Harus Memilih 2

Harus Memilih 2
Aku Akan Melepaskanmu


__ADS_3

*Suara itu terdengar lagi. Jeritan, tangisan, kesakitan, sangat terdengar jelas disana. Ingin kugapai dan kurengkuh, namun dia menjauh dan menatap sengit kepadaku.


Aku merasa telah membuatnya semakin menjauh. Padahal yang sebenarnya aku inginkan adalah aku semakin berada didekatnya dan bersamanya.


"Nonton apa Ni?"tanya Jesicca yang tiba-tiba muncul di hadapan Zania yang sekarang sedang berada di kamar.


"Ini lagi lihat drama Aku akan melepasmu. Bagus ceritanya, tokoh perempuannya kuat banget karakternya apalagi banyak syair disini"ucap Zania dengan semangat memberitahukan hal itu ke Jesicca yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


"Kamu menyukai hal seperti itu?. Bukankah ini terlalu clasicc"tanya Jesicca bingung, karena dia tidak menyukai hal yang berbau teater atau drama musikal dan sejenisnya. Karena menurutnya hal itu sangatlah membosankan.


"Kalau di bilang suka banget sih nggak, cuma aku gak ada aktivitas lagi, jadi buat nonton drama gini saja sih"ucap Zania tersenyum ke Jesicca.


"Dari pada kamu nonton online, gimana kalau kamu lihat teater langsung atau ke bioskop gitu"ucap Jesicca memberikan ide. Zania pun terdiam mendengarkan apa yang diucapkan. Karena dia berfikir dia tidak bakal bisa keluar dari tempat ini tanpa izin seorang Marcell.


"Aku gak kepikiran sampai situ, karena Marcell pasti mempersulit semuanya"ucap Zania langsung ke inti pembicaraan. Jesicca pun mencoba berfikir dan tiba-tiba pamit keluar meninggalkan Zania yang dilanda kebingungan.


"Main kabur saja sih tuh anak"ucap Zania menghela napasnya kasar.


***


Setelah keluar dari kamar Zania, Jesicca pun mencari kakaknya di ruang kerja. Jesicca melihat Marcell yang masih sama jika dia keruangan kakaknya itu, yaitu sibuk dengan berkas-berkas yang tidak pernah berkurang sedikit pun. Padahal ini bukan waktunya bekerja dan lebih parahnya lagi, dia kan bosnya.


Jesicca menghela napasnya kasar sebelum menghampiri kakaknya itu.


"Bisa gak sih, kakak jika pulang ke rumah itu isterahat, bukanya kerja. Gak di kantor, gak dirumah kerja terus. Kak Marcell itu kan bosnya kenapa malah ribet gini"gerutu Jesicca yang diabaikan oleh Marcell.


"Tuh kan aku kayak ngomong sama tembok tahu gak. Pasti diabaikan terus, kalau begitu aku balik ke Indonesia saja deh, aku juga sudah sehat. Aku disini gak dianggap soalnya"ucap Jesicca memancing Marcell yang langsung menatap tajam adiknya itu.


"Kakak tidak akan membiarkan kamu pergi dari rumah ini begitu saja. Kakak melakukan semua ini karena khawatir sama kamu Jes"ucap Marcell yang langsung tatapannya itu melembut. Jesicca pun tersenyum setelah melihat perubahan sikap kakaknya itu.


"Makanya kalau aku beri saran itu didengerin kak. Kakak gak mau Jesicca sakit dan terluka, hal itu juga berlaku untuk kak Marcell. Jesicca gak mau kakak sakit. Cukup kak Derren yang tidak berada disisi Jesicca saat ini, tapi kak Marcell jangan"ucap Jesicca dengan raut wajah bersedih karena dia mengingat perlakuannya yang menyebabkan kakak yang dia sayang berkorban untuknya. Dia sangat merindukan kakaknya itu, yaitu Derren.


Marcell pun langsung mendekat kearah Jesicca dan memeluk adiknya itu erat.

__ADS_1


"Maafkan kakak sayang"ucap Marcell mengelus lembut kepala adiknya itu.


"Aku pingin kakak mengambil libur. Apa kakak tidak bosen kerja terus, sekali-kali kakak mengambil libur, contohnya nonton teater atau jalan-jalan ke taman hiburan. Refreshing otak gitu loh kak"bujuk Jesicca yang membuat Marcell mengerutkan dahinya bingung dengan sikap adiknya itu.


"Kamu ingin jalan-jalan girls"ucap Marcell yang malah mendapatkan gelengan kepala dari Jesicca.


"Bukan aku kak, tapi yang butuh jalan-jalan itu kakak. Besok kakak harus libur kerja, aku akan mempersiapkan perjalanan kita besok, kalau begitu selamat malam kakak"ucap Jesicca mengecup singkat pipi Marcell lalu pergi meninggalkannya disana.


