
#Next on...
#Flashback on...
"Dan bukankah sebaiknya kamu kesana, bersama mereka"tatap Zania tajam kearah Rifky.
Rifky pun menghela napasnya kasar dan menatap Zania sendu.
"Zania"ucap Rifky memelas dan Zania tidak ingin menatap Rifky dan lebih menunduk.
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini semua. Apa gak ada kesempatan untukku?. Kenapa untuk Devan dan laki-laki itu kamu memberinya kesempatan, tapi kenapa aku tidak"tanya Rifky langsung jujur. Karena dia tidak tahan dengan banyaknya pertanyaan dikepalanya ini.
Zania pun tersenyum sinis setelahnya.
"Memberimu kesempatan?. Kamu ingin aku bersikap egois sepertimu!. Kamu lihat disana. Anak kecil itu sudah tumbuh, dia perlu seorang ayah dan ibu. Dia butuh orang tua lengkap. Dan kamu harusnya mementingkan anakmu dari pada egomu Ky. Cukup!. Cukup sampai disini dan terima kasih karena saat itu kamu membantuku. Aku harap kamu tidak bersikap egois lagi. Aku harap itu!. Karena aku tidak ingin bersikap egois sepertimu"ucap Zania dengan mata yang sudah memanas. Rifky yang menatap itu terlihat jelas jika rahangnya mengeras menahan amarah.
"Kamu bilang aku egois. Tapi kamu yang lebih egois Ni. Kamu egois dengan perasaanmu sendiri, kamu membohongi dirimu sendiri!"ucap Rifky yang ditinggalkan oleh Zania begitu saja.
Zania pun langsung pergi dan disusul oleh Riri yang menatap Rifky kasian.
Bella yang melihat pertengkaran itu pun merasa bersalah dan menatap anak laki-lakinya yang menatap kearah ayahnya itu.
"Perempuan tadi itu siapa ma. Yang bersama ayah?"tanya Azka ke Bella yang tersenyum kecut akan pertanyaan anaknya itu.
"Dia teman ayah dan mama"jawab Bella menahan sakit dihatinya.
"Tapi jika teman ayah, kenapa tadi Tante itu marah-marah terus menangis saat pergi. Azka melihatnya"jawab Azka lagi yang membuat hati Bella terasa teriris.
"Mungkin matanya Tante itu kelilipan sayang. Kamu mending habiskan makanan kamu ya"ucap Bella sambil mengelus kepala anaknya itu.
Azka pun hanya terdiam dan menatap ayahnya yang menghampiri mereka.
#Disisi Zania berada...
Zania menatap kearah keluar jendela mobil yang sedang disetir oleh Riri. Riri merasa khawatir akan perasaan sahabatnya ini. Karena dia tahu, sahabatnya ini dilanda bimbang.
__ADS_1
"Kamu ingat apa yang pernah aku bilang ke kamu Ni. Berbahagialah, coba sekarang kamu bersikap lebih membahagiakan dirimu sendiri. Jika kamu ingin egois untuk kebahagiaanmu, itu gak masalah Ni. Setidaknya kamu bahagia"ucap Riri yang masih fokus menyetir. Sedangkan Zania masih diam dan menatap kosong kearah jendela.
"Egois untuk kebahagiaan sendiri?. Bukankan itu sangat jahat?."ucap Zania yang tidak bisa menyembunyikan air matanya itu.
"Aku juga ingin bahagia Ri. Menikah dengan seseorang yang aku cintai, menjadi imamku dan menjadi ayah dari anak-anakku. Aku juga ingin bahagian Ni. Tapi jika dengan menyakiti orang lain, aku tidak bisa Ni. Aku gak bisa bahagia disaat orang lain menderita melihatku bahagia. Itu sama saja aku adalah penjahat disini"ucap Zania menghapus air matanya itu.
Riri yang sedang menyetir itu pun menahan tangisnya juga. Bagaimana dia tidak ikut bersedih ketika sahabat yang sudah seperti adiknya itu menangis disampingnya.
Sepanjang perjalanan Zania menangis dan Riri mendiamkannya karena Riri juga menahan diri supaya tidak ikut menangis dihadapan Zania. Hingga mereka sampai dikediaman keluarga Pratnojoe.
