
"Apa sih salah aku sama kamu, kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini"ucap Zania masih dalam pelukan Marcell yang hanya diam diperlakukan seperti itu oleh Zania.
Dan yang membuat Marcell merasa aneh dengan dirinya adalah mulutnya berkata tidak tapi perasaannya membohongi itu semua. Dia berusaha mengabaikan Zania yang kesakitan tapi dia malah bersimpati. Sungguh Marcell merutuki dirinya sendiri saat ini. Apalagi dengan Zania yang berada di pelukannya.
***
Zania menatap takjub pemandangan yang ada didepannya ini, meskipun membutuhkan waktu berjam-jam untuk sampai disana. Zania merasa bersyukur saat ini.
Zania pun keluar dari mobil tanpa memperhatikan adanya orang yang masih memandangnya lekat sejak tadi. Senyuman yang tertera jelas diwajah manis Zania membuat seseorang yang masih didalam mobil itu terpaku sejenak.
"Setelah menangis sejadi-jadinya dengan semudah itu dia tersenyum setalah datang kemari"ucap seseorang tersebut yang tidak lain adalah Marcell.
Marcell pun keluar dari mobilnya dan mengikuti Zania dari belakang. Marcell melihat tingkah Zania yang langsung melepaskan alas kakinya itu dan membiarkan tergeletak nyaman disembarang tempat dan meninggalkannya. Marcell pun tanpa sadar mengambil sepatu Zania dan membawanya mengikuti langkah Zania yang semakin lebar.
"I thought you were just a cold, bad boy who didn't understand beauty?! "ucap Zania yang menoleh kearah Marcell dengan senyum yang tidak bisa diartikan itu. Zania pun kembali berjalan dan sedikit berlari kecil meninggalkan Marcell yang terdiam melihat tingkah laku dari wanita yang ada dihadapannya saat ini.
"Because you are crying. That's why I brought you here. Padahal aku sangat menyukai jika kamu menangis seperti itu, tapi kenapa tadi aku sangat membenci perasaan itu, menyebalkan"ucap Marcell dalam hati yang langsung mengikuti langkah Zania yang ternyata bermain air pantai disana.
"Aku tidak mengerti denganmu Marcell tapi terima kasih. Setelah membuatku sakit hati dengan prilaku menyebalkan mu dan kekasaranmu, kamu memberi sedikit kebahagian dengan melihat keindahan pantai ini. Setidaknya otakku bisa kembali bekerja dan berfikir untuk keluar dari tempatmu lagi"ucap Zania yang berhenti bermain air dan masih tetap diposisinya dengan kaki telanjang tanpa alas kaki. Sedangkan Marcell berada sekitar 2 meter didepannya dan menatap Zania tajam karena ucapan yang baru saja keluar itu.
"Kamu pikir kamu bisa lari dariku"ucap Marcell menatap tajam Zania.
Marcell pun langsung membuang sepatu Zania ke tanah dan langsung menghampiri Zania. dan tiba-tiba Marcell memeluk Zania erat dan membuat Zania terkejut dengan sikap Marcell yang seperti ini.
"Ada apa denganmu, lepaskan aku. Dan lihat sepatumu basah bodoh, lepaskan!!!"kesal Zania akan sikap Marcell kepadanya.
Marcell pun sedikit melonggarkan pelukannya itu dan tiba-tiba mata mereka saling bertemu. Membuat Zania merasa canggung akan tatapan yang diberikan Marcell kepadanya saat ini.
"Marcell ka...kamu ke..kenapa, kamu gak lagi kerasukan penunggu pantai sini kan"tanya Zania gugup akan tatapan yang diberikan oleh Marcell. Marcell pun sedikit tersenyum akan ucapan Zania barusan.
Marcell tidak menjawab pertanyaan Zania dan dia masih berperang dengan dirinya sendiri akan sikapnya yang selama ini yang telah dia diberikan ke Zania.
Tiba-tiba Marcell memegang pipi Zania lembut dengan tangan satunya yang masih berada di pinggang Zania.
__ADS_1
"Aku tidak tahu dengan apa yang saya lakukan saat ini. Tapi saya tidak akan menyesalinya"ucap Marcell yang tiba-tiba mencium bi*** Zania lembut tanpa ada kekasaran dari ciuman itu.
Zania terkejut akan apa yang dilakukan Marcell padanya. Zania pun mencoba melepaskan dirinya dari situasi ini. Namun tangan yang mendorong pundak Marcell itu ditahan oleh tangan Marcell yang tadi dibuat untuk memeluk Zania. Tangan Zania diarahkan oleh Marcell untuk merangkul kearah lehernya dan Zania mencoba memberontak namun Marcell semakin memperdalam ciuman mereka dan membuat Zania tanpa sadar merangkul Marcell.
