Harus Memilih 2

Harus Memilih 2
Ketulusanmu


__ADS_3

*Segala masalah pasti ada titik terang untuk penyelesaiannya. Aku harap, ada titik terang dari masalah kita saat ini.


***


Menyetir, Zania memaksakan diri untuk menyetir sendiri. Hal ini dia lakukan saat dia sampai ditempat Devan dirawat bersama Riri. Inginnya dia mengunjungi kekasihnya yang telah sadar akan koma nya. Tapi seperti dugaan yang telah dia prediksi, Devan tidak mengenalinya dan perempuan itu mengambil start duluan darinya.


"Kamu beneran melupakanku Dev. Kenapa setelah hati ini telah terbuka untukmu kembali, kamu malah seperti ini"ucap Zania yang sudah menepikan mobilnya itu.


#Beberapa jam sebelumnya...


"Dia siapa Ngel, teman kamu?"tanya Devan ke perempuan yang ternyata bernama Angel itu.


Riri yang mendengar ucapan Devan pun sontak melihat kearah Zania yang tersenyum canggung saat ini. Sedangkan Angel tersenyum sinis kearah Zania.


"Dia"jawab Angel sambil menunjuk ke Zania. "Aku tidak mengenalnya. Mungkin salah satu dari rekan bisnis kakak atau karyawan kamu kak"lanjutnya dan kembali menyuapi Devan sambil tersenyum manis.


Devan menatap kearah Zania dan Zania pun juga menatap Devan. "Apa kamu beneran lupa Dev"ucap Zania dalam hati.


Zania mencoba menahan dirinya supaya tidak menangis saat ini. Dia berusaha kuat dan mencoba mendekat kearah Devan. Riri hanya bisa menghela napasnya kasar.


"Dev"panggil Zania dan membuat Devan menoleh kearahnya dengan tatapan bingung. Sedangkan Angel menatap sengit Zania dan membuat Riri yang melihat hal itu merasa tidak suka.


"Akhirnya pak direktur sudah sadar juga"ucap Riri menyela, karena dia merasa jengah dengan situasi saling menatap ini.


Devan menatap Riri dan kembali menatap kearah Angel untuk memberinya penjelasan. Angel merasa kesal sekali sekarang dan dia mencoba tersenyum saat ini. Hal itu pun tidak luput dari perhatian Riri yang merasa jengah dengan hadirnya Angel diantara pasangan sahabatnya ini.


"Tidak perlu mencari penjelasan dari gadis kecil ini, karena dia tidak tahu apa-apa pak Dev."ucap Riri tersenyum kearah Angel yang menatap jengah Riri. Sedangkan Zania masih setia berdiri disamping Riri.

__ADS_1


"Saya akan menjelaskan dengan singkat. Pak Devan mengalami cedera dikepala hingga mengalami lupa ingatan se...men...tara karena kecelakaan"ucap Riri yang ditekan diakhir kalimat sambil melirik tajam Angel. Angel pun tidak suka dengan sikap Riri seperti itu kepadanya.


"Saya Riri pak, salah satu dokter di rumah sakit tempat bapak dan dia Zania dokter ditempat bapak juga. dan saya ada pesan khusus untuk Bapak, supaya lupa ingatannya jangan lama-lama ya. Kasian ada hati yang harus bapak jaga"ucap Riri yang sebel sendiri karena harus menggunakan kata 'bapak' ketemannya sendiri.


Devan melirik Riri ragu dan membuat Riri mendengus kesal.


"Huft...oke oke. Gini ya Dev, lu boleh lupa. Tapi kita ini temanan. dan fakta yang tadi memang benar. Jugaan jangan lama-lama lupa deh, lu gak mau kehilangan kekasih lu yang sudah lama lu perjuangin itu kan?"ucap Riri nyeplos dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari Angel.


"Ri"ucap Zania lirih sambil berusaha tersenyum saat ini. Devan melihat hal itu dan merasa ada yang mengganjal dihatinya saat ini.


"Ni. Kamu bilang sendirikan akan memperjuangkan apa yang perlu kamu perjuangkan. Karena kamu tidak ingin menjadi Zania yang dulu"ucap Riri memberikan semangat ke sahabatnya itu, tanpa mempedulikan ekspresi Angel saat ini.


