
Mungkin hari ini, hari esok atau nanti
Berjuta memori yang terpatri dalam hati ini
Mungkin hari ini, hari esok atau nanti
Tak lagi saling menyapa meski ku masih harapkanmu
***
#Flashback on
Zania Pov'
Dengan kekesalan yang masih ada sampai saat ini, karena pemaksaan yang aku terima dari orang yang beberapa minggu lalu menjadi orang yang berada dalam black listku.
Aku disini bersamanya. Menemaninya makan malam disebuah restoran yang cukup mewah, jika bisa aku bilang. Tapi tidak seperti yang kalian kira, lihatlah pakaian yang aku gunakan saat ini. Hanya sebuah kaos rumahan kebesaran dan celana pendekku, aku dengan seenaknya diseret olehnya datang kesini.
Bener dengan pikiran kalian saat ini, para pengunjung disana otomatis melihat kearahku walau sebentar setelah itu mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Tapi aku merasa kesal akan hal itu.
Dia menyantap makananya dengan sangat menyebalkan. Sedangkan aku, hanya duduk menatapnya untuk menyelesaikan makanannya itu.
"Bisa kamu percepat cara makan kamu. Kamu sengaja melambatkan cara makanmu, bukan?. Kalau tujuanmu ingin mempermalukan saya disini, itu tidak berguna"ucapku dengan sinisnya melawannya langsung. Sungguh kesabaranmu sudah habis dan tidak bisa menahannya lagi.
Dia melirikku disela makannya dan kembali dengan aktifitasnya memotong daging yang dipanggang dengan tingkat medium itu.
"Kamu disini menemani saya. Jadi duduklah senyaman mungkin dan menunggu saya menyelesaikan makanan saya ini. Kamu sendiri yang bilang tidak ingin makan, bukan"ucapnya menyiapkan potongan daging itu kemulutnya.
Aku pun tersenyum sinis setelahnya. Setelah beberapa menit kemudian kami pun keluar dari restoran itu dan tidak lupa yang menggerutu. Aku merasa aneh dengan sikapnya, yang tidak bisa ditebak itu. Kadang dia bisa menjadi manusia yang mudah diajak bicara tapi kadang pula dia menjadi manusia menyebalkan, jahat dan yang pasti harus dihindari.
"Makan malam pun harus direstoran mewah begitu ya. Oh iya saya hampir lupa, pewaris perusahan M&company itu tidak akan telat uang. Menyingkirkan seseorang pun sangat gampang kan!. Apalagi jika orang itu siswa dengan beasiswa, sangatlah mudah untuk menyingkirkannya."ucapku ketika kami sudah ada diparkiran.
Dia menatapku tajam dan tiba-tiba tersenyum sinis. Aku sangat membencinya ketika seperti itu. Sangatlah menyebalkan melihat ekspresinya yang berubah-ubah seperti itu.
"Kamu lagi menyindir saya akan temanmu itu bukan?. Dia pantas mendapatkan hal itu"ucapnya yang langsung menaiki motornya. Sedangkan aku menatap tajam kearahnya yang sedang menggunakan helmnya itu.
__ADS_1
"Kamu akan tetap berdiri disitu dan tidak naik. Baiklah"ucapnya menyalakan motornya.
Sungguh laki-laki ini gila, dia yang membawaku keluar dari kamar ternyamanku dan dia berniat untuk meninggalkanku malam-malam disini.
"Saya hitung sampa tiga jika kamu gak naik.."ucapnya yang langsung tidak dilanjutkan ketika aku cepat-cepat naik ke motornya dengan sangat kesal.
Dia langsung memberikan helm kepadaku untuk aku pakai.
"Menyebalkan. Dasar crazy boy, it sucks"umpatku yang sangat pelan aku ucapkan. Aku tidak peduli meski dia mendengar hal itu, karena itu adalah fakta. Hingga dia mengejutkanku dengan menjalankan motornya mendadak dan membuat tanganku dengan reflek memeluknya dari belakang.
Zania Pov' end
***
Marcell Pov'
Aku tersenyum senang setelah membuat perempuan menyebalkan ini kesal. Apalagi setelah dia mengumpatku barusan, ide jail pun aku lakukan padanya dengan mengegas motorku kencang dan membuatnya terkejut dan memelukku dari belakang.
