Harus Memilih 2

Harus Memilih 2
Seseorang


__ADS_3

#Flashback on


"Saya tidak ada sangkut pautnya dengan temanmu itu. Dan kenapa kalian selalu menyuruhku untuk pergi darinya!!!. Tanpa kalian minta, Saha bakalan pergi sendiri. Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini, sebelum saya memanggil keamanan dan menyeretmu dengan paksa!"ucap Zania merasa kesal dengan ancaman yang selalu diterimanya setelah mengenal Marcell atau lebih tepatnya terlibat dengan Marcell saat ini.


Andre hanya tersenyum meremehkan dan menatap Zania dengan mengejek.


"Saya itu orangnya slow sebenarnya dan tidak gegabah. Tapi, saya dari awal tidak menyukai sifat join your mix in our business. Jadi, tunggu kejutan besok pagi. Ketika kamu bangun sebuah kejutan siap menanti"ucap Andre yang langsung pergi setelah mengatak hal yang membuat Zania ambigu.


"They are a no brain group "kesal Zania yang langsung masuk kedalam Apartemanya.


Andre yang melihat itu pun tersenyum sinis dan mengambil ponselnya yang berada di jaketnya itu.


"Kerjakan sekarang. Jangan ada celah, beri sedikit peringatan, supaya dia tahu sekarang berurusan dengan siapa dan jangan gegabah. Paham"ucap Andre yang langsung mematikan ponselnya itu.


"Zania Dwi Pratnojoe, mungkin dengan ancaman ini kamu tidak terlibat dengan Marcell dan kegilaannya. Maafkan aku melakukan dengan cara seperti ini, Nia"ucap Andre tersenyum hangat melihat pintu aparteman Zania yang tertutup.


"Karena aku gak mau, kamu bersama Marcell. Dia gak pantas buatmu"ucap Andre yang langsung pergi dari sana.


Keesokan paginya Zania dikejutkan oleh notifikasi dari ponselnya, ketika dia akan berangkat ke sekolah.


"Maksudnya apa ini!. Dia mengancamku, berani-beraninya dia melakukan hal seperti ini dan membawa-bawa perusahaan papa"kesal Zania yang keluar dari apartemannya dan menuju ke sekolahan.


Setelah sampai dia mencari keberadaan seseorang yang membuatnya kesal itu dan akhirnya bertemu di kesal yang masih belum banyak yang datang.


"Apa maksudmu!."kesal Zania menunjukan ponselnya itu. Laki-laki itu hanya tersenyum dengan sinis.


"I never mess with what I say"ucapnya yang tidak lain adalah Andre.


"Kak Andre, kenapa sih kakak melakukan hal sampai sejauh ini. Nia sudah pura-pura tidak mengenal kakak, tapi kenapa kak Andre sejauh ini"kesal Zania ke lelaki yang ada didepannya.


"Maka dari itu, pergi dari sini. Kamu tahu bukan, aku tidak nyaman ada kamu disini. Apalagi kamu mendekati Marcell"ucap Andre enteng.


"Oke, kalau itu masalahnya. Aku akan pergi dan bereskan semua masalah yang kakak buat"ucap Zania yang langsung pergi karena merasa diabaikan seperti itu.


"Begitu lebih baik"ucap Andre menutup matanya pelan dan mengambil napasnya dalam.

__ADS_1


#Flashback off


***


"Kamu tahu Ri, semua itu berawal karena aku mengejar kak Andre disana. Awal mula aku bertemu dengan Marcell. Aku gak sangka, Marcell masih mengingatku sampai detik ini dan aku gak tahu juga, setiap aku pergi untuk merenungkan diri sendiri. Kalian pasti tidak bisa menemukanku, padahal aku tidak berbuat apa-apa"ucap Zania menatap Riri sedih.


"Saat itu ketika kak Andre mengancam itu padaku. Aku pergi Ri, mama sama papa mencariku dan tidak menemukanku. Aku gak sadar akan hal itu, hingga aku kembali kesini baru mereka memarahiku karena hilangnya aku tanpa jejak. Padahal aku hanya pergi ke Singapura, seperti saat ini. Tapi jejakku pasti hilang. Aku takut Ri, seseorang pasti melakukan hal itu padaku. Apa Marcell yang melakukannya, tapi kenapa?"ucap Zania merasa frustasi.


