Harus Memilih 2

Harus Memilih 2
Harus Memilih


__ADS_3

"Serius dengan apa yang lu bilang Ni!"ucap Riri terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Zania padanya.


Zania hanya menganggukan kepalanya, mengiyakan apa yang ditanyakan sahabatnya itu.


"Mama mama"ucap Steven dalam gendongan Riri.


"Aduh sayang, kok malah rewel sih"ucap Riri menggendong anaknya itu dan tiba-tiba diserahkan ke Zania.


"Even sama aunty Nia dulu ya"ucap Riri keanaknya yang malah memainkan kaki mungilnya itu.


"Mama anty, mama maamm"ucap Steven bertingkah lucu membuat Zania tersenyum.


"Nih gendong Steven. Semoga saja setelah gendong anakku kamu menetapkan pikiranmu untuk memilih Devan. Kalau aku sih yes. Devan mah cowok perfect dan laki-laki yang selalu bikin kamu senyum. Mantapkan diri Ni dan aku titip Steven ya"ucap Riri nyengir kearah Zania.


"Astaga ni ibu-ibu. Anaknya manggil-manggil dia, malah dikasihin aku. Emak-emak gak tanggung jawab!"kesal Zania yang malah diketawain Riri.


"Aku mau jemput Kevin, Ni. Dia baru saja balik dari seminarnya di Surabaya"ucap Riri yang langsung mendekat dan mengecup pipi anaknya yang gembul banget itu.


"Mama jemput papa dulu ya sayang. Jangan rewel sama Tante Nia"ucap Riri yang gemes melihat tingkah Steven yang nyaman dalam gendongan Zania.


"Memang sudah cocok kamu Ni. Buruan geh"goda Riri lagi dan membuat Zania memutar bola matanya jengah.


"Sudah deh, sana-sana"kesal Zania dan Riri berlalu dengan senyumannya.


.


.


.


.


.


"Rifky kalau tahu Nia dilamar lagi sama Devan, dia bagaimana ya?."ucap Riri berlalu.


***


Zania sedang mengajak jalan-jalan Steven dihalaman rumahnya dengan mendorong Steven yang berada didalam kereta bayi memandangi pemandangan sore yang tidak terlalu panas itu.


"Steven mau main ke taman didepan kah. Pasti rame disana, pada jalan-jalan sore"ucap Zania ke balita itu yang malah bermain kincir-kincir dengan senangnya.


Sampailah Zania ditaman di komplek perumahan orang tuanya itu.


"Gemesin banget sih, anak mereka ini. Andai anakku masih hidup, pasti dia bakal selucu Steven. Evano anak mama tenang kan di alam sana"ucap Zania sedih tanpa disadari Steven memegang salah satu jari Zania yang sedang terduduk jongkok didepan kereta bayi tempat Steven kecil berada.


"Kamu tahu perasaan aunty saat ini ya sayang. Aunty gak lagi sedih kok sayang, karena ada Steven saat ini"ucap Zania yang langsung menggendong Steven.

__ADS_1


"Steven kamu anak yang baik sayang"ucap Zania lagi dengan memeluk erat Steven.


"Cepet gede ya, pasti kamu akan menjadi laki-laki yang baik dan orang yang perhatian"ucap Zania mencubit gemes hidung anak sahabatnya itu.


"Jangan digituin dong, nanti Even nangis"ucap seorang laki-laki yang menghampiri Zania. Laki-laki itu tidak lain adalah Devan.


"Dev...!"ucap Zania tersenyum canggung kepada laki-laki yang ada dihadapannya itu.


"Aku nyariin kamu, ternyata kamu disini bareng Steven. Riri lagi jemput Kevin kan?"ucap Devan yang sudah didepan Zania dan mengambil Steven dari gendongan Zania.


"Iya. Kamu baru pulang kerja?"tanya balik Zania yang dibalas senyuman oleh Devan.


Mereka pun berjalan memutari taman itu yang sudah ramai dengan anak-anak yang bermain disana.


"Kita seperti keluarga bahagia ya, aku dan kamu sebagai orang tuanya dan Steven sebagai anak kita"ucap Devan menoleh kearah Zania yang mendorong kereta bayi itu.


Zania pun tersenyum mendengar ucapan dari Devan.


"Ehm....berharap ya"goda Zania.


"Aku akan menunggumu, akan selalu menunggu"ucap Devan yang langsung berjalan duluan dan Zania masih terdiam menatap Devan yang menggendong Steven disana.


