Harus Memilih 2

Harus Memilih 2
Cukup Tahu


__ADS_3

"Bravo, menyenangkan sekali bisa bertemu kekasih hati disini, bukan?"ucap seseorang tersebut yang ternyata adalah Marcell.


"Bukan urusanmu"ucap Zania menatap tajam kearah Marcell dan setelah itu lebih memilih meninggalkan Marcell disana dengan tatapan yang sulit diartikan. Marcell yang mendapatkan perlakuan seperti itu merasa sangat kesal dengan Zania.


"You dare to ignore me Zania!!!"ucap Marcell yang langsung mendapatkan gelak tawa dari seseorang yang dari tadi melihat tingkahnya itu. Dia adalah Martin, ayahnya.


"Bagaimana rasanya diabaikan wanita yang kamu suka nak"ucap Martin yang semakin membuat kesal Marcell.


"Cukup ayah, kenapa ayah membiarkan laki-laki itu masuk ke mansion ini!!"kesal Marcell yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari ayahnya itu.


"Ayah tidak suka, kamu mencampurkan urusan pekerjaan dan pribadi disini Marcell!!. Perusahaan Erlangga dan perusahaan kita sudah lama menjalin kerjasama ini!!. Jadi besok kamu harus mengirimkan salah satu pihak dari perusahaan kita untuk menemui pihak perusahaan Erlangga, dari sini paham. Ayah sangat percaya dengan cara kerja kamu nak, tapi untuk yang ini ayah harus ikut campur"ucap Martin menepuk-nepuk pelan pundak anak semata wayangnya itu dan langsung meninggalkan Marcell yang masih merasa kesal dengan sikap ayahnya maupun Zania yang berani mengabaikannya itu.


"Rifky!. Berani-beraninya kamu menemui ayahku. Lihat apa yang akan aku lakukan pada kalian!!"ucap Marcell tersenyum sinis setelahnya.


***


"Kamu menemukan Zania?. Dimana kamu bertemu dengannya Ky?"tanya Riri yang mendengar kabar itu langsung dari Mario yang mendapatkan info dari Dion asisten yang beberapa minggu ini selalu bersama Rifky.


Rifky yang beberapa hari lalu baru saja kembali ke Indonesia. Tiba-tiba diserang dengan banyaknya pertanyaan dari sepupunya itu.


"Siapa yang bertemu dengan siapa?. Aku tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan Riri?"ucap Rifky yang kembali fokus dengan pekerjaannya itu. Riri yang tidak mendapatkan jawaban pun dibuat kesal setelahnya.


"Paman yang bilang sama aku, kalau kamu ketemu dengan Zania. Dimana kamu bertemu dengannya?. Kenapa kamu tidak memberitahukan hal ini ke kak Revan?!"ucap Riri masih mencecar pertanyaan ke Rifky yang mulai merasa jengah dengan sikap sepupunya itu.


"Aku tidak tahu, sekarang kamu keluar. Aku harus kembali bekerja untuk pertemuan dengan perusahaan M&companny"ucap Rifky yang membuat Riri semakin kesal dibuatnya.


"Walaupun kamu tidak memberitahuku, aku akan mencari tahu hal itu sampai dapat, paham"ucap Riri yang akan meninggalkan ruangan Rifky namun berhenti ketika Rifky berucap.


"Biarkan dia berjalan dengan apa yang dia inginkan. Dia baik-baik saja dan jangan buat beban fikiran untuknya jika kamu benar-benar sahabatnya. Kamu pasti lebih paham dari aku Ri, dia pergi pasti ada maksud. Jadi biarkan saja, karena dia berjanji akan kembali bukan"ucap Rifky yang masih fokus dengan berkas-berkas dimejanya. Riri yang mendengar hal itu pun terdiam sejenak.


"Tapi tante Dewi sangat merindukannya Ky"ucap Riri menunduk sedih. Rifky yang melihat hal itu hanya bisa membuang nafas secara kasar setelahnya dan mencoba lebih tenang.

__ADS_1


"Cepat atau lambat Revan bakal mengetahui keberadaan Nia. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. dan lebih baik kamu melanjutkan Honey moon kamu sana, jangan mengganggu pekerjaanku saat ini"usir Rifky yang malah membuat Riri semakin kesal.


"Reseh lu, liburannya itu sudah selesai, karena Kevin harus kembali bekerja, menyebalkan"ucap Riri kesal dan meninggalkan ruangan Rifky yang tersenyum melihat tingkah sepupunya itu.


