menyimpan sebatang coklat di sana. Mirza kemudian mengambil coklat tersebut.


"Sayang, buka mata kamu," pinta Mirza.


Perlahan, Lila membuka matanya.


Mirza menyodorkan sebatang coklat kepada Lila. "Laila Putri Devano, "𝘸π˜ͺ𝘭𝘭 𝘠𝘰𝘢 π˜”π˜’π˜³π˜³π˜Ί, π˜”π˜¦?"


____ bersambung ____


🌷🌷🌷🌷🌷


I will Bang Mirza..... I will, swear πŸ₯°


Kedua, done 😍


Yuk, sambil nunggu yang ketiga, kalau lancar yah... ☺


Mari mari mampir dimari bestie,


Novel keren karya author hebat πŸ€—


Judul : Bertahan Terluka

__ADS_1


Karya : Pipih Permatasari



__ADS_2