Harus Memilih 2

Harus Memilih 2
Jalan-Jalan Yang Gagal


__ADS_3

"Dasar gak bersyukur"ucap Marcell yang semakin membuat Zania kesal. Zania pun berdiri dan akan pergi dari sana tapi Marcell langsung menariknya hingga tanpa sengaja Zania terjatuh dan duduk dipangkuan Marcell. Mereka berdua sama-sama terkejut akan hal tersebut. Zania yang tersadar pun berusaha bangkit namun tertahan dengan Marcell yang menahannya. Dan tiba-tiba wajah Marcell semakin mendekat kearah Zania hingga lampu ruangan bioskop itu meredup dan suara film diputar keras.


.


.


.


.


.


Setelah kejadian yang tidak mengenakan tadi, Zania merasa canggung berhadapan langsung dengan Marcell. Sedangkan Marcell malah seperti tidak terjadi apa-apa. Selama menonton filmnya pun Marcell malah fokus ke layar, sedangkan Zania tidak bisa konsentrasi dengan film yang di tonton.


"Kita mau kemana?"tanya Zania yang sudah berada didalam mobil dan mobil melaju bukan arah pulang.


"Ke kantor"ucap Marcell datar.


"Aku pulang saja kalau begitu"ucap Zania tanpa pikir panjang. Karena buat apa dia mengikuti Marcell ke kantornya.


"Kamu harus ikut saya ke kantor"ucap Marcell datar tanpa ekspresi dan tanpa melihat kearah Zania.


"Aku gak mau ikut kesana. Aku pulang saja"ucap Zania lagi.


"Dan saya memaksa kamu untuk ikut dengan saya ke kantor. Saya gak mungkin mengantar kamu pulang sekarang karena ada hal penting yang harus saya selesaikan dikantor. Jadi jangan banyak bicara, diamlah!!!"ucap Marcell dengan melihat kearah Zania sebentar dan kembali fokus menyetir.


"Padahal dia bilang ke Jesicca untuk meliburkan diri, buktinya tetap saja kerja, huft"gerutu Zania yang masih didengar oleh Marcell.


Sampailah mereka di perusahan M&companny. Zania berjalan disamping Marcell dan membuat karyawan disana pada membicarakan keberadaan wanita disamping Marcell. Karena memang Marcell sangat jarang berdekatan dengan seorang wanita apalagi membawa wanita itu ke kantor.


"Kenapa sih karyawan wanita-wanitamu melihat aku seperti melihat hantu, aneh"kesal Zania ketika mereka berada didalam lift. Marcell tidak menjawab gerutuan Zania itu dan hanya tersenyum tipis mendengar rengekan dari wanita yang ada disampingnya.


"Jangan lama-lama"kesal Zania ketika lift menuju ruangan Marcell.


"Kenapa kamu mengatur saya!"tegas Marcell yang malah semakin membuat Zania merasa kesal dengan intonasi Marcell yang menyebalkan jika didengar.


"Kalau begitu aku pulang saja, aku gak ada kepentingan menemani kamu kerja. Karena aku keluar dari rumah buat jalan-jalan, bukan jadi asisten kamu!!!"gerutu Zania yang membuat Marcell menahan senyumnya itu.

__ADS_1


"Kamu tidak ada uang untuk pulang, jangan macam-macam"ucap Marcell dan lift itu pun terbuka dan mereka keluar dari lift itu.


"Kalau begitu aku naik taxi dan bayar setelahnya, bukan kah itu masalah gampang"ucap Zania yang baru kepikiran akan hal itu. Zania merasa bodoh sekarang.


Marcell menghentikan langkahnya dan diikuti Zania yang juga berhenti mendadak. Marcell menatap Zania lekat.


"Dan saya tidak mengizinkan hal itu!"ucap Marcell yang kembali berjalan dengan senyum kemenangannya karena melihat raut wajah Zania yang sangat kesal saat ini. Bagi Marcell itu adalah hiburan tersendiri dan para karyawan yang tidak sengaja melihat Marcell tersenyum pun merasa takjub. Karena yang mereka tahu Marcell adalah bos yang sangat dingin dan tidak bersahabat, apalagi tatapan matanya itu, membuat para karyawan atau bawahannya tidak berani menatap mata itu langsung.


