
#Revan Pov'
Aku saat ini sedang menemani adikku, Zania untuk melihat keadaan Devan, yang katanya mengalami kecelakaan dan sekarang belum sadar setelah peristiwa itu terjadi. Keadaan Devan pun dari sumber yang didapat mengkhawatirkan, karena mobil yang ditumpangi hancur dibagian depan karena beradu dengan mobil lainnya.
Zania yang saat ini duduk dikursi penumpang disampingku sangat cemas dan selalu melantukan doa untuk keselamatan Devan. Aku yang melihat keadaan adikku seperti ini merasa tersentuh. Kenapa?. Karena adikku telah menemukan orang yang benar-benar dia sayang. Dari ketakutan dan kecemasan ini, aku bisa tahu dia Zania, adikku yang dulu sangat mencintai Devan saat remaja. Zania yang dulu kembali.
Aku tersenyum simpul dan kembali melajukan mobilku menembus pagi buta ini menuju tempat Devan dirawat saat ini.
Hingga sampailah kami ditempat tujuan. Aku langsung menuju kebagian pendaftaran dan menanyakan ruangan dari Devan berada. Kami pun langsung menuju keruangan pasien setelah diberitahu. Tapi apa yang kami lihat, setelah sampai disana?. Ada perempuan lain disisi Devan dan juga orang tua Devan yang menunggu disana juga.
Aku melirik kearah Zania berada. Dia masih dalam posisinya saat ini yaitu berdiri tidak begitu jauh dariku. Aku pun ingin berjalan kearah adikku itu, tapi aku urungkan. Karena aku ingin menanyakan beberapa pertanyaan kepada om Bastian yang merupakan ayah dari Devan tentang keadaan Devan saat ini dan perempuan yang duduk disamping Devan.
"Bagaiman keadaan Devan om, Tante?"tanyaku langsung sambil tetap memperhatikan Zania yang masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Aku tahu dia merasa cemas saat ini.
"Dia belum tersadar sejak kecelakaan tadi Van. Om saja tahu ini, gara-gara perawat disini menelpon"jawab om Bastian yang kemudian menatap kearah Zania.
"Bagaimana bisa terjadi kecelakaan seperti ini om?"tanyaku lagi mengalihkan tatapan om Bastian kepadaku.
"Cedera kepala dan perlu dilakukan operasi. dan kemungkinan yang terjadi Devan akan mengalami lupa ingatan sementara. 30 menit lagi, dia masuk keruang Oka"jawab om Bastian yang hanya aku angguki kepala.
dan aku pun melihat kearah adikku berdiri, tapi dia ternyata keluar dengan tante Maria yang merupakan ibu dari Devan. Jadi saat ini yang berada didalam ruangan Devan adalah aku, om Bastian dan perempuan yang saat ini disisi Devan berada.
"dan jika boleh saya tahu, siapa perempuan itu om?"tanyaku sambil mengarahkan pandangan ke perempuan yang ada disamping Devan.
Om Bastian tampak ragu untuk menjelaskan itu semua. Tapi setelahnya dia menghela napas kasar sebelum menjawab.
"Dia Angelina Anatasya, cucu dari rekan bisnis kakenya Devan, orang tua om. Dan dia merupakan calon isteri Devan"ucap om Bastian mengejutkanku.
"Jadi, tolong bantu untuk membuat Nia dan Devan berpisah"ucap om Bastian lagi.
__ADS_1
Aku mencoba mencerna perkataan itu semua. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu?. Padahal Devan dan Zania akan bertunangan, karena mereka telah merencanakan semua ini dan mereka mengetahuinya.
Setelah perjuangan Devan selama ini untuk mendapatkan hati adikku kembali yang sudah tertutup itu. Bagaimana bisa kejadian seperti ini terulang kepada mereka?.
"Apa maksud om?. Om Bastian juga tahu, jika Devan dan Nia sudah merencanakan pertunangan mereka beberapa bulan lagi. Om pun menyetujuinya bukan?."tanyaku dengan nada dingin. Aku tidak menyukai perkataan yang baru saja keluar dari mulut om Bastian itu.
