
Kerasnya suara benda yang terjatuh itu, sekeras juga hati dan perasaan yang sudah tertutup kabut emosi. Mata itu menatap tajam kearah Zania dengan senyuman sinis yang selalu tidak luput dari wajahnya. Sungguh ini sesuatu yang menakutkan bagi Zania.
Tangan besar dan kokoh itu dengan cepat menggenggam lengan Zania erat. Jesicca yang ada disana pun mencoba melepaskan perlakuan seseorang itu yang tidak lain adalah kakaknya yaitu Marcell.
"Lepas kak, kenapa kak Marcell sekasar ini. Kakak menyakiti lengan Zania"geram Jesicca yang mencoba menarik tangan Marcell yang semakin mengenggam keras tangan Zania. Zania pun mulai merasa kesakitan akan perlakuan Marcell.
Marcell menatap adiknya itu dan berbicara lembut dengannya.
"Jesicca keluar, kakak harus membuat wanita ini sadar akan posisinya sekarang"ucap Marcell walupun berbicara lembut tapi tidak dengan ekspresi wajahnya.
Jesicca pun tidak bisa percaya akan hal itu dan tetap berusaha melepaskan tangan Marcell dari Zania.
"Lepas kak"ucap Jesicca mencoba melepaskan genggaman itu dan Marcell pun dengan kasar melepaskan genggaman tangannya dan membuat Zania terjatuh. Jesicca menatap kakaknya itu dengan tidak suka. Namun Marcell langsung menyeret adiknya itu keluar dari ruangannya. Jesicca pun memberontak akan perlakuan Marcell.
"Kak buka pintunya kak, kakak jangan macam-macam sama Zania. Atau aku bakal melapor ke papa Martin"teriak Jesicca di luar ruangan Marcell.
Marcell menatap Zania sinis dan langsung menghampiri Zania yang berusaha berdiri.
"Masih mampu berdiri dan kembali kesini. Kamu punya keberanian ternyata. Aku tidak salah memilih kamu jadi mainan aku selama ini Zania"ucap Marcell dengan sinisnya.
Sedangkan Zania hanya mengepalkan tangannya itu menatap benci laki-laki yang ada dihadapannya.
Sebelum kejadian itu terjadi...
Zania berada didalam mobil bersama Jesicca. Jesicca menatap sedih kearah Zania, akan sikap egoisnya ini.
"Maafkan aku Zania. Gara-gara aku, kamu harus mengalami ini semua. Andaikan kak Marcell tidak datang ke Indonesia, dia pasti..."ucap Jesicca yang langsung dipotong oleh Zania.
"Jangan menyalahkan dirimu Jes, aku dan Marcell, kami sudah saling kenal dijaman Senior High School. Dan dia dari dulu memang tidak menyukaiku, ditambah akan masalah lainnya dan itu membuatnya semakin membenciku. Aku juga gak tahu kenapa dia seperti itu, tapi aku harus membuat dia tidak melakukan hal gila dengan menyakiti orang yang aku sayang. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi Jes"ucap Zania menatap sendu Jesicca. Jesicca merasa kasian dengan Zania. Walaupun dulu dia juga pernah menyakitinya. Tapi Jesicca sadar segala hal yang dia lakukan waktu itu adalah salah dan dia akan berusaha meyakinkan kakak tertuanya itu. Jika yang dilakukak kakaknya yaitu Marcell itu salah juga.
"Aku akan mendukungmu Zania. Aku akan berada disampingmu untuk menghadapi kak Marcell."jawab Jesicca dengan senyumnya itu. Jesicca pun langsung memeluk Zania yang juga membalas pelukan dari Jesicca.
"Terima kasih untuk hal itu Jes. Disini kamu adalah teman ang memberiku kekuatan untuk menghadapi masalah ini."ucap Zania lagi.
__ADS_1
"Aku yang harusnya berterima kasih padamu Nia. Karena kamu sudah menganggap ku sebagai temanmu, meskipun aku dulu ada orang yang pernah membuatmu mengalami kecelakaan dan melukaimu"ucap Jesicca yang langsung menundukan kepalanya.
"Jangan bahas hal itu, oke. Kita bahas hal yang sekarang. Biarkan itu menjadi masa lalu dan pelajaran buat kita Jesicca"ucap Zania menggenggam tangan Jesicca mencoba menenangkannya.
"Iya"jawab Jesicca.
Hingga sampailah mereka di mansion keluarga Martin. Zania dan Jesicca pun keluar dari mobil itu dan langsung menuju ke dalam mansion.
Tanpa mereka sadari, Marcell ada diruang tamu dengan tatapan yang tidak mengenakan. Jesicca pun langsung menyapa kakaknya itu untuk menengahi pertengkaran antara keduanya.
