
Ada yang aneh...
Aku tidak tahu ini perasaan apa...
Tapi, aku takut jika ini adalah perasaan yang salah...
Aku mencoba menepis ini semua dari benaku
Mungkin aku hanya lelah dan terlalu banyak memikirkan semua kejadian yang telah terjadi...
Namun, aku merasa memang ada yang salah
Aku membenci perasaan ini
Perasaan benci, iri ketika melihatnya...
Dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan
Apa yang ingin dia gapai
Sedangkan aku, harus berjuang untuk itu semua
Aku hanya ingin mengakuinya...
Mungkinkah ini yang dinamakan cemburu...
***
"Apa aku tidak diberikan kesempatan. I want to fix everything that I have done to you. Please help me!?"ucap Marcell yang sekarang ada tepat didepan Zania.
Riri yang juga ada disamping Zania pun tidak bisa berkata-kata. Ketika mereka sedang makan disalah satu stand makanan di mall, setelah belanja beberapa jam lalu. Marcell langsung menghampiri mereka berdua. Mereka terkejut akan kedatangan Marcell, terutama Zania.
Zania hanya terdiam tanpa suara disana. Riri menatap sahabatnya itu sendu dan beralih menatap kearah Marcell yang tidak kalah sendunya.
"Mereka berdua ini kenapa sih, mau berbicara bahasa kalbu"kesal Riri yang sebenarnya kasian melihat kedua orang yang ada disampingnya ini.
"Nia, apa tidak ada kesempatan untukku. Untuk memperbaiki kesalahanku padamu. Aku tahu dengan keegoisanku waktu itu. Dan aku sadar dengan apa yang aku lakukan padamu, karena aku menyukaimu"ucap Marcell yang langsung membuat Riri melongo akan ucapan Marcell yang langsung tepat sasaran. Sedangkan Zania masih tetap diam.
"Kalau begitu aku pergi, mungkin kamu belum bis menerima kehadiranku disini. Tapi seenggaknya, aku sudah mengutarakan perasaanku padamu"ucap Marcell yang hendak berdiri tapi tertahan akan ucapan Riri.
"Tunggu dulu, bukan kamu yang harus pergi dari sini. Sebelumnya saya minta maaf, tapi lebih baik kalian menyelesaikan masalah ini secepatnya. Dan Nia, please jangan menghindari masalah. Yakinkan semuanya, biar lebih jelas, oke. Aku lupa mau beli susu buat Steven, aku tinggal sebentar ya"ucap Riri yang ditatap sendu oleh Zania dan Marcell yang terdiam.
"Ini kesempatan untukmu memperbaiki semua"ucap Riri disamping Marcell dan setelahnya dia berlalu.
Zania masih terdiam beberapa saat setelah Riri pergi. Setelahnya dia meminta Marcell untuk kembali duduk dan berbicara dengannya.
"Aku memaafkan semua yang telah kamu buat padaku Cell. Tapi untuk perasaanmu padaku, maaf ada hati yang harus aku jaga."ucap Zania menatap Marcell sendu.
Marcell terdiam seribu bahasa ketika Zania berkata seperti itu padanya. Setelahnya Marcell menatap Zania dan berusaha tersenyum disana.
"Orang itu Rifky atau Devan. Hati siapa yang perlu kamu jaga"ucap Marcell dengan senyum kecutnya. Zania merasa tidak enak akan pertanyaan itu.
__ADS_1
Zania menatap sendu laki-laki yang ada dihadapannya ini.
"Apa kamu akan menyakiti mereka?. Jika aku mengatakan salah satu merekalah hati yang perlu aku jaga?"tanya Zania sedih menatap Marcell yang tidak kalah sedihnya melihat Zania menatapnya seperti orang jahat yang akan melukai seseorang.
"Apa itu yang kamu pikirkan tentangku setiap kali Ni. Aku menghargai keputusanmu Ni, tapi perasaanku padamu tidak akan hilang. Kamu harus baik-baik saja ya. Kamu harus bahagia, aku hari ini cuma ingin pamit, karena aku harus kembali ke Swedia. Terima kasih telah memafkanku"ucap Marcell tulus.
Zania pun memandang Marcell yang menatapnya dalam.
"Apakah aku boleh memelukmu sekali saja"tanya Marcell yang membuat Zania berfikir sejenak.
Setelahnya Zania mengaguk dan Marcell sangat senang akan hal itu.
"Terima kasih"ucap Marcell yang langsung memeluk Zania tanpa Zania dan Marcell sadari seorang laki-laki yang menggendong seorang anak kecil dan ada wanita disampingnya itu melihat kejadian itu.
