
#Flashback on
Setelah pergi makan malam tadi malam bersama Zania. Tidak tahu kenapa, Marcell slau tersenyum jika mengingatnya. Teman-temannya merasa aneh dengan sikapnya saat ini. Hingga Jaxton menegur Marcell yang bertingkah konyol saat ini.
"Kenapa sih lu senyum-senyum gak jelas gitu, Cell. Jangan bilang ke kita orang kalau lu lagi jatuh cinta. Itu gak benar kan?"tanya Andre yang langsung mendapat pelototan dari Marcell dan Jaxton.
"Oke-oke, sorry. Aku cuma bercanda doang. Kalian serem banget sih kalau melotot kompak begitu. Aku lanjut main game sajalah"ucap Andre yang langsung melanjutkan game dihandphonenya itu dari pada mendapatkan pelototan tajam dari kedua temannya itu.
"Semalam kamu bertemu dengan perempuan itu kan?. Kamu tahu Cell, perempuan itu melihatku di basecame, saat aku memukul salah satu penghianat di kelompok kita. Perempuan itu bisa saja melapor ke guru seperti teman laki-lakinya itu. Jangan bilang kamu jadian sama dia?"tanya Jaxton memberondong pertanyaan ke Marcell yang tidak kalah terkejutnya.
"Akhirnya mereka tahu juga. Selamat Zania, kamu membuatku kesal"ucap Marcell dalam hati.
"Aku mau menemuinya semalam atau tidak. Itu hak aku bukan. Dia mainan aku dan harus menuruti perintahku. Jika dia mengetahui itu semua, kalian jangan khawatir, kita bukan orang pengecut yang takut dengan para dewan guru. Perempuan itu tidak akan berani melaporkan hal itu ke dewan guru!. Aku yakin akan hal itu"jawab Marcell yang kembali ke dunianya sendiri.
"Tapi jika dia tetap melapor. Jangan salahkan aku Marcell, jika mainan kamu akan berurusan denganku"ucap Jaxton serius yang diabaikan oleh Marcell yang memejamkan matanya itu.
***
Zania yang akan pulang, tiba-tiba dihentikan oleh kelompok Marcell. Zania melihat kearah mereka satu persatu dan tidak menunjukan Marcell di antara mereka. Hanya ada orang yang dia kenal juga, dia adalah laki-laki yang dia lihat saat menuju basecame tempat mereka berkumpul. Ketika laki-laki itu menghajar seseorang disana hingga babak belur tanpa belas kasih sedikitpun.
Zania pun mengabaikan mereka, namun sebuah ancaman tiba-tiba dia dengar.
"Kamu melihat saya melakukan sesuatu dibasecame bukan?. Jika kamu berani melakukan sesuatu akan hal itu, saya pastikan kamu akan berurusan dengan saya. Mungkin bukan hanya kamu saja, namun keluarga kamu juga"ucap Jaxton mengancam Zania.
Zania yang mendapatkan ancaman itu pun kaget dong.
"Hanya melihat dia memukul orang seperti itu. Dia mengancamku dan membawa-bawa keluargaku. Dia gak terlalu berlebihan bukan. Dan bagaimana dia bisa tahu. Jangan bilang laki-laki menyebalkan itu yang memberitahunya. Dasar crazy boy, sucks !!!"ucap Zania dalam hati.
"Kamu gak lagi salah bicarakan?. Saya tidak takut akan ancaman kamu"ucap Zania yang malah mendapatkan tawaan dari Jaxton.
__ADS_1
"Kamu kira saya main-main dan tidak bisa melakukan hal yang baru saja saya ucapkan. Andre berikan tablet kamu"ucap Jaxton.
Saat Andre akan memberikan tablet miliknya ke Jaxton, tiba-tiba Marcell datang dan mengambilnya. Tatapan Marcell sangat suram dengan sangat tajam dia menatap teman-temannya itu.
"Bukankan kalian sendiri sekarang, yang membuat dia tahu akan kita!. Hentikan tingkah pengecut kamu Jaxton, aku bisa mengurus masalah ini tanpa harus membuat dia mengetahui lebih detail tentang kita, paham!"ucap Marcell dingin. Jaxton yang mendengar hal itu pun mendengus kesal.
