Harus Memilih 2

Harus Memilih 2
Miracle


__ADS_3

*Ketika buliran air itu mulai menetes, disaat itulah aku mulai berhenti untuk melangkah. Semua terjadi begitu saja, tidak bisa dicegah karena sudah terlanjur. Aku selalu berfikir akan semua ini. Apa semua ini karena diriku?. Atau memang, itu hanyalah sebuah alur yang selalu berjalan ditempat untuk diriku ini.


Satu kata yang mungkin ingin aku ucapkan terakhir kali, 'miracle'.


***


Mata itu semakin memanas ketika melihat kedekatan Zania dan Azka. Wanita itu yang ternyata tak jauh dari keberadaan Riri dan Rifky pun melihat interaksi anaknya dan wanita yang selama ini tidak disukanya itu. Wanita yang selalu merebut segala sesuatu darinya. Hingga dia harus berusaha melepaskan sementara laki-laki yang dicintainya.


"Kamu ingin merebut anakku dariku, Nia. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi"ucap Bella yang sebenarnya tidak menyukai keberadaan Zania. Dia bersyukur saat Zania akan bertunangan dan menikah dengan Devan. Jadi masih ada kesempatan untuknya kembali dengan Rifky dan menjalin keluarga bahagia dengan Azka. Tapi apa yang dia dapat, anaknya malah menyukai wanita yang dia benci.


"Beraninya kamu membuat anakku menyukaimu. Aku benci itu, jika bukan karena ayah Mario, aku tidak akan membiarkan Azka bersamamu saat ini"ucap Bella lagi kedirinya sendiri.


Apakah topeng yang selama ini dia sembunyikan, tidak bisa ditutupi lagi?. Dengan menarik ulur Rifky, supaya memilihnya. Tapi apa yang terjadi?. Laki-laki itu tetap kekeh mengejar Zania, yang terlihat jelas lebih memilih Devan.


"Dasar murahan, wanita penggoda"ucap Bella kesal sambil dengan mengepalkan tangannya itu.


#Disis Zania, Azka dan Marcell...


"Marcell, please. Jangan begitu sama anak kecil. Apa susahnya sih mengalah?"ucap Zania yang kesal dengan sikap Marcell yang tidak mau mengalah dengan Azka yang kekeh memeluk Zania posesif.


Zania seperti seorang kakak yang memisahkan kedua adiknya yang lagi berantem. Padahal Marcell sudah dewasa dan Azka yang notabennya masih anak kecil berusia 6 tahun.


"Anak kecil ini berbahaya. Main-main klaim kamu jadi miliknya. I don't like that, Nia!"ucap Marcell yang tetap berusaha keras melepaskan rengkuhan Azka dari Zania dan membuat Zania merasa jengah dibuatnya.


"Memang kamu punya hak atas diriku!. Please deh, kamu ini jangan bikin aku kesal. Pertama kamu menakutkan dan akhirnya bisa menghilangkan sisi intimidasi kamu itu tapi, sekarang lebih parah, kamu menyebalkan Marcell!"kesal Zania dan Azka menatap Marcell dengan seringai liciknya. Hal itu membuat Marcell melotot terkejut dibuatnya.


"Dasar bocah tengil"ucap Marcell dalam hati merutuki bocah kecil yang lengket kayak prangko ke Zania.

__ADS_1


"Benarkan tante?. Paman ini orang jahat, tante Nia jangan dekat-dekat dengan dia ya. Azka gak mau tante Nia, dilukai sama paman ini. Azka sudah curiga dari metik bunga tadi, paman ini sangat something"ucap Azka mengompori Zania sambil menatap sengit Marcell yang hanya bisa ber'oh' saja.


Zania yang mendengar celotehan Azka pun tak kalah terkejutnya dari Marcell. Zania pun mengelus lembut rambut Azka untuk menenangkan anak dari laki-laki yang selalu jadi beban pikirannya itu.


"Jangan begitu sayang. Paman Marcell orang yang baik kok. Tadi tante cuma bercanda sama paman marcell. Cuma memang paman Marcell itu..."ucap Zania menggantung dan ditatap tajam Marcell yang masih kesal dengan Azka sikecil-kecil cabe gunung. wkwkwk...