"Marcell!!?"kesal Zania yang langsung menjadi pusat perhatian disana. Para karyawan disana pun melihat kearah Zania yang memangil bosnya seperti itu. Karena mana ada yang berani bersikap seperti itu dengan pemilik perusahan yang merupakan bos besar dan salah satu pengusaha nomer satu dinegaranya itu.


Marcell pun menghentikan langkahnya itu dan menghampiri Zania.


"Jangan teriak seperti itu dong, sayang. Ini masih di kantor"ucap Marcell dengan senyum tipisnya itu. Zania yang diperlakukan seperti itu pun langsung melotot tajam kearah Marcell. Marcell pun membisikan sesuatu ke Zania.


"Jangan berani-beraninya kamu bertingkah seperti itu di kantor saya!!!. Don't misunderstand my attitude to you, understand!"ucap Marcell yang langsung meninggalkan Zania yang mematung disana.


Zania pun langsung mengikuti Marcell dan masuk keruangannya. Marcell sibuk dengan berkas-berkasnya itu ketika sekretarisnya masuk keruangannya. Sedangkan Zania dia hanya mengamati Marcell dari sofa yang ada diruangan itu.


"Aneh, aku pulang malah gak dibolehin. Terus dia malah marah-marah. Harusnya dia senang dong aku gak ada didekatnya. Bukannya waktu itu dia bilang tidak ingin melihat wajahku. Tapi malah dia menahanku bersamanya, apa sih maunya sebenarnya. Crazy boy"gerutu Zania pelan namun masih terdengar oleh Marcell maupun sekretaris dari laki-laki itu.


Marcell pun berdehem keras dan membuat Zania terkejut sedangkan Sekretaris dari Marcell hanya menahan tawanya karena prilaku Zania yang menurutnya sesuatu yang berbeda.


"Tidak ada pak, kalau begitu saya permisi. Apa ada yang dibutuhkan lagi pak"ucap Sekretarisnya itu.


"Tidak ada, saya minta untuk mengosongkan jadwal saya hari ini. Jika misalnya ada yang diperlukan dan jika itu penting tolong sampaikan ke Stevano"ucap Marcell.


Keterangan : Stevano adalah asisten dari Marcell yang mengurus segala yang diperlukan oleh Marcell. Jika Marcell tidak ada ditempat maka Stevano lah yang mengurus pekerjaan kantor itu. Karena Stevano adalah orang kepercayaan dari Marcell sendiri.


"Baik pak, kalau begitu saya permisi"ucap sekretarisnya itu yang ternyata bernama Amel. Amel pun langsung pamit keluar dari ruangan Marcell.


Setelah kepergian Amel dari ruangannya, Marcell pun langsung menghampiri Zania.


"Ayo pergi"ucap Marcell dengan ketusnya.


Zania pun menggerutu karena sikap Marcell yang seperti itu dan tidak ada perubahan atau merasa canggung karena kejadian di bioskop tadi. Mengesalkan bagi Zania.


"Pulang, aku ingin pulang. Aku gak mau ikut kamu bertemu klien, karena aku keluar buka untuk menjadi asisten kamu!!!"ucap Zania yang langsung berdiri ketika Marcell mengajaknya pergi. Marcell yang mendengar hal itu pun langsung tersenyum sinis kearah Zania. Dan Zania merasa kesal akan senyuman yang selalu terpancar diwajah Marcell. Menurutnya itu sangatlah menyebalkan.

__ADS_1


"Bisa gak sih kamu gak seperti itu, menyebalkan tahu gak"kesal Zania yang melewati Marcell namun dengan cepat tangan Zania dicekal oleh Marcell dan langsung membawa Zania dalam pelukannya. Zania terkejut akan perlakuan Marcell padanya. Yang menurutnya itu diluar ekspetasi. Musuhnya memeluknya seperti ini dan Zania berfikir otak Marcell sedang terjadi konsleting kabel.