Marcell pun melepaskan ciuman itu dan menatap mata Zania yang juga menatapnya dengan hari yang mulai menuju gelap karena matahari mulai akan tenggelam, pamandangan sangat indah saat ini karena bisa melihat sunset dengan jelas. Marcell masih menatap Zania yang juga menatapnya.
"Kita tidak akan pulang saat ini"ucap Marcell yang masih bertahan dalam posisinya dan Zania juga yang belum merubah posisinya. Zania merasa seperti orang bodoh saat ini dengan perlakuan yang diberikan Marcell kepadanya.
"Dan aku tidak menyesali apa yang aku lakukan tadi, karena aku ingin melakukannya. Saat ini pun aku merasa menginginkannya"ucap Marcell menatap mata Zania dan beralih ke bi*** Zania yang semakin memerah itu.
Zania yang tersadar akan apa yang dilakukan Marcell saat ini pun langsung mendorong Marcell dan berlari menjauh sambil mengatakan.
"Maaf, jangan melakukan hal gila seperti itu lagi, sebelum kamu menyesalinya bodoh, sepertinya benar kamu kerasukan penunggu pantai disini"ucap Zania yang langsung berlari meninggalkan Marcell yang masih berdiri disana dan tersenyum melihat Zania yang berlari menjauh darinya.
"Aku tidak akan menyesali hal ini. dan kenapa aku menyukai hal itu dan semua yang berurusan denganmu"ucap Marcell ke dirinya sendiri.
***
"Mereka kok belum pulang sih, dihubungi tidak bisa lagi. Ini juga assiten kakak, si Stevano ditanyain soal keberadaan kakak saja gak tahu"kesal Jesicca yang berada diruang tamu menunggu kehadiran dua orang yang menemaninya beberapa bulan ini.
#Sedangkan disisi Marcell berada...
"Aku ingin pulang"ucap Zania yang melihat Marcell masuk kedalam ruangannya saat ini, lebih tepatnya mereka menyewa kamar di penginapan dekat pantai dimana mereka tuju tadi. Marcell menatap Zania sekilas dan langsung duduk di sofa disana.
"Kenapa?. Bukannya kamu menginginkan liburan, inilah liburan yang saya berikan. Bukankah saya sangat baik kepadamu"ucap Marcell yang kembali ketus dan bersikap dingin dengan Zania. Zania merasa kesal akan sikap itu karena setelah kejadian tadi di pantai si Marcell, laki-laki gila itu melupakan dengan mudah apa yang dia lakukan dan merasa tidak pernah terjadi apa-apa.
"Dan kenapa kamu hanya menyewa satu kamar bodoh"kesal Zania lagi dan membuat Marcell tersenyum sinis akan pertanyaan Zania.
"Karena saya ingin berduaan denganmu, apakah itu salah"ucap Marcell yang mendekat kearah Zania yang berada di ranjang, sungguh hal baru yang sangat menyenangkan bagi Marcell saat ini untuk menggoda wanita yang ada didepannya.
Zania pun mulai waspada karena Marcell berada semakin dekat kearahnya.
"Stop!. Kamu gila ya!?"ucap Zania yang berhasil membuat Marcell berhenti dan sekarang berada didepan Zania sangat dekat.
__ADS_1
"Kamar dipenginapan ini lagi full dan saya memaksa mereka mengosongkan satu kamar disini, seharusnya kamu bersyukur untuk tidak tidur didalam mobil atau diluar"ucap Marcell yang kembali ke sofa tempatnya duduk itu. Zania merasa lega akan hal itu.
"Pembohong, mana mungkin full kamar"kesal Zania yang malah diketawain oleh Marcell.
"Buat apa saya melakukan hal bodoh seperti itu sayang. Besok weekend, kamar sudah di pesan semua"ucap Marcell.
"Pengusaha kaya seperti kami tidak bisa menyewa kamar lebih, jujur saja ka lamu itu orang yang kikir"kesal Zania yang berdiri ingin menuju ke kamar mandi.
"Terserah kamu mau bilang apa"ucap Marcell yang mengabaikan Zania.
"Terus kamu nanti tidur dimana, jika cuma ada satu ranjang disini tuan Marcell terhormat"tanya Zania berusaha berbicara senormal mungkin menahan emosi yang ada.
"Dikasur lah"ucap Marcell sambil menikmati Snack yang dia pesan tadi.
"Disini maksudmu, jika kamu tidur diranjang ini, terus aku dimana"tanya Zania lagi yang mulai kesal.
"Itu terserah kamu. Mau dilantai atau di toilet atau diluar itu terserah kamu. Jika ingin satu ranjang denganku ya boleh saja, saya tidak akan menolak hal itu"goda Marcell lagi yang semakin membuat Zania merasa kesal.
"Sabar Zania"ucap Zania dalam hati
.
.
.
.
.
Jangan lupa buat like, coment, vote and rate nya gaes...
See you again...
__ADS_1