"Kak Marcell belum tidur?"tanya Jesicca mencoba memecahkan keheningan yang terjadi.
"Buat apa dia kembali kesini. Bukannya dia telah nyaman berada disamping laki-laki yang sangat dicintainya itu. Hingga laki-laki itu jauh-jauh dari negaranya hanya untuk menjemputnya kemari. Sungguh mengesankan"ucap Marcell menatap sinis Zania.
"Kita perlu bicara Marcell"ucap Zania mengalihkan pembicaraan itu. Sungguh Zania tidak ingin berdebat masalah itu dengan Marcell sekarang.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan denganmu"ucap Marcell yang langsung meninggalkan Zania dan Jesicca diruang tamu itu.
Zania pun langsung mengejar Marcell yang masuk ke ruang kerja dan diikuti oleh Jesicca yang ada dibelakangnya. Ketika Marcell menutup pintunya, Zania pun dengan cepat membuka pintu itu kembali dan masuk kesana bersama dengan Jesicca.
***
"Saat ini, kamu ingin memohon bukan?. Memohonkan sekarang juga"ucap Marcell yang duduk dikursi kerjanya sambil menatap Zania sinis dengan mata yang tak luput dengan ejekan.
"Aku tidak akan memohon padamu Marcell!!!, Kamu telah membuat keputusan yang salah dengan apa yang kamu lakukan saat ini. Aku akan pergi dari sini, karena urusan kita telah selesai. Itu yang ingin aku sampaikan padamu tuan Marcell Aarav yang terhormat."ucap Zania yang langsung berjalan menuju pintu, namun dengan cepat Marcell menarik Zania hingga menghadap padanya.
"Kamu tidak akan bisa melakukan hal itu"ucap Marcell yang menggenggam tangan Zania dan dengan keras Zania menghempaskan genggaman tangan itu hingga terlepas.
"Dan kamu juga tidak ada hak memperlakukan aku seperti ini juga Marcell!!. Kamu kira aku akan diam saja dengan perlakuanmu selama ini. Aku pun bisa memperlakukanmu dengan sama apa yang kamu perlakukan padaku, paham"ucap Zania sambil menunjuk-nunjuk dada Marcell.
"Aku diam, bukan berarti aku takut. Tapi lebih tepatnya aku ingin semua ini tidak menyakitkan satu sama lain. Tapi apa?. Kamu ..."ucap Zania menatap Marcell dalam dan ingatan masa Senior High School itu pun kembali.
#Flashback on (Marcell dan Zania awal bertemu)
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan. Beraninya jangan kroyokan dong. Empat lawan satu, memalukan"teriak Zania yang membantu seseorang yang sedang dibully oleh senior/kakak kelasnya itu.
"Gak perlu ikut campur, jangan jadi pahlawan mendadak kamu. Or you want to feel the same as him?"ucap salah satu dari pembully itu yang bernama Jaxton tersenyum sinis menatap Zania yang membantu orang yang dibully itu yang ternyata bernama Ferdi.
"Kamu kira aku takut sama kalian. Orang-orang seperti kalian ini, tidak pantas berada dilingkungan ini. Jika ada masalah dengannya, seharusnya diselesaikan baik-baik dong, bukan main pukul begini, kroyokan lagi. Kalian laki-laki atau perempuan!"kesal Zania menatap tajam ke empat laki-laki yang ada dihadapannya saat ini. Sedangkan Ferdi mencoba untuk menghentikan Zania.
"Cukup, jangan ikut campur dengan urusanku, Nia. Aku yang membuat masalah terlebih dahulu, jadi aku pantas mendapatkan hal ini"ucap Ferdi mencoba bangkit.
"Tapi tidak seharusnya mereka melakukan hal seperti ini padamu Fer. Seharusnya sebagai seorang senior mereka memberikan contoh yang baik kepada juniornya bukan mengajari mereka melakukan hal menjijikan seperti ini"kesal Zania yang menatap tajam ke empat laki-laki itu.
Tiba-tiba seseorang muncul dari kerumunan orang-orang yang melihat kejadian itu. Semua mata tertuju keorang itu yang langsung bergabung akan keributan yang terjadi.
"Drama apa lagi ini, Romeo Juliet?"ucapnya dengan senyum yang sangat menyebalkan dan tatapan yang sangat mengintimidasi bagi Zania.
.
.
.
.
.
Next Senin depan ya gaes...jangan lupa ditunggu kelanjutannya.
Jangan pada kabur dulu...
Semoga saja nih, cerita semakin seru saja.
Oh iya author akhirnya update hari ini๐,
Karena besok adalah weekendnya author, author bakal maksimalkan update sesuai jadwal yaitu Senin-Kamis, semoga kalian setia menunggu.
__ADS_1
See you next again... ๐บ