"Kenapa kamu bersikap keras kepala seperti ini, hah. Apa kamu melakukan hal seperti ini kepada semua laki-laki untuk memikat mereka, iya kan!!"ucap Marcell yang mengejutkan Zania. Karena Marcell yang tiba-tiba mencengkram lengan Zania dengan kasar. Zania pun mencoba melepaskan cengkraman di lengannya itu.


"Lepaskan!. Apa-apaan sih dengan kamu, Marcell. Jika aku bersikap keras kepala denganmu itu karena kamu bersikap hal yang sama denganku dan bersikap kasar. Lepaskan!!!"ucap Zania menatap tajam Marcell yang langsung dilepaskan Marcell dengan kasar sambil mendorong Zania hingga terjatuh dilantai. Zania merintih kesakitan karena kakinya membentur meja yang ada disampingnya dan menyebabkannya terkilir dan bengkak.


"Karena kamu pantas diperlakukan seperti itu!!"ucap Marcell menatap tajam Zania yang masih meringis menahan sakit di kakinya.


"Berdiri!!!. Gak perlu acting kesakitan seperti itu, karena saya tidak akan pernah bersimpati dengan wanita sepertimu"bentak Marcell yang tanpa belas kasih menarik Zania untuk berdiri. Zania menahan sakit dikakinya itu dan berdiri mengikuti perintah Marcell.


"Kamu jangan bersikap berlebihan hanya karena Jesicca berada di sisimu. Saya tidak akan pernah bersimpati padamu Zania, sampai kapan pun, karena kamu pantas mendapatkan perlakuan seperti itu. Kamu sangat tahu bukan, saya sangat senang melihatmu menderita dari dulu dan beruntungnya kamu harus bertemu denganku sekarang"ucap Marcell yang menarik Zania keluar dari kantornya itu. Zania masih menahan sakit dikakinya itu. dan para karyawan melihat apa yang dilakukan Marcell ke Zania dan mereka menganggap itu hanya masalah pertengkaran biasa antara pasangan. Gila bukan, mereka terlalu positif thinking.


Marcell pun memaksa Zania dengan kasar untuk masuk kedalam mobil dan langsung disusul olehnya.


Marcell yang melihat Zania hanya terdiam semakin kesal dan dengan kasar memegang kaki Zania yang terkirir itu dengan kasar. Zania pun merintih kesakitan dan menahan tangisnya. Marcell yang melihat itu semakin menaikan kaki Zania dipangkuannya dan memegang pergelangan kaki Zania dan memencetnya tidak dengan kelembutan.


"Jika kamu ingin mematahkan kakiku, patahkan sekarang saja. Jangan menyiksaku seperti ini"teriak Zania didalam mobil. Marcell tidak menanggapi teriakan dari Zania dan lebih fokus ke kaki Zania yang terkilir itu dan tiba-tiba Zania berteriak keras ketika Marcell melakukan sesuatu di kakinya itu hingga berbunyi suara tulangnya. Tanpa sadar Marcell pun memeluk Zania dalam pelukannya. Zania pun langsung menangis histeris sambil memukul-mukul pundak Marcell keras.


"Apa sih salah aku sama kamu, kenapa kamu memperlakukan aku seperti ini"ucap Zania masih dalam pelukan Marcell yang hanya diam diperlakukan seperti itu oleh Zania.


Dan yang membuat Marcell merasa aneh dengan dirinya adalah mulutnya berkata tidak tapi perasaannya membohongi itu semua. Dia berusaha mengabaikan Zania yang kesakitan tapi dia malah bersimpati. Sungguh Marcell merutuki dirinya sendiri saat ini. Apalagi dengan Zania yang berada di pelukannya.


.


.


.


.


Next on...


Ditunggu kelanjutannya Senin depan ya gaes...


Jangan pada kabur dulu, semoga saja nih cerita semakin seru


Jangan lupa buat Likenya, comen, terus bagi vote and rate. Terus share deh cerita ini jika kalian suka🤭

__ADS_1


See you tomorrow together😎🌺🌺


__ADS_2