
Setelah pulang dari acara ulang tahun Mario. Devan mendiamkan Zania. Zania yang didiamkan seperti itu pun mulai kesal dibuatnya. Hingga sampailah mereka didepan rumah keluarga Pratnojoe. dan Devan membukakan pintu mobil itu tanpa ada sepatah kata pun disana.
"Kamu mau diamin aku terus, begini. Ya sudah, aku gak peduli"ucap Zania acuh meninggalkan Devan yang hanya menutup matanya sebentar untuk meredakan emosi yang sebenarnya sedari tadi dia tahan.
"Nia"panggil Devan dan Zania pun menghentikan langkahnya itu tapi tidak menoleh dan lebih memilih membelakangi Devan yang masih dalam posisi yang sama juga.
"Good night"ucap Devan yang langsung melangkah untuk masuk kembali kedalam mobilnya itu, tapi Zania sudah berlari duluan kearahnya dan memeluk Devan dari belakang.
"Good night, Devano Alexandre"ucap Zania. Devan pun langsung membalikkan Zania untuk mengarah menghadapnya. Devan menatap lekat wajah wanita yang dicintainya itu.
"Kamu memilihku kan?"tanya Devan yang malah semakin dipeluk erat oleh Zania.
"Jika kamu masih setia menunggu untukku"jawab Zania yang dibalas peluk oleh Devan.
"Aku cemburu"ucap Devan yang masih memeluk Zania itu.
"Aku suka kamu cemburu"ucap Zania sambil menatap Devan yang malah tersenyum mendengarkan ungkapan Zania.
"Kenapa begitu?"tanya Devan mengerutkan keningnya menatap wanita yang sangat dicintainya itu.
"Karena kamu takut kehilangan wanita cantik ini"goda Zania dengan percaya dirinya, ketularan Revan yang narsis wkwkwk.
"Percaya diri sekali kamu"ucap Devan mencubit gemas hidung Zania dan membuat Zania meringis dibuatnya.
"Dev.."keluh Zania.
"Astaga...dua orang ini, sedari tadi menebar kemesraan"goda Revan yang ternyata baru sampai dengan Gladis dan melihag adegan menggemaskan adiknya itu.
"Iri...bilang bos"goda Devan yang membuat Zania tidak kuat buat ketawa dan Gladis pun juga menahan tawanya itu.
"Sumpah lu ya Dev. Lama-lama kayak bocil, dasar bucin"kesal Revan yang melangkah pergi dan diikuti Gladis.
"Lu saja sama bucinnya"ucap Devan yang ditatap jengah oleh Revan yang langsung menarik Gladis.
"Ayo sayang, kita jangan mengganggu para bocil ini. Kalau mengganggu mereka itu nanti kita ketularan"ucap Revan yang malah membuat geli sendiri oleh Gladis. Karena Revan juga tipe-tipe cowok bucin. Wkwk
"Akhirnya si pengganggu pergi juga"ucap Devan menghela napasnya kasar.
"Kok kamu bilang kak Revan pengganggu sih, Dev"ucap Zania pura-pura kesal.
"Ya tadi kan kamu tahu sendiri sayang"ucap Devan.
"Ya sudahlah, sana. Kamu pulang saja, sudah malam"potong Zania dan membuat Devan mendengus berat.
"Gak mau pulang nih"kesal Zania yang malah mendapatkan tatapan puppy eyes itu.
__ADS_1
"Mukanya jangan dibuat-buat mengenaskan ya. Aku gak suka"ucap Zania menahan tawa. Kapan lagi sih melihat Devan seperti ini?.
"Kamu marah, aku gak bisa pulang kalau kamu masih marah begini"ucap Devan yang malah membuat Zania gemas sendiri
Zania pun tanpa sadar mencubit kedua pipi Devan gemas dan setelahnya mengecup sekilas bibir kekasihnya itu dan berlari masuk ke rumah. Sumpah kayak remaja yang baru puber mereka berdua, wkwkwk.
Devan yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Zania hanya bisa melongo kayak sapi ompong, wkwkwk.
"Thank you, sayang"ucap Devan tersenyum ketika Zania menatap wajahnya diambang pintu.
"Sudah dech...sana pulang. Sudah mau pagi"ucap Zania yang dibalas anggukan kepala oleh Devan.
"Aku pulang"ucap Devan yang dibalas anggukan kepala oleh Zania.
***
#Dikediaman keluarga Erlangga...
"Ma, Azka ingin bertemu dengan Tante Nia!"ucap Azka yang mengatakan keinginannya itu ke Bella yang sedang menyiapkan seragam sekolah anaknya itu.
Bela menatap kearah Azka dan kembali fokus kearah seragam yang sedang dia siapkan.
