Harus Memilih 2

Harus Memilih 2
Bila Rasaku, Rasamu II


__ADS_3

*Coba kamu bayangkan kembali


Ketika dia mendekatimu hanya untuk perih


Hanya untuk memberikan luka


Membuka luka lama


dan menyiramnya dengan cuka


Apakah kamu akan menyesal telah mengenalnya?


Atau kamu akan bersyukur,


Meskipun luka itu ada?


Tapi bayangan harapan selalu hadir


Disaat kamu mengingatnya..


Mungkin rasa ini, bukan rasa yang sama


Tapi aku berharap rasa ini sama dengan rasamu...


***


"Nia"panggil seseorang yang membuat Zania tersadar akan lamunannya saat ini.


Zania menatap perempuan itu. Perempuan yang akan menjadi kakak iparnya itu, yang datang menghampirinya dengan senyum yang mengembang.


"You're okay, right "tanya Gladis yang sekarang sudah duduk disamping Zania yang menatap tanaman bunga Mamanya itu.


"Aku baik-baik saja. Gimana kuliahmu, apakah ada hal menyenangkan hingga membuatmu bahagia seperti ini"goda Zania dan Gladis kembali tersenyum lagi.


"Revan mengajak aku keluar setelah ini"ucapnya dengan senyum senangnya.


"Astaga cuma gara-gara itu dong"ucap Zania terkejut yang malah ditatap Gladis heran.


"Memang kak Revan gak pernah ajak kamu ngedate gitu, selama ini"tanya Zania hati-hati takut melukai perasaan calon kakak ipar yang usianya lebih muda darinya itu.


Gladis berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan dari Zania.


"Jarang, dia terlalu sibuk buat ngajak aku jalan. Tapi dia selalu marah kalau aku jalan sama teman-temanku. Tapi aku suka dia begitu, karena dengan sikap posesifnya itu, dia mulai menerimaku"ucap Gladis dengan senyumnya.


"Cie...Senang banget sih. Dandan yang cantik, sebentar lagi kak Revan kan pulang. Siap-siap untuk kencannya"goda Zania yang membuat Gladis malu sendiri.


"Kalau begitu aku siap-siap dulu deh. Duluan ya"ucap Gladis yang langsung berlalu.

__ADS_1


Zania menatap kepergian Gladis dan menatap sendu lagi akan bunga yang ditanam oleh mamanya itu.


Dering notifikasi di ponsel Zania berbunyi. Ternyata ada sebuah pesan masuk disana.


"Keluarlah, aku diluar"tulisan pesan itu.


Zania pun langsung keluar dari sana dan melihat seorang laki-laki tersenyum kepadanya. Zania pun membalas senyuman laki-laki itu.


"Why don't you just come in. Malah main kirim pesan segala"kesal Zania ke laki-laki itu yang ternyata adalah Devan.


"Pingin nyulik kamu. Kalau masuk kedalam pasti harus izin dulu dong"ucap asal Devan yang mendapatkan gelengan kepala dari Zania.


"Kamu dari kemarin begini terus. Inget umur ya"kesal Zania yang malah mendapatkan kekehan dari Devan.


"Soalnya jalan kita kemarin ada gangguan jadi gak puas. Hari ini, tidak ada yang bisa mengganggu kita untuk dating"ucap Devan dengan cengiranya yang membuat Zania menahan tawa karena tingkah konyol laki-laki yang didepannya itu.


"Kamu yakin gak akan ada gangguan"tanya Zania menggoda laki-laki yang didepannya ini.


"Yakin"jawab Devan dengan sungguh-sungguh.


"Masa sih?. Kamu yakin kita keluar pakai motor gini?. Seorang Devan bawa motor, mustahil loh"goda Zania lagi yang malah mendapatkan tatapan sombong dari Devan.


"Kamu gak tahu siapa Devan"goda balik Devan yang malah membuat mereka tertawa.


"Ayo"ucap Devan yang menyuruh Zania untuk naik keatas motornya.


"Sebentar aku ambil tas dulu"ucap Zania yang akan kembali masuk tapi ditahan oleh Devan yang malah menaik turunkan alisnya itu.


"Mau kemana sih Dev, bawa motornya pelan-pelan ya. Khawatir banget tahu gak, apalagi aku gak pernah tahu kamu baw..."ucap Zania terpotong karena terkejut Devan mengegas motornya.


"Devan!!!"geram Zania yang malah diketawain oleh Devan.


