
#Zania Pov'
Aku mengikuti langkah seseorang yang ada didepanku yang sekarang sedang menggandeng tanganku, erat.
Ada rasa kehangatan disela perilakunya padaku. Dia orang sangat baik dan sangatlah baik. Dia adalah Devan, laki-laki yang pernah hadir dalam hidupku dan pacar pertamaku. Tapi memang takdir berkata lain hingga kami tidak bersama. Walaupun sampai saat ini, dia masih tetap menungguku. Tapi aku merasa, aku tidak pantas untuknya lagi.
Dia tersenyum kearahku, saat kami sudah sampai ditempat yang kami tuju. Aku merasa muda saat ini. Dia mengajakku ke Timezone.
"Berasa remaja kali ya. Kamu mau main?!. Kok ngajak masuk kesini"tanyaku ke Devan yang malah tersenyum dan menuju kearah kasir untuk mengisi kartu bermainnya.
"Memang hanya remaja saja yang boleh masuk kesini. Semua orang berhak dong, gak ada batas umur. Dan saat ini aku merasa masih muda, kamu saja yang merasa tua"goda Devan yang sudah mengisi kartu bermainnya itu dan langsung menuju kearah salah satu permainan basket disana.
"Iya deh, memang aku tua. Tapi lebih tua kamu tahu gak"ucapku menyusul kearahnya dan dia langsung menggesekkan kartu itu tepat disampingnya yang kosong.
"Sini kamu juga main disebelah ku. Kita tanding, siapa yang score paling sedikit, dia yang tlaktir makan nanti"ucap Devan menaikan sebelah alisnya.
"Siapa takut, kita mulai. Go"ucapku yang langsung berusa memasukan *** itu kearah ring yang bergerak ke kanan kiri itu.
Hingga permainan itu dimenangkan oleh Devan. Aku merasa kesal karena kekalahan telakku ini. Bagaimana bisa aku cuma sampai di ronde 3 dan dia sampai ronde 4. Mengesalkan. Apalagi dengan sikap jahilnya yang selalu menggodaku.
"Payah, gitu saja kalah. Untung ronde 3 kalau dari ronde 2 sduah gagal. Kayaknya kamu bukan Nia yang aku kenal"goda Devan yang saat ini sedang menikmati sushi yang aku belikan untuknya karena kekalahan ku.
"Apa kamu bilang. Aku payah, itu cuma kebetulan saja. Jangan sombong"kesalku yang malah diketawain olehnya.
"Iya-iya kamu gak payah"goda Devan dengan mengacak-acak rambutku. Sungguh aku merasa kesal, apalagi dengan sikapnya yang menyebalkan.
"Sudahlah, aku mau pesan makan yang lain. Kamu tunggu disini"kesalku yang langsung berkeliling mencari stand makanan yang ada di Mall tempatku dan Devan berkunjung.
Saat aku sudah berada didepan stand penjual ayam geprek tanpa aku sadari ada seseorang yang mengamatiku dari jauh.
"Ya sudah mba, saya tunggu dimeja saya ya. Nomer antriannya mana mba"tanyaku ke mba yang jual ayam geprek itu.
"Ini mba, nanti pesanannya kalau sudah siap saya antarkan ke meja mba ya"ucap penjual itu dan aku pun menganggukkan kepala.
Aku pun langsung menuju untuk kembali ketempat dimana Devan berada dan tidak sengaja aku menabrak seseorang yang ketika aku tengok orang itu adalah...
__ADS_1
"M...Mar...cell"ucapku gugup.
Bagaimana bisa dia ada disini?. Dan sekarang dia sedang menatapku, sungguh aku ingin segera pergi dari sini sekarang juga. Namun, tiba-tiba tanganku di cekal oleh seseorang yang tidak lain adalah Devan.
"Lama banget sih, Ni. Siapa dia?"tanya Devan mengarahkan ke Marcell yang menatap Devan dingin. Aku merasa atmosfer ditempatmu saat ini ada yang berbeda. Dengan rasa kecanggungan yang ada, aku pun menarik Devan pergi dari sana. Meskipun aku tahu Marcell dari tempat yang sama masih memperhatikan kepergian ku itu.
Ketika kami sudah sampai ditempat duduk kami semula Devan menggenggam tanganku erat.
"Laki-laki itu kenapa bisa ada disini?"ucap Devan mengejutkanku.
"Kamu tahu kalau dia..."ucapku terpotong karena Devan sudah menganggukan kepalanya itu.