"Jaga ya mulut kamu, saya kekasih kak Devan. Kenapa seolah-olah kamu mengatakan jika kekasih kak Dev itu bukan saya"ucap Angel yang malah mendapatkan senyuman sinis dari Riri.


"Kekasih Devan?. Aku iya in, saja lah ya biar cepet. Kasian juga sahabatku baru sadar dari koma nya tapi harus melihat perdebatan seperti ini."ucap Riri lagi yang membuat Angel mengepalkan tangannya itu.


"Maaf, jika membuat kalian terganggu. Kita pulang Ri dan selamat atas kesembuhannya ya Dev."ucap Zania.


"dan Suatu saat nanti, jika ingatan kamu kembali, saya akan tetap menunggu. Karena aku tahu, ingatan itu tidak akan pernah hilang, ingatlah aku kembali Dev"ucap Zania menatap Devan sendu.


"Ayo Ri"ajak Zania lagi. Riri yang melihat semua ini hanya bisa menghela napasnya kasar.


"Tunggu"ucap Devan menghentikan langkah Riri dan Zania saat ini. Angel menatap keduanya sengit. dan Zania pun memberikan senyumannya ke Devan dan setelahnya.


"Aku akan memberimu waktu, jadi jangan memaksakan diri untuk saat ini, Dev"ucap Zania yang setelahnya berlalu.


Zania memaksa menyetir mobil saat ini dan Riri tidak bisa berbuat apa-apa. Dan dia hanya bisa melihat sahabatnya itu dilanda kesedihan yang mendalam.

__ADS_1


"Apa aku begitu tidak pantas bahagia sih Ri?. Kenapa ketika aku ingin merasakan kebahagian itu, pasti segala masalah bermunculan"ucap Zania yang belum menjalankan mobilnya.


"Biar aku yang nyetir ya Ni. Please...dan buang fikiran negative lu itu"ucap Riri mencoba menenangkan sahabatnya.


"Tapi semua itu benar Ri. Orang-orang yang aku sayangi, perlahan hilang dan selalu saja ada menghalangi itu semua. Apa aku tidak berhak untuk bahagia Ri"ucap Zania lagi yang langsung menghidupkan mobil dan keluar dari halaman rumah sakit.


"Jika dengan mengemudi bisa membuatmu tenang, aku tidak akan mencegahnya Ni. Tapi please, jangan laju seperti ini"teriak Riri yang merasa ketakutan akan kecepatan mobil yang ditumpanginya saat ini.


dan tanpa dia sadari, saat ini mobil Zania dan Riri diikuti oleh sebuah mobil dari belakang. Zania belum menyadari hal itu.


Meski tangan dan kakinya saat ini mengalami tremor karena trauma, Zania berusaha memegang setir itu dengan benar dan mengatur gas dikakinya karena peringatan Riri saat ini.


Zania pun segera menepikan mobilnya saat ini.


"Maafin aku Ri"ucap Zania lagi yang langsung dipeluk Riri erat.


"Tenanglah, Devan hanya lupa ingatan sementara. Aku yakin dia akan mengingatmu."ucap Riri


dan mobil yang mengikuti mereka pun juga berhenti dan keluarlah pengemudi mobil itu. Pengemudi itu pun berlari menghampiri mobil Zania dan Riri yang saat ini sedang menepi dijalan.


Orang itu pun langsung mengetuk kaca mobil itu dengan perasaan takut. Zania pun terkejut saat menoleh siapa yang mengetuk pintu mobil itu. Ternyata orang itu adalah Devan.


Zania dan Riri pun saling menatap satu sama lain. Zania pun dengan cepat membuka pintu mobilnya dan keluar. Setelah keluar betapa terkejutnya dia, ketika Devan yang dia tahu sedang mengalami lupa ingatan itu, memeluknya erat.


"Aku mencintaimu Zania Dwi Pranonjoe. Terimakasih, karena telah mencintaiku dan menungguku"ucap Devan.


^^^Next on^^^

__ADS_1


__ADS_2