"Oke, kita pergi"ucap Jaxton yang langsung pergi meninggalkan Marcell. Jaxton tidak ingin membuat masalah dengan ribut bersama Marcell. Itu tidak akan menyelesaikan masalah melainkan suatu petaka.
Setelah kepergian Jaxton dkk. Marcell langsung menghadap kearah Zania dengan tatapan yang sangat dingin hingga membuat Zania merutuki diri sendiri.
"Kenapa aku tadi gak kabur saja, setelah dia datang sih"kesal Zania dalam hati.
"Selamat telah membuatku kesal Zania Dwi Pratnojoe"ucap Marcell dengan tatapan dingin yang tidak hilang-hilang itu.
#Flashback off
***
Aku melihat dari jendela tempatku bekerja. Zania keluar dari mansion ku dan membawa koper bersamanya. Tanganku sudah mengepal keras saat ini. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Tapi aku selalu bertanya dengan diriku sendiri sekali lagi.
Kenapa aku harus menahannya?. Bukankah dia telah membuat Jesicca pulih saat ini?.
Banyak sekali pertanyaan diotak ini. Hingga aku melihat dia sudah berada didepan gerbang. Sangat terlihat jelas meskipun itu sangat jauh.
Namun acara mengamati yang aku lakukan itu pun terhenti ketika Jesicca mengejutkanku.
"Dia pergi kak. Ini semua karena kak Marcell?. Andai semalam kakak tidak berkata kasar kepadanya. Nia gak bakalan pergi seperti ini. Kakak mengingatkanku akan kak Derren, kak Darren itu seperti kak Marcell. Kenapa sikap dan prilaku kalian bisa seperti ini sih. Kakak tahu apa yang terjadi sama kak Derren, dia menyesal telah menyakiti perempuan yang dia cintai kak. Dan Kak Marcell akan merasakan hal yang sama. Karena penyesalan itu diakhir kak, seperti aku saat ini. Aku menyesal menyakiti orang-orang baik seperti Zania. Kakak juga akan merasakannya. Kakak akan merasakan hal itu, jika kakak tidak mengakui perasaan kakak saat ini. Kakak terlalu gengsi untuk mengakuinya, aku tahu itu"ucap Jesicca yang langsung meninggalkanku yang tiba-tiba saja membeku akan ucapan dari adikku sendiri.
Tatapan dingin yang biasa terpancar di mataku itu pun memudar. Saat ini aku sedang berperang dengan pikiranku sendiri untuk menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan dari adikku itu.
__ADS_1
Apa benar jika gengsi mengakui perasaan itu?. Itu tidak mungkin kan?.
Deringan ponsel dari meja kerja pun membuyarkan lamunanku saat itu juga. Aku pun langsung menjawab telphone itu yang ternyata dari orang kepercayaan ku.
"Bagaimana?"tanyaku langsung.
"Mereka telah menangkapnya. Kita terlalu cepat melakukan rencana itu Marcell. Apa perlu aku menghapus jejak"ucap orang disebrang sana.
"Iya hapus, aku gak mau mereka mengetahui jika itu ulah kita"ucap Marcell.
"Baiklah. Bagaimana dengan perempuan itu, bukankah dia memilih kembali ke mansionmu. Akuilah jika kamu menyukainya sejak dulu"goda orang itu yang tidak lain adalah Andre teman sekolah Marcell dulu yang ternyata sekarang memilih bekerja dengan Marcell menjadi hacker.
"Diamlah, aku tutup"ucap Marcell malas menjawab ucapan dari sahabatnya itu.
"Wah, ngambek nih pak Marcell. Jangan pecat aku ya, aku sudah betah dengan pekerjaanku saat ini, aku gak mau balik untuk mengurus bisnis keluargaku yang menyebalkan"kesal Andre.
"Laki-laki bodoh. Lebih baik mengurus bisnis keluarganya itu dari pada bekerja denganku. Keluarga saja bisa menyikapi kebutuhannya hingga dia tua. Memang otak Andre itu dodol" fikir Marcell dalam hati, merutuki tingkah sahabatnya yang sudah tua namun masih suka main-main.
Padahal keluarga Andre itu adalah pengusaha di bidang IT, maka dari itu Andre ahli dalam segala hal dalam bidang ngehack atau lainnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Next on...
Tetap menunggu di hari Kamis ya gaes...