"Pegangan ya erat, aku gak akan mengikuti saran kamu. Karena aku lagi culik kamu"ucap Devan yang mengarahkan tangan Zania melingkar ke perutnya.


Devan pun mengegas motornya kencang. Zania tidak pernah berfikir seorang Devan bisa membawa motor seperti ini.


"Jangan bilang! Diam-diam kamu dulu suka balapan motor ya"teriak Zania yang dibawa Devan melaju kencang dengan motornya.


"Bisa iya, bisa tidak"ucap Devan semakin melajukan motornya kencang menembus jalan yang tumben tidak macet itu. Padahal ini jam orang-orang pulang kerja.


"Ish...Devan"kesal Zania yang mengeratkan rengkuhannya itu.


"Aku tidak ingin melihatmu menangis lagi Ni, aku tidak menyukai hal seperti itu. Luka itu, akan aku tutup perlahan dan akan aku isi dengan kebahagian. Aku pastikan kamu bahagia saat bersamaku"ucap Devan dalam hati sambil melajukan motornya itu.


"Aku mencintaimu Ni"ucap Devan lirih.


"Kamu barusan ngomong apa sih Dev,"ucap Zania berteriak yang malah membuat Devan tersenyum.

__ADS_1


"Ada deh"ucap Devan melajukan motornya menembus jalan itu.


Hingga sampailah mereka di tempat tujan, lebih tepatnya diatas gedung rumah sakit.


"Astaga!. Terima kasih telah membawaku jauh-jauh kesini"kesal Zania yang langsung duduk dipinggiran pembatas.


"Kan aku sudah bilang. Tidak ada yang bisa menggangu kita"ucap Devan dengan cengengesan yang membuat Zania geli sendiri.


"Oke deh percaya."ucap Zania menatap pemandangan kota dari atas gedung rumah sakit itu.


"Aku ingin kembali kerja, rumah sakit mu ada lowongan gak"tanya Zania sambil tersenyum kearah Devan. Devan pun mendekat kearah Zania.


"Ehm...kayaknya ada"jawab dengan senyuman jahilnya.


"Seriusan Dev"ucap Zania kesal dengan senyuman dari Devan.


"Serius, lowongan sebagai calon isteri dari Devano Aditya Nugroho, bukan?"goda Devan yang langsung mendapatkan cubitan dipinggangnya oleh Zania.


"Ih...kesel deh. Apa sih Devan nih, main bercanda mulu"kesal Zania yang malah membuat Devan menggenggam kedua tangan Zania dan mengarahkan Zania menghadap kearahnya.


"Aku serius Ni. Aku akan menunggu kamu, sampai kamu menjawab lamaranku. Aku akan pastikan kamu bahagia tanpa ada tangisan lagi. Aku tidak menyukai dirimu dengan keadaan menangis seperti itu, aku tidak bisa melihatmu memikirkan laki-laki lain, aku tidak suka kamu menyembunyikan segala hal padaku. Aku hanya ingin melihat Zania yang aku kenal 8 tahun lalu. Zania dengan senyum yang cantik. Aku serius dengan kata-kataku Ni"ucap Devan menatap serius Zania.


Zania menundukan kepalanya dan kembali menatap Devan lagi.


"Aku be..."ucap Zania tertahan ketika Devan berbalik membelakangi Zania. Zania menundukan kepalanya lagi, tidak berani menatap mata Devan.


"Kamu tahu Ni, aku sudah menunggumu cukup lama. Dan sampai saat ini, aku akan tetap menunggumu. Jadi, aku memberimu waktu untuk memikirkan kembali pertanyaanku"ucap Devan yang berbalik lagi menatap Zania yang juga menatapnya.


"Bukankah kita disini untuk bersenang-senang"ucap Devan mengalihkan tatapannya kearah meja yang sudah ditata dengan banyaknya makanan disana.


"Dev..."panggil Zania meraih lengan Devan.


Devan masih dalam posisinya membelakangi Zania dan Zania pun mengarahkan wajah Devan kearahnya.


"Apakah kamu mau menunggu sebentar lagi"ucap Zania


^^^.......^^^


^^^.^^^


^^^.^^^


^^^.^^^


^^^.^^^


^^^Next on^^^

__ADS_1


*Author kasih chapter tambahan gaes, Somaga saja kalian senang ya...tunggu Senin depan, atau Selasa, atau Rabu, atau Kamis. pokoknya diantar hari itu deh pokoknya.


Jangan pada ngilang dulu ya🤭*


__ADS_2