
Setelah perjalanan yang memakan waktu hampir setengah hari, Rifky pun sampai juga di kota Goteborg, Swedia. Rifky pun langsung menelphon seseorang yang dia percaya yang dia perintahkan untuk bertanggung jawab untuk memantau keadaan Zania disini.
"Mereka masih disana" tanya Rifky melalui sambung telphone itu.
"Iya tuan mereka belum pulang"jawab seseorang itu yang sedang memantau seseorang yang sudah menjadi perintahnya.
"Berapa jam untuk menuju kesana dari Goteborg" tanya Rifky dengan tatapan yang sudah menajam itu. Sungguh dia menahan marahnya saat ini.
"Sekitar 1 jam 30 menit tuan jika berkendara jika jalan tidak macet karena ini hari weekend tuan" jawab orang itu.
"Kirimkan alamatnya" Ucap Rifky yang langsung mematikan sambungan telphon itu.
Rifky pun langsung menaiki mobilnya dengan Dion asistennya yang menyetir kendaraan itu.
"Apa tidak sebaiknya kita menunggu mereka pulang tuan"saran Dion karena dia takut ketika mereka menuju kesana ternyata orang yang dituju itu kembali ke kota.
"Menunggu? Saya tidak akan membiarkan hal itu"ucap Rifky dengan tatapan yang sudah berubah dingin itu. Sungguh dia telah bersabar sampai saat ini, tapi dia tidak bisa melakukannya. Mulutnya berbicara tidak tapi otak dan hatinya tidak bisa berbohong.
***
"Terima kasih untuk bajunya"ucap Zania yang sekarang sedang bersama Marcell duduk manis di bawah pohon di tepi pantai.
"Kamu perlu membayar akan hal itu"jawab Marcell dengan santainya sambil berbaring dibawah pohon yang bisa menutupi sinar matahari yang menyengat kulit dan sebenarnya ada payung besar disana dan alas yang pasti. (Ngapain coba author jelasin beginian✌️😂)
"Membayar? Setelah dengan beraninya kamu menciumiku semalam"gerutu Zania yang mulai kesal karena sikap Marcell yang bagi Zania itu sangatlah menyebalkan.
Marcell pun menoleh kearah Zania dengan kedua tangan bertumpu dibawah kepalanya pengganti bantalan.
"Kamu menikmatinya? Apa perlu aku ulangi sekarang"goda Marcell lagi sambil tersenyum mengejek.
"Tidak butuh. Kenapa kita tidak pulang sih, menyebalkan jika bersamamu setiap hari"kesal Zania yang merubah topik pembicaraan itu.
"Ini weekend, nikmati saja liburan hari ini, karena besok, belum tentu kamu bisa keluar denganku dan berlibur seromantis ini"ucap Marcell dengan entengnya dan kembali menutup matanya dengan kaca mata hitam yang sudah melekat di atas matanya itu.
"Weekend? Romantis? Romantis apanya, denganmu disini bukanlah hal yang romantis, melainkan menyebalkan, mengenaskan dan kutukan"kesal Zania yang berusaha bangkit dari duduknya itu namun dengan cepat Marcell menarik Zania hingga dia terjatuh diatas tubuh Marcell. Marcell pun melepaskan kacamatanya itu dan menatap Zania yang terkejut akan apa yang terjadi.
"Menyebalkan? Mengenaskan? kutukan? apa yang kamu maksud seperti ini"ucap Marcell yang langsung mencium Zania dalam posisi mereka saat ini. Zania terkejut akan apa yang dilakukan Marcell padanya. Zania pun memukul-mukul keras pundak Marcell yang malah bangkit dan duduk dan posisi Zania duduk dipangkuan Marcell. Marcell pun melepaskan ciuman mereka itu.
__ADS_1
"Bagaimana sesuai yang kamu harapkan bukan?"ucap Marcell dengan sinisnya yang langsung ditampar keras oleh Zania yang langsung bangkit dari pangkuan Marcell.
"Aku akan pulang dan jangan kamu pikir aku tidak bisa sampai dirumah dengan selamat. Dan ingat perkataan ku, aku bukan seperti wanita-wanita jal*** yang selalu menemanimu dan menerima perlakuan seenak jidatmu, paham"ucap Zania yang langsung meninggalkan Marcell yang menatap tajam kearah Zania pergi.
"Benarkah? I make sure you are mine, Zania"ucap Marcell yang langsung bangkit dan mengikuti langkah Zania.
Zania semakin kesal akan sikap Marcell yang bertindak seenaknya padanya. Sudah dua kali Marcell menciumnya dengan seenak jidatnya. Zania pun mengusap kasar bibirnya itu untuk menghapus bekas ciuman yang telah Marcell lakukan padanya.
"Dia kira aku wanita seperti apa, seenak jidatnya dia melakukan seperti itu padaku. Aku sudah bersabar dengan sikapnya dan melakukan semua keinginannya untuk tidak menyakiti orang-orang yang aku sayang. Tapi sial, ini menyakitkan, menyebalkan"kesal Zania yang berjalan cepat dan menghapus air matanya itu tanpa sadar dia menabrak seseorang yang langsung memeluknya karena Zania hampir saja terjatuh.
Seseorang itu ternyata adalah Rifky. Zania terkejut akan keberadaan Rifky disana. Sedangkan Rifky menatap Zania dan lebih tepatnya menatap mata Zania yang terlihat sembab disana.
