Harus Memilih 2

Harus Memilih 2
Ask Your Heart?


__ADS_3

Ketika aku mulai untuk belajar mencintainya lagi...


Saat itu aku sadar,


Dia memanglah yang terbaik


Terima kasih untuk penantian yang telah kau berikan...


Terima kasih telah menunggu seseorang yang memiliki kebingungan ini...


Terima kasih...


***


#Devan Pov'


Aku melihatnya yang begitu semangat setelah kembalinya dia ke aktivitas sehari-harinya. Aku bahagia melihatnya yang seperti itu. Dia memberi warna baru untukku, disini.


Aku pun langsung menghampirinya yang sedang beroperan sift ke dokter lainnya. Aku hanya memandanginya dan membuat teman-teman disana memperhatikanku yang tidak berkedip memperhatikan wanita yang aku cintai itu.


"Gak akan hilang kok, dokter Zania kan hanya milik dokter Devan direktur rumah sakit kita yang paling ganteng dan hot ini"goda dokter Fani teman kerja Zania kepadaku.


Zania yang mendengar hal itu pun menoleh dan melihat kearahku. Aku pun tersenyum kepadanya. Tapi kenapa tatapannya tidak bersahabat seperti itu?.


"Bagaimana direktur kita gak cinta mati sama dokter Zania. Kalau dokter Zania melelehkan hati begini kalau memandang"goda Fani ke Zania yang hanya menggelengkan kepala dengan sikap rekan kerjanya.


"Apaan coba kamu ini Fan"ucap Zania setelah selesai berberes untuk pulang.


"Ya kan bener. Lihat tuh pak direktur lihatin kamu tanpa berkedip"goda Fani lagi yang membuatku menatapnya dan dia hanya nyengir tanpa dosa. Zania pun langsung menghampiriku.


"Tatapannya!. Aku gak suka kamu begitu"tegur Zania yang malah membuatku gemas sendiri.


"Apa dia cemburu"ucapku dalam hati.


"Aduh kan pak direktur sih. Dokter Zania jadi cemburu sama aku kan jadinya. Padahal anakku sudah dua loh. Ih...posesif loh"goda Fani yang aku tahu dia menahan tawa.


"Ibu-ibu ini, kalau lama-lama disini makin ngawur...kalau begitu aku duluan ya, happy working"ucap Zania yang sudah menarikku keluar dari ruangan itu.


"Selamat siang pak"ucap para perawat saat kami melewati ruangan itu dan Zania masih mengandeng tanganku keluar dari sana. Hingga sampailah kami diparkiran depan.


"Aku gak suka kamu menatap mereka seperti itu"kesalnya padaku dengan mukanya yang sudah ditekuk yang malah membuatku gemas sendiri kepadanya.


"Kenapa memang?. Bukannya aku menatap mereka biasa"ucapku menahan tawa dan dia melirikku sinis.


"Menatap biasa kamu bilang. Sudahlah, aku mau pulang dan jangan ikutin aku, dengerkan pak direktur yang super hot ini"kesalnya yang ingin pergi dan langsung aku cegah dengan memegang tangannya.

__ADS_1


"Aku antar ya, jangan marah dong"tawarku padanya dan dia hanya diam dan setelahnya menatapku.


"Gak perlu, aku bawa mobil sendiri"kesalnya menghempaskan genggaman tanganku dan aku pun meraihnya kembali dan mengarahkannya kearahku.


"Kenapa gak diantarkan oleh pak Joko?. Revan dan papa tahu kamu berkendara sendiri?. Nia!"kesalku yang di tatapnya jengah.


"Terserah aku lah. Mau aku berkendara sendiri atau gimana?"ucapnya yang masih kesal denganku.


"Jangan berkendara sendiri lagi ya. Aku gak mau terjadi apa-apa denganmu sayang"ucapku kepadanya.


"Aku tadi terpaksa membawa mobil sendiri Dev, pak Joko lagi nganter mama"ucapnya mengalah.


"Baiklah, kalau begitu aku antar kamu pulang ya. Biar nanti mobil kamu diantarkan oleh asisten aku, oke"ucapku yang tidak dibantah olehnya.


***


Kami pun sudah ada didalam mobil dan aku sesekali memandang kearahnya dan dia langsung menegurku akan sikapku ini.


"Lihat depan Dev"kesalnya padaku dan membuatku tersenyum.


