
Setelah ikut makan malam dirumah Zania. Devan pun pamit untuk pulang. Zania pun mengantarkan Devan kedepan.
"Kak Revan itu kenapa sih, nyebelin tahu gak"kesal Zania yang sudah ada dihalaman depan rumahnya bersama Devan.
"Sudah deh sayang. Sekali saja kalian akur kenapa sih. Kalau lagi jauh saja kangen, tapu kalau sudah deket gini kayak musuh bebuyutan tahu gak. Mainnya balas dendam- balas dendam"ucap Devan menggenggam tangan Zania erat.
"Kan aku gak jailin dia Dev, tapi memang kak Revan itu jorok. Untung saja Gladis seorang gadis muda cantik kayak dia mau menerima kak Revan yang jorok minta ampun itu"kesal Zania lagi yang malah rambutnya diacak-acak oleh Devan karena gemas dengan kekasihnya ini.
"Tapi Revan meskipun begitu, dia laki-laki paling dicari untuk dipacari bukan"ucap Devan yang malah membuat Zania cemberut dibuatnya.
"Terus saja bela kak Revan. Mentang-mentang dia teman karib kamu"kesal Zania melepaskan genggaman tangan itu dan membuat Devan menariknya dan memeluk Zania erat.
"Tahu gak, kamu kalau marah gini, semakin membuat aku cinta. Aku suka dengan sifat kamu yang seperti ini sayang"ucap Devan mengecup kening Zania yang memejamkan matanya sejenak itu.
"Jangan marah lagi ya. Aku itu gak membela Revan sayang. Mana bisa aku membela dia yang jail sama kekasihku"ucap Devan menenangkan Zania yang sedikit luluh itu.
"Iya bener, gitu dong"ucap Zania tersenyum setelahnya.
"Kalau begitu aku pulang ya. Setelah itu kamu isterahat jangan begadang"ucap Devan mengelus puncak kepala Zania lembut. Zania tersenyum akan prilaku Devan kepadanya yang sangatlah baik dan lembut itu. Memang itulah Devan lelaki yang dikenal Zania selama ini. Kekasih pertama Zania dan tidak ada kata putus saat itu hanya saja pernikahan yang menyebabkan mereka berpisah.
"Kamu juga, habis itu isterahat. Aku tahu kamu lelah setelah bekerja seharian. Aku gak mau kamu sakit Dev"ucap Zania lembut kearah Devan.
"Iya sayang. Oh iya, kamu hadir ke acara ulang tahun om Mario bersama ku ya"ajak Devan membuat Zania terkejut setelahnya.
"Kamu akan datangkan?"tanya Devan lagi yang langsung dibalas anggukan kepala oleh Zania.
"Baguslah kalau begitu, besok aku akan menjemputmu sayang"ucap Devan langsung mengecup kening Zania.
"Aku pulang kalau begitu"ucap Devan lagi yang masuk kedalam mobilnya dan Zania berusaha tersenyum setelahnya. Hingga mobil itu berlalu.
*Aku merasa ada yang salah dengan semua ini...
__ADS_1
#Flashback on...
#Beberapa bulan lalu...
"Dev...bisakah kamu meyakinkanku untuk mempercayaimu lagi"ucap Zania ketika mereka bertemu di cafe dekat rumah sakit tempat bekerja.
Devan tidak percaya akan apa yang didengarnya saat ini. Wanita yang dicintainya ini memberikannya kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka. Devan pun tanpa sadar memeluk erat Zania tanpa mempedulikan keberadaan mereka.
"Dev...lepasin. Dilihatin orang-orang"kesal Zania yang malah dibalas senyuman dari Devan.
"Aku mencintaimu Nia. Terima kasih untuk kesempatan yang telah kamu berikan padaku. Terima kasih"ucap Devan memegang tangan Zania erat dan mengecupnya sekilas.
Zania menatap Devan dan mengelus wajah Devan pelan.
"Yakinkan aku, jika keputusanku benar Dev...If I don't choose you wrong again, be my life partner"ucap Zania yang dibalas anggukan oleh Devan.
"Aku akan menjagamu dan meyakinkanmu Ni, jika keputusanmu itu tidaklah salah"ucap Devan berbinar bahagia.
