Harus Memilih 2

Harus Memilih 2
Satu Kata Satu Pilihan


__ADS_3

"Maafkan Nia ma"kalimat yang keluar dari mulut Zania dan membuat mama Dewi menangis setelahnya.


"Maafkan Nia, yang selalu bertindak seperti ini. Nia janji tidak akan bertindak seperti itu lagi ma, Nia janji"ucap Zania memeluk erat Dewi yang mengaggukkan kepalanya, mengiyakan ucapan anak bungsunya itu.


"Iya, mama percaya sama kamu sayang"ucap Dewi dan Beno pun langsung menghampiri Zania yang sudah melepaskan pelukan dari Dewi.


"Papa!?"ucap Zania menatap sedih Beno. Beno pun tersenyum simpul dan menganggukan kepalanya itu langsung memeluk hangat anak bungsunya itu.


"Segala masalah yang hadir, pasti ada solusinya. Papa harap, setelah ini kamu lebih dewasa dalam mengambil keputusan ya sayang. Papa menghargai keputusanmu?!"ucap Beno menatap Zania yang menatap Beno juga. Zania pun menganggukan kepalanya itu.


"Terima kasih pa, maafkan Nia"ucap Zania membalas pelukan Beno.


"Kamu tidak salah, jadi jangan minta maaf, oke."ucap Beno lagi dan Zania menganggukan kepalanya lagi.


"Kamu memang anaknya papa. Selamat pulang kerumah Nia, anak bontot papa, yang sudah semakin tua"ucap Beno menggoda anaknya itu dengan senyum hangatnya yang tidak lepas di bibirnya itu.


"Nia memang semakin tua, apa?"tanya Zania yang langsung membuat orang-orang diruangan sana tertawa bersama.


"Ya tua lah. Masa mau muda terus, sudah pernah nikah juga"ledek Revan yang mendapatkan tatapan permusahan dari Zania. Beno pun menengahi mereka.


"Gini kalau sudah ketemu, kayak kucing sama tikus tahu gak kalian"ucap Beno yang sekali lagi membuat mereka tertawa lagi.


Setelah Beno melepaskan pelukan untuk Zania, tiba-tiba seorang wanita datang dengan sedikit berlari yang diikuti oleh seorang laki-laki yang sedang menggendong seorang anak laki-laki yang mungkin masih berumur 2 tahun atau kurang. Wanita itu dengan tergesa-gesa menghampiri Zania dan memeluk Zania erat dan menangis setelahnya sambil memukul-mukul kecil punggung Zania. Zania tanpa sadar ikut larut dalam hal itu dan menangis.


"Wanita jahat, tidak punya malu. Kenapa kamu menghilang dan kembali dengan sangat lama seperti ini. Kamu tahu, aku rindu, aku khawatir, kenapa kamu melakukan ini semua"ucap wanita itu yang tidak lain adalah Riri menangis sambil memukul-mukul kecil punggung Zania.


"Kenapa kamu membuat kami semua khawatir, apa itu hobi yang tidak bisa kamu hilangkan sih Ni?. Kenapa kamu jahat bener. Kenapa kalau ada masalah kamu selalu menghilang gini sih, dasar pengecut"ucap Riri lagi sambil menangis dan memukul-mukul punggung Zania dan Kevin yang menggendong seorang anak yang ternyata anak mereka pun melepaskan pelukan itu.


"Hey... sudahlah sayang, kamu senang kan Nia pulang. Tapi jangan dipukulin begitu, ada papa mama loh. Dimarahin om Beno nanti, anaknya diginiin"ucap Kevin masih dengan candaannya sambil memisahkan Zania dan Riri. Sedangkan orang-orang yang ada disana hanya tersenyum menyaksikan semua itu.


***


#Beberapa hari kemudian...


Riri datang ke rumah keluarga Pratnojoe bersama anaknya, sedangkan Kevin sedang bekerja. Disana dia menemui Zania yang ternyata sedang menunggunya di halaman belakang bersama bunga-bunga kesayangan mamanya.


"Hallo aunty Nia"sapa Riri yang menggendong anaknya itu.


"Hallo sayang, masih pagi kok sudah nyampe sini saja sih"ledek Zania ke Riri.

__ADS_1


"Kan rindu, main lah. Takutnya ntar lu ngilang lagi, kalau gak ditemani gini"ucap Riri yang langsung duduk dikursi dekat taman bunga milik mama Dewi itu.


"Sindir saja terus, reseh lu. Nama anakmu siapa sih ri, sumpah lupa gw"ucap Zania sambil mencuci tangannya dan langsung menghampiri Riri dan menyerobot anaknya itu.


"Steven Andreas, ganteng kan anakku"ucap Riri sambil tersenyum melihat Zania menggendong Steven.