Aku tidak menyangka dia akan menjadi wanita yang aku cintai lagi. Wanita yang selalu memberi warna dihidupku. Wanita yang memberi semangat untukku. Dia telah memberiku kesempatan untuk berada disisinya. Itu adalah hal bahagia yang sangat aku syukuri.


Aku pun memegang salah satu tangannya sambil menyetir dan sesekali melihat kearahnya.


"Aku mencintaimu Ni"ucapku sambil menggenggam tangannya.


"Tapi aku gak bosen mengatakan hal itu kepadamu. Karena memang aku mencintaimu"ucapku lagi yang berhenti karena lampu merah.


"Aku gak suka kamu menatap mereka seperti itu"ucapnya lagi.


"Baiklah kalau itu mau kamu"ucapku kepadanya.


"Mereka menyukai tatapan menyebalkanmu Dev, aku gak suka"kesalnya lagi dan aku suka sikapnya itu.


"Memang tatapanku kenapa?"tanyaku menggodanya dan malah membuatnya kesal dan menarik tangannya dari genggamanku dan dia memilih melihat kearah jendela dari pada menatapku.


"Aku suka sikap kamu yang seperti ini, mengingatkanku ketika kita masih kuliah. Kamu gemesin tahu gak"godaku yang langsung ditatap tajam olehnya.


"Sudah sana jalan, mau ditegur pengguna jalan lainnya. Memang ini jalan nenek moyang kamu"kesalnya dan aku menahan senyumku dan langsung melajukan mobilku menembus jalan sore ini.


#Devan Pov' end


***


Sampailah mereka dirumah kediaman keluarga Pratnojoe. Zania pun langsung turun dari mobil Devan dan disusul oleh Devan juga.

__ADS_1


"Kamu isterahat ya sayang"ucap Devan mengecup kening Zania dan setelahnya Zania mengangguk paham.


"Kamu gak mampir dulu"tanya Zania ke Devan yang menggenggam kedua tangan Zania dan menatapnya.


"Ehm...pengennya sih gitu. Tapi aku ada jadwal operasi hari ini. Jadi kamu hari ini isterahat ya. Mandi, terus makan setelah itu isterahat. Nanti aku telphon kamu"ucap Devan yang dibalas senyuman oleh Zania.


"Ya sudah kamu hati-hati. Dan kalau berkendara itu natap jalan jangan lainnya"ucap Zania yang diketawain oleh Devan.


"Iya sayang, iya. Aku gak bakalan menatap yang lainnya kok, mungkin kalau kamu, iya"goda Devan yang membuat Zania jengah.


"Ya sudah deh sana"kesal Zania dan membuat Devan nyengir.


"Bye sayang"ucap Devan yang sudah masuk kedalam mobilnya dan pergi dari halaman rumah Pratnoje.


Saat akan masuk kedalam rumah seseorang tiba-tiba memanggil Zania. Zania pun menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya dan orang itu adalah Rifky.


"Zania"ucap Rifky menatap sendu Zania. Zania hanya terdiam menatap Rifky yang tidak jauh darinya itu.


#Flashback on...


#Beberapa bulan yang lalu...


Ingatan itu pun berputar kembali, beberapa bulan yang lalu sebelum Zania memberikan kesempatan untuk Devan dan disaat Marcell berpamitan dengan Zania.


"Apa kamu akan kembali dengannya"tanya Rifky kepada Zania saat dia bertemu Zania di mall.


Disebrang sana pun ada Azka dan Bella yang sedang makan dan Riri yang juga tidak jauh dari tempat duduk Zania dan Rifky.


Zania menatap Rifky dan beberapa saat kemudian beralih menatap minuman yang ada didepannya.


"Siapa maksudmu?"ucap Zania berusaha tenang dan menatap Rifky.


"Devan atau Marcell"ucap Rifky mengepalkan tangan dibawah dan itu tidak luput dari penglihatan Zania.


"Apa aku tidak boleh melakukan hal itu. Itu hak ku bukan, jika aku ingin bersama siapa pun"ucap Zania berusaha tenang lagi sambil melihat kearah lain dan tidak sengaja tatapannya mengarah ke arah seorang ibu dan anak disana yang tidak lain adalah Azka dan Bella.


"Dan bukankah sebaiknya kamu kesana, bersama mereka"tatap Zania tajam kearah Rifky.


^^^.^^^


^^^.^^^


^^^.^^^


^^^.^^^

__ADS_1


^^^.^^^


^^^Next on^^^


__ADS_2