
Perasaan yang saat ini sedang melanda dengan tidak karuan dan tidak bisa dijabarkan. Seorang Rifky yang notabennya selalu perfect dalam bekerja, tiba-tiba sekarang sedang dalam mode malas melakukan segala hal. Hingga pekerjaan itu menumpuk berhari-hari. Membuat banyak sekali deadline yang terjadi.
Kenapa bisa begitu?. Ya satu alasan yang bisa terjawab kan yaitu, dia memikirkan seorang wanita yang sangat dicintainya itu. Semua yang dia lihat beberapa hari itu, menjadi beban pikirannya dan perkataan Riri yang menjadi ancang-ancangnya untuk lebih bergerak cepat atau lebih baik mundur.
Rifky menatap lesu foto wanita itu yang selalu disimpan didalam lacinya. Wanita itu tersenyum dengan sangat bahagia di sana. Wanita itu ya, Zania. Rifky mengambil foto itu diam-diam tanpa sepengetahuan Zania kala itu.
"Kenapa kamu bisa tertawa dan tersenyum bahagia hanya bersamanya, sayang?. Kenapa kamu tidak pernah memberikan senyuman cantikmu itu kepadaku?. Aku mencintaimu Ni, sungguh. Kesalahan waktu itu adalah dosa terbesarku dengan menyakiti batin dan fisikmu. Apa aku harus melepasmu untuk bersamanya?. Apa aku bisa melakukannya?. Apa benar itu yang kamu mau?. Apa kamu tidak ingin memberiku kesempatan sekali saja?."ucap Rifky sendu menatap foto Zania yang ada digenggamannya.
"Kenapa?. Kenapa sangat sulit mengetahui perasaanmu sebenarnya Ni atau lebih tepatnya diriku?"ucap Rifky lagi, hingga suara ketukan pintu terdengar dan masuk seorang perempuan bersama seorang anak laki-laki yang mungkin berusia sekitar 6 tahun lebih mendatangi Rifky.
Rifky pun langsung menyambut kedatangan mereka yang memang sudah terjadwal jauh-jauh hari itu. Tidak lupa, Rifky memasukan foto itu kedalam lacinya kembali.
Anak laki-laki itu langsung berlari untuk memeluk Rifky. Seorang laki-laki yang sangat dirindukan oleh anak laki-laki itu yang tidak lain adalah Azka, anak dari Rifky dan Bella.
Azka dan Bella beberapa hari lalu baru sampai di Indonesia, karena Azka merindukan ayahnya. Dan Azka ingin tinggal bersama Ayahnya itu. Bella pun mengantarkan Azka menemui Rifky. Hingga saat ini mereka berada diruangan yang sama.
"Bagaimana kabar jagoan ayah"tanya Rifky dan Azka dengan senyuman yang sangat mirip dengan Rifky itu pun menjawab dengan percaya diri.
"Seperti yang ayah lihat. Azka tumbuh jadi laki-laki yang sekarang bisa menjaga mama dari orang-orang jahat"ucap Azka percaya diri dengan ucapannya, yang langsung dicubit gemas oleh Rifky. Sedangkan Bella tersenyum senang melihat interaksi mereka.
"Benarkah itu. Anak ayah sudah dewasa ternyata ya."goda Rifky ke anaknya itu.
"Tentu, tanyalah sama mama. Azka bisa melakukan segala hal. Iya bukan ma?"tanya Azka ke Bella yang mengangguk setuju.
"Iya sayang. Anak mama sudah tubuh tinggi dan bakalan menyaingi ayah kamu ini. Itu kan yang sangat kamu harapkan bukan"ledek Bella ke Azka yang tersenyum bangga itu.
"Si kecil sudah tumbuh ya"ucap Rifky mengacak-acak rambut anaknya itu.
***
__ADS_1
"Bagaiman kemajuan hubunganmu dengan Zania, Ky"tanya Bella yang sedang duduk dan mengawasi Azka yang sedang bermain disalah satu tempat permainan di mall yang saat ini mereka singgahi.
Rifky menatap Bella dengan wajah yang tidak bisa diartikan itu. Bella yang merasa ditatap oleh Rifky pun mengalihkan tatapannya kearah lain.
Rifky pun kembali menatap kearah Azka yang sedang asik bermain game mobil-mobilan disana.
"Mungkin, tidak ada kesempatan yang dia berikan padaku Bell"ucap Rifky yang langsung menunduk menenangkan fikirannya saat ini.