#Disisi Rifky berada...
#Rifky Pov'
Setelah kepulanganku dari rumah Zania. Hatiku sangat sakit. Apalagi melihatnya bersama laki-laki lain dan dalam keadaan dia sangat bahagia disana.
Apa tidak ada kesempatan untukku bersamamu. Aku telah melakukan segala hal yang aku bisa untuk mempertahankan dirinya sisiku. Tapi kenapa dia pergi meninggalkanku sendiri dengan sepi.
Aku merenung, entah kenapa ini lebih sakit dari pada saat melihatnya bersama Marcell. Tiba-tiba ruanganku terbuka. Ternyata Riri yang masuk kesana karena saat ini aku berada dirumah ayahku, Mario.
Riri menghampiriku dan memandangku. Aku tidak tahu arti pandangannya itu dan tidak ingin mengartikannya juga. Dia adalah sepupu yang tahu segala sakit yang aku rasa dan dia juga adalah sahabat dari orang yang aku cinta.
"Azka mencarimu dari tadi dibawah. Kenapa kamu betah sekali diruangan pengap ini sih, Ky"ucap Riri yang aku tahu dia ingin menghiburku.
__ADS_1
Aku menatapnya dan dia juga menatapku. Sendu...tatapan itu yang aku lihat darinya dan prihatin yang aku rasakan darinya.
"Kamu tahu sendiri Bella kembali ke Amerika dan kamu malah meninggalkan anakmu yang dititipkan Bella padamu disini sendiri. Walaupun Azka mudah bersosialisasi dengan yang lain. Tetap saja dia ingin melihat ayahnya disisinya"ucap Riri lagi yang sudah duduk disalah satu sofa yang ada diruangan ku sambil menatapku jengah.
"Kamu Ky. Kesedihanmu itu tidak ada seberapanya dengan apa yang telah dialami oleh dia. Jadi biarkan dia bahagia sekali ini saja Ky. Kalau dia memang jodoh kamu, pasti dia akan kembali dengan sendirinya. Tapi jika tidak biarkan dia bahagia dengan orang yang dia pilih."ucap Riri meyakinkanku lagi.
"Apakah aku harus mengalah untuk saat ini dan membuat hatiku merasa sakit"ucapku setelahnya dan membuat Riri menghela napasnya kasar.
"Kamu tahu Ky. Saat ini yang merasakan sakit bukan hanya kamu saja tapi Nia juga merasakannya."ucap Riri membuang kasar napasnya itu.
"Zania itu memang wanita bodoh. Selalu berkorban untuk orang-orang sekitarnya dan tidak mementingkan perasaannya sendiri. Tapi aku bersyukur ada seorang laki-laki yang ada disampingnya dan selalu membuatnya bahagia dan aku harap bisa membuatnya melupakanmu."ucap Riri tersenyum kecut.
"Kenapa aku sampai bilang begitu Ky. Kamu tahu saat kita bertemu di mall. Zania melihat kalian bertiga bersama dengan senyuman yang terpancar bahagia. Kamu tahu perasaan Zania saat itu?. Dia menahan cemburu. Dia menatap Azka sedih, dia merindukan keluarga. Keluarga yang bahagia dimana ada suami, istri dan seorang anak. Tapi apa?. Anak saja dia harus berpisah sebelum melihatnya dan suami. Hhhhh, suami yang berselingkuh"ucap Riri datar dan membuatku terdiam tidak bisa berkata-kata lagi.
"Dia mengidamkan keluarga yang harmonis, tapi pernikahan yang dia alami saat itu adalah mala bencana untuknya. Pengalaman pertama dan ingin dia jadikan sebagai pengalaman terakhir pun kandas. Nia merasa gagal, kamu tahu. Jadi kamu jangan egois dengan perasaanmu itu. Biarkanlah Nia bahagai dengan pilihannya. Jika dia memilihmu pasti dia akan kembali padamu"ucap Riri yang langsung meninggalkanku diruang ini sendiri dengan mataku yang sudah terasa panas disana.
"Apa aku harus mundur untuk saat ini"ucapku menatap kosong ruangan ini.
#Rifky Pov' end...
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^Next on^^^
__ADS_1