"Kejarlah kebahagiaanmu Ni. Aku ingin melihat sahabat, adikku ini bahagia. Please Ni, kamu jangan menangisi hal seperti ini lagi. Aku sedih kalau kamu begini"ucap Riri yang sudah tidak kuat menahan tangisnya. Dia pun langsung memeluk sahabatnya itu.
"Aku gak akan memaksamu Ni, untuk kembali dengan Rifky jika itu sangat menyakitkan untukmu. Jika kamu bahagia bersama Devan, kejarlah dan beri dia kesempatan. Berbahagialah dengannya, aku bahagia melihatmu tersenyum lagi jika bersama kak Dev. Dia yang selalu memberimu senyum dan membenahi luka yang selalu muncul. Aku tahu kamu bimbang dengan perasaanmu Ni. Tapi kamu cobalah memberi kesempatan lagi untuk kak Dev"ucap Riri langsung menatap Zania yakin.
"Cobalah dan fikirkan"ucap Riri dan Zania terdiam setelahnya.
#Flashback off...
***
"Hai.."sapa Zania canggung.
Rifky pun mencoba tersenyum dan mendekat kearah Zania.
"Ada apa kamu kesini?"tanya Zania merasa canggung dengan situasi yang ada.
"Aku hanya ingin memberikan undangan ulang tahun ayah. Kamu akan datangkan?"tanya Rifky menatap Zania yang tidak menatapnya. Karena Zania lebih memilih menatap kearah lain.
"Aku akan usahakan datang"jawab Zania yang menerima undangan itu dan ingin berlalu dari hadapan Rifky.
"Aku merindukanmu Nia"ucap Rifky dan membuat langkah Zania terhenti.
"Apakah benar, tidak ada kesempatan untukku bersamamu?"tanya Rifky lagi dan membuat Zania menatap Rifky.
Sungguh Zania menyesal melakukan hal itu. Laki-laki itu sungguh menyedihkan. Zania mengalihkan tatapannya kearah lain. Sebelum dia dilanda rasa tidak nyaman dihatinya itu.
__ADS_1
"Ky, biarkan aku berjalan kearah jalan ya aku pilih. Bisakah kamu menerima akan hal itu?."ucap Zania tanpa memandang Rifky dan tiba-tiba seseorang mengejutkan mereka.
"Nak Rifky?!. Kok malah kalian diluar"ucap Dewi, mama Zania yang baru saja pulang mengajar.
Zania menatap kearah Dewi yang pulang dijemput oleh pak Joko supir mereka.
"Mama baru pulang?"tanya Zania mengalihkan pembicaraannya dengan Rifky.
"Iya sayang. Ayo nak Rifky kedalam dulu"ajak Dewi ke Rifky yang tersenyum akan sikap mantan mertuanya itu yang memang sangatlah baik kepadanya.
"Saya ada meeting setelah ini ma. Tadi kesini cuma mau nganterin undangan ulang tahun ayah."ucap Rifky yang tadi sudah bersalaman dengan mama Dewi.
"Yeah padahal mama pingin kamu main dulu. Kalau bukan karena kamu, mungkin mama gak akan menemukan anak Badung ini"ucap Dewi mencubit pipi Zania.
"Ih...mama"kesal Zania dan Rifky tersenyum melihatnya.
"Itu bukan masalah ma. Rifky sekali lagi minta maaf ya ma, Rifky harus pergi. Rifky pamit"ucap Rifky yang berpamitan langsung ke Dewi dan menatap Zania sendu sedangkan Zania hanya terdiam dan tidak menatap kearah Rifky yang sudah berlalu dengan mobilnya.
Dewi menatap keanaknya itu dan tersenyum maklum.
"Siapa yang kamu tunggu sayang. Rifky?. Devan?. atau Marcell?. Mama akan mendukung pilihanmu, yang penting orang itu yang terbaik untukmu dan menyayangimu"ucap Dewi menepuk pelan pundak anaknya dan masuk kedalam rumah.
Sedangkan Zania masih berdiri disana dan menghela napasnya dengan kasar sambil memejamkan matanya berat itu.
"Siapa yang aku tunggu?. Aku juga tidak tahu ma. Apa lebih baik, Zania sendiri saja"ucap Zania ketawa sedih.
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
__ADS_1
^^^Next on...^^^