"Kamu kemana sih Ni?"ucap Riri ketika keluar dari ruangan Rifky.


***


"Kenapa kamu bisa setenang ini sih Dev?. Padahal Nia tidak ada disini"ucap Riri yang tiba-tiba masuk diruangan Devan. Setelah dari perusahaan Erlangga, Riri bukan pulang kerumah melainkan dia kembali ke rumah sakit tempatnya bekerja dan menuju keruangan Devan.


"Ada apa lagi sih Ri, maaf aku tinggal dulu aku harus masuk ke ruang Oka, ada jadwal operasi sekarang"ucap Devan yang bergegas ke ruang Oka.


"Rifky menemukan Nia. Kenapa malah kamu diam ditempat begini?. Harusnya kamu lebih cekatan dong, kalau gak mau tertinggal jauh"ucap Riri yang diabaikan oleh Devan yang pergi meninggalkan Riri diruangannya.


"Aku tahu itu Ri, tapi Nia pasti akan kembali dan aku akan membawanya padaku saat itu juga"ucap Devan yang bergegas keruang Oka untuk melakukan operasi.


#Ditempat Zania berada...


Setelah pertemuannya dengan Rifky beberapa hari lalu membuat Zania merasa khawatir akan apa yang dilakukan Marcell. Apalagi Marcell mengetahuinya.


Zania pun memanggil Marcell dan diabaikan oleh Marcell begitu saja. Zania pun mengejar Marcell yang sepertinya akan pergi.


"Marcell, please wait a moment"ucap Zania yang sekarang sudah berada tepat didepan Marcell. Marcell menatap dingin Zania dan membuat Zania merasa gugup akan tatapan itu.


"Kenapa?. Jika tidak ada yang perlu kamu bicarakan, minggir"ucap Marcell sambil meminggirkan Zania yang menghalangi jalannya itu. Zania masih terdiam disana dan membuat Marcell berbalik sambil menghela napas kasar.


"Apa yang ingin kamu bicarakan, cepat. Saya tidak ingin membuang waktu saya untuk menunggu kamu berbicara, bukan"ucap Marcell lagi dan membuat Zania menelan ludahnya kasar.


"eh ...itu, masalah saat aku bertemu Rifky, aku ...aku"ucap Zania terbata-bata dan membuat Marcell tersenyum sinis setelahnya.


"Kenapa?. Kamu takut saya akan menyakiti kekasihmu itu atau mantan suamimu lebih tepatnya"ucap Marcell dengan rahangnya yang mulai mengeras.

__ADS_1


"Bukan begitu Marcell, aku hanya tidak ingin kamu memperbesar masalah itu dan tidak salah paham"ucap Zania merutuki perkataannya barusan.


"Kenapa aku takut dia salah paham"ucap Zania dalam hati.


Marcell yang mendengar hal itu hanya tersenyum sinis setelahnya.


"Omong kosong, jika tidak ada hal penting jangan muncul dihadapan saya, paham"ucap Marcell yang langsung meninggalkan Zania disana.


Seutas senyum terpancar jelas diwajah Marcell meskipun Zania tidak bisa melihat senyum itu. Ini bukanlah senyum mengejek yang biasa Marcell lakukan tapi sebuah senyum yang mungkin manis jika dilihat.


"Kenapa kamu bisa segugup itu bicara sama kak Marcell, Zania. Biasanya kamu ngegas kayak mau balapan"ejek Jesicca yang tiba-tiba muncul dan mengejutkan Zania yang bengong melihat kepergian Marcell dari hadapannya.


"Gak tahu, muka kakakmu itu menyebalkan tahu gak"ucap Zania mengusap kasar wajahnya itu lalu meninggalkan Jesicca disana yang tersenyum akan tingkah Zania.


"Semoga saja hubungan yang terjalin buruk itu bisa membaik"ucap Jesicca yang langsung pergi menyusul Zania.


"Zania tunggu"ucap Jesicca mengejar Zania yang ada didepannya


.


.


.


.


.


NEXT ON...


Gimana author tepati janjikan update 3 chapter...

__ADS_1


Kalau begitu jangan lupa bagi like nya ya, jangan lupa coment juga dengan alur ceritanya, oh iya lupa Vote and ratenya ya gangs...


Terima kasih telah mampir, sarangheo🤭


__ADS_2