
"Happy birthday om"ucap Devan menyapa Mario yang dibalas senyuman oleh Mario dan setelah itu beralih kearah wanita yang digandeng oleh Devan sedari tadi.
"Selamat ulang tahun ayah"ucap wanita itu yang langsung memeluk Mario.
"Terima kasih sayang"jawab Mario sambil membalas pelukan dari wanita yang digandeng Devan yang tidak lain adalah Zania.
"Ayah senang kamu telah kembali, nak. Kamu sehatkan?"tanya Mario melepaskan pelukannya itu dan menatap Zania sayang. Zania pun membalasnya dengan anggukan jika dia baik-baik saja.
"Nia baik-baik saja yah. Terima kasih ayah mengkhawatirkan Nia."jawab Zania yang ditatap Mario dengan sayang.
"Ayah tahu kamu pasti baik-baik saja. Karena mereka menyayangimu nak"ucap Mario yang dibalas senyuman oleh Zania.
Laki-laki yang sedari tadi berada disamping Mario itu pun menatap Zania dan Devan yang kembali bergandengan itu. Tidak adanya pembicaraan diantara mereka hanya Mario dan Zania yang saling berbincang sebentar disana.
"Kalian akan menikah?"tanya Mario sontak membuat laki-laki yang sedari tadi berada disamping Mario hanya menatap sendu Zania dan hal itu menjadi perhatian dari seorang wanita yang sedari tadi mengamatinya tidak jauh diantara mereka.
Devan pun langsung menjawabnya dan semakin membuat laki-laki yang tidak lain adalah Rifky itu hanya meringis, mencoba tersenyum kepada dua pasangan yang ada didepannya itu.
"Segara om. Doain saja, semoga Nia mau menerima Devan secepatnya. Lagi proses pengejaran"ucap Devan dengan wajah yang sangat-sangat bahagia sambil menatap Zania yang juga menatap Devan sambil tersenyum.
"Jangan dipaksa tapi anaknya om ya. Dan Devan harus sabar menunggu, jika Nia belum menjawabnya. Takutnya Nia ada banyak pilihan"goda Mario yang ditatap Devan dengan mengerutkan dahinya.
Mario pun tertawa melihat ekspresi dari Devan itu.
"Astaga anak ini serius sekali. Kamu takut, Nia berpaling ke laki-laki lain"goda Mario lagi.
"Astaga om, doanya yang baik-baik"ucap Devan yang mengandeng Zania posisif. Zania hanya menggelengkan kepalanya jengah itu
"Ayah jangan seperti itu deh, lihat nih. Makin kenceng gandeng Nia kan, si Devan. Kayak Nia mau hilang saja coba"adu Zania yang malah jadi bahan tawa disana.
Mario yang melihat dua pasangan yang ada didepanya itu pun hanya bisa memaklumin keadaan. Setelahnya dia melirik sekilas anak laki-lakinya yang sedari tadi berada disampingnya itu. Rifky hanya diam tanpa ada sepatah kata pun keluar untuk menyela atau pun menyapa pun, Rifky tidak berucap.
"Kakek"panggil anak laki-laki yang tiba-tiba berlari kearah Mario dan Rifky dan disusul oleh seorang wanita yang ada dibelakangnya dengan senyum canggung ketika bertatapan muka dengan Zania dan Devan.
"Azka, jangan lari-lari nanti jatuh"ucap Mario yang langsung menggendong cucunya itu.
Azka yang digendong oleh Mario menatap Zania dan Devan bergantian.
"Tante yang waktu itu marah-marah sama ayahkan?"ucap Azka yang membuat mereka yang ada disana terdiam.
Rifky tidak menyangka jika Azka mengingat pertemuan tidak sengajanya dengan Zania saat itu di mall. Zania yang mendengarkan celotehan Azka hanya tersenyum manis dan Mario menatap Zania dengan beribu tanda tanya.
"Azka kok bilang begitu ke Tante Zania"ucap Mario yang menggendong Azka.