Bella yang mendengarkan pernyataan yang diucapkan oleh Rifky pun terdiam sesaat.
"Aku gak tahu, kenapa sangat sulit meyakinkan dia. Devan sudah melamarnya"ucap Rifky lagi rapuh dan membuat Bella menatap sendu laki-laki yang dulu sangat dicintainya itu. Mungkin sekarang pun masih.
Rifky menatap Bella dengan senyum terpaksa yang sangat sulit dilakukan, karena perasaan yang masih campur aduk itu.
"Mungkin ini karma buatku Bell. Karena telah menyakiti kalian berdua, hingga aku tidak bisa menggapai cintaku. Apa aku harus merelakannya sekarang Bell?. Apa aku harus melepaskannya untuk bersama orang lain?."tanya Rifky dengan wajah lesunya.
"Apakah kamu siap melepaskannya?. Jika tidak, perjuangkan Ky. Apa Nia menerima lamaran dari Devan?. Jika belum, masih ada harapan untukmu. Aku harap kamu tidak menyerah soal itu. Kalian saling mencintai Ky, kamu harus perjuangkan dia"ucap Bella meyakinkan Rifky. Meskipun hatinya sangat sakit saat ini, ketika memberikan semangat ke lelaki yang ada disampingnya.
Rifky tersenyum mendengarkan ucapan Bella itu.
"Tapi, dia hanya tersenyum dan bahagia saat bersama Devan, Bell. Ketika bersamaku, aku tidak pernah menemukan senyuman itu. Bahkan saat dia bersama Marcell, laki-laki baj***** itu pun dia bisa tersenyum bahagia. Mungkin luka yang ku berikan padanya itu sangat dalam Bell. Mungkin dia sudah menutup pintu untukku. Aku memang tidak pantas untuknya Bell, baik untuknya maupun untukmu. Aku memang tidak pantas."ucap Rifky frustasi. Tanpa dia sadari Bella menahan sedihnya melihat laki-laki yang dihadapanya itu berbicara tidak ada harapan itu.
"Jika aku mengharapkan kamu kembali padaku, apa kamu akan mu Ky?. Tapi aku tidak ingin memaksakan perasaan ini lagi, aku tidak ingin menyakiti perasaanku, perasaanmu dan perasaannya. Yang aku perlu lakukan adalah menjaga perasaan ini, bukan"ucap Bella dalam hati.
"Tapi aku tahu, tatapan Nia yang diberikan padamu, bukanlah tatapan benci Ky. Perjuangkan dia, aku tahu dia juga mencintaimu"ucap Bella berat mengucapkan kalimat terakhir itu.
"Dan aku juga sangat mencintaimu Ky"ucap Bella dalam hati, sedih.
Bella meyakinkan Rifky dengan segala yang dia mampu. Laki-laki itu sangat mencintai Zania. Itu yang sangat Bella tahu. Tanpa mereka sadari Zania yang sedang menemani Riri berbelanja di mall itu melihat interaksi yang terjadi antara Bella dan Rifky tak lupa, Zania melihat seorang anak laki-laki yang berlari kearah Bella dan Rifky dengan bahagiannya.
__ADS_1
"Itu Bella bukan?. dan itu anak mereka?. Dia sudah tumbuh besar ya"ucap Zania dengan tidak berhenti menatap mereka yang menurut Zania seperti keluarga bahagia.
Riri yang melihat Zania menatap Rifky dan Bella pun merasa iba. Dia pun mencoba menghibur sahabatnya itu.
"Mereka sedang berlibur disini Ni. Kamu ingin menyapa mereka"tawar Riri yang dibalas gelengan kepala oleh Zania.
"Kita jangan mengganggu mereka Ri. Kita lanjutkan belanja saja ya, ayo"ucap Zania yang langsung berjalan duluan.
Riri menatap Rifky dan Bella. Setelah itu menatap Zania yang sudah berjalan duluan didepannya.
"Kenapa kamu mempersulit dirimu sendiri sih Ni."ucap Riri yang langsung menyusul Zania.
"Tunggu Ni, cepet amad jalannya"teriak Riri yang langsung menghampiri Zania.
Bella pun melihat kearah suara itu dan menatap punggung dua wanita yang saling bercanda itu.
"Mereka seperti tidak asing"ucap Bella dalam hati.
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^Next on^^^
__ADS_1