"Cuma ngeselin, bikin orang naik darah"ucap Zania yang melihat Azka menatap Zania dengan mengerutkan dahinya itu. Marcell langsung membuang mukanya itu kearah lain dan tak sengaja menatap Rifky dan Riri yang berjalan kearahnya.


"Sudah anaknya merusak moodku, sekarang ayahnya yang datang. Kenapa sikapku jadi kekanakan begini!"ucap Marcell dalam hati merasa kesal.


"Astaga Nia!!!. Kok malah kamu disini sih, apalagi berasa si gunung es, gak takut terjadi perang alam semesta kalau babang Devan tahu"ucap Riri nyeplos sambil melirik kearah Rifky yang rahang telah mengeras itu. Rifky tidak mengalihkan tatapannya dari Zania sedari tadi dan membuat Azka yang memeluk Zania bingung.


"Apalagi si Abang yang disampingku ini, astaga"ucap Riri pelan yang mungkin hanya dia saja yang bisa mendengarnya.


"Apaan sih Ri?. Lebay dech. Sudah punya anak juga. Azka bosen dipesta itu, jadi dia ngajak keluar ketaman, sekalian memberitahu tempat kesukaannya di rumah mansion Erlangga. Dia juga takut aku tersesat. Gemesin banget sih"ucap Zania tersenyum melihat Azka yang semakin memeluk erat Zania dan semua itu tak luput dari pandangan Orang-orang disana.


"Azka sini ikut sama Ayah. Kamu dicari sama mama?"ucap Rifky mengalihkan pembicaraan dari Riri itu.


Zania yang mendengar hal itu hanya bisa tersenyum canggung dibuatnya. Azka menatap Zania sejenak, setelahnya menatap ke arah Rifky.


"Ayah. Ayah tidak suka, jika Azka bersama tante Nia. Kenapa ekspresi wajah ayah seperti itu ketika melihat tante Nia"ucap Azka yang belum selesai dan segera dijawab oleh Zania.


"Bukan begitu sayang. Ya sudah, Azka ikut ayah ya?. Mama kamu sudah cari Azka soalnya?"ucap Zania tersenyum canggung. Azka yang ragu itu pun dengan terpaksa melepaskan pelukannya dan beralih ke Rifky yang langsung menggandeng anaknya itu.


Sebelum pergi pun Azka menatap tajam Marcell, supaya tidak mendekat kearah Zania dan membuat Riri yang melihat hal itu tidak bisa lagi menahan tawanya.


"Tante Nia harus jauh-jauh dari paman ini. Pokoknya harus!. Azka gak suka kalau tante Nia dekat-dekat sama paman ini"ucap Azka yang sudah digandeng Rifky pergi dari sana.

__ADS_1


"Kok Azka sekarang posesif seperti ayahnya sih"goda Riri yang mendapatan plototan tajam dari Rifky.


"Sorry-sorry. Lupain kata-kata tante Riri ya sayang"ucap Riri mengelus lembut rambut Azka yang hanya memandang ragu Riri yang malah cengengesan gak jelas.


"Kami duluan"ucap Rifky yang menatap sendu Zania yang tidak berani menatap kearah mata Rifky sedikit pun.


"Sampai ketemu lagi tante"ucap Azka yang setelahnya berlalu dengan Rifky.


"Bukankah urusanmu dengan Nia sudah selesai. Mending kamu pergi deh, Abang gunung es, takutnya Devan muncul. Berabe ntar jadinya"ucap Riri mengusir Marcell terang-terangan.


"Sebaiknya kami pulang Marcell, acara juga sudah selesai"ucap Zania.


"Apa aku boleh mengajakmu makan siang besok, Nia?"tanya Marcell yang mendapatkan kernyitan dahi dari Riri. sedangkan Zania hanya terdiam, hingga seseorang muncul dihadapan mereka.


"Dan aku tidak mengizinkan hal itu"ucap seseorang itu yang tidak lain adalah Devan.


"Benerkan aku bilang, Devan datang. Habis Rifky sekarang Devan, terus bang Revan terus...terus semuanya pada datang"ucap lirih Riri.


.


.


.


.


.

__ADS_1


NEXT ON


__ADS_2