Sungguh aku terkejut akan apa yang dia lakukan saat ini. Tanpa aku sadari aku senang dengan apa yang telah terjadi ini. Sebuah mainan yang aku pikir akan berbeda dengan mainan lainnya. Dan pikiranku adalah tepat adanya.
Sampailah aku di lingkungan apartemanya dan dia langsung turun dari motorku dan dengan keras memberikan helm yang dia pakai padaku.
"Kamu tidak diajarkan sopan santun oleh keluargamu"ucapku memancingnya. Sungguh sangat menyenangkan menggoda perempuan ini. Siswa baru dari Indonesia yang menolong sahabatnya akan sikap dari kelompokku karena memang ulah sahabtnya yang terlalu ikut campur itu, hingga dia sekarang berurusan denganku. Walaupun aku tahu, berurusan dengannya itu sama saja membuat sesuatu bom waktu akan meledak kapan saja.
Dia menatapku tajam dan langsung mendekat lagi kearahku.
"Kak Marcell yang bijaksana, terima kasih untuk waktunya hari ini meskipun saya tidak menginginkannya, saya pamit kembali ke aparteman saya kak, permisi"ucapnya dengan sangat kesal dan malah membuatku tertawa akan sikapnya itu. Tapi dia mengabaikan hal itu dan dengan menghentak-hentakan kakinya dia meninggalkan aku disana dengan tawaku melihat tingkahnya.
"Memang sesuai dengan harapan, sangat menyenangkan"ucapku yang langsung menghidupkan motorku pergi dari lingkungan itu.
Marcell Pov' end
#Flashback off
***
__ADS_1
.
.
.
.
.
Setelah kejadian semalam, ketika Zania dan Marcell berdebat sangat hebat. Paginya Zania sudah berniat dan bersiap-siap keluar dari Mansion yang beberapa bulan lalu menjadi tempat tinggalnya.
Kejadian semalam masih teringat jelas diingatan Zania. Ketika Marcell sangat marah besar kepadanya dan Martin, ayah dari Marcell memisahkan Zania dan Marcell dengan tepat waktu karena Jesicca memanggilnya.
Jesicca menatap Zania sedih, karena Zania memasukan semua barangnya itu kedalam koper.
"Kamu akan pergi, sekarang. Apakah tidak bisa diselesaikan baik-baik Nia"ucap Jesicca merasa khawatir dan lebih tepatnya dia sudah terlanjur nyaman akan keberadaan Zania di mansion itu.
Zania menatap Jesicca sedih. Namun keputusannya sudah bulat. Sikap Marcell tidak dapat di anggap sembarangan. Laki-laki itu meskipun Ayahnya sudah turun tangan pun, masih kekuh dengan pendiriannya dan tidak akan mengubah keputusan yang sudah fatal itu.
"Aku harus pergi Jes. Aku disini karena kamu dan orang-orang yang aku sayang. Tapi, saat ini aku harus pergi, kamu juga sudah pulih, buat apa aku disini. Karena perjanjian ku dengan laki-laki itu adalah membuatmu sembuah dan menjauhi keluargaku bukan untuk tinggal dengan kalian. Karena aku juga tidak mengharapkan tinggal satu atap bersama laki-laki menyebalkan, gila seperti dia"ucap Zania yang sebenarnya sangat berat untuk mengucapkan hal menyakitkan itu ke Jesicca. Zania sudah menganggap Jesicca itu seperti adiknya sendiri, meskipun adanya masa lalu yang sungguh menyakitkan.
"Kamu berpikiran seperti itu selama ini Nia. Aku pikir kamu.."ucap Jesicca menatap sedih Zania yang sudah selesai dengan barang-barangnya itu.
"Aku minta maaf Jes, maafkan aku. Kamu seperti adikku sendiri disini. Kamu yang membuatku kuat menghadapi laki-laki itu. Tapi sekarang, urusanku disini telah selesai dan aku harus pergi"ucap Zania tulus dan Jesicca pun menahan tangisnya dan melepaskan Zania meninggalkan mansion itu.
"Aku berharap kamu akan bahagia setelah keluar dari sini Nia"ucap Jesicca menatap kepergian Zania dari ruangan itu
.
.
.
.
__ADS_1
.
See you next again