"Devan harus menikah dengan Angel, Van. Karena ini adalah perjodohan yang tidak bisa dibatalkan semudah itu"jawab om Bastian sambil mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan.
"Kakeknya Devan telah menjodohkan mereka dari kecil. Om tidak bisa menentang kakek Devan, kamu tahu sendiri bukan?. dan om fikir-fikir, Devan berhak mendapatkan seorang perempuan yang pantas bukan seorang wanita yang pernah mengalami kegagalan..."ucap om Bastian yang langsung membuatku naik darah.
Aku tidak menyangka, om Bastian akan berkata seperti itu, saat ini. Dan aku bersyukur, karena Zania tidak ada disini. Karena jika dia mendengar hal ini, sungguh aku tidak akan memaafkan mereka semua.
"Kegagalan!?. Tidak pantas!?. Om ingin mengatakan adik saya tidak pantas untuk Devan karena pernah mengalami pernikahan yang gagal!. Om sadar om. Om Bastian yang sebenarnya gagal menjadi seorang ayah!. Tanpa om minta, saya akan memisahkan mereka, camkan itu om. dan jangan berani-beraninya om berkata seperti itu didepan adik saya"ucapku dengan kesal langsung keluar dari ruangan itu dan tidak mempedulikan tatapan dari perempuan yang berada disamping Devan.
Om Bastian hanya menatapku dan aku pun keluar dari ruangan itu dan melihat adikku yang duduk bersama tante Maria yang menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Aku pun menarik paksa Zania dan membuat adikku itu terlonjak kaget akan perbuatanku.
"Kak"melas Zania yang tetap aku tarik paksa untuk pergi dari tempat ini yang sudah membuatku naik darah seketika.
"Aku ingin bertemu dengan Devan dulu kak, please"ucap Zania yang membuatku menghela napas kasar karena tidak bisa memaksa adikku yang terlihat menyedihkan saat ini.
"Kenapa harus selalu seperti ini sih, dek"ucapku dalam hati menatap sedih adikku yang malang itu.
*Ketika kebahagian itu datang dan kesedihan bersamaan.
Zania pun langsung masuk kedalam ruangan Devan dirawat dan aku masih berdiri disini dan menatap tante Maria yang juga menatapku sedih.
"Maafin tante nak. Tolong jangan salahkan Devan akan semua ini"ucap tante Maria yang membuatku tersenyum sinis.
__ADS_1
"Memang ini semua salah tante dan om. Buat apa saya menyalahkan Devan?. Karena Devan akan tetap memilih adik saya. Cinta gak bisa dipaksa tante. Tapi, saya tidak terima jika kalian membandingkan adik saya dan membuat adik saya tersakiti"ucapku yang langsung menyusul Zania masuk kedalam.
Saat akan masuk kedalam aku berpapasan dengan om Bastian dan aku menatapnya sengit. Aku pun segara masuk menyusul adikku itu.
Dan apa yang aku lihat disana membuatku menarik paksa adikku dan membawa adikku keluar dari tempat itu.
"Kakak ini, apa-apaan sih hah!"kesal Zania yang malah aku tampar. Sungguh bukan maksudku melakukan hal seperti ini yang membuat Zania terkejut.
"Biarkan Devan bersama perempuan itu"ucapku tiba-tiba dengan menatap Zania tajam.
"Aku tidak akan melakukan hal itu, sebelum Devan sendiri yang mengatakannya kak."ucap Zania menangis sendu.
Sungguh, bukan maksudku membuat adikku menangis dan menamparnya seperti ini. Tapi aku membenci ketika dia seperti seseorang pengemis yang memohon seperti itu. Apalagi jika mengingat perkataan dari om Bastian.
"Aku harus tetap disisi Devan, please. Izinkan aku"mohon Zania yang aku abaikan dan tetap menariknya masuk kedalam mobil.
Aku tidak akan membiarkan adikku dihina disana. Maafkan kakakmu ini, Nia.
#Revan Pov' end
***
.
.
.
.
__ADS_1
.
Next On