Keesokan harinya, Jesicca menemui Zania yang sedang berada di dapur membantu pekerja memasak disana.


"Kenapa kamu disini Ni, kamu sekarang siap-siap ya, kita bakalan nonton dan dandan yang cantik"ucap Jesicca yang membuat Zania bingung dibuatnya.


"Apa sudah mendapatkan izin dari Marcell"tanya Zania yang membuat Jesicca tersenyum jail setelahnya.


"Masalah itu beres deh, gak perlu khawatir, ya sudah sana siap-siap. Kita perlu refreshing otak bukan"ucap Jesicca yang mana tidak bisa di tolak oleh Zania yang memang merasa bosan berada di mansion itu setiap hari hampir sebulan lebih Zania hanya berdiam diri disini.


"Oke tunggu sebentar kalau begitu"ucap Zania yang langsung kembali ke kamarnya.


Ketika Zania sedang menuju ke kamar, Marcell dengan setelan jasnya siap-siap akan ke kantor langsung ditegur oleh Jesicca dengan tatapan dinginnya.


"Oke sayang, oke demi kamu kakak bolos kerja hari ini"ucap Marcell mengalah ke adiknya itu dan langsung menuju ke meja makan. Jesicca yang melihat itu merasa tidak suka.


"Kok malah duduk sih kak!"ucap Jesicca yang membuat bingung Marcell.


"Kakak mau sarapan sayang"ucap Marcell mencoba melembut keadiknya itu.


"Ganti baju dulu kak, Jesicca gak mau jalan sama kakak kalau pakai baju suram gitu"kesal Jesicca yang sebenarnya dalam hati dia merasa senang mengerjai kakaknya itu yang menurutnya menyebalkan, tapi Jesicca sebenarnya sayang sama Marcell kok.


"Iya deh, iya biar kamu seneng"ucap Marcell yang sebenarnya kesal namun dia menurut saja keinginan adiknya itu.


"Good boy"ucap Jesicca memberikan jempol ke Marcell yang bersiap menuju ke kamar untuk mengganti baju itu.


Setelah beberapa menit kemudian Zania turun dari kamarnya menuju ke ruang makan. Disana dia melihat Marcell dengan pakaian yang santai menggunakan jeans panjang dan kaos hitam dan jaket jeans yang tergeletak dibelakang kursi.

__ADS_1


Jesicca yang mengetahui kehadiran Zania yang sudah cantik dengan pakaian yang cantik menurut Jesicca yaitu menggunakan gaun bermotif bunga-bunga diatas lututu dengan belahan leher Sabrina, dengan rambut di Cepol asal tidak rapi.


"Beautiful"puji Jesicca yang membuat Marcell menoleh kearah yang disebut oleh adiknya itu. Marcell terkejut dengan penampilan Zania yang berbeda dari biasanya.


Zania pun langsung menuju kearah tempat duduk disamping Jesicca yang tersenyum kearahnya.


"Kalau begitu kita sarapan dulu ya. Kakak jangan lihatin Zania begitu dong, Jesicca merasa tidak nyaman"ucap Jesicca menahan tawanya itu. Seharusnya yang tidak nyaman kan Zania bukan dirinya. Marcell pun terdiam dan kembali fokus dengan makanan yang ada didepannya itu.


Setelah selesai makan mereka pun bersiap-siap akan pergi. Namun Jesicca tiba-tiba menjadi perhatian mereka.


"Kakak, Jesicca gak jadi ikut ya. Jesicca baru keingat kalau hari ini, Jesicca diminta sama ayah Martin buat menemani ayah di mansion"ucap Jesicca cepat dan membuat Marcell merasa kesal karena dikerjai oleh adiknya itu.


"Ya sudah kalau begitu, kakak ke kantor saja"ucap Marcell berbalik akan kembali kekamar dan dihentikan oleh Jesicca.


"Gak boleh. Kakak harus tetep liburan, kakak pergi sama Zania, titik. Aku sudah membelikan tiket nonton buat kalian, pokoknya hari ini jadwal kakak kosong dan jalan-jalan lah"ucap Jesicca menatap Marcell tak kalah tajam. Sedangkan Zania menghela napasnya berat.


"Lebih baik aku dirumah sajalah Jes"ucap Zania yang merasa malas jika harus pergi berdua dengan Marcell. Marcell yang mendengar hal itu langsung menatap Zania tajam.


"Jangan begitu dong Ni, pokoknya kamu harus tetap refresing"ucap Jesicca mencoba meyakinkan Zania.


"Cepat kak, ayo. Gak ada bantahan"ucap Jesicca memaksa Marcell keluar dari mansion dan Jesicca memberikan isyarat ke Zania untuk mengikuti Marcell dibelakang.


"Semangat, semoga dengan ini kak Marcell sadar akan perasaannya "ucap Jesicca tersenyum melihat kepasrahan kedua orang itu.


.


.


.


.


.

__ADS_1


NEXT ON


__ADS_2