Aku merasa gugup, entah kenapa aku merasa gugup. Aku takut dia bersamanya dan yang aku takutkan terjadi juga. Dia dan teman-temannya ada disini juga. Mereka tidak jauh dari kami. Hingga pesenanku datang dan Devan menyadarkanku.
"Hey...jangan melihat kearah mereka"ucap Devan yang langsung aku tatap cemas.
"Kita pulang saja Dev, aku gak ada nafsu buat makan lagi"ucapku menatap ayam geprek yang aku pesan ini.
"Kalau begitu kita bungkus makanannya. Sebentar kamu tunggu sini, biar aku minta mereka bungkus makanan ini"ucap Devan yang langsung membawa ayam geprek ku yang masih utuh itu ke stand penjual tadi.
Devan pun membuyarkan lamunanku itu dan mengajakku keluar dari sana. Hingga sampailah kita di mobil. Devan memegang tanganku erat, mencoba menenangkanku.
"Laki-laki itu teman dari Marcell bukan?"tanya Devan yang tidak mendapatkan jawabanku. Karena aku hanya terdiam dan menunduk.
"Dengarkan aku Ni. Dia hanya masa lalu yang sekarang tidak ada hubungannya denganmu. Buat apa kamu mengkhawatirkan hal itu lagi. Kamu tidak mencintainya kan?"tanya Devan yang belum menjalankan mobilnya itu.
"Aku tidak mencintainya lagi Dev. Tapi, dia. Aku tahu dia yang selama ini terlibat akan masalahku, aku hanya takut jika segala fikiran negatif dikepalaku itu nyata"ucapku menatap Devan dengan rasa khawatir.
"Tenanglah, kamu jangan khawatir akan hal itu Ni. Aku akan selalu disampingmu dan menjagamu. Aku gak akan membiarkan laki-laki itu mengusikmu"ucap Devan menggenggam erat tangan Zania dan kemudian menjalankan mobilnya.
***
#Disisi Marcell dkk berada...
"Dia bersama dokter itu. Wanita itu banyak sekali memikat laki-laki"ucap Andre yang langsung ditatap sinis oleh Marcell.
__ADS_1
"Jaga ucapanmu Andre!"kesal Marcell yang menatap kepergian Zania dan Devan dari sana.
"Itu kenyataan yang ada. Kalau aku jadi kamu Cell, yang pasti gak bakalan terpikat sama wanita macam dia"ucap Andre menatap tajam dan jarang sekali Andre bersikap seperti itu dan membuat Jaxton dan Marcell menatap aneh.
"Kenapa kamu yang malah seperti orang yang terbakar cemburu begitu"ejek Jaxton yang langsung membuat Andre kembali keaikap semula.
"Ya gimana lagi. Temanku, cinta mati sama itu cewek. Sampai rela jauh-jauh dari Swedia ke Indonesia cuma buat nemuin itu cewek yang malah jalan sama mantan pacar. Gimana coba aku gak kesel"ucap Andre kembali ke mood nya yang biasa.
Marcell yang mendengar celotehan dari Andre hanya menggelengkan kepala saja.
"Makanya perjuangkan cintamu Cell, jangan sampai kamu menggila seperti dulu. Pura-pura gak suka nyatanya cinta"ucap Andre nyeplos yang mendapatkan tatapan tajam dari Marcell.
"Dan itu juga berlaku buat kamu, Andre!"ucap Marcell dingin dan membuat Jaxton mencoba menengahi kedua sahabatnya itu. Andre hanya dia dan menatap balik Marcell.
"Kamu kira aku selama ini tidak mengetahui kelakuan kamu?"ucap Marcell ke Andre yang tersenyum sinis.
"Cukuplah, kenapa sih kalian begini lagi"kesal Jexton.
"Karena kamu memang gak pantas buat dia"ucap Andre dengan senyuman jailnya yang sudah menjadi ciri khas.
"Dan apakah kamu juga pantas untuknya"tanya balik Marcell yang malah mendapat tawaan dari Andre.
"Menurutmu?. Kalau kamu gak pantas aku juga gak. Tapi karena aku tahu kamu sangat mencintainya, aku cuma ingin melihat keseriusan itu"ucap Andre menatap tajam Marcell.
"Astaga dia anak ini. Sudahlah, bukankah masalah ini sudah beres beberapa tahun lalu. Gak usah diungkit lagi. Andre juga sudah ada Stella. Jadi kamu jangan khawatir Cell. Yang perlu kamu khawatirkan itu si Dokter sama si Rifky. Itu saingan cintamu"ucap Jaxton yang mendapatkan helaan napas berat dari Marcell.
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
__ADS_1
^^^Next on^^^