"Sepertinya bukan Marcell, Ni. Tapi, Andre. Aku yakin, yang melakukan hal seperti itu adalah Andre. Karena Marcell tidak tahu keberadaanmu bukan, hingga dia tahu kamu di Indonesia ketika masalahnya Derren dan Jesicca. Kamu tenang saja Nia, seseorang yang melakukan hal itu padamu. Karena dia peduli"ucap Riri menenangkan sahabatnya ini.


Zania menatap Riri ragu dan memejamkan matanya sebentar.


"Aku hanya ingin melupakan masa lalu ku Ri. Tapi semua itu dalam waktu bersamaan muncul. Aku memang dulu terlalu naif, entah kenapa aku bodoh"ucap Zania merenungkan diri sendiri.


"Semua orang pasti akan berada dalam fase seperti itu Nia. You stronge women, men. Jangan gini dong tegar. Kita hadapi mereka bersama-sama. Oh ya, apa Rifky mendatangimu berkali-kali waktu itu, pas kamu di Swedia."tanya Riri langsung dan mendapatkan anggukan dari Zania.


"Gila saja tuh orang. Kalian kalau masih saling cinta, jujur saja sih. Kelihatan banget tahu gak, kalian masih saling mengharap satu sama lain"goda Riri dan hanya mendapatkan senyuman masam dari Zania.


"Aku tahu apa yang kamu khawatirkan Ni. Bella dan Azka bukan?. Mereka baik-baik saja Ni, Rifky juga sering mengunjungi Azka dan Bella sudah bahagia dengan kehidupannya walaupun masih dengan kesendirian"ucap Riri dan Zania hanya terdiam dan membuat Riri kembali berbicara.


"Ya kalau kamu masih ragu sama Rifky, kan masih ada ayang Devan, yang setia menunggumu sampai tua, hehehe. Devan itu sayang banget loh sama kamu Ni, kamu dulu saja sayang berat sama dia. Makanya bisa move on dari si Andre karena kehadiran Devan. Iya kan?"ucap Riri lagi yang hanya mendapatkan helaan nafas kasar dari Zania.


"Pengalihan topik, gini nih"kesal Riri yang diabaikan oleh Zania. Zania pun hanya tersenyum dan berjalan duluan dan diikuti oleh Riri untuk masuk kedalam rumah.


.


.


.


.


.


"Sayang, turun nak. Ada nak Devan dibawah"panggil Dewi ke Zania. Zania pun keluar dari kamarnya dan melihat Devan yang sudah berada diruang tamu dan mengobrol dengan Revan.

__ADS_1


"Hai"sapa Zania yang dibalas anggukan dan senyuman dari Devan.


"Gladis mana kak?. Belum pulang ya?"tanya Zania ke Revan.


"Belum, lagi ada tugas diluar dia sama teman-temannya"ucap Revan sambil meminum kopinya.


"Kok kak Revan sudah dirumah sih ini kan belum waktunya jam pulang kerja dan Devan kamu gak jaga?"tanya Zania yang sudah duduk disamping Revan.


"Jangan tanya kakak, kakak bos disana. Jadi terserah kakak dong mau pulang jam berapa"ucap Revan ketus sambil memainkan ponselnya yang Zania ketahui sedang posesifin calon isteri. Hal itu membuat Zania ketawa gak jelas karena sikap kakaknya yang sudah lama tidak di lihat Zania.


"Kalau kamu Dev"tanya Zania.


"Jawabanku hampir sama dengan Revan, tapi kalau ada jadwal operasi mendadak ya harus kembali"ucap Devan tersenyum ke wanita yang sangat dia cintainya itu.


Zania bernafas berat mendengar jawaban dari dua laki-laki yang ada dihadapannya ini.


"Oke deh oke, salah tanya memang aku ya"kesal Zania.


"Aku mau ajak kamu keluar. Maukan?. Bukanya kamu belum keluar rumah setelah sampai ke sini"ucap Devan yang mendapatkan pelototan terkejut dari Zania.


"Ngajak kencan nih maksudnya. Bolehlah semoga ada kemajuan untuk hubungan kalian. Sainganmu banyak Dev, bagus langkah majumu"ucap Revan meledek ke Zania langsung pergi.


"Apa-apaan sih itu laki-laki posesif"kesal Zania yang kembali menatap Devan.


"Hem...oke deh. Tunggu dulu ya, aku ganti baju. Bosen juga dirumah, gak ada yang ngajak keluar. Apalagi gak ada aktivitas, seperti kerja. Wait, don't run away"ucap Zania nyengir langsung lari ke kamarnya.


"I'm glad to see you smile like that again."ucap Devan dalam hati.


.


.


.


.

__ADS_1


.


^^^Next on...^^^


__ADS_2