Zania pun langsung berusaha menjauh dari Rifky. Namun Rifky langsung menggenggam tangan Zania erat.
"Siapa yang membuatmu menangis. Apakah laki-laki yang kamu pilih itu?!, Kenapa kamu milihnya, jika dia menyakitimu!!. Kamu meninggalkan mama dan keluarga dirumah hanya demi pergi dengan laki-laki seperti itu. Kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan!!"ucap Rifky menatap tajam kearah Zania dan setelah cukup lamanya Zania melihat tatapan mengerikan itu dari Rifky.
Tiba-tiba tanpa berpikir panjang, air mata itu menerobos keluar lagi tanpa permisi.
"Kenapa? apa aku salah memilih pilihanku, lepaskan tanganmu dari tanganku"ucap Zania menatap lirih kearah Rifky yang masih menggenggam erat lengan Zania.
"Aku tidak akan melepaskan genggaman ini, karena aku akan membawamu pergi dari laki-laki itu!"ucap Rifky yang langsung menyeret Zania pergi dari sana. Zania pun memberontak dan mencoba melepaskan genggaman itu.
"Kenapa?! Apa kamu tidak bisa meninggalkan laki-laki itu. Kamu tahu! keadaan mama Dewi saat ini sedang drop karena menghilangnya kamu yang kekanakan seperti ini!!!, sekarang kita pulang"ucap Rifky yang tiba-tiba tangan yang menggenggam tangan Zania itu terlepas.
Rifky pun langsung menoleh dan ternyata ada Marcell disana yang menggenggam erat tangan Zania disampingnya.
"Tuan Rifky, akhirnya kita bertemu"ucap Marcell dengan senyumnya yang sungguh ingin sekali Zania membuang ekspresi itu dari laki-laki yang menyebalkan ini.
Rifky menatap kearah tangan Marcell yang menggenggam tangan Zania saat ini dan kembali menatap Marcell dengan sinis.
"Bisakah anda melepaskan genggaman tangan anda dari wanita saya"ucap Rifky menatap tajam Marcell yang tidak kalah menatap tajam Rifky.
"Wanita anda, dia? Apa saya tidak salah dengar akan ucapan anda tuan Rifky"ucap Marcell dengan kening yang berkerut.
"Benar? Apakah ada masalah, saya harus membawanya pulang saat ini, karena ada seseorang yang menunggunya"ucap Rifky masih menahan amarahnya saat ini, meskipun sangat terlihat jelas rahangnya sudah sangatlah mengeras saat ini.
Marcell hanya tersenyum tipis setelahnya sambil menatap Zania yang terdiam dalam genggaman tangannya itu.
__ADS_1
"Kamu mengenalnya?"tanya Marcell ke Zania yang langsung menatap Marcell dengan tanda tanya. Marcell menatap Zania tajam dan dingin. Ya, itulah Marcell yang di kenal Zania selama ini, bukan Marcell yang beberapa saat lalu bersamanya.
Zania pun menatap Rifky sekilas dan mengisyaratkan supaya Rifky pergi dari sana.
"Dia mantan suamiku"jawab Zania yang semakin merasa kesakitan dipergelangan tangannya karena Marcell menggenggam tangan Zania dengan erat dan rahang Marcell yang mengeras. Rifky yang melihat itu pun tidak tinggal diam ketika melihat Zania merasa kesakitan disana.
"Lepaskan genggaman tanganmu itu, tuan Marcell!?"ucap Rifky yang langsung menarik Zania dan meninju perut Marcell keras hingga Zania terlepas dari genggaman tangan Marcell.
Rifky pun langsung membawa pergi Zania dari sana.
"Jika kamu pergi, kamu akan tahu apa yang saya lakukan Zania!!!, Saya tidak main-main dengan ucapan saya "teriak Marcell yang langsung membuat Zania menoleh kearah Marcell yang menahan sakit diperutnya itu. Tapi Rifky dengan cepat menarik Zania dan membawanya masuk kedalam mobil.
"Kamu seharusnya tidak melakukan hal seperti ini Ky. Kenapa kamu bodoh, kamu tahu dia siapa?"kesal Zania sambil memukul-mukul kecil pundak Rifky sambil menangis. Sedangkan Rifky hanya terdiam disana dan meminta Dion untuk menjalankan mobilnya itu.
Disisi Marcell...
Marcell dengan menahan sakitnya itu pun mengambil handphonenya dan menelphone seseorang disebrang sana.
"Buat perusahaan Erlangga mengalami kerugian besar dan lakukan sesuai rencana awal, paham!" ucap Martin melalui sambungan telphone dan langsung mematikannya.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku Nia. Jika kamu pergi dariku, mereka yang akan menerima kesengsaraan itu. Seharunya kamu yang mengalami hal itu untuk mereka. Dan buat laki-laki yang kamu cintai itu, selamat berurusan dengan Marcell Aarav"ucap Marcell menatap tajam mobil yang menjauh dari pandangannya itu.
.
.
.
.
.
Author merasa kepala author berputar-putar nih, kayaknya butuh asupan deh sama isterahat.
Author isterahat dulu ya, lanjut besok😵
Semoga besok menjadi hari yang menyenangkan gaes
__ADS_1
See you next again apa time...🤭