"Azka mandi dulu sana, mama akan kebawah bantu buat siapin sarapan pagi kamu"ucap Bella mengalihkan pembicaraan.
"Ma, habis pulang sekolah Azka ingin bertemu dengan..."ucap Azka yang terpotong oleh Bella yang tiba-tiba membentak anaknya itu.
"Kenapa kamu membentak cucu saya seperti itu, Bella!"ucap orang tersebut yang ternyata Mario.
"Maafin mama, kakek. Ini salah Azka"ucap Azka yang melihat wajah Bella yang tampak cemas itu.
Mario menatap tidak suka kearah Bella, sedangkan Bella hanya menundukan kepalanya dan Azka merasa bersalah akan itu semua.
"Azka akan mandi dan bersiap berangkat sekolah, kakek"ucap Azka yang langsung menuju kekamar mandi dan tinggal Bella dan Mario disana.
"Kenapa kamu membentak cucuku seperti itu"ucap Mario yang tidak dijawab oleh Bella.
"Saya tidak suka sikap kamu yang seperti itu, mengerti!."ucap Mario lagi yang membuat mata Bella memerah.
"Ayah tahu!. Saya tidak ingin wanita itu mendekati anak saya!. Azka anak saya dan saya tidak akan membiarkan wanita itu akrab dengan Azka."ucap Bella yang setelahnya berlalu dan Mario tahu apa maksud dari wanita yang di ucapkan oleh Bella itu adalah Zania. Mario pun hanya bisa menghela napasnya kasar.
Sesampainya diruang makan, Bella tidak bisa menahan kegelisahannya itu. Sehingga Rifky yang ada disana pun dapat melihatnya.
"Apa yang sedang kamu fikirkan Bell"tanya Rifky yang sedang menikmati kopi paginya sebelum berangkat kekantor. Bella pun menatap Rifky. Rasa itu datang lagi.
"Apakah tidak ada sedikit cinta yang tersisa untukku dari hatimu, Ky?"tanya Bella yang hanya ditatap sendu Rifky.
__ADS_1
***
"Dev. Kenapa kamu kerumah?. Bukannya siang ini ada jadwal seminar dikampus xxx"tanya Zania yang melihat kekasihnya itu datang ke rumah tepat di jam makan siang.
"Aku datang untuk mengajakmu makan siang. Sekalian nemenin aku seminar disana. Aku tahu hari ini kamu libur"ucap Devan yang malah dibalas ketawa oleh Zania. Zania pun langsung mendekat ke Devan.
"Bukan, karena takut kalau-kalau aku lunch bareng Marcell kan?"goda Zania.
"Itu salah satunya"jawab Devan yang digelengin kepala oleh Zania.
"Ya sudah, ayo"ucap Zania berdiri mendahului Devan dan keluar dari rumahnya. Devan pun langsung mengikuti keluar.
***
Mereka akhirnya sampai ditempat lesehan atau lalapan terdekat dengan kampus tempat Devan akan seminar nanti. Hanya rumah makan biasa, bukan sebuah restoran atau resto ya gaes.
"Mau apa sayang, ayam bakar, ayam goreng, ikan bakar, ikan goreng, bebek bakar, bebek goreng atau mau yang masih utuh, terus dimakan hidup-hidup"tanya Devan diselingi candaan yang malah membuat Zania tersenyum melihat tingkah Devan yang seperti penjual aslinya.
"Dev, please jangan bercanda mulu dech. dan Sumpah kamu mirip banget tahu gak, kayak masnya yang jualan. Tanyanya komplit, jangan bilang kamu ada kerjaan sampingan sebagai penjual lesehan disini ya"goda Zania yang malah dibalas cengengesan dari Devan.
"Boleh juga tuh idenya sayang. Mau pesan yang mana"tanya Devan lagi.
"Ih...kamu nih. Samain saja deh sama kamu, tapi minumnya es jeruk tapi hangat, oke"ucap Zania yang malah mendapatkan tatapan terkejut dari Devan.
"Mana ada es jeruk tapi hangat. Mulailah untuk ngawurnya"ucap Devan yang ditatap polos oleh Zania.
"Ada loh sayang, pokoknya harus ada"jawab Zania menahan tawa.
"Mulai dikerjain lagi nih"ucap Devan yang melangkah menuju mas-mas yang jualan.
"Gimana sayang, adakan es jeruk hangatnya"goda Zania yang dibalas dengusan dari Devan.
"Ih...kok kamu malah ngambek sih"kesal Zania yang pura-pura itu.
"Ya ada dong sayang. Ini khusus dibuatkan untukmu seorang"jawab Devan dengan senyumannya yang menurut Zania itu sangat menyebalkan. Mengingatkannya akan seseorang.
"Mau balas dendam nih"ucap Zania dalam hati.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Next on