"Aku takut, jika tidak sesuai dengan ekspetasi kamu Dev. Tapi aku akan berusaha memantapkan hatiku untukmu"ucap Zania yang langsung pergi menyusul Devan dan si kecil Steven


Tanpa Zania ketahui, Rifky ada disana. Melihat betapa bahagianya Zania dan Devan bersama dengan si kecil Steven.


Ingin sekali Rifky menghampiri mereka dan bergabung bersama. Tapi langkah kaki ini tertahan tak kala dia melihat sosok laki-laki lain yang juga sedang memperhatikan Zania dan Devan disana.


Rifky pun langsung menghampirinya.


"Bagaimana menurutmu?. Dia bahagia bukan?. Tidak seperti harapanmu, yang mengharapkan dia memohon-mohon kebahagian terhadapmu"sindir Rifky yang sudah berada disamping laki-laki itu yang tidak lain adalah Marcell.


Marcell menatap sinis Rifky sambil melihat Rifky dari atas sampai bawah.


"Mengkomentari orang lain, sebaiknya koreksi diri sendiri, bukan?. You must be sad right now. The girl you love is with another man who is a former lover"ucap Marcell menatap sinis Rifky.


Rifky yang mendengar hal itu menatap tajam Marcell. Marcell pun langsung berlalu dari sana ketika melihat Zania dan Devan akan berjalan kearahnya.


"Aku pastikan dia akan menjadi orang terakhir dalam hidupku dan kalian tidak bisa menghalanginya lagi"ucap Marcell berlalu.


"Dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi"ucap Rifky yang hanya dibalas senyuman remeh dari Devan.


#Disisi Zania dan Devan berada...


"Dev...bukankah itu?"ucap Zania menatap kearah Rifky dan Marcell.


"Rifky dan Marcell"ucap Zania dalam hati.

__ADS_1


"Kenapa sayang"ucap Devan yang menggendong si Steven kecil yang telah tertidur itu.


Zania yang dipanggil seperti itu pun reflek menatap Devan yang malah tersenyum kearahnya. Zania pun hanya menghela napasnya kasar.


"Mulai lagi deh"ucap Zania yang pura-pura kesal.


"Kenapa sih?. Memang kamu sayangnya aku kan?"ucap Devan menggoda Zania lagi.


"Iya aku sayangnya kamu"ucap Zania menahan tawa ketika melihat wajah terkejut dari Devan.


"Tapi bohong"ucap Zania sambil meledek kearah Devan dan memberikan kereta bayi itu ke Devan dan berlari menjauh.


"Jaga baik-baik, aku duluan"ucap Zania menahan tawa melihat muka terkejut Devan.


Devan pun langsung meletakan Steven kecil kedalam kereta bayi itu dan menyusul Zania yang ada didepannya.


"Wanita itu, dasar"ucap Steven tersenyum menatap punggung wanita yang sangat dicintai itu.


Zania yang berjalan duluan itu, melihat Rifky yang juga pergi dari tempat yang pertama dia lihat tadi.


"Apakah pilihanku saat ini sudah tepat"ucap Zania pelan dan melihat kerlarah belakang dimana Devan menyusulnya dengan mendorong pelan kereta bayi itu.


"Sudah cocok ya, ngurus anak"ucap Zania yang langsung mendekat kearah Devan.


Devan pun membalasnya.


"Memang, tinggal nunggu kamu_nya saja"ucap Devan dengan senyum jahilnya.


"Coba kamu fikirkan ulang Dev. Aku wanita yang sudah pernah menikah dan kamu lelaki singel yang bisa mendapatkan gadis yang lebih muda dan cantik. Kenapa kamu harus memilih wanita yang pernah gagal ini. Apa kamu tidak takut jika..."ucap Zania terpotong ketika Devan menghentikan langkahnya itu.


"Jika apa?. Jika kegagalan pernikahanmu terjadi pada kita?. Ini beda cerita Ni, aku mencintaimu tanpa memandang hal seperti itu. Jadi tolong jangan berkata hal-hal yang tidak ingin aku dengar. Ayo kita pulang, mungkin Riri sudah mencati-cari keberadaan Steven kecil"ucap Devan yang menggandeng tangan Zania sambil mendorong kereta bayi itu.


"Aku takut, menyakiti hatimu Dev. Karena aku belum yakin akan semuanya"ucap Zania dalam hati.


*Adakalanya mengerti dirimu itu sulit. Sangat sulit, hingga aku perlu memahami semua ini, dengan caramu.


^^^.^^^


^^^.^^^


^^^.^^^


^^^.^^^


^^^.^^^


^^^Next on^^^

__ADS_1


__ADS_2