
Setelah dipaksa oleh Jesicca untuk keluar bersama, mereka pun akhirnya jalan berdua. Marcell mengendarai mobil itu sendiri tanpa sopir dan Zania duduk disampingnya. Tidak ada pembicaraan disana, hanya diam. Karena diantara mereka berdua tidak satu pun yang memulai perbincangan setelah keluar dari mansion. Hingga mereka sampai di sebuah mall dimana teater, tempat tiket bioskop yang telah dibeli oleh Jesicca. Padahal jam tayangnya masih sekitar jam 11.00 siang. Tapi mereka berdua sudah sampai disana sekitar jam 8.30 dan Mall itu baru saja buka. Lucu bukan. Akhirnya Zania membuka suaranya.
"Apa kita gak terlalu pagi datang kesini, bukannya ditiket itu tertera jam 11.00 siang"tanya Zania ketika Marcell akan turun dari mobil. Marcell menghela napasnya kasar sebelum menjawab perkataan dari Zania.
"Terus, kamu mau kita pulang. Kalau kamu mau pulang, pulang saja sana. Aku ada pertemuan dengan klienku disini"jawab Marcell masih dengan sikapnya yang kasar dan ketus dengan Zania. Zania yang mendengar hal itu pun ikut merasa kesal.
"Dengan pakaianmu yang seperti itu?. Kamu yakin akan bertemu dengan klienmu. Oh...begitu ternyata seorang Marcell Aarav"ucap Zania tak kalah sinisnya dengan Marcell yang langsung tersenyum sinis ke Zania.
"Kamu kira saya bodoh, saya sudah membawa baju ganti. Haish...buat apa saya menjelaskan hal itu kepadamu"ucap Marcell yang langsung turun dari mobilnya dan kemudian membuka pintu belakang untuk mengambil paper bag. Zania pun ikut turun.
"Terus aku bagaimana jika kamu bertemu dengan klien kamu. Haih....buat apa tadi aku ikutin keinginan Jesicca Tuhan. Aku pulang saja kalau begitu"ucap Zania yang langsung dipandang dari atas sampai bawah oleh Marcell.
"Kamu akan pulang, serius. Tanpa uang, kamu tidak membawa apapun saat masuk kedalam mobilku tadi"ucap Marcell tersenyum mengejek kearah Zania. Zania yang baru sadar akan kecerobohannya itu mengutuk dirinya sendiri.
"Bagaimana aku bisa melupakan tas dan handphoneku. Mereka semua ada dimeja makan pula. Terus aku pulangnya gimana dong. Dasar Zania bodoh"ucap Zania didalam hati.
#Sedangkan di mansion Martin ...
Jesicca yang akan menuju ke mansion Ayah Martin terkejut melihat tas dan handphone Zania yang tertinggal.
"Astaga Nia, dia melupakan barang bawaannya. Biarkan saja deh, pasti disana ada perdebatan seru antara mereka berdua"ucap Jesicca tertawa kecil jika mengingat prilaku kedua orang itu.
#Kembali diposisi Zania dan Marcell...
"Kamu serius akan pulang, bukan?. Pulanglah kalau begitu"ucap Marcell dengan gampangnya berbicara.
Karena merasa kesal dengan ucapan Marcell, Zania pun dengan niatan pulang dengan jalan kaki.
"Kamu akan pulang ke rumah hanya dengan mengandalkan kakimu itu. Memang kamu mengingat jalan disini. Kamu saja baru keluar rumah kali ini bukan"ucap Marcell lagi yang menghentikan langkah Zania. Zania pun menoleh kearah Marcell dengan tatapan sengit.
"Kenapa?. Kamu kira aku anak kecil yang bakal tersesat. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, aku bisa menjaga diriku sendiri"ucap Zania yang sebenarnya merasa kesal dengan Marcell.
"Khawatir?. Serius kamu berkata seperti itu kepadaku"ucap Marcell mengejek Zania yang semakin kesal dibuatnya.
__ADS_1
"Oh iya maaf, mana mungkin tuan Marcell Aarav mengkhawatirkan musuhnya. Pasti bakal senang jika musuhnya terluka bukan. Kalau begitu saya permisi"ucap Zania yang langsung ditarik tangannya oleh Marcell hingga Zania berdekatan dengan Marcell tanpa adanya jarak diantara mereka. Marcell menatap tajam Zania yang juga dibalas tatapan tajam oleh Marcell.
"Ikut denganku"ucap Marcell menarik paksa Zania untuk mengikutinya.
"Lepasin!. Buat apa aku mengikutimu, lepas..."ucap Zania mencoba melepaskan tangan Marcell darinya. Marcell malah semakin mengeratkan genggaman tangannya itu.
"Meskipun kamu musuh saya, saya tidak akan sekejam itu dan membiarkanmu jadi gelandangan diluar sana. Seharusnya kamu bersyukur, karena saya masih berbuat baik kepadamu"ucap Marcell menatap tajam Zania.
"Aku tidak memerlukan kebaikanmu itu"ucap Zania membuat rahang Marcell mengeras setelahnya.
"Keras kepala!"ucap Marcell yang malah semakin membuat Zania merasa kesal dan berusaha melepaskan genggaman Marcell.
"Kamu yang keras kepala bukan aku"ucap Zania membela dirinya. Marcell pun menghentikan langkahnya itu dan membuat Zania terkejut hingga membentur punggung Marcell. Orang-orang yang berlalu lalang disana melihat pertengkaran keduanya. dan orang-orang disana menganggap itu hanyalah pertengkaran antara pasangan suami isteri.
Marcell pun langsung melanjutkan perjalanannya itu dan tetap menggenggam erat tangan Zania. Dan tanpa sadar dia membawa Zania masuk kedalam toilet pria. Zania pun merasa terkejut sedangkan Marcell belum sadar dengan apa yang dia lakukan. Untung toilet itu masih kosong.
"Apa yang kamu lakukan, lepaskan. Ini toilet pria bodoh"kesal Zania. Marcell merasa kesal karena Zania memakinya dan dia baru sadar jika dia telah membawa Zania kedalam toilet pria.
Marcell menghela napasnya kasar.
"Apa yang salah dengan pakaianku, pakianku normal paham. Yang gak normal itu kamu, yang gak pernah lihat wanita berpakaian seperti ini"kesal Zania yang langsung meninggalkan Marcell didalam.
Marcell selesai mengganti pakainya dan melihat Zania yang berdiri sedikit jauh dari toilet itu. Marcell pun menghampiri Zania yang berdiam diri disana.
"Ayo"ucap Marcell ke Zania yang sontak melihat kearah Marcell. Marcell pun langsung berjalan mendahului Zania dan sebelumnya memberikan paper bag yang dia pegang ke Zania.
"Dia kira, aku asistennya apa"kesal Zania yang mengikuti Marcell dibelakang.
***
Setelah acara pertemuan dengan klien selesai sekitar 1 jam lebih pembahasan, Zania tidak hentinya menggerutu karena sedari tadi Zania disuruh-suruh sama Marcell. Sudah berada seperti asisten pokoknyalah.
Setelah klien itu pergi beberapa menit yang lalu, Zania pun dengan entengnya melempar paper bag itu kearah Marcell. Marcell hanya menghela napasnya kasar akan perbuatan Zania itu.
__ADS_1
"Ayo ke gedung teater, filmnya sebentar lagi dimulaikan"ucap Marcell, entah kenapa dia merasa bersalah dengan Zania. Dan dia merasa aneh dengan sikapnya saat ini.
Zania yang masih merasa kesal dengan Marcell mengabaikan apa yang diucapkan laki-laki itu.
"Aku sudah gak ada minat buat nonton, lebih baik pulang saja!!"gerutu Zania tanpa melihat kearah Marcell. Marcell pun menjadi sangat kesal dengan Zania dan dengan kasarnya menarik Zania.
"Apa-apaan sih, lepas gak"kesal Zania karena selalu diperlakukan seperti ini oleh Marcell. Main tarik-tarik saja.
Zania masih mencoba melepaskan genggaman dari Marcell yang ternyata membawanya ke gedung teater dan sekarang memberikan tiket ke petugas disana. Petugas disana pun tidak hentinya melihat tarik menarik antara Marcel dan Zania.
"Isteri saya lagi marah, mohon maklumi "ucap Marcell ke petugas itu yang malah tersenyum sedangkan Zania merasa kesal akan ucapan dari Marcell. Marcell pun langsung membawa Zania masuk kedalam dan mencari tempat duduk mereka yang ternyata dipilih oleh Jesicca dibagian pojok belakang. Parah bukan.
"Duduk"perintah Marcell yang langsung dituruti oleh Zania yang langsung duduk dibagian ujung dan Marcell disamping Zania.
"Kamu harusnya bersyukur saya..."ucap Marcell yang langsung dipotong oleh Zania.
"Cu..kup, kamu bisa gak sih, gak bilang seperti itu terus. Kalau gak ada niatan buat nonton, lebih baik pulang kan"ucap Zania merasa kesal akan sikap laki-laki menyebalkan yang ada disampingnya itu.
"Dasar gak bersyukur"ucap Marcell yang semakin membuat Zania kesal. Zania pun berdiri dan akan pergi dari sana tapi Marcell langsung menariknya hingga tanpa sengaja Zania terjatuh dan duduk dipangkuan Marcell. Mereka berdua sama-sama terkejut akan hal tersebut. Zania yang tersadar pun berusaha bangkit namun tertahan dengan Marcell yang menahannya. Dan tiba-tiba wajah Marcell semakin mendekat kearah Zania hingga lampu ruangan bioskop itu meredup dan suara film diputar keras.
.
.
.
.
.
Next on...
*Hayo Marcell mau berlayar kemana tuh...
__ADS_1
Ingat Zania ada hati yang harus kamu jaga.
🤭Tunggu chapter selanjutnya ya gangs...