__ADS_1
"Soalnya waktu itu ayah jadi lesu setelah bertemu sama Tante ini. Setelah Tante itu pergi ayah gak semangat. Pasti Tante ini marahain ayah"ucap Azka menatap tidak suka kearah Zania yang malah membuat Mario gemas sendiri.
Zania yang mendengar celotehan dari Azka pun malah tersenyum dan mendekat kearah Azka.
"Apa mukaku seperti orang jahat?. Sampai-sampai Azka bilang kalau Tante marah-marahin ayah kamu"ucap Zania mendekat dan membuat pipi Azka memerah dan menyembunyikan wajahnya dipelukkan kakeknya itu.
Zania yang melihat itu merasa gemas sendiri. Rifky yang melihat anaknya tersipu malu pertama kali karena orang lain pun menatap Zania. Karena yang Rifky tahu Azka itu, orang yang susah untuk akrab dengan orang lain dan bukan orang yang pemalu. Tapi setelah ditatap oleh Zania di malu sendiri. Padahal tadi dengan lantang dia menatap Zania dengan tidak suka.
"Hai...kenapa malah bersembunyi seperti itu. Apakah wajahku menyeramkan"goda Zania lagi yang malah membuat orang-orang disana menahan tawa.
"Sudah sayang, jangan godain Azka terus. Kasian kan, malu dia ditatap kamu begitu"ucap Devan yang langsung ditatap oleh Rifky tidak suka. Karena Devan menarik Zania menjauh dari Azka yang masih menyembunyikan wajahnya dipelukan Mario kakeknya.
"Soalnya dia bilang, aku marah-marahin ayahnya. Padahalkan aku gak pernah marah"rajuk Zania yang dibuat-buat yang malah membuat gemas Devan dengan mencubit gemas kedua pipi kekasihnya itu. Hal itu pun tidak hilang dari tatapan orang-orang yang ada disana.
"Ish...Dev"kesal Zania yang hanya dibalasin cengiran dari Devan. Azka yang melihat hal itu pun minta diturunkan oleh Mario dan hal yang membuat orang-orang disana terkejut adalah. Azka menarik Zania menjauh dari Devan.
"Tante ini milik aku, paman"ucap Azka menatap tidak suka Devan yang malah tersenyum canggung.
***
"Anak sama ayah, sama saja saja ya. Suka wanita yang sama"goda Devan yang sekarang dia, Rifky, Bella, Riri, Gladis, Revan dan Kevin sedang menatap kearah Zania yang dikuasai oleh Azka dengan mengajak Zania berkeliling mengelilingi rumah itu.
"Tapikan ayahnya kalah star dari lu, kak Dev"goda Riri sambil melirik kearah Rifky yang menghela nafas kasar itu. Sedangkan Bella hanya terdiam disana, tidak banyak bicara.
"Sayang"ucap Kevin yang diabaikan oleh Riri.
Bella yang mendengar itu hanya menyunggingkan senyumnya.
"Apa yang perlu aku cemburukan?"tanya Bella yang ditatap sinis Riri.
"Serius gak cemburu. Rifky saja masih mengharapkan..."ucap Riri yang langsung disenggol oleh suaminya itu dan mengode ekspresi tidak suka dari Devan dan Rifky.
"Sudahlah, aku mau cari Nia saja. Mending gabung sama Nia dan Azka. mumpung si kecil gak ikut"ucap Riri yang langsung bangkit dari duduknya dan pergi. Kevin bernafas lega akhirnya.
#Disisi Zania dan Azka kecil berada...
"Sekarang kamu menjadi babysister bagi anak-anak temanmu ya"ucap seseorang yang mendekat kearah Zania yang sedang berada ditaman belakang bersama Azka yang berlari-lari tidak jauh dari Zania. Ternyata orang itu adalah Marcell.
"Marcell"ucap Zania dan Marcell pun langsung duduk disamping Zania sambil mengamati Azka yang ternyata memetik bunga ditaman itu.