"Ya iyalah bapaknya ganteng, kalau mirip emaknya malah bakalan bahaya"ucap Zania sambil mengajak ngomong Steven yang kesenangan digendong oleh Zania.


Zania pun langsung duduk disamping Riri. Riri menatap Zania dengan raut wajah yang memiliki banyak pertanyaan disana.


"Marcell itu, laki-laki yang pernah kamu ceritain dulu kan Ni?. Lelaki yang pernah hadir dimasa mudamu"ucap Riri yang membuat Zania terdiam.


"Dan untuk kedua kalinya kamu menghilang tanpa jejak seperti ini karena dia kan?. Sebenarnya ada apa sih Ni, kenapa sampai segitunya kamu harus melakukan hal seperti itu"ucap Riri menatap Zania yang masih terdiam.


Zania menatap kearah Steven yang berada dalam pangkuannya itu. Steven, balita kecil yang tidak tahu apa-apa itu juga menatap kearahnya.


"Ganteng banget kamu itu Stev, kalau sudah gede nanti jangan cerewet kayak mama kamu yah"ucap Zania sambil mencubit pipi Steven dengan gemas.


"Jangan mengalihkan topik. Memang anakku ganteng"ucap Riri kesal.


Zania pun menghela napasnya kasar dan berbalik menatap Riri.


"Dia datang dan memaksaku, mengancamku dan ikut dengannya. Kamu gak tahukan apa yang aku rasakan saat itu. Aku takut Ri, aku takut sama dia, aku takut"ucap Zania yang tiba-tiba menangis dan membuat Steven yang melihat aunty nya menangis pun ikut menangis. Riri pun meraih Steven dari Zania dan menenangkan anaknya itu dan memberikan Zania tisu.


"Bi Ani"panggil Riri dan Bi Ani pun datang karena memang sedang menyapu halaman belakang.


"Bi bawa Steven dulu ya, saya mau bicara dengan Nia"ucap Riri memberikan Steven yang sudah tidak menangis lagi itu ke bi Ani.


Setelah itu Riri pun menghampiri Zania yang masih sesegukan.


"Kamu tahu Ni. Jangan pernah menghindari masalahmu, seperti kamu tidak menghindari Rifky maupun Devan. Kamu harus menghadapi Marcell. Aku memang gak tahu, Marcell itu seperti apa. Tapi aku yakin, dia sangat mencintaimu. Tapi cara yang dia lakukan selama ini memang salah"ucap Riri yang berada disamping Zania. Zania pun menatap sahabatnya itu.


"Mencintaiku?!."ucap Zania tidak mempercayai hal itu.


"Kamu pikir dia mencintaiku Ri. Kamu salah Ri, aku kasih satu hal padamu dan dengarkan ceritaku"ucap Zania yang menceritakan kejadian dimana awal mula dia menghindari Marcell.


.


.

__ADS_1


.


.


.


.


#Flashback on


Setelah kejadian dia dilabrak oleh kelompok Tiara dkk dan masalah dengan Marcell yang menyebalkan untuknya itu. Ketika akan masuk kedalam Apartemanya sebuah tangan menghentikan Zania. Betapa terkejutnya Zania ketika teman dari Marcell ada disampingnya. Orang itu adalah Andre.


"Kamu!"ucap Zania terkejut sedangkan Andre hanya tersenyum kearah Zania.


"You think Marcell will bow to a woman like you?. Saya tidak akan menerima hal itu. Mungkin ini bukan peringatan atau lainnya, tapi lebih tepatnya sebuah solusi untukmu. Pergilah dari hidup Marcell, saya gak ingin teman saya lemah hanya gara-gara perempuan kayak lu. Kalau kamu gak mau pergi dari hidup Marcell, kamu tahu bukan orang yang berada di belakangku seperti apa?. Saya bisa membuat sebuah bom besar buat keluargamu dalam sekejap"ancam Andre.


"Dan membuat kehidupan sekolahmu disini berantakan. Saya gak seperti Jaxton maupun Marcell yang terang-terangan didepan umum. Jadi bagaimana dengan solusiku"ucap Andre menatap Zania, sedangkan Zania masih mencerna perkataan dari Andre tersebut.


.


.


.


.


.


Next on


*Hallo gaes...sorry banget baru update, kelupaan karena keenakan liburan tahun baru, sorry bet dah ya.


Oh ya lupa selamat tahun baru gaes...udah tanggal 3 saja nih, makin tua dong kita orang🤭


Sorry ya, jujur, mau update chapter triple, tapi author harus disibukan dengan kerja. Mulai kerja lagi gaes...


Tunggu Selasa deh, author janji, updatenya ak bakal amburadul begini, insya Allah deng ya🤭*


See you tomorrow

__ADS_1


__ADS_2