Tangan laki-laki itu mengepal dengan rahang yang mengeras. Wanita yang disampingnya pun menatap sendu. Dia adalah Rifky.
***
"Serius nih mau pulang. Kamu gak nyesel melepaskan wanita itu begitu saja."ucap Jaxton ke Marcell saat mereka sedang berada diruang tunggu bandara.
Marcell hanya terdiam dan tersenyum menatap kedua sahabatnya itu.
"I don't want to be selfish to him anymore. Maybe she will hate me if I act like that. Aku ingin dia menyukaiku tanpa harus memaksanya"ucap Marcell berusaha tersenyum meyakinkan dirinya sendiri.
Andre pun langsung mendekat kearah Marcell dan menepuk pundak sahabatnya itu.
"I thought you were unworthy of her because you are Cell. But for now, aku mulai mendukungmu. Zania adalah wanita yang baik dan orang yang perhatian. Itu yang aku tidak suka darinya"ucap Andre mengingat Zania
"Dan aku harap lu gak menyukai Zania. Karena aku gak mau sainganku bertambah"ucap Marcell menatap Andre dingin.
Andre yang mendengar hal itu pun tertawa lepas setelahnya.
"Wow, Jaxton, teman kita yang satu ini posesif sekali"goda Andre yang malah diketawain oleh Jaxton sedangkan Marcell membuang wajahnya asal.
"Aku akan bersabar menunggumu Ni. Jika kamu memilih orang lain, aku akan berusaha menerimanya, meskipun itu sulit"ucap Marcell.
.
.
.
.
.
#Beberapa hari kemudian...
"Selamat datang kembali dokter Zania Dwi Pratnojeo, welcome to the workplace"ucap Riri yang sudah berada diruang jaga para dokter bagian IGD berkumpul.
"Apaan sih Ri, lebay deh"ucap Zania yang mengambil jas putihnya didalam loker untuk dipakainya nanti.
__ADS_1
"Aku tuh senang, kita bisa kerja bareng lagi, tahu. Jadi ada teman gosip"ucap Riri yang sudah duduk dikursi yang ada disana.
Zania menatap Riri heran. Sahabatnya ini memang seperti itu, meskipun sudah menjadi seorang ibu.
"Steven sama siapa Ri?. Kalau kamu kerja gini"tanya Zania yang juga duduk disamping Riri dan menyantap sarapannya sebelum memulai aktivitas.
"Sama mba Susi lah Ni. Orang yang aku kerjakan untuk mengurus Steven kalau aku lagi kerja"ucap Riri yang juga menyantap makanannya itu.
"Kamu gak kasian Ri, ninggalin anak sama orang asing begitu. Kasian tahu"ucap Zania nyeletuk.
"Aku juga sebenarnya kasian Ni, sama si kecil. Tapi mau gimana lagi. dan untungnya si Steven itu gak rewel makanya aku gak terlalu cemas"ucap Riri.
"Oh iya Ni, si Abang es itu sudah balik ke negaranya kah"tanya Riri yang membuat Zania mengerutkan dahinya bingung.
"Maksudmu siapa Ri. Kasih julukan orang asal-asal saja lu"ucap Zania yang sudah selesai makan dan bersiap-siap keluar.
"Astaga Ni, ya abang-abang yang tatapannya dingin kayak es kutub itu loh, si Abang Marcell. Dia beneran sudah balik ke negaranya?"tanya Riri yang dengan seketika membuat Zania menghentikan aktivitasnya yang sedang menggunakan jasnya.
"Kalau kamu begitu, berarti itu Abang sudah balik kan?"ucap Riri lagi.
"Iya dia sudah balik"ucap Zania.
"Aku harap kamu meyakinkan hatimu Ni. Siapa pun yang kamu pilih nanti, aku harap sahabatku ini bahagia. Jangan lagi menjadi seseorang yang selalu berkorban dan mementingkan kebahagian orang lain. Karena kamu juga perlu bahagia Ni. Ya sudah, ayo kita keluar.."ucap Riri yang sudah duluan keluar dan Zania menyusul setelahnya.
"Maka dari itu aku ingin memantapkan hatiku ini Ri"ucap Zania dalam hati.
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^Next on^^^
*Ada kejutan buat kalian...
Author langsung up 5 chapter...gimana perasaanya...Kalau author sih seneng sajaš
Kalau begitu jangan lupa like, coment, vote and ratenya ya...
Author lagi semangat 45 nih
Kenapa?. Ya karena beberapa hari lagi 2 bulan nya "Harus Memilih 2" ini meluncur dan masih update lancar sampai sekarangš¤...
Apalagi author dapat cover gratis dari Noveltoon, makin semangat saja kanš¤..
kalau begitu see you next chapter yeah...
__ADS_1