"Anak Rifky bukan?. Persisi seperti ayahnya"ucap Marcell lagi. Zania pun menatap kearah Azka yang berlari kearahnya dengan tatapan tidak suka kearah Marcell.
"Iya, dia anak Rifky dan Bella"jawab Zania menatap sendu dan hal itu tidak hilang dari tatapan Marcell yang menatap Zania iba.
__ADS_1
"Dia memang membuatku jatuh cinta dan tidak ingin melihatnya memikirkan laki-laki lain. Kenapa aku tidak bisa membuatmu hilang dari fikiranku setiap hari, Nia."ucap Marcell dalam hati
"Lihat saja, tatapannya seperti ayahnya"ucap Marcell lagi yang terganggu karena tatapan tak suka yang diberikan oleh Azka yang sudah ada dihadapan mereka saat ini.
"Azka bawa apa ini?"tanya Zania mengalihkan Azka yang menatap tidak suka Marcell.
Azka tidak menjawab pertanyaan dari Zania karena dia masih fokus menatap tidak suka Marcell yang duduk disamping Zania. Azka pun langsung nyelip ditengah-tengah mereka. Zania yang menyadari hal itu menahan tawanya. Padahal awal ketemu tadi Azka cetus kepadanya. Hanya karena senyuman dan digoda Zania sedikit. Azka malah luluh begini.
"Tante Nia, bunga ini khusus Azka petik untuk Tante"ucap Azka yang kembali fokus ke Zania dan mengabaikan adanya Marcell diantara mereka. Azka yang seperti itu pun malah membuat Zania gemes sendiri dan Marcell yang melihat Zania tersenyum manis kearah Azka pun tersipu sendiri.
"Kamu cantik kalau tersenyum seperti itu Nia. Sungguh"ucap Marcell dalam hati.
"Terima kasih ya Azka. Berarti Tante Nia bukan orang jahat kan?"goda Zania lagi yang dibalas gelengan cepat oleh Azka yang tiba-tiba menunjuk kearah Marcell.
"Paman ini orang jahat, kalau Tante adalah sosok angle yang baru Azka temukan setelah mama. Paman!. Jangan berani-berani merebut Tante Nia dariku. Lebih baik paman pergi sana!. Dan!. Jangan menatap calon isteri Azka dengan mendamba seperti itu!"ucap Azka ketus dan membuat Zania mengacak gemas rambut Azka.
"Astaga!. Calon isteri. Kami masih bocoh, bisa-bisanya mengklaim secepat itu"ucap Marcell yang tidak suka.
"Tante mau menunggu Azka besar kan?"tanya Azka yang membuat Zania bingung sendiri dan menatap Marcell yang malah menatap kesal.
"Hai hai son. Bukankah kamu baru kenal denganya, kenapa bertindak seperti ini"ucap Marcell menggoda anak kecil yang berani mengambil start duluan itu.
Azka tidak menjawab perkataan dari Marcell dan mengabaikannya. Hal itu jadi kesenangan tersendiri untuk Zania.
"Mengalahkan sama anak kecil"ucap Zania yang mendapatkan dengusan kesal dari Azka yang sikapnya hampir sama dengan Marcell yaitu pemaksa. Padahal dia anaknya RifkyðŸ¤
Dilain sisi ketika Riri ingin mencari Zania dan Azka. Ternyata Rifky mengikutinya. Mereka pun melihat Azka dan Zania sedang duduk dikursi taman belakang rumah itu dan ada seseorang laki-laki juga disana yang tidak lain adalah Marcell.
"Devan kalau lihat ini, jadi perang dunia kali ya"ucap Riri bicara sendiri yang terkejut akan adanya Rifky disampingnya.
"Astaga"ucap Riri terkejut.
"Bukan perang dunia lagi ini, perang alam semesta"ucap Riri dalam hati yang menatap Rifky yang matanya menyorot tajam kearah tiga orang yang sedang duduk berebutan itu.
.
.
.